
Cha kembali ke kamarnya dengan mata yang masih berkaca-kaca, dia merasa bahagia, Mamanya mau memberikan do'a nya atas kebahagiannya.
Cha duduk di depan cermin memandang dirinya di dalam cermin.
"Apakah, aku akan mendapatkan kebahagiaanku? Apakah ini akhir dari kehidupanku yang menyedihkan?" cah berbicara sendiri di depan cermin.
Cha harus mempersiapkan dirinya hari ini untuk menyambut kedatangan keluarga Zain. Cha merasa gugup karena ini moment yang sangat mendebarkan, pertemuan kedua belah pihak.
"Semoga hari ini berjalam dengan lancar dan baik. Zain, terima kasih, kamu selalu ada untukku. Aku tidak tau harus bagaimana kalau tanpa dirimu," lagi-lagi dia berbicara di hadapan cermin.
Tiba-tiba ketukan di pintu membuat Cha kaget dan melirik kesamping dari depan cermin.
"Kakak..., kata Mama, Kakak harus masak bantuin Mama untuk menyambut kedatangan keluarga Kak Zain. Nanti juga ada Bu Eli dan Tri yang akan membantu memasak di rumah ini," Sika masuk ke dalam kamar Kakaknya dan memberitahukan keadaan di luar.
"Oh iya, baiklah, Kakak akan membantu Mama nanti," balas Cha.
"Kak, apa yang terjadi? Kenapa wajah Mama hari ini terlihat berbeda? Ada apa ya?" tanya Sika bingung sambil jari telunjuknya menopang dagunya.
"Bagus dong kalau Mama hari kelihatan senang dan bahagia," balas Cha santai.
"Tapi bukannya tadi Mama terlihat murung. Kakak kan tau sendiri keadaan Mama tadi!" seru Sika.
"Berarti Mama sudah mendapatkan pencerahan atas masalah yang di hadapinya," balas Cha senyum.
"Iya, tapi apa yang membuat Mama berubah seperti itu? Apa Kakak mengetahui sesuatu?" tanya Sika dengan memicingkan matanya.
"Lebih baik, kamu tunggu Mama aja yang kasih tau. Sekarang biarkan kita mengadakan pertemuan keluarga untuk Kakak."
Sika mencurigai Kakaknya punya andil dalam perubahan wajah Mamanya. Tapi Sika tidak bisa memancingnya untuk bicara.
Sika pun putus asa menunggu Mamanya yang akan memberitahu mereka dengan sendiri.
"Kakak gak mau ngasih tau Sika apa yang terjadi nih?" tanya Sika yang berusaha keras memancingnya.
"Kakak mau fokus dengan acara pertemuan keluarga saat ini. Dan Kakak gak mau memikirkan yang lainnya," jawab Cha cuek.
Sika pun kecewa mendengarnya. Niat hati datang ke kamar Kakaknya untuk mendapatkan informasi, malah tak ada hasilnya.
"Kalau gitu Sika akan keluar nemani si bungsu," ucap Sika kecewa.
"Heum," balas Cha.
Sika keluar dari dalam kamar Kakaknya. Dia berjalan ke ruang tamu dimana ada si bungsu di sana. Sika melihat kebahagiaan terpancar dari raut wajah Mamanya.
Sika masih penasaran, apa kiranya yang membuat Mamanya bahagia seperti itu.
"Sika...!" panggil Kakaknya Ina.
__ADS_1
Sika menoleh ke sumber suara dan mendapatkan Ina memanggilnya.
"Ada apa kak?" tanya Sika.
"Kakak mau tanya, kamu tau gak kenapa Mama hari ini dalam sekejap berubah?" tanya Ina yang ikut merasakan perubahan Mamanya.
"Gak tau," Sika mengangkat kedua bahunya.
"Masa sih kamu gak tau?" tanya Ina yang gak puas dengan jawaban Sika.
"Bukannya Kakak yang dekat sama Mama? Seharusnya Kak Ina lebih mengetahuinya," balas Sika.
"Kalau Kakak tau, ngapain Kakak nanyain kamu!" seru Ina.
"Tapi beneran kok Sika gak tau apa-apa. Sika juga bingung Kak. Apa jangan-jangan Papa gak jadi menjual rumah ini?" Sika berpikir seperti itu.
"Gak mungkin dek, Papa itu sudah tidak mau berhubungan dengan kita lagi. Dan mungkin itu juga hasutan dari ****** itu," timpal Ina.
"Sapa tau aja, Papa berbuat baik untuk anak-anaknya di hari tuanya," ucap Sika.
"Ya gak mungkinlah. Kakak tau gimana Papa. Dia gak akan menarik kata-katanya kembali jika sudah dilontarkan."
