
Setelah mobil online datang menjemput mereka dikost, mereka keluar dari kamar menuju mobil. Setelah itu mobil melaju sesuai arah tujuan. Dalam perjalanan menuju sekolah adiknya Dewi, Mbak Asih terus me ceritakan kisah tentang dirinya dan mantannya.
"Mbak, mending Mbak move-on deh. Masih banyak loh cowok diluaran yang masih mau sama Mbak. Apalagi kalau cowok itu serius, pasti mau nerima Mbak apa adanya,' Dewi member saran kepada Mbak Ani agar tidak terus-terusan bersedih dan masih mengharapkan laki-laki itu kembali.
"Benar Mbak apa kata Dewi. Lebih baik Mbak pasrahkan semuanya sama Allah SWT. Karena dialah yang menentukan takdir seseorang. Jadi Mbak harus ikhlas melupakannya," Cha pun ikut mendukung saran Dewi.
"Iya kalian benar, tapi mungkin Mbak butuh waktu untuk menerima semua ini. Karena tidak mudah Cha, Wi menjalani hari-hari tanpa adanya orang yang kita sayangi. Apalagi Mbak sudah terbiasa dengan kehadirannya dalam kehidupan Mbak," jawab Mbak Ani.
"Mudah-mudahan ya Mbak, aku do'akan semuanya menjadi normal kembali ketika Mbak belom jadian sama dia. Dan kuharap Mbak jangan terlalu lama larut dalam kesedihan," ucap Cha.
Mbak Ani hanya mengangguk saja. Dia mendengarkan semua masukan dan dukungan dari kedua sahabatnya itu. Mereka bertiga duduk dibelakang sambil ngobrol dan sesekali bercanda.
Hingga waktu tak terasa, mereka sampai disebuah Sekolah SD. Dewi turun duluan mencari keberadaan Ibunya. Sedangkan Cha dan Mbak Ani turun belakangan.
Dewi melihat Ibunya sedang berdiri di depan gerbang Sekolah adiknya menunggu kedatangan dirinya.
"Ibu...!!" teriak Dewi saat melihat keberadaan Ibunya.
"Dewi!" Ibunya terpaku melihat kehadiran anaknya yang dirindukannya.
Mereka saling berpelukan dan melepas kerinduan antara Ibu dan anak.
"Maafin Dewi Bu, maafin," ucap Dewi sambil menangis.
"Hussst, kamu jangan ngomong begitu. Ibu tau, kamu tidak bersalah. Kamu udah sarapan nak?" tanya Ibunya Dewi.
"Belom Bu, tadi niatnya pengen sarapan bareng Ibu, sekalian Dewi mau ngenalin Ibu sama teman-teman Dewi. Mereka sangat baik Bu. Dan Dewi juga mau ngobrol sama Ibu," ucap Dewi yang mengajak Ibunya untuk sarapan.
"Mana teman-teman kamu nak?" tanya Ibunya.
"Itu teman Dewi, Bu," Dewi menunjuk kearah Cha dan Mbak Ani yang sedang berjalan ke tempat mereka.
"Hallo Tante!" sapa Cha sambil menyalami tangan Ibunya Dewi.
"Nama Saya Ani, Tante!" Mbak Ani juga menyalami Ibunya Dewi.
"Kalian teman-temannya Dewi ya?" tanya Ibunya.
"Iya Tante, saya teman kuliahnya Dewi. Kalau ini teman kost saya dan juga me jadi temannya Dewi," Cha memperkenalkan pertemanan mereka.
__ADS_1
"Ya udah, kalian sudah makan semua?" tanya Ibunya.
"Kami mau sarapan bareng Ibu, makanya kami juga belom sarapan Bu!" ucap Dewi sambil tersenyum.
"Kalau gitu, kita sarapan dulu yuk disana," Ibunya mengajak Dewi dan yang lainnya ke sebuah warung makan sederhana yang dekat dengan sekolah adiknya Dewi.
"Ayo Bu," ajak Dewi sambil menggandeng tangan Ibunya.
Cha dan Mbak Ani mengikuti mereka dari belakang. Dewi dan Ibunya berjalan duluan ke warung itu.
Sesampainya mereka disana, Dewi memilih tempat yang enak untuk mereka ngobrol.
"Kita duduk disana aja ya Bu!" Dewi mengajak ibunya duduk di lesehan yang di tengah.
"Iya nak," jawab Ibunya.
Cha dan Mbak Ani hanya mengikuti kemana Dewi membawa mereka. Cha memilih duduk bersama Mbak Ani. Sedangkan Dewi duduk disamping Ibunya. Mereka pun memesan makanan. Saat menunggu, Dewi mulai membuka cerita.
"Bu, bagaimana dengan Bude disana?" tanya Dewi.
"Bude mu marah sama Ibu karena tidak bisa mendidikmu dengan baik. Akibat aduan Pakde mu yang mengatakan kamu bersalah, Budemu, membenci keluarga kita. Ibu sudah tidak tahan lagi tinggal disana nak. Tapi kita gak bisa berbuat apa-apa," Ibunya terlihat pasrah dikarenakan tidak adanya keuangan yang mencukupi.
"Tapi nak, kita ndak punya dana untuk bayar sewanya. Buat makan aja Ibu hanya dapat dari membantu Budemu. Gimana kita bayar sewanya nak?" tanya Ibunya.
Dewi melirik kearah Cha. Sedangkan yang dilirik hanya diam dan mendengarkan saja obrolan mereka.
"Bu, masalah sewanya gak usah Ibu pikirkan. Sahabat Dewi ini yang akan membantu kita Bu," jawab Dewi sambil menunjuk kearah Cha.
