
"Gimana Cha, udah dipesan semuanya?" tanya Zain saat Cha sudah duduk disampingnya.
"Sudah Zain. Bentar lagi diantar katanya," balas Cha.
Sesaat kemudian Zain mendapat tlp dari Papanya. Zain melihat ponselnya berdering dan dia pun mengangkat tlpnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum Pa," sapa Zain.
"Wa'alaikumussalam Zain!" sahut Papanya.
"Comment papa m'a-t-il appelé?" tanya Zain.
"(Ada apa Papa menghubungiku)?" tanya Zain.
"Es-tu toujours en Indonésie Zain?" tanya Papanya.
"(Apa kamu masih di Indonesia Zain)?" tanya Papanya.
"Toujours Pa. Qu'est-ce que c'est? Y a-t-il un problème dans L'entreprise?" tanya Zain balik.
"(Masih Pa. Ada apa? Apa ada masalah di Perusahaan)?" tanya Zain balik.
"Rien, Maman tu me manques déjà. Votre mère est actuellement malade. Dépêchez-vous de revenir à Paris, nous vous attendons," balas Papanya.
"(Tidak ada, Mama kamu sudah kangen sama kamu. Saat ini Mamamu kurang sehat. Cepatlah kembali ke Paris, kami menunggumu)," balas Papanya.
"Quoi! Maman malade? Quelle est la douleur?" tanya Zain yang kaget mendengar Mamanya sakit.
"(Apa! Mama sakit? Sakit apa Pa)?" tanya Zain yang kaget mendengar Mamanya sakit.
"Tu me manques juste Zain. Dépêchez-vous de rentrer. Papa attends. Ça faisait longtemps, Papa veut d'abord accompagner ta Mama, Assalamu'alaikum," ucap Papanya dan menyudahi obrolan mereka.
"(Hanya kangen sama kamu Zain. Lekaslah pulang. Papa tunggu ya. Sudah dulu, Papa mau nemani Mamamu dulu, Assalamu'alaikum)," ucap Papanya dan menyudahi obrolan mereka.
"Wa'alaikumussalam Pa, balas Zain.
Zain menutup tlpnya dan dia terdiam merasa bersalah sama Mamanya yang meninggalkan Mamanya lama-lama di Paris.
Cha menatap Zain dengan tanda tanya. Dia melihat kesedihan diwajah Zain.
"Ada apa Zain?" tanya Cha saat Zain menatap kearahnya.
"Aku harus balik hari ini juga, Mama sakit di Paris!" jawab Zain dengan wajah sedihnya.
"Apa? Nyokap Lo sakit? Sakit apa Zain?" tanya Binyu.
"Gw gak tau Bin sakit apa. Tapi Papa gw nyuruh gw cepat kembali," jawab Zain.
"Ya udah kamu balik aja sekarang Zain ke Paris. Kasihan Mama kamu. Aku gak masalah kok ditinggal disini, kan ada Dewi," ucap Cha yang meyakinkan Zain.
"Iya Zain, Lo balik aja. Gw juga ada disini bersama Cha. Lo gak usah khawatir ya bro," sambung Binyu yang membuat Zain tambah kesal.
"Apanya yang gak usah khawatir Bin..! Kalau Lo disini, gw malah tambah khawatir tau. Bisa-bisa Lo makin nempelin Cha terus kayak perangko," ledek Zain yang masih sempat-sempatnya memikirkan hal yang tak penting.
"Hahaha, Zain jangan mikirin itu. Dah Lo balik aja ke Paris. Gw gak akan maksa Cha, kalau dia gak mau balikan sama gw kok," balas Binyu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cha, kamu gak mau ikut bersamaku ke Paris? Mama pengen banget ketemu sama kamu!" pinta Zain.
"Tapi.., aku kuliah Zain," balas Cha.
"Pergilah Cha. Nanti gw izinin sama Dosen pas kuliah," sambung Dewi yang mendukung ajakan Zain.
"Gimana ya?" tanya Cha bimbang dan bingung.
"Ya udah Cha, kamu ikut aja ke Paris biar ketemu sama Mamanya Zain. Kasihan kan Mamanya Zain yang pengen ketemu sama kamu!" balas Binyu.
Cha terdiam sesaat, dia memikirkan ucapan Dewi dan Binyu. Lalu dia menatap kearah Zain.
"Baiklah, aku ikut ke Paris bersamamu Zain!" ucap Cha dengan pasti.
"Kamu serius Cha!" seru Zain dengan kegirangan.
__ADS_1
"Iya seiris Zain..!" sahut Cha tersenyum.
"Yeeeeee, aku senang banget Cha kamu mau ikut bersamaku ke Paris. Aku akan menghubungi Papaku dulu, agar disampaikan ke Mama kalau kamu ikut ke Paris," ungkap Zain.
Lalu Zain menghubungi kembali no Papanya. Zain menunggu tlp nya diangkat. Lalu terdengar suara Papanya diseberang.
"Assalamu'alaikum Zain!" sapa Papanya.
"Wa'alaikumussalam Pa...!" sahut Zain.
