Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pembahasan langkahan Kakak Cha


__ADS_3

Cha yang datang menghampiri meja makan, lalu duduk bersebelahan dengan Sika. Dia sempat melirik ke Kakaknya Ina yang terlihat cuek tapi ada senyum di matanya.


"Apa yang terjadi dengan nya? Kenapa matanya menunjukkan senyuman yang bahagia. Apa ada sesuatu?" bathin Cha menatap Ina.


"Mama mau ngomong sama kau Cha. Tadi Mama dan yang lainnya sudah membahas tentang pernikahanmu. Dan karena kau yang pertama menikah, serta melangkahi beberapa Kakakmu. Jadi kau harus memberikan langkahan untuk mereka," jelas Mamanya.


"Emang langkahannya apa Ma?" tanya Cha yang polos.


"Itu tergantung permintaan mereka. Apa yang diinginkan mereka, kau harus memberinya supaya kau bisa menikah," jawab Mamanya.


"Owhhhh, ya udah nanti aku tanyakan ke mereka masing-masing. Semoga bukan hal yang berat," ucap Cha penuh harap.


Cha tidak tau kalau Mama dan Kakaknya sudah merencanakan sesuatu. Mereka akan menuntun langkahan yang besar dan pinangan yang banyak. Cha hanya berpikir simpel, tapi malah keluarganya memanfaatkan keadaan Cha.


"Ya udah, sekarang ayo kita makan," perintah Mamanya.


Kemudian mereka makan dengan hikmad dan suasana di ruangan ini diam tidak ada yang bersuara. Cha masih bingung dengan ucapan Mamanya dengan langkahan. Apa kiranya yang akan diminta oleh Kakaknya Cha.


Setelah makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing. Tapi Sika tak masuk ke kamarnya melainkan mengikuti Cha ke dalam kamarnya.


"Loh Sika, kenapa gak belajar?" tanya Cha heran.


"Kak, ada yang Sika bicarakan, penting. Tapi Sika harap Kakak tidak marah ataupun down ya ketika Sika menceritakannya," ucap Sika.


Cha menaikkan alisnya, menatap curiga ke Sika.


"Apa yang mau kamu ceritakan Sika?" tanya Cha.


Sika mendekati Kakaknya dan duduk di tempat tidur. Dia pun menarik nafas lalu membuangnya dengan berat.


"Kak, tadi saat Sika hendak masuk ke kamar, Sika mendengar obrolan Mama dan kak Ina. Mereka ngobrol di dalam kamar berdua. Awalnya Sika ingin masuk, karena Sika pikir mereka membahas tentang pernikahan Kakak, tapi..," Sika menggantung ucapannya.


"Tapi apa Sika?" Cha gak sabaran mendengarnya.


Cha semakin penasaran dengan apa yang ingin disampaikan Sika.


"Tapi justru mereka membahas tentang langkahan yang akan diminta sama kak Ina dan yang lainnya. Karena Kakak yang pertama menikah di rumah ini," sambung Sika.

__ADS_1


"Owhhhh, itu kan tadi sudah disampaikan Mama sama Kakak di meja makan. Terus masalahnya dimana Sika?" tanya Cha memancing.


"Kak, bukan masalah langkahannya, tapi besarnya yang akan diminta untuk langkahan dan pinangan Kakak. Mama merestui hubungan Kakak karena ingin mendapatkan harta dari calon Kakak yang mereka ketahui tajir. Dan Mama tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lagian Mama juga setuju bahkan menyuruh kak Ina minta langkahan mahal seperti mobil atau lainnya," cerita Sika.


"Apa....!" Cha terkejut dan tak percaya dengan apa yang diceritakan Sika.


"Buat apa Sika bohong sama Kakak. Sika juga gak percaya mendengar rencana mereka. Kalau Kakak tidak memenuhinya, ya Kakak tidak akan menikah," balas Sika lagi.


Lagi-lagi Cha seperti tersambar petir, tak percaya dengan ucapan Sika yang barusan di dengarnya. Ini diluar dugaannya.


"Pantes Mama begitu mudahnya memberikan restunya ke Kakak. Ternyata ada udang di balik batu," ucap Cha dengan wajah kaku.


"Sika gak nyangka ya kak, Mama memang tidak menyukai Kakak. Baginya hanya mereka anak Mama. Tapi aku bersyukur Kakak segera menikah dan keluar dari rumah ini selamanya," dukung Sika.


Cha masih diam terbengong, dia gak habis pikir dengan rencana Mamanya dan Kakaknya. Sungguh jahat mereka sampai memanfaatkan keadaan Cha yang akan menikah dengan seseorang yang tajir.


