Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Tiba di Klaten


__ADS_3

Semua mata orang yang berada di teras rumah itu menantikan sosok yang akan keluar dari mobil. Mereka penasaran dengan tamu yang datang. Tepat ketika Dewi dan Ibunya beserta Sika keluar dari dalam mobil, semua keluarga dan tetangga yang mengenal Ibunya Dewi terkejut melihatnya.


"Loh dudu Ibune Dewi....?"


"(Loh bukannya itu Ibunya si Dewi....)?" tanya salah satu keluarga yang mengenal mereka.


"Bener, Ibune Dewi. Apa sampeyan sugih saiki?"


"(Iya benar, itu Ibunya si Dewi. Udah jadi orang kaya dia sekarang ya)?" sambung keluarga yang lainnya.


"Wah, apik tenan, dheweke bisa duwe mobil sing apik kaya ngono."


"(Wah hebat ya dia, bisa punya mobil bagus seperti itu.)," ucap salah satu tetangga yang mengenalnya.


"Ya bener, apa sampeyan ana ing kana, Ibune bisa duwe mobil. Wah, aku ora ngira yen bakal sukses."


"(Iya benar, kerja apa ya disana Ibunya itu bisa punya mobil. Wah gak nyangka ya bisa sukses gitu)," balas tetangganya yang tadi.


Sedangkan Dewi dan Ibunya berjalan ke arah mereka dengan senyum mengembang. Rasa bahagia bisa berkumpul di Klaten membuat Ibunya Dewi tidak bisa berkata-kata. Baginya ini kesempatan yang luar biasa yang diberikan Allah SWT terhadapnya selama hidupnya.


Sementara Cha dan Zain juga keluar dari mobil mereka dan berjalan dengan santai mengikuti Dewi.


Sontak saja membuat mereka yang ada di teras lebih terkejut melihat kehadiran Zain yang berperawakan bule.


"Wah, ana wong putih. Sapa iku, carane bisa teka kene?"


"(Wah, ada orang bule. Siapa itu, kok bisa datang kesini)?" tanya tetangga disana.


"Wow ganteng, siapa itu? Kancane Dewi ya?" sambung salah satu gadis muda yang masih bersaudara dengan Dewi.


Perempuan-perempuan muda yang berada disana terpesona melihat ketampanan Zain yang luar biasa. Perempuan-perempuan itu berebut menunjukkan diri mereka dengan tersenyum ramah.


"Assalamu'alaikum...!" sapa Ibunya Dewi.


"Wa'alaikumussalam..," sahut semuanya.


"Walah Nem, ini kamu toh, pangling aku ngelihatnya. Kamu banyak berubah ya. Apa hidup di Jogja membuatmu berubah ya?" tanya istri dari pamannya.


"Iya bi, gimana khabarnya paman dan bibi?" tanya Ibunya Dewi.


"Alhamdulillah sehat," jawabnya. "Lah ini Dewi toh, wah wis gede yo, ayu tenan," puji bibi dari Ibunya.


"Iya Nek, makasih atas pujiannya," balas Dewi.

__ADS_1


Lalu pandangan bibinya mengarah ke arah Cha dan Zain yang berada di belakang mereka.


"Siapa mereka Nem?" tanya bibinya yang bingung melihat ada orang bule ikut bersama mereka.


"Oh ini temannya Dewi di Jogja. Mereka satu kampus, dan pengen ikut ke Klaten. Mereka suami istri," jawab Ibunya Dewi.


"Oh....wah bibi senang banget bisa kedatangan tamu disini. Ayo silahkan masuk," ajak bibinya.


Mereka masuk ke dalam rumah itu yang ternyata di dalam sangat luas.


"Siapa nama teman kamu Wi?" tanya bibi dari Ibunya.


"Saya Cha dan ini suami saya Zain," Cha memperkenalkan dirinya langsung dan juga memperkenalkan Zain.


"Ayo duduk, Wi buatin minuman buat mereka. Biar bibi siapkan kamar untuk mereka dulu," suruh Neneknya.


Lalu Ibunya Dewi dan bibinya pergi meninggalkan mereka bersama Dewi.


"Kamu Nem kenapa ndak kasih khabar toh kalau bawa tamu, biar bibi siapkan kamar buat mereka," protes bibinya.


"Maaf bi, ini juga mendadak dan tidak direncanakan kalau suaminya mau ikut," jelas Ibunya Dewi.


"Ganteng teman yo Nem suaminya," puji bibinya. "Lah, kamu kapan nikahin si Dewi biar bisa buat acara meriah seperti bibi," tanya bibinya.


"Belum ada jodohnya bi. Do'akan saja biar Dewi cepat ketemu jodoh," jawab Ibunya Dewi.