"Maksudnya gimana nak?" tanya Ibunya sambil menatap Cha.
Lalu Cha pun mengambil alih percakapan mereka. " Begini Bu, Dewi kemaren saat kejadian itu datang kekost saya. Dia menceritakan semua kejadian yang dialaminya waktu itu. Saya juga sempat terkejut dan marah mendengar apa yang diceritakan Dewi. Dan saya menyuruh Dewi untuk sewa rumah yang jauh dari Pakdenya. Kalau untuk biaya, Ibu tidak usah khawatir. Karena abang saya yang membayarnya selama dua tahun. Dan nanti Dewi kan bisa bekerja sambil kuliah. Yang penting Ibu dan Dewi serta adik-adiknya Dewi aman dari kejahatan Pakdenya," Cha menjelaskan semuanya.
Ibunya Dewi merasa tidak enak atas bantuan yang diberikan Cha.
"Maaf nak, Ibu tidak bisa menerima bantuan ini, karena bagi Ibu itu terlalu banyak biayanya nak. Ibu tidak sanggup menggantinya nanti," balas Ibunya Dewi sambil menatap Cha.
"Bu kalau masalah dana, jangan dipikirkan. Apa Ibu mau Dewi jauh dari adik-adiknya dan tidak membantu Ibunya? Dan apa Ibu mau, kejadian yang menimpa Dewi, akan menimpa adiknya kelak atau bahkan, maaf, ke Ibu sendiri," Cha memberikan pandangan dan masukan kepada Ibunya Dewi.
Lalu Ibunya Dewi terdiam mendengar penjelasan Cha. Ibunya pun berpikir dan melirik kearah Dewi. Dewi yang dilirik menganggukan kepalanya, memohon kepada Ibunya agar menerima bantuan dari Cha.
__ADS_1
Ibunya menarik nafasnya sejenak lalu berkata, "Baiklah nak Cha, Ibu menerima bantuan dari nak Cha. Ibu akan bilang sama mereka, kalau Ibu akan pindah dari sana," Ibunya setuju dengan bantuan Cha.
"Tapi Bu, Ibu jangan kasih tau alamat kita sama mereka. Kalau Ibu kasih tau, sama aja, Pakde akan melakukan kejahatannya lagi sama aku Bu, karena dia tau dimana kita tinggal," jelas Dewi yang masih takut dengan Pakdenya.
"Iya, Ibu tidak akan ngasih tau sama mereka dimana kita tinggal. Kamu sudah dapat tempatnya nak?" tanya Ibunya.
"Nanti Dewi khabari Bu, kalau tidak besok, lusa kita sudah pindah. Tapi maaf Bu, aku tidak mau kembali kerumah itu. Jadi nanti Ibu akan dibantu sama mereka jika pindahan," Dewi menunjuk kearah Cha dan Mbak Ani.
Cha dan Mbak Ani terpelongo mendengar ucapan Dewi. Mereka tidak menyangka Dewi akan menyuruh mereka membantu kepindahan Ibunya. Karena memang itu belom direncanakan mereka.
Cha dan Mbak Ani hanya tersenyum melihat ke Ibunya Dewi. Karena tidak mungkin mereka protes sama Dewi dihadapan Ibunya.
"Ya Allah nak..., kalian baik sekali. Bersyukur banget Dewi punya sahabat seperti kalian. Sahabat yang sangat perduli dengan kesulitan yang lainnya," Ibunya sangat bersyukur atas bantuan itu.
"Kami sudah berjanji Bu, akan selalu membantu sebisa kami. Ibu jangan sungkan-sungkan sama kami," ucap Mbak Ani.
Lalu pelayan pun datang membawakan pesanan mereka.
"Ayo Bu, kita sarapan dulu. Oh iya Bu, adik-adik udah pada sarapan belom Bu tadi?" Dewi teringat sama adik-adiknya.
"Sudah nak, tadi Ibu ceplokan telur buat mereka," jawab Ibunya.
"Oh.., syukurlah. Ayo kita sarapan dulu Bu," ajak Dewi.
"Ayo nak kita sarapan," ajak Ibunya kepada Cha dan Mbak Ani.
"Ah, iya Bu silahkan," balas Cha dan Mbak Ani bersamaan.
Mereka sarapan bersama. Menikmati makanan yang dihidangkan. Cha dan Mbak Ani sesekali membuat candaan agar mereka semua terhibur dan tidak memikirkan masalah yang sedang mereka hadapi saat itu juga. Waktu pun berjalan tak terasa. Dewi memberikan beberapa lembar uang merah kepada Ibunya selama dia tidak tinggal bersama Ibunya.
"Loh nak, kamu dapat uang dari mana sebanyak ini?" tanya Ibunya yang curiga sama Dewi.
"Ini uang dari Cha, Bu. Dia memberikan uang ini untuk Ibu dan adik-adik disana," jawab Dewi sambil menatap kearah Cha.
"Iya Bu, itu dari Abang saya, dia orangnya baik, suka menolong sahabat saya jika dalam keadaan kesulitan," balas Cha.
"Ya Allah nak, Ibu gak bisa bilang apa-apa lagi. Kalian sangat membantu kami. Mudah-mudahan makin banyak rezeki Abang nak Cha ya. Ibu terima kasih banyak, dan tolong sampaikan ke Abang nak Cha," ucap Ibunya sambil menitikkan air matanya.
Cha dan Mbak Ani merasa terharu melihat Ibunya Dewi.
__ADS_1
"Ini sudah jalannya buat Dewi dan keluarga Dewi Bu. Kami hanya perantara yang dikirim Allah SWT untuk membantu keluarga Dewi," ucap Cha dengan bijak.