Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pertemuan Rudy dengan Ibunya Dewi


__ADS_3

Rudy terpana melihat kecantikan Dewi yang tidak seperti biasanya. Ternyata Dewi bisa berubah menjadi sosok Dewi yang sangat cantik sesuai dengan namanya. Dia masih diam berdiri di tempatnya hingga Dewi menegurnya.


"Awas Rudy, nanti lalat masuk ke dalam ruangan berlendir itu," tegur Dewi dengan menyunggingkan senyumnya.


Rudy pun tersadar dan menormalkan detak jantungnya. Lalu dia pun tersenyum malu mendengar ucapan Dewi.


"Apakah kita berangkat sekarang?" tanyanya.


"Ayo, aku sudah bilang sama Cha kalau kita duluan berangkat," ucap Dewi.


"Baiklah, kita berangkat sekarang," ajak Rudy.


Keduanya berjalan ke arah lantai bawah dengan menuruni tangga jalan. Rudy sesekali melirik Dewi. Kemudian dia mengambil tangan Dewi dan menggenggamnya dengan erat.


Dewi tersentak dan langsung menoleh ke arah Rudy. Tetapi justru Rudy berpura-pura tak menghiraukan raut wajah terkejut Dewi. Rudy tetap menggenggam tangan Dewi dan membawanya berjalan ke arah mobil.


"Apa kamu siap membawaku ke acara keluarga kamu Wi?" tanya Rudy memastikan.


"Tentu saja aku siap Rudy. Kenapa? Apa kamu tidak ingin menemui Ibuku?" tanya Dewi ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Aku siap, tapi aku khawatir kamu malu dan di permalukan nantinya," jawab Rudy.


"Kenapa aku harus malu?" tanya Dewi. "Kenapa juga mereka mempermalukan ku?"


"Karena kamu menjadi kekasih dari seorang bodyguard," jawabnya. "Apa kamu tidak malu jika mereka menertawakanmu berpacaran dengan bodyguard?" tanya Rudy hati-hati.


"Aku tidak pernah mempermasalahkan status pasanganku. Yang penting bagiku, dia bertanggung jawab dan sangat menyayangiku," jawab Dewi tegas.


"Terima kasih karena kamu mau menjadi kekasihku Wi. Secepatnya aku akan menghalalkanmu. Aku ingin menjagamu dan keluargamu," balas Rudy tersenyum.


"Ya aku akan menunggunya." Dewi tersenyum hangat melihat Rudy yang sekarang menjadi kekasihnya.


Rudy pun melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang. Dia tidak ingin cepat-cepat sampai ke tempat acara keluarga Dewi. Karena Rudy ingin menghabiskan waktu berduanya dengan kekasih barunya. Namun karena jalanan yang tidak macet dan ramai, mereka tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di tempat keluarga Dewi.


"Akhirnya kita sampai," ucap Dewi saat melihat acaranya sudah akan di mulai.


"Apakah aku harus ikut bersamamu Wi ke sana?" tanya Rudy bimbang.


"Ayolah Rudy, aku berharap kamu mau menemaniku di acara itu. Aku juga sudah mengirim pesan ke Ibu tentang hubungan baru kita ini," ucap Dewi serius.

__ADS_1


"Apa!' pekik Rudy yang kaget mendengarnya. "Kamu sudah cerita sama Ibumu?" tanya Rudy.


Dewi pun mengangguk membenarkan ucapan Rudy. "Ya aku sudah mengatakannya ke Ibu. Dan Ibu ingin segera bertemu dengan kamu," jawab Dewi santai.


"Oh Wi...., kau membuatku deg-degan. Karena ini pertama kali aku harus menemui calon mertuaku," balas Rudy yang terlihat sedikit pucat.


"Oh ya..., berarti aku yang pertama bagi kamu?" tanya Dewi memancingnya.


"Tentu kamu yang pertama dan terakhir," jawabnya. "Ayo, aku siap menemui Ibumu," ajak Rudy dengan mantap.


Keduanya keluar dari dalam mobil. Banyak mata memandang ke arah mereka dan berkata.


"Bukannya itu si Dewi ya?" tanya sepupunya.


"Loh sama siapa dia? Apa dia sudah punya kekasih ya Bude?" tanya saudara lainnya.


"Ntahlah, gak mungkin dia memiliki kekasih. Perempuan seperti dia, mana ada yang mau," ucap Budenya yang menghina Dewi.


"Eh lihat siapa itu yang bersama Dewi? Aku baru lihat," ucap saudara lain.


"Iya ganteng juga ya. Apa dia temannya si bule yang kemaren datang bersama Dewi ya?" tanya yang lainnya.


"Bu, sudah siap?" tanya Dewi saat masuk ke dalam kamar Ibunya.


