
Mereka berdua sama-sama merasa canggung. Dewi yang berada disamping Cha, tersenyum penuh arti melihat kecanggungan mereka.
"Udah jangan lama-lama Cha bengongnya," celetuk Dewi.
"Ah, apaan sih Lo Wi," balas Cha.
"Udah yuk kesana lagi, ombaknya sudah pergi," ajak Ghani.
Mereka berlari lagi ke arah Pantai, lalu ombak besar pun datang. Mereka terus melakukannya sampai Cha dan Dewi merasa kelelahan. Mereka akhirnya menyudahi acara bermain airnya.
"Balik yuk ke Pondok, istirahat dulu ya," Dewi mengajak Cha kembali ke Pondok mereka.
"Iya Wi, gw juga capek larian terus. Nih dah basah celana gw," tunjuk Cha ke arah celana yang digunakannya.
Cha dan Dewi berjalan diatas pasir kearah Pondok mereka. Sedangkan Ghani mengikuti kedua perempuan itu dari belakang.
"Hahhh, selonjoran dulu ahhhh," ucap Cha sambil mendudukkan bokongnya di lantai Pondok itu.
"Laper lagi, aku Cha. Kalian gak mau mesen makanan lagi?" tanya Ghani yang menawarkan makan.
"Iya Ghan, aku mau dong pesani nasi goreng. Kayaknya enak tuh pakai telur ceplok garing," jawab Cha yang lagi bersender.
"Kamu Wi, gak mau makan lagi?" tanya Ghani.
"Emang boleh kak, Dewi mesan makanan lagi?" tanya Dewi yang merasa gak enak karena gratis.
"Boleh, kenapa nggak. Udah Wi, Lo gak usah mikirin ya. Kita akan buat Lo happy lagi, ok!" Cha menjawab pertanyaan Dewi.
"Makasih ya Cha," balas Dewi sambil tersenyum.
"Jadi, kamu mau pesan apa Wi?" tanya Ghani lagi.
"Aku mau pesan nasi goreng juga deh kak," ucap Dewi.
Kemudian Ghani pergi ke arah warung tempat tadi dia memesan makanan. Sedangkan Cha dan Dewi beristirahat sejenak. Angin disana sangatlah kencang, membuat siapa saja terlena dibuatnya. Cha terlelap merasakan angin yang kencang. Namun tidak dengan Dewi. Dia menatap kearah datangnya ombak, menjaga Cha yang sedang terlelap.
Lalu Ghani datang bersama si Mbah yang tadi membawa makanan.
"Loh Wi, Cha dah lama tidurnya?" Ghani melihat Cha yang tertidur miring.
"Iya sejak kakak ke warung."
"Mau letak dimana ini Mas makanannya?" tanya si Mbah.
"Oh iya Mbah maaf, letak aja disini Mbah." Ghani membantu si Mbah meletakkan makanannya. "Makasih banyak ya Mbah,"
__ADS_1
"Iya nak, sama-sama. Itu temannya kenapa?" Si Mbah melihat Cha yang tertidur.
"Oh...dia kecapean Mbah. Makanya tidur," jawab Asih.
"Oh ya sudah, Mbah tinggal ya," Si Mbah pergi kembali ke warungnya.
"Kak, bangunin aja si Cha ya. Nanti makanan ya keburu dingin. Lagian kasihan dia, kelaparan juga kan," Dewi menyuruh Ghani yang membangunkan Cha.
"Kamu aja gih Wi yang bangunin Cha," ucap Ghani.
Dewi membangunkan Cha. Dia menggoyang-goyangkan tubuh Cha.
"Hei Cha, ayo bangun!" seru Dewi.
"Bisa Wi?" tanya Ghani dari samping.
"Blom mau bangun kak! Nih anak lelap banget tidurnya!" Dewi berusaha membangunkannya.
Akhirnya Cha membuka matanya dan menoleh ke arah Dewi dan Ghani.
"Gw lama ya tidurnya?" Cha bertanya seperti orang bodoh.
"Gak lama sih, tapi susah dibangunin," celetuk Dewi.
"Wahhhh!! sudah datang ya nasi gorengnya. Pas banget nih," Cha langsung berpindah duduknya.
Cha dan Ghani duduk bersebelahan tanpa disadari mereka berdua. Sedangkan Dewi duduk di hadapan mereka.
Saat mereka menikmati makanan, ponsel Ghani berbunyi. Ghani melihat nama yang tertera di ponselnya.
"Dino?!" Seru Ghani.
