Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kecemburuan Cha.


__ADS_3

Zain benar-benar memberikan perhatiannya untuk keluarga Cha. Dia ingin yang terbaik untuk mendapatkan Cha.


Namun berbeda dengan Cha, dia merasa tak enak hati menerima semua pemberiannya Zain terhadap keluarganya. Rasanya itu tidak baik di mata Cha.


"Zain, sudah jangan belanja lagi. Ini semua sudah terlalu banyak Zain," ucap Cha kesal.


"Tidak apa-apa sayang, aku ikhlas kok memberinya," balas Zain.


"Aku yang tak suka menerima semua ini Zain. Untuk apa membuat mereka terbuai dengan kemewahan yang kamu berikan Zain. Kalau nanti mereka harus menerima kenyataan bahwa tidak selamanya ini semua dikasih," ucap Cha tak senang.


"Maaf Cha, aku hanya ingin membuat keluargamu senang dengan calon suamimu," balas Zain.


"Tapi tidak dengan cara seperti ini Zain," protes Cha.


"Maaf Cha. Ya sudah kalau gitu, gimana kalau kita berhenti dulu dan nongkrong di cafe buat istirahat," pinta Zain.


"Bolehlah. Aku juga sudah laper nih." balas Cha.


Lalu Zain dan Cha memasuki cafe yang ada di Mall itu. Zain mengajak Cha duduk yang agak jauh dari pengunjung lainnya. Zain ingin banyak ngobrol dengan Cha, sehingga dia mencari meja kosong yang menepi.


"Kita duduk disini aja ya Cha."


"Iya Zain, dimana aja boleh. Aku akan menurut," balas Cha.


Lalu pelayan datang menghampiri mereka dan memberikan buku menu. Setelah Zain dan Cha melihat-lihat menu makanan di cafe itu, mereka segera memesannya.


Setelah pelayan pergi dari hadapan mereka, Zain memandang wajah Cha dengan rasa cemas.


"Ada apa Zain?" tanya Cha.


Zain menarik nafas beratnya dan menggenggam tangan Cha dengan kelembutan


"Cha, ada yang ingin aku sampaikan," ucap Zain yang membuat Cha bingung.


Cha menangkap sesuatu yang tak biasa dari Zain hari ini. Dia melihat Zain berbeda dari biasanya.


"Apa itu Zain?" tanya Cha.


"Sayang, tadi aku sempat ngobrol dengan Mama kamu. Awalnya kami ngobrol santai, hingga akhirnya Mama kamu meminta pinangan yang sangat besar. Selain itu juga, Mama kamu mewakili Kakak-kakak kamu meminta langkahan berupa mobil untuk masing-masing.


Cha terkejut mendengarnya. Tapi dia sudah menduganya dari kemaren sejak Sika menyampaikan semuanya. Jadi apa yang disampaikan Sika itu sebuah kenyataan. Ada rasa sedih dan kesal serta amarah terhadap keluarganya sendiri. Cha tak menyangka jika Mama dnlan saudaranya yang lain benar-benar memanfaatkannya.


"Terus kamu jawab apa Zain?" tanya Cha penasaran.

__ADS_1


"Aku belom jawab Cha. Aku hanya mengatakan, itu urusan orang tua. Biar mereka yang nanti memutuskannya. Apakah menerimanya atau menolak. Itulah jawaban yang aku berikan terhadap Mama kamu," jelas Zain.


Cha tak habis pikir dengan Mamanya. Kenapa dia harus berbuat seperti itu terhadap dirinya? Bukankah Cha anak kandungnya sendiri, tetapi Mamanya Cha memperlakukannya berbeda dari yang lainnya.


"Aku rasa itu jawaban yang bijak Zain. Terima kasih karena kamu tidak mengambil keputusan itu," ucap Cha sedih.


"Jadi menurut kamu bagaimana Cha?" tanya Zain yang merasa kasihan melihat Cha.


"Aku terserah pada keluarga kamu Zain. Apapun keputusannya, aku akan menerimanya," jawab Cha.


"Walaupun aku menolaknya, kamu akan menerima keputusan itu?" tanya Zain lagi.


"Ya Zain, karena aku sudah jenuh dengan kehidupan ini. Aku lebih baik fokus dengan kuliahku dan menjalankan hidupku sendiri," jawab Cha putus asa.


"Sayang, jangan berkata seperti itu. Aku sudah lama memperjuangkanmu, masa harus menyerah," ucap Zain gak terima.


"Terus gimana Zain? Aku gak mau keluarga kamu menganggap keluargaku materialistis, walaupun kenyataannya benar," balas Cha.


"Kamu gak usah memikirkannya ya, biar nanti aku bicarakan sama Mama dan Papa," ucap Zain.


