Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Menguping Pembicaraan Zain dan Binyu


__ADS_3

Yoga menyunggingkan senyuman sinisnya menatap cowok itu yang tak lain adalah Zain teman Binyu. Dia terus menyantap makanannya tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Zain.


"Ga, kamu dilihatin terus sama dia," bisik Cha.


"Biarkan saja Cha. Mau sampai matanya melotot keluar juga, aq gak perduli," kata Yoga cuek.


"Kalian ini kenapa sih, bisik-bisik segala. Bagi-bagi dong ceritanya!" kata Bimo yang dari tadi memperhatikan mereka.


"Tuh dibelakang Lo cowok bajingan satu lagi," tunjuk Yoga dengan dagunya.


"Siapa Ga?" tanya Bimo yang hendak menoleh kebelakang.


"Jangan melihat kebelakang Bim...! teriak Cha dengan suara pelan.


"Lo kalau mau lihat, harus pura-pura ngapain gitu," cetus Yoga.


Bimo pun berpura-pura ngobrol dengan Dewi yang berada disampingnya. Lalu dia mengambil buku menu dan pura-pura mengedarkan pandangannya mencari pelayan. Lalu matanya tertuju ke arah belakangnya. Syukurnya Zain lagi tidak melihat ke meja mereka. Sehingga Bimo bisa leluasa melihatnya.


Bimo menutup mulutnya gak percaya dengan kehadiran Zain.


"Hufftt, itu beneran kan laki-laki kemaren Ga?" Bimo berbisik dengan mencondongkan tubuhnya kearah Yoga.


Yoga hanya mengangguk sebagai jawabannya. Dia melihat Bimo dengan serius.


"Menurut Lo, dia sadar gak ya pada waktu itu? Apa dia tanda dengan kita ya Ga?" tanya Bimo yang merasa gak tenang.


"Biarkan aja Bim. Kita anggap gak kenal aja. Kalau Lo sikapnya seperti itu, bisa-bisa dia curiga," ucap Yoga yang tetap memperlihatkan wajah tenangnya.


"Kenapa den? Kok kelihatannya lagi rame gitu," tanya pak supir.


"Gak apa-apa pak. Lanjutin aja makannya pak," kata Yoga sambil tersenyum ramah.


"Saya sudah selesai den. Lebih baik bapak kembali ke mobil aja ya den," pinta supirnya agar duluan kembali ke mobil.


"Oh iya pak silahkan," kata Yoga.


Tiba-tiba ponsel Cha berdering. Cha mengambil ponselnya dari dalam tas dan melihat layar ponselnya tertera nama Binyu. Dia terkejut dan spontan mengucap.


"Kenapa Lo Cha kaget begitu," Bimo melihat Cha yang kaget.


"I...ini ada tlp dari Binyu, jelas Cha yang masih dalam keadaan terkejut.


"Sini biar aq angkat," kata Yoga sambil meraih ponselnya.


"Jangan Ga.....! Biarin aja gak usah diangkat. Aq gak mau lagi berurusan sama dia," Cha merebut kembali ponselnya dari tangan Yoga.


"Gimana kalau aq aja yang angkat Cha?" sambung Dewi yang dari tadi memperhatikannya.


"Boleh juga tuh Wi, tar Lo ngaku kakaknya Cha ya," balas Bimo.


"Iya, sini biar aq angkat Cha," kata Dewi lagi.


Cha memberikan ponselnya kepada Dewi. Lalu Dewi menjawab panggilan diponsel itu.


"Assalamu'alaikum...," sapa Dewi.


"Halo, siapa ini?" jawab Binyu.


"Loh anda mau cari siapa ini?" tanya Dewi lagi.

__ADS_1


"Ini benar no Cha kan? Saya mau ngomong sama Cha. Apa dia ada?" tanya Binyu heran.


"Oh....Cha. Dia lagi pergi. Anda siapa ya?" tanya Dewi pura-pura gak tau.


"Saya temannya Cha. Maaf ini siapa ya?" tanya Binyu yang gak kenal.


"Saya kakaknya Cha. Ada perlu apa anda mencari adek saya. Kalau tidak penting lebih baik jangan menghubungi adek saya. Karena Cha tidak boleh nerima tlp dari laki-laki," Dewi langsung mematikan ponsel Cha tanpa basa-basi.


