Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Perubahan Sikap Shanti


__ADS_3

"Kak Ina...!" teriak Cha dari jauh.


Ina menoleh ke samping melihat orang yang memanggilnya. Cowok yang bersama Ina juga melihat kebelakang.


"Sini...," sahut Ina sambil melambaikan tangannya ke arah Cha dan Shanti.


Cha mengerutkan keningnya menatap ke arah Ina dan Dino.


"Kenapa dia ada disini? Apa kak Ina tadi bicara sama dia. Jangan-jangan mereka punya hubungan," bathin Cha sambil berjalan ke arah Ina.


"Loh Ghani, kamu disini juga?" tanya Ina yang merasa heran melihat Ghani berjalan bersama Cha dan Shanti.


"Iya, tadi gak sengaja ketemu sama mereka berdua," jawab Ghani tersenyum.


"Gimana hasilnya, kalian lulus gak?" tanya Ina sambil menatap Cha dan Shanti.


"Aq lulus kak, tapi...," Cha menghentikan ucapannya dan memandang Shanti dengan tidak enak.


"Aku gak lulus kak. Blom rezeki ku masuk ke kampus ini," sambung Shanti dengan wajah sendunya.


"Gak apa Shan, kan masih ada kampus lainnya yang juga gak kalah bagus. Kamu bisa coba daftar hari ini. Nanti kakak sama Cha nemenin kamu," ucap Ina memberikan semangat dan dukungan kepada Shanti.


"Iya kak, makasih atas dukungannya," jawab Shanti datar.


"Lo ngapain di kampus gw Din? Kalian janjian ya?" tanya Ghani yang menunjuk ke arah Ina.


"Tadi gw tlp Ina, kebetulan lagi berada di sekitar kampus. Ya gw samperin aja kemari," jawab Dino tersenyum.


"Kalau gitu gw lanjut lagi ya, ada urusan yang blom kelar," ucap Ghani berpamitan.


"Gimana kalau nanti malam kita nongkrong di Malioboro, nonton pertunjukan wayang. Kebetulan nanti malam acaranya," ajak Dino kepada mereka semua.


"Kayaknya aku gak ikut deh. Karena ada urusan," jawab Shanti males.


"Gimana kak?" tanya Cha melihat ke arah Ina.


Ina mengangkat bahunya, Terserah, kakak ngikut aja," balas Ina nyantai.


"Lo gimana Ghani?" tanya Dino.


"Boleh lah," sahut Ghani.


"Ok tar malam kita ketemu di depan kantor pos Malioboro," kata Dino.


"Ok. Gw cabut dulu ya. Sampai ketemu tar malam," ucap Ghani tersenyum menatap Cha. Dia pun meninggalkan Ina dan yang lainnya.


"Sekarang yuk aku temenin kali buat daftarin Shanti di kampus lain," ajak Dino.


"Iya Shan, yuk kita jalan sekarang biar kamu bisa tenang kalau sudah daftar," kata Cha nimbrung.

__ADS_1


Shanti sudah tidak semangat mau daftar kuliah lagi. Keinginannya masuk ke universitas ini tidak sesuai rencananya. Dia harus menelan kepahitan karena tidak lulus. Shanti menatap Cha lama, rasa tidak suka melihat Cha semakin bertambah. Karena Cha selalu lebih unggul dari dirinya.


"Ayo lah. Kita ke universitas di jalan veteran ya. Aku mau coba disitu," ajak Shanti.


Mereka pun meninggalkan kampus itu dan pergi menuju kampus yang di veteran.


Sesampainya mereka di kampus, Shanti langsung mendaftarkan dirinya masuk ke kampus itu. Tanpa menunggu waktu, Shanti sudah diterima langsung dikampus itu.


Setelah selesai dengan urusan Shanti. Mereka mencari tempat untuk makan siang.


"Gimana kalau kita makan siang di cafe dekat-dekat sini. Aku udah laper nih Na, rengek Dino sambil memegang perutnya.


"Iya kak, makan dulu yuk kita. Aq pengen minum yang dingin-dingin nih," sambung Cha.


"Gimana Shan, udah kelar kan. Kita maka siang dulu ya," tawar Ina mengikuti kemauan yang lainnya.


"Aku ngikut aja kak. Aku udah udah kehausan nih," jawab Shanti.


Mereka pun pergi meninggalkan kampus itu mencari cafe terdekat. Setelah mengendarai motor beberapa menit, akhirnya mereka sampai di sebuah cafe yang nyaman. Mereka pun memarkirkan motornya di depan cafe.


"Kayaknya mantap nih cafenya," celetuk Cha yang turun dari motor Shanti.