"Qu'est-ce que c'est?" tanya Papanya.
"(Ada apa)?" tanya Papanya.
"Nous partons maintenant Pa pour Paris," jawab Zain kesenangan.
"(Kami akan berangkat sekarang Pa ke Paris)," jawab Zain kesenangan.
"Nous? De qui tu parles?" tanya Papanya bingung.
"(Kami? Maksud kamu sama siapa)?" tanya Papanya bingung.
"Oui papa, Zain amènera quelqu'un que Maman attendait. J'y vais avec Cha, Pa!" seru Zain sambil menatap Cha dengan senyuman.
"(Iya Pa, Zain akan bawa seseorang yang sudah dinantikan Mama. Aku berangkat sama Cha, Pa)!" seru Zain sambil menatap Cha dengan senyuman.
"T'es sérieux Zain! Oh mon Dieu... Ta Maman doit être si heureuse d'entendre ça. D'accord, nous allons tout mettre en place ici. Papa va le dire à Maman et Maman maintenant," ungkap Papanya yang juga merasa senang.
"(Kamu serius Zain! Oh Tuhan..Mamamu pasti senang sekali mendengarnya. Baiklah kami akan menyiapkan semuanya disini. Papa akan beritahu Mama dan Omamu sekarang)," ungkap Papanya yang juga merasa senang.
"Si c'est le cas, Zain l'éteindra d'abord, Pa. Nous devons nous préparer à partir. Assalamualaikum," balas Zain yang menyudahi obrolannya.
"(Kalau begitu, Zain matikan dulu ya Pa. Kami harus siap-siap berangkat. Assalamu'alaikum)," balas Zain yang menyudahi obrolannya.
"Ok Zain, Papa attends ici, Wa'alaikumussalam," balas Papanya.
Akhirnya tlp pun selesai. Zain menatap Cha dengan tersenyum bahagia.
"Aku merasa gak enak ikut sama kamu Zain. Nanti mereka berpikir yang tidak baik tentangku," balas Cha.
"Gak usah khawatir Cha. Orang tua Zain sangat baik dan tidak suka menilai orang lain jelek. Kamu beruntung ketemu sama mereka," sambung Binyu yang mengerti karakter orang tua Zain.
"Nanti jangan lupa ya, bawa oleh-olehnya ya Cha, hehehe," Dewi ikut menimbrung obrolan mereka.
"Iya nanti aku bawakan ya Wi buat kamu, Ibu dan Pita," balas Cha.
"Jam berapa kalian berangkat?" tanya Binyu.
"Habis ke kontrakan Cha dulu baru kami berangkat," jawab Zain.
"Kalau gitu, gw duluan yang berangkat. Kamu hati-hati ya Cha dijalan," ucap Binyu.
"Dan Lo Zain, jaga Cha baik-baik disana. Salam sama Nyokap dan Bokap lo," pesan Binyu sambil menatap Zain.
"Pasti bro, gw akan jaga Cha disana. Lo kapan baliknya?" tanya Zain balik.
"Gw balik kalau kalian sudah berangkat," balas Binyu.
"Kalau gitu sekarang kita balik ke Rumah dulu, biar kamu siap-siap ya," ucap Zain.
Akhirnya setelah mereka selesai makan, Cha dan yang lainnya pergi meninggalkan kampus menuju Rumah. Binyu melajukan mobilnya dengan menyalakan music melow.
Lagu Sisa Rasa
Melihatmu bahagia, satu hal yang terindah
Anug'rah cinta yang pernah kupunya
Kau buatku percaya ketulusan cinta
Seakan kisah sempurna 'kan tiba
__ADS_1
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang telah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Masih jelas teringat pelukanmu yang hangat
Seakan semua tak mungkin menghilang
Kini hanya kenangan yang t'lah kau tinggalkan
Tak tersisa lagi waktu bersama
Mengapa masih ada
Sisa rasa di dada
Di saat kau pergi begitu saja? (Begitu saja)
Mampukah ku bertahan
Tanpa hadirmu, sayang?
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Oh, masih tersimpan
Setiap kеnangan, ho-wo-wo-oh
Semua cinta yang kau beri
Kau takkan terganti
Mеngapa masih ada
Sisa rasa di dada (rasa di dada)
Di saat kau pergi begitu saja?
Mampukah ku bertahan
(Tanpa hadirmu, sayang?)
Tuhan, sampaikan rindu untuknya
Sampaikan rinduku untuknya
Cha dan Binyu hanyut dalam lagu yang liriknya sangat menyentuh perasaan mereka berdua. Zain sekilas melirik kearah Binyu yang terlihat serius. Apakah serius menyetir atau menghayati lantunan lagu yang diputar.
"Bagus banget ya lagunya Cha. Menyentuh hati banget, gw jadi baper nih," sindir Dewi terhadap Cha dan Binyu.
"Biasa aja," kilah Cha.
"Awas loh, nanti baperan denger lagu kayak gituan," ledek Dewi yang semakin senang menggoda Cha.
"Isssh apaan sih Lo Wi. Gw gak baperan tau," ketus Cha yang merasa kesal.
__ADS_1