
Mereka ngobrol dengan orang tua Zain masih dalam keadaan polos.
"Hallo Zain, kenapa kamu lama sekali di Indonesia?" tanya Omanya.
"Hallo Oma, maaf ya Oma karena Zain belum bisa kembali. Tapi Zain punya khabar gembira untuk kita semua."
"Khabar apa itu Zain?" tanya Omanya penasaran.
"Apakah Oma ingin datang ke Indonesia?" tanya Zain senang.
"Tentu, Oma ingin mengunjungi Cha disana," jawab Omanya.
"Kalau begitu besok Oma dan Mama serta Papa datang ke Indonesia untuk berkunjung ke rumah Cha," ucap Zain memerintah.
"Maksud kamu apa Zain?" tanya Mamanya dari belakang.
"Zain sudah bertemu dengan Mamanya Cha. Dan beliau sudah memberikan restunya untuk kami Ma. Jadi besok Mama dan Papa serta Oma datanglah ke Medan untuk melamar Cha. Zain akan tunggu kedatangan kalian disini," jelas Zain dengan wajah gembiranya.
"Oh ya ampun Zain...Ini benar-benar berita yang mengejutkan buat kami. Kamu serius kan Zain?" tanya Mamanya tak percaya.
"Zain, Oma sudah tua dan jangan mempermainkan Oma," sambung Omanya.
"Zain serius Ma. Dan tidak ada yang mempermainkan Oma. Zain serius, kalau gak percaya ini ada Cha dia sebelah Zain," ungkap Zain meyakinkan keluarganya.
"Cha bersama kamu Zain?" tanya Mamanya.
"Assalamu'alaikum Tante, Oma, Om!" sapa Cha yang duduk disebelah Zain.
"Wa'alaikumussalam sayang! Oma kangen sekali sama kamu sayang. Oma bahagia mendengar berita ini," ungkap Omanya.
"Iya nak, Tante juga gak menyangka Zain bisa menaklukkan orang tua kamu," sambung Mamanya Zain.
"Ma, Zain pasti bisa menaklukkan orang tua Cha," balas Zain percaya diri.
"Sayang Oma ingin melihat kalian berdua, kita VC ya," pinta Omanya.
Cha gelagapan dan bingung. Dia langsung bergegas mencari pakaiannya dan memakainya. Begitu juga dengan Zain, hingga akhirnya mereka menerima panggilan VC dari keluarga Zain.
"Hallo cantik, Oma senang bisa melihatmu kembali," ucap Omanya tersenyum.
"Zain, kenapa kamu memakai pakaian terbalik begitu hah? Kalian tidak berbuat yang aneh-aneh kan?" tebak Mamanya.
"Nggak Ma, nih tadi memang Zain tidak memakai baju. Habis olah raga, kan gak enak kelihatan Mama dan Papa sama Oma kalau Zain tak menggunakan baju," bohong Zain.
Cha tersenyum kaku mendengar penuturan Zain yang lugas.
"Zain, jam berapa lusa kami berangkat?" tanya Papanya yang dari tadi diem aja.
"Papa dan Mama serta Oma bisa berangkat besok siang, nanti Zain yang akan menjemputnya," jawab Zain.
"Baiklah, kami akan mempersiapkan segalanya. Apa yang harus kami bawa?" tanya Papanya bingung.
__ADS_1
"Papa dan Mama bisa membawa oleh-oleh dari sana, untuk keluarga Cha," jawab Zain.
"Mama gak percaya Zain, kamu akhirnya menikah juga nak," ucap Mamanya yang merasa bahagia.
"Iya Zain, secepatnya kalian harus memberi kami cucu. Oma udah gak sabar ingin bermain dengan si Pangeran Zain.
"Oma do'akan semoga semua lancar dan Zain bisa segera menikah dengan Cha."
"Tentu sayang, Oma mu ini akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua," balas Omanya.
"Kalau gitu, udahan dulu ya Oma, Zain mau membawa Cha kembali ke rumahnya. Karena Zain tidak dibolehkan lama-lama membawa Cha keluar," ucap Zain.
"Bagus itu, Oma suka orang tua yang punya aturan," puji Omanya terhadap orang tua Cha.
"Ya sudah Zain, sampai ketemu di Indonesia lusa ya, Assalamu'alaikum," ucap Mamanya yang menyudahi obrolan mereka.
"Wa'alaikumussalam Ma, Oma, Papa," balas Zain dan Cha bersamaan.
"Zain, kalau mau tlp mereka, seharusnya kita menggunakan pakaian dulu. Hampir saja ketahuan," kesal Cha.
Zain langsung memeluk Cha yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Sayang, kita akan segera menikah. Aku benar-benar bahagia. Udah gak sabar ingin terus memakan kamu," goda Zain.