"Alhamdulillah bi, disana saya menjahit dan banyak orderan di tempat tinggal saya," jawab Ibunya Dewi singkat.


"Oh....pantes kamu bisa punya mobil ya. Udah menjadi orang hebat kamu rupanya banyak duitnya. Kapan-kapan bibi mau main ke Jogja tinggal di rumah kamu ya Nem," ucap bibinya dengan semangat.


"Iya bi boleh silahkan. Datanglah ke Jogja biar main ke tempat kami," balas Ibunya Dewi.


Ibunya Dewi menjadi egois yang tidak mau menceritakan keadaan sesungguhnya. Ibunya Dewi merasa dia ingin di pandang oleh keluarga besarnya. Kalaupun nanti akan dipertanyakan tentang keadaannya, Ibunya Dewi tidak ingin mengatakan sesungguhnya semuanya.


"Bibi jadi gak sabar pengen berkunjung ke tempat kamu Nem. Pasti pamanmu senang Nem lihat kamu udah sukses begini," puji bibinya yang tiada hentinya.


Setelah bibinya selesai merapikan kamar itu, mereka keluar dan berjalan menghampiri Cha dan Zain.


"Nak Cha, ayo istirahat dulu. Kamarnya sudah disiapkan, tapi ya apa adanya ya," ucap Ibunya Dewi.


"Ah iya Bu, gak apa-apa. Jangan khawatir masalah itu," balas Cha dengan senyuman dan sopan.


"Kalau begitu, Ibu dan Tika istirahat dulu ya, kalau ada apa-apa nanti bilang ke Dewi aja ya," ucap Ibunya Dewi.

__ADS_1


"Iya Bu makasih," balas Cha. Kemudian cah dan Zain berjalan ke arah kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.


"Bang, kamu mau mandi dulu?" tanya Cha saat mereka sudah berada di dalam kamar.


"Iya sayang, Abang mau mandi dulu. Udah gerah banget nih. Kamu gak mandi juga? Gimana kalau kita mandi bareng," goda Zain.


"Ihhhh Abang nih ya, sempat-sempatnya menggodaku. Udah sana mandi biar gantian," usir Cha.


"Bener nih....gak mau mandi bareng....? Enak loh kalau mandi bareng," Zain semakin menggoda Cha.


"Kalau terus menggoda begitu, mending aku aja yang mandi duluan," kesal Cha.


Cha merasa tempat dan waktunya tidak pas buat mereka melakukan mandi bareng. Karena sejatinya mereka belum menjadi suami istri.


"Mmmm galak banget istri Abang nih. Ya udah Abang mandi duluan. Jangan manyun gitu dong," ucap Zain sambil menoel hidung Cha.


Sebelum sempat Cha menjawabnya, Zain sudah kabur masuk ke dalam kamar mandi. Cha yang melihat Zain langsung masuk ke kamar mandi, hanya bisa senyum-senyum melihat tingkah lucu Zain.


Cha membereskan pakaian mereka yang tadi di bawanya dari Jogja. Dia menyusun tas dan menyiapkan pakaian untuk Zain.


Tak berapa lama, Zain keluar dari dalam kamar mandi dan terlihat segar dan wangi.


"Gimana, Abang sudah wangi kan?" Zain mendekatkan tubuhnya yang masih berbalut handuk.


"Ih Abang cepat pakai pakaiannya. Nanti ada melihatnya," kesal Cha karena melihat Zain memamerkan tubuhnya yang bagus.


"Emang siapa yang lihat sayang?" tanya Zain bingung.


"Ya gak tau, mana tau ada tembok yang bisa di intip dari luar," jawab Cha asal.


"Ya udah mana baju Abang? Biar Abang pakai," tanya Zain.


"Ini udah aku siapkan bang," jawab Cha. "Kalau gitu aku mandi dulu ya bang. Takutnya nanti Dewi manggil nyuruh keluar kumpul sama mereka," ucap Cha.


"Iya, mandilah," suruh Zain.


Lalu Cha berjalan ke arah kamar mandi Dia pun mulai membersihkan tubuhnya yang sudah gerah.


Setelah selesai mandi, Cha pun berpakaian sekadarnya. Dia tidak ingin mencolok di lihat sama saudara-saudara Dewi.


Tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dari luar. "Cha...ayo makan dulu!" panggil Dewi.


"Iya Wi, kami akan keluar. Bentar ya," sahut Cha dari dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ayo bang kita keluar, udah di ajak makan sama keluarga Dewi," ajak Cha.


Zain pun mengangguk setuju. Mereka keluar dari dalam kamar dan melihat banyak saudara Dewi yang sudah berkumpul di meja makan dan ruang tengah. Mereka semua memandang ke arah Zain yang sangat mencolok. Zain yang sangat tampan membuat perempuan-perempuan muda senyum-senyum dan tebar pesona.


__ADS_2