"Dari pada kita penasaran, lebih baik Kakak tanya ke Mama deh," suruh Sika.
"Kalau sekarang nanya ke Mama, mana mungkin. Mama kan lagi mempersiapkan masakan untuk menyambut calon si Cha," ucap Ina.
"Iya sih. Ya udah, kamu temani lagi si bungsu ya," suruh Ina.
"Ok kak!" balas Sika.
Ina pun kembali gabung dengan Mamanya dan beberapa tetangga untuk ikut meramaikan memasak.
Sedangkan Cha, dia baru aja keluar dari dalam kamarnya. Cha melihat Sika sedang bermain dengan si bungsu.
"Dek, Mama dimana?" tanya Cha.
"Disana, lagi masak sama yang lainnya," jawab Sika cuek.
"Udah jangan seperti itu wajahnya di tekuk. Kakak bukan tidak ingin memberitahu, tapi biarlah Mama yang kasih tau ke yang lainnya. Kita nikmati hari ini dengan acara Kakak ya," ucap Cha tersenyum.
Cha pun meninggalkan Sika yang sedang menemani si bungsu bermain. Dia menghampiri Mamanya dan yang lainnya di belakang.
"Ini dia orangnya. Ternyata dia akan duluan menikah ya Kak," ucap tetangga mereka Bu Eli.
"Iya Li, jodohnya ternyata cepat datang," balas Mamanya Cha.
"Eh ada Bu Eli dan Bu Tri. Udah lama Bu datangnya?" tanya Cha.
__ADS_1
"Baru aja. Emang jam berapa keluarganya mau datang Cha?" tanya Bu Eli.
"Rencananya pas habis Dzuhur Bu," jawab Cha.
"Penasaran lah Li, Kakak sama calon si Cha," ucap Bu Tri terhadap Bu Eli.
"Sama lah kak, aku pun penasaran. Nanti kita datang aja kemari bantuin Mamanya Cha disini. Bolehkan kak?" tanya Bu Tri terhadap Mamanya Cha.
"Boleh kali lah Tri. Kakak malah senang kalian mau gabung disini," balas Mamanya Cha.
Mereka terus membahas calonnya Cha. Obrolan terus berlanjut hingga Dzuhur pun tiba. Kedua tetangga itu kembali pulang ke rumahnya masing-masing.
Mamanya Cha dan Cha juga mulai bersiap-siap untuk menyambut kedatangan calon besannya. Begitupun dengan Ina dan Sika. Mereka mulai bersiap-siap menyambut kedatangan keluarga Zain.
Setelah Dzuhur, kedua tetangga itu kembali datang ke rumah Mamanya Cha. Mereka terlihat rapi berdandan. Begitu juga dengan Mamanya Cha serta Cha nya sendiri.
Namun Cha masih berada di dalam kamarnya. Dia merasa deg-degan dengan kedatangan keluarga Zain yang sudah di kenalnya.
Sementara Sika dan Ina membantu Bu Tri dan Bu Eli mempersiapkan makan siang di atas meja makan. Mereka makan siang ala prasmanan.
Di dalam kamar, Cha mencoba mengirim pesan kepada Zain. Dia benar-benar gugup.
"Zain, gimana? Apakah kamu dan Mama, Papa dan Oma sudah berangkat?" tanya Cha penasaran.
"Iya sayang, aku dan keluargaku sudah berangkat. Nih kami masih di jalan, sepertinya di depan lagi lampu merah. Jadi sedikit macet," balas Zain.
"Apa kamu tidak deg-degan Zain?" tanya Cha konyol.
"Tidak sayang, aku malah udah gak sabar ingin secepatnya nikahin kamu," goda Zain.
"Ihhhh, kamu Zain. Gak sabaran banget sih," Cha mengirim emoticon cemberut.
"Hahaha, kamu sangat menggemaskan kalau lagi cemberut Cha," balas Zain.
"Ya udah Zain, aku tunggu disini ya. Sampai ketemu Zain...ku," Cha mengirim pesan terakhir yang membuat Zain mengembangkan senyumnya.
Ternyata Omanya memperhatikan Zain dari tadi. Omanya melirik ke arah cucunya yang sedang berbalas pesan dengan Cha.
"Zain, kamu harus sabar menunggu sampai kalian menikah," ucap Omanya tiba-tiba.
Zain menoleh ke arah Omanya dan dia tersenyum melihat tatapan Omanya yang bahagia.
"Tentu Oma, Zain tidak sabaran menunggunya."
Omanya Zain merangkulnya dari samping sambil menepuk-nepuk bahu cucunya.
"Oma berharap kamu akan selalu bahagia sayang," ucap Omanya.
__ADS_1
Omanya merasa bahagia melihat cucunya akan segera menikah dan memberinya cicit.,