Cha menghentikan mengunyah makanannya. Dia melihat ke Ghani. Dan disaat yang sama, Ghani juga melihat ke Cha. Cha menggelengkan kepalanya meminta Ghani agar tidak memberitahukan keberadaan mereka.
Lalu Ghani mengangkat tlp dan menyuruh Cha untuk diam.
"Hallo bro, ada apa?" tanya Ghani.
"Ghan, kamu dimana? Aku dikostmu sekarang. Tapi anak-anak bilang, kamu sedang pergi sama beberapa cewek, dimana posisimu?"tanya Dino.
"Oh...itu tadi temenku datang. Aku lagi diluar Din, ada apa ya?"
"Kamu lama ya pulangnya? Aku mau nanya soal Cha. Kamu kan satu kampus ya dengan dia?"
"Ada apa dengan Cha? Aku gak pernah ketemu sama dia dikampus. Kamu mau nanyain apa Din?" Ghani penasaran dengan apa yang mau ditanyakan Dino.
__ADS_1
"Kamu tau gak Cha kost dimana?" tanya Dino.
"Aku gak tau Din, emang ada apa sih. Kok kamu segitunya nyariin Cha. Apa ada masalah ya dengan Cha?" Ghani sengaja memancing Dino untuk berbicara.
"Ah...gak ada. Aku cuma mau nanya soal kakaknya Ina. Oh ya, aku besok mau ke Jakarta, kakaknya Cha kan di Jakarta juga. Sapa tau bisa ketemuan," ucap Dino.
"Oh...tapi sorry bro, aku benar-benar gak tau Cha ngekost dimana," bohong Ghani.
"Tapi kata Imran kamu dekat ya sama Cha?" Dino gak mau menyerah untuk mengorek informasi.
"Ah gak juga. Itu karena dikampus aja. Kalau ketemu ya bertegur sapa. Kalau gak ketemu ya seperti biasa."
"Ya sudah, aku balik dulu nih sama Imran. Nanti kalau kamu udah pulang, mampir ke kost Imran ya!" Dino menyudahi tlpnya.
"Iya kalau gw cepat pulang ya," jawab Ghani.
Ghani melirik ke Cha, dan saat bersamaan ternyata Cha dari tadi memperhatikan Ghani ngobrol.
"Dia ngomong apa Ghan?" Cha penasaran dengan isi percakapan mereka.
"Dia nanyain Lo ngekost dimana," jawab Ghani dengan raut wajah biasa aja.
"Mau apa dia nanyain kost gw?"
"Dia mau ke Jakarta. Jadi dia pengen ketemu sama mbak Ina. Dia mau nanya sama kamu, Ina di Jakarta dimana?"Ghani menceritakan apa yang dikatakan Dino.
"Aku memang sengaja menyuruh kak Ina untuk mengganti no tlpnya, supaya Dino tidak bisa menghubunginya lagi," ucap Cha.
"Kalian bicara tentang siapa sih Cha?" tiba-tiba Dewi menyela obrolan mereka.
"Hah, itu loh Wi. Kemaren kami kenalan sama Ghani dan temannya. Dan salah satu teman kak Ghani mendekati kakakku yang mengurus kuliah ku kemaren. Ternyata temannya itu mendekati kakak gw karena ada maunya. Dia berencana mau menjual kami kepada pria hidung belang. Gila gak tuh, deketin kami karena ada maunya!" jelas Cha sambil mengumpat Dino.
"Ya ampuuun Cha...! Trus gimana lanjutannya?" Dewi penasaran.
"Ntah kenapa, saat kami makan di sebuah cafe, gw gak sengaja mendengar seorang perempuan sedang ngobrol melalui ponselnya. Dan membicarakan tentang menjual kami. Saat itu juga gw langsung mengajak kak Ina pergi dari cafe itu secepatnya. Gw dan sahabat gw sama kak Ina menghindar dari dia.
"Ternyata Lo punya cerita yang menyeramkan juga ya Cha. Kita senasib," Dewi langsung merangkul tubuh Cha dari samping.
"Please ya Ghan, jangan pernah kasih tau aku ngekost sama denganmu. Apalagi Imran, dia juga gak boleh tau," tegas Cha.
"Iya Cha, aku gak akan ngasih tau sama mereka tentang kamu yang kost sama dengan ku," Ghani meyakinkan Cha.
"Yang penting kita harus hati-hati Cha sama orang yang mau menyakiti kita. Kalau bisa lebih baik kita menjauh dari mereka, ya kan!" sambung Dewi.
Mereka melanjutkan memakan nasi goreng. Mereka mengobrol sambil sesekali bercanda. Hingga waktu terus berjalan.
__ADS_1