"Aku takut Zain, mereka menganggapku tidak baik, aku takut mereka membenciku," balas Cha sedih.


"Tidak ada yang berpikiran seperti itu Cha. Kamu harus percaya sama aku. Semuanya akan baik-baik saja," balas Zain menenangkan Cha.


Lalu pelayan tadi datang membawa pesanan makanan Zain dan Cha. Setelah semua pesanan di hidangkan diatas meja, pelayan itu pamit dari hadapan mereka.


"Iya Zain, sepertinya enak nih," balas Cha.


Mereka pun menikmati makanan yang ada diatas meja. Cha terlihat senang menyantap makanan itu. Begitu juga dengan Zain yang semangat mengunyah dan menghabiskan makanan diatas meja. Tak ada obrolan yang dilontarkan, mereka benar-benar menikmati hidangan itu.


Setelah setengah jam lebih mereka berada di cafe itu, Cha mendapat pesan dari Sika adiknya.


"Kak Cha dimana? Aku udah selesai nih nontonnya. Aku laper kak," ucap Sika kelaparan.


"Sika kemari aja. Kakak dibawah satu lantai dari bioskop kok," balas Cha.


"Owkeh, Sika segera meluncur kesana ya kak. Oh ya Sika bareng teman, boleh ya?" bujuk Sika.


Lalu Cha melirik ke arah Zain yang masih setia mengabiskan sisa-sisa makanannya.


"Gak apa kesini aja. Kakak sama kak Zain baru aja selesai makan," jelas Cha.


"Ya udah, Kakak tunggu aja ya kami disana ."

__ADS_1


"Iya Sika, buruan...!"


Lalu Sika dan temannya yang dua lagi segera meluncur ke lantai bawah. Mereka mencari nama cafe yang dibilang sama Cha. Setelah melihat keberadaan cafe tersebut, Sika dan kedua temannya memasuki cafe itu.


"Silahkan, masih ada tempat kosong di sebelah sana," ucap pelayan mengarahkan Sika ke meja kosong.


"Maaf Mbak, saya mau cari Kakak saya disini," ucap Sika.


"Oh, silahkan," balas pelayan itu.


Lalu Sika mengedarkan pandangannya keseluruh area cafe itu. Hingga dia menemukan keberadaan Cha dan calon Kakak iparnya.


"Itu mereka disana. Ayo kesana!" ajak Sika menuju meja Cha.


Sika dan kedua sahabatnya berjalan menghampiri Kakaknya Cha.


"Hai kak Zain!" sapa Sika dengan senyum manisnya.


Zain hanya tersenyum membalas sapaan Sika terhadapnya.


"Kak kenalin nih teman-teman aku. Mereka ingin berkenalan dengan kak Zain," ucap Sika tanpa memperdulikan tatapan Cha yang mengerikan.


"Hai kak Zain, aku Putri," teman Sika memperkenalkan dirinya.


"Hai kak, aku Sindy," sambung teman lainnya.


Cha hanya bisa menghela nafas melihat tingkah laku anak ABG ini.


"Sika mau pesan apa? Nih buku menunya. Sekalian teman-teman kamu tanyain Sika," ucap Cha yang sedikit cemburu.


Zain dapat melihat rasa cemburu di mata Cha. Itu membuat Zain bahagia dan senang. Zain tau Cha sangat mencintainya, sehingga dia memiliki rasa cemburu itu.


"Iya kak, nih Sika mau lihat dulu menunya."


"Sika, teman-teman kamu suruh aja minta buku menunya satu lagi, biar gak saling menunggu. Kan kasihan mereka juga mungkin sudah kelaparan," balas Cha.


Lalu kedua temannya Sika memanggil salah satu pelayan disitu untuk melihat buku menunya.


"Mbak minta buku menunya lagi ya," pinta temannya Sika.


"Oh iya Mbak, ini silahkan dilihat dulu ya. Kalua sudah mau pesan, bisa panggil saya ya Mbak," ucap pelayan itu ramah.


Setelah mereka memesan makanan, Sika dan kedua temannya mengajak Zain ngobrol sambil menunggu pesanan datang.

__ADS_1


Cha semakin kesal karena merasa dicuekin sama Zain. Dia membenci keadaan seperti ini. Namun Cha tidak ingin memperlihatkan kecemburuannya dihadapan adiknya Sika. Cha berusaha tersenyum dan ikut andil mendengar obrolan mereka berempat. Hingga pesanan makanan mereka akhirnya datang juga.


Sika dan kedua temannya menatap makanan itu dengan mulut terbuka. Dan cacing yang berada di dalam perut mereka semakin meronta untuk segera di kasih makan.


__ADS_2