"Dek, boleh gak Kakak istirahat sebentar. Rasanya ini membingungkan dan memberatkan Kakak, ya," pinta Cha dengan wajah datar.


"Iya kak, Sika akan kembali ke kamar dulu ya. Kalau ada apa-apa, Kaka ke kamar Sika ya," ucap Sika.


"Heum, iya dek."


Sepeninggalan Sika, Cha merenung di atas tempat tidur. Dia bingung mau bilang apa sama Zain. Cha takut akan penolakan Zain jika keluarganya meminta sesuatu yang berlebihan.


"Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membatalkannya? Tapi aku takut Zain akan terluka. Ya Allah apa yang harus aku perbuat? Apakah menceritakannya semua ke Zain?" gumam Cha.


Saat Cha berbicara sendiri karena kebingungan, tiba-tiba tlp nya berdering. Cha langsung menoleh kearah benda kecil di atas tempat tidurnya. Cha melihat nama Zain yang tertera di ponselnya. Lalu Cha segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum Zain!" sapa Cha dengan lemas.


"Wa'alaikumussalam sayang! Kamu kenapa? Kok suaranya lemas gitu, apa kamu sakit Cha?" tanya Zain khawatir.


Zain menghubungi Cha, untuk memberitahukan kepada Cha bahwa keluarganya malam ini berangkat, agar bisa istirahat semalam di Medan.


"Nggak Zain, aku gak sakit. Hanya saja..," Cha tak sanggup menjelaskannya.


"Kenapa sayang, ceritalah. Aku gak mau kamu kenapa-napa," bujuk Zain.

__ADS_1


"Zain, apakah lebih baik kita batalkan saja pernikahan ini?" ucap Cha yang membuat Zain terkejut dan terpukul.


"Apa..! Kenapa kamu bilang seperti itu? Apa ada yang mengganggumu?" tebak Zain.


"Tidak Zain, aku merasa tak pantas menikah denganmu. Kamu dari keluarga yang baik dan kaya sedangkan aku dari keluarga broken dan sederhana. Aku takut kamu gak bisa menerimanya," ucap Cha hati-hati.


"Astaghfirullahal'adzim sayang..., kenapa seperti itu. Aku dan keluargaku tidak pernah memandang latar belakang keluargamu dan bagaimana statusnya itu tidak penting. Yang penting, aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku," ucap Zain tegas.


Cha menangis mendengar kata cinta Zain. Begitu besarnya perasaan yang diberikan Zain terhadapnya. Cha merasa tak enak jika harus membatalkannya. Tapi dia juga takut untuk menceritakannya.


"Sayang, jujur sama aku, kamu ada apa? Kenapa tiba-tiba ngomong seperti itu? Apa ada masalah?" tanya Zain memancing Cha berbicara.


"Zain, keluargaku sangat tidak baik, mereka menginginkan sesuatu yang berlebihan," jawab Cha hati-hati.


"Apa itu sayang? Kalau aku sanggup, aku akan melakukannya demi kamu," balas Zain.


"Mama menyarankan aku untuk memberi langkahan kepada ketiga Kakakku. Dan bentuk langkahannya itu tergantung mereka apa yang diminta. Dan Mama juga akan meminta uang pinangan yang banyak dari keluarga kamu. Aku malu Zain terhadap keluargamu," ungkap Cha sedih.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu memikirkannya. Kalau masalah itu, aku akan memberikannya untukmu. Kamu jangan khawatir ya," bujuk Zain.


"Tapi Zain, bagaimana kalau Kakak-kakakku memanfaatkan keluargamu dan meminta hal yang tak masuk akal seperti mobil atau yang lainnya," ungkap Cha yang gak enak hati.


"Apapun sayang, aku ingin membawamu jauh dari mereka, supaya mereka tak menyakitimu lagi ataupun memanfaatkanmu," balas Zain.


"Zain, kamu baik sekali. Tapi apakah keluarga kamu akan menerima keinginan mereka?" tanya Cha.


"Itu biar urusanku ya sayang. Mereka tidak akan menilaimu buruk. Mereka akan memakluminya," jawab Zain.


"Terima kasih Zain, kamu baik sekali," ucap Cha tulus.


"Sekarang, kamu tidur ya. Besok aku akan kerumah kamu main. Kita keluar biar kamu nyaman. Aku ingin menghiburmu," balas Zain.


"Iya Zain, met malam Zain," ucap Cha menyudahi obrolannya.


"Malam sayang, emmmuach," Zain memberikan kecupan selamat tidur buat Cha.


"Emmmuach," balas Cha.

__ADS_1


Lalu obrolan selesai. Tlp ditutup, ada kelegaan dihati Cha saat mendengar pengertian Zain.


__ADS_2