"Loh, kamu sudah datang dari tadi?" tanya Ibunya.


"Baru aja Bu. Aku bersama Rudy. Dia sedang menunggu di luar sana," jawab Dewi.


"Ibu senang Wi, akhirnya kamu punya seseorang yang bisa menjagamu. Semoga dia orang yang baik ya Wi," ucap Ibunya penuh harap.


"Insyaallah ya Bu," balas Dewi. "Sekarang lebih baik kita keluar. Rudy ingin bertemu dengan Ibu," ucap Dewi.


"Baiklah, kita akan menemuinya," balas Ibunya.


"Sika, Ibu duluan ya. Karena Mbakmu mau memperkenalkan Ibu sama pacarnya," ucap Ibunya.


"Wah....Mbak udah punya pacar ya sekarang? Apa Mas yang kemaren makan bareng kita?" tanya Sika menebaknya.


"Hussst anak kecil tidak baik ikut campur. Ya sudah kamu di dalam aja dulu. Nanti Ibu ke sini lagi ya," protes Ibunya.

__ADS_1


"Iya Bu, Sika nunggu di sini aja. Salam sama Mas cakep itu ya Bu," ucap Sika yang sangat polos.


"Kamu ini," protes Ibunya.


Lalu Dewi dan Ibunya keluar menemui Rudy yang duduk di ruang tamu. Dewi terkejut saat melihat Dina duduk di dekat Rudy dengan centilnya.


"Eh Wi...kenapa Masnya di biarin sendirian aja di sini? Aku jadi menemaninya, kasihan kan !" seru Dina yang tak tau malu.


Dewi mengepalkan kedua tangannya di balik bajunya. Seketika wajah Dewi menjadi dingin dan tak bersahabat.


"Kau boleh pergi. Karena tidak ada yang menginginkanmu berada di sini," ketus Dewi tanpa ada senyum di wajahnya.


"Kamu itu ya gak tau diri banget. Aku hanya menemaninya. Lagian dia juga gak protes kok," ucap Dina yang sengaja membuat Dewi marah dan cemburu.


"Sialan nih orang, bisa-bisanya dia memanfaatkanku untuk membuat kekasihku cemburu," bathin Rudy.


Rudy tak menyangka Dina bisa memutarbalikkan fakta. Padahal dialah yang datang menghampirinya. Dan Rudy sudah menyuruhnya pergi. Namun Dina tak mau, Allah justru sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Rudy. Dan tepat saat itu terjadi, Dewi muncul dengan Ibunya. Tentu saja Dewi terkejut melihat pemandangan yang sangat menyakitkan matanya dan dadanya.


"Nak Dina, sekarang kamu mending kembali ke acaranya. Sapa tau di sana kamu dibutuhkan," tiba-tiba Ibunya Dewi menyela obrolan mereka.


"Ah Bibi, baiklah, saya akan pergi. Maaf sudah mengganggunya," ucap Dina tanpa rasa salah.


Sementara Dewi masih memasang wajah cemberutnya dan kesal. Dia sengaja duduk di samping Ibunya tanpa perduli dengan Rudy.


"Wi, sana buatkan minum untuk nak Rudy. Masa tamu gak di hidangkan apa-apa," ucap Ibunya yang menyuruh Dewi menyiapkan sesuatu.


"Ah iya Bu, Dewi lupa. Bentar ya Bu," balasnya.


Lalu Dewi pun berlaku dari hadapan Rudy. Dia meninggalkan Rudy dan Ibunya berdua. Ntah apa yang mereka akan bicarakan. Dewi benar-benar gugup dan deg-degan. Dia berjalan ke arah ruang makan dan membuat teh manis serta mengambil beberapa cemilan untuk di hidangkan buat Rudy.


Setelah selesai, Dewi membawa nampan yang berisi teh manis dan cemilan. Dia menghampiri Rudy dan Ibunya. Kemudian dia menghidangkan cemilan dan teh manis dihadapan Rudy.


"Ayo Rudy di minum," ucap Dewi yang mempersilahkan Rudy menikamti hidangannya.


"Makasih Wi," jawab Rudy setenang mungkin.


"Wi, Ibu sudah bicara sama nak Rudy tentang hubungan kalian. Dan nak Rudy meminta kamu untuk menjadi istrinya. Gimana, apa kamu mau Wi?" tanya Ibunya yang tak bisa menyembunyikan senyum cerah terbit di bibirnya yang tua.


"Aku bersedia Bu, aku sih nurut Ibu saja," balas Dewi dengan malu-malu. Dia pun menundukkan wajahnya tak berani menatap Rudy yang tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu, kita akan segera membuat acara lamaran kalian ya. Nanti setelah acara di sini selesai, kita kembali ke Jogja dan membicarakan semuanya," ucap Ibunya.


__ADS_2