"Kelihatannya sih begitu," sahut Dino.


"Panas begini enaknya minum es kali ya," ucap Ina yang sudah memarkirkan motornya.


"Yup setuju kak. Panas-panas enak minum es.," dukung Shanti dengan ucapan Ina.


"Wah rame banget nih cafe," ucap Cha.


"Kita duduk dimana ya, apa harus ngantri atau bagaimana?" tanya Ina yang bingung.


Tiba-tiba datang seorang pelayan menyamperin mereka berempat.


"Ada yang bisa saya bantu mbak, mas?" tanya pelayan dengan senyuman ramahnya.


"Eh iya mbak, kami mau nyari tempat duduk. Kelihatannya penuh banget. Apa masih ada yang kosong?" tanya Dino kepada pelayan itu.


"Ada mas. Kalau mau dia area smoking di lantai atas. Di sana ada tempat duduk sofanya," ucap si pelayan memberikan infonya.


"Oh boleh mbak. Kami pesan yang di lantai atas aja, gimana yang lainnya?" tanya Ina kepada Cha dan Shanti.


"Aq setuju aja sih kak, yang penting bisa nyantai dan minum yang dingin," kata Cha.


"Iya kak, aku juga ngikut aja," sambung Shanti.


"Ya udah kalau gitu mbak, masnya bisa jalan sebelah kanan lurus, nanti di luar ini ada tangga menuju lantai atas. Disana sudah ada rekan saya yang akan menuntun mbak dan masnya," kata si pelayan itu.


Mereka berempat berjalan menuju tempat yang sudah di infokan pelayan itu. Sesampainya mereka di lantai atas, Cha terkagum-kagum dengan dekorasi dan nuansa cafenya.

__ADS_1


"Waowww kerennya," ucap Cha takjub memandang sekeliling cafe atas.


"Awas jatuh tuh ilernya Cha," ledek Dino cekikikan melihat mulut Cha yang menganga.


"Issh apaan sih Din," ketus Cha sambil menutup mulutnya.


Ina tertawa melihat kekonyolan Cha yang menganga melihat keunikan cafe itu. Sedangkan Shanti hanya diam saja tanpa ekspresi.


"Kampungan banget sih Lo, Cha," sindir Shanti dengan cueknya.


Cha terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu yang mengatakan dirinya kampungan.


"Kenapa dia. Baru kali ini dia ngomong gak enak begitu," bathin Cha yang menatap ke arah Shanti.


Cha berusaha menahan kesalnya. Dia tetap memperlihatkan wajah tersenyum, karena tidak mau merusak acara makan bareng Dino. Cha pun menjawab dengan santainya.


"Maklum lah Shan, baru datang dari Desi gw nya," jawab Cha membalas sindiran Shanti.


Ina mencoba menengahi antara keduanya dengan mengajak mereka ke tempat duduk yang sudah dipesan.


"Yuk ah duduk, biar cepat mesen makanan dan minumannya," ajak Ina kepada yang lainnya.


Dino yang laki-laki sendiri, hanya diam mengikuti mereka dari belakang.


Cha duduk bareng Shanti dan Ina duduk bareng Dino.


Pelayan pun memberikan buku menunya kepada mereka.


"Silahkan mas, mbak. Kalau mau pesan bisa panggil saya ya," ucap si pelayan tersenyum.


"Sip mbak, nanti kita panggil ya kalau udah kelar lihat menunya," jawab Ina yang dekat dengan si pelayan.


"Baik mbak," si pelayan pun pergi meninggalkan mereka.


Setelah kepergian pelayan, mereka mulai melihat buku menunya. Cha dan Shanti memilih menu yang sama. Sedangkan Dino dan Ina menunya berbeda.


Setelah memilih menu masing-masing. Dino memanggil pelayan dan memesan makanan dan minumannya.


"Baik mbak, mas. Harap tunggu beberapa menit ya pesanannya datang," kata si pelayan kepada mereka.


"Ok mbak," jawab Cha dengan senyum mengembang.


Pelayan itu meninggalkan mereka berempat.


Selagi menunggu makanan datang. Cha izin sama Ina ke toilet sebentar.


"Shan, Lo gak mau ke toliet?" tanya Cha mengajak Shanti.


"Nggak, Lo aja sendiri," jawab Shanti ketus.

__ADS_1


Cha menatap Shanti dengan perasaan yang gak menentu.


"Kenapa dia? Dari kemaren berubah banget sikapnya. Apa ada yang salah dengan gw ya hingga sikap Shanti ketus dan jutek begitu?" bathin Cha. Lalu Cha meninggalkan mereka menuju toilet.


__ADS_2