"Ihhhh Zain, dasar mesum kamu," pura-pura Cha protes.
"Tapi kamu suka kan sayang dengan Zain yang mesum begini. Buktinya tadi mendesah terus. Syukurnya gak roboh nih ruangan," canda Zain sambil menoel hidung Cha.
"Habis kamu nikmat banget sih sayang, aku jadi pengen terus melakukannya. Tapi harus ditahan. Kalau tadi sih emang benar gak tahan lagi sayang," ucap Zain polos.
Zain membawa Cha duduk di sofa depan TV sambil menonton.
"Rasanya perjuangan kita selesai juga ya sayang. Kamu akan segera menjadi istriku. Dan kita akan memiliki banyak anak," ucap Zain penuh harapan.
"Iya Zain, aku harap kamu tidak akan meninggalkanku ataupun menduakan ku," harap Cha.
"Aku gak akan melakukannya sayang. Aku bukan tipe laki-laki seperti itu. Punya satu aja susah dihabisin, masa harus nambah satu lagi, itu namanya kita punya sifat yang serakah," ucap Zain bijak.
"Makasih ya Zain, kamu selalu ada untukku. Kalau diingat lagi, sangat lucu pertemuan kita," balas Cha sambil membayangkan masa lalu.
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Zain.
"Ya, aku akan mengingatnya Zain. Bagiku itu suatu moment yang sangat berkesan dan bersejarah," jawab Cha.
"Aku justru khawatir kamu terluka kalau mengingat itu," ucap Zain.
"Tidak Zain, aku sudah berdamai dengan masa laluku. Dan itu semua berkat kamu Zain."
"Terus kamu kapan kembali ke Jogja?" tanya Zain.
"Mungkin setelah pertemuan orang tua kita, baru aku kembali ke Jogja. Aku udah gak sabar ingin bertemu dengan Dewi," balas Cha.
__ADS_1
"Oh iya, gimana khabar sahabat kamu itu ya?" tanya Zain.
"Kemaren dia mengirim pesan, katanya mereka disana sudah tidak diganggu lagi sama Bude dan Pakdenya. Dan mereka menjalani hidup dengan nyaman," jawab Cha.
"Ya baguslah. Aku bisa menarik kembali orang-orangku ke Paris."
"Ya kamu bisa melakukannya Zain."
"Sekarang, aku anter kamu pulang ya. Gak enak sama Mama kamu. Tapi sebelumnya kita singgah dulu di Toko kue," ucap Zain.
"Baik Zain."
Lalu Zain dan Cha keluar dari kamar hotel menuju parkiran. Zain mengantar Cha pulang ke rumahnya.
Sepanjang jalan, Zain dan Cha melihat Toko Kue di sepanjang jalan. Hingga mereka berhenti di sebuah Toko yang banyak menjual beraneka macam kue.
Zain dan Cha masuk ke dalam dan memilih-milih kue yang akan di beli.
Setelah mendapatkan kuenya, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Cha.
Tak membutuhkan waktu yang lama, karena jarak Toko itu ke rumah Cha tidak terlalu jauh. Hingga mereka akhirnya sampai di rumah Cha.
"Ayo aku ikut ke dalam biar berpamitan sama Mama kamu," ajak Zain.
Cha keluar dari mobil, lalu dia berjalan memasuki teras rumahnya. Begitu juga dengan Zain, dia mengikuti Cha.
Cha mengetuk pintu rumahnya dan yang membuka kan pintu itu adalah Kakaknya Ina.
"Kak, Mama mana?" tanya Cha.
"Ada di dalam," jawab Ina sambil menoleh ke Zain dan tersenyum manis.
"Zain, kamu tunggu bentar ya, biar aku panggilkan Mama," pinta Cha.
"Iya, aku akan menunggu disini," balas Zain.
Lalu Cha masuk ke dalam memanggil Mamanya.
"Ma, Zain di depan. Dia mau berpamitan pulang," ucap Cha memberitahu.
"Oh iya, bentar ya, Mama akan ke depan," balas Mamanya.
Cha bergegas ke depan dan melihat Ina masih setia menemani Zain ngobrol di teras.
Tak berapa lama, Mamanya pun ikut berjalan ke teras.
Tante, saya berpamitan pulang dulu. Tapi sebelumnya saya mau menyampaikan bahwa keluarga saya akan tiba lusa disini," ucap Zain memberitahu.
"Oh iya, ya sudah gak apa-apa. Lebih cepat lebih baik," dukung Mamanya.
"Kalau gitu saya pamit dulu ya Tante, Assalamu'alaikum," ucap Zain berpamitan.
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," sahut Mamanya.