"Loh udah kelar Wi?" tanya Bimo yang keheranan.


"Udah ngapain lama-lama jawab tlp nya, bosen tau," kata Dewi ngasal.


"Hahaha, bisa aja Lo Wi," celetuk Cha. Lalu Cha mengambil ponselnya dari Dewi.


"Cha sebaiknya kita pergi dari sini. Kamu sana Dewi keluar duluan. Perlihatkan seolah-olah kita berpisah. Sepertinya sebentar lagi Binyu akan dateng, itu perkiraan qu saja," terang Yoga.


"Ok, kami langsung ke mobil ya," jawab Cha.


"Iya kalian lewat pintu samping sana ya. Biar kami dari depan," jelas Yoga.


"Baik kita ketemu di mobil ya. Kalian hati-hati," kata Cha khawatir.


"Heum", Yoga menjawab dengan tatapan sayangnya kepada Cha.


Cha dan Dewi pergi meninggalkan Yoga dan Bimo yang sedang memperhatikan Zain yang pergi ke toilet. Setelah Cha pergi 10 menit yang lalu, Yoga melihat Zain kembali ke mejanya.


Kemudian Yoga memanggil pelayan untuk meminta bill nya. Setelah membayar, mereka pergi meninggalkan cafe tersebut tanpa menoleh ke arah Zain.


Mobil Yoga sudah keluar dari area cafe. Sehingga mereka berdua harus berjalan sedikit hingga keluar dari cafe. Dari kejauhan Yoga melihat mobilnya parkir di supermarket dekat cafe. Mereka menyamperin mobil Yoga dan masuk kedalam nya.


"Gimana Ga, apa cowok itu ngelihatin terus tadi ketika kalian keluar?" tanya Cha melihat Yoga yang masuk ke dalam mobil.


Namun tidak dengan Bimo, ketika dia berjalan beriringan dengan yoga, dia melihat Zain memperhatikan mereka keluar dari cafe hingga ke jalan raya. Karena Zain mengikuti mereka sampai ke depan pintu masuk cafe.


"Tadi gw ngelihat si Zain ngikutin kita loh sampai depan pintu cafe," potong Bimo disela percakapan Yoga.


"Berarti tadi dia melihat kalian berjalan ke jalan raya ya?" tanya Cha yang melihat ke arah Bimo.


"Aq gak tau yanx. Bimo yang melihat nya," jelas Yoga.


"Ga, gimana kalau kita menunggu di sini saja. Kita lihat apakah Binyu benaran datang apa gak," ajak Bimo agar mereka mau menunggu.


Setelah Bimo berkata seperti itu, dari kejauhan terlihat mobil Binyu memasuki cafe tersebut. Yoga menyuruh pak supir untul masuk kesana. Dan mengaktifkan ponselnya ketika pak Yos duduk didekat meja Zain.


Akhirnya pak Yos supir Yoga pergi masuk ke dalam cafe. Zain dan Binyu tak akan mengenalinya karena mereka tidak pernah melihatnya. Pak Yos masuk ke dalam cafe dan mengedarkan pandangannya. Dia melihat meja di belakang Zain kosong. Dia pun bergegas ke sana.


Pelayan datang menyamperin pak Yos yang sudah duduk dimeja dekat meja Zain dan Binyu.


"Selamat siang pak, ini buku menunya. Silahkan dilihat. Kalau mau pesan silahkan panggil saya ya pak," jelas seorang pelayan kepada pak Yos.


"Baik mbak, saya lihat dulu ya. Nanti saya panggil," kata pak Yos.


Pak Yos mengambil ponselnya dan menghubungi no Yoga. Tlp pun tersambung. Pak Yos dan Yoga serta teman-temannya yang menunggu di mobil mendengar percakapan Zain dan Binyu. Mereka mendengar Zain marah-marah sama Binyu.


"Lama banget sih Lo datang, mereka sudah pergi dari tadi," kesal Zain kepada Binyu.


"Sorry bro tadi lagi ada kerjaan, nih juga gw dah buru-buru kemari," jawab Binyu yang kelihatan kecapean.


"Gw tadi lihat cewek Lo sama beberapa cowok dan ada satu cewek. Mereka cowok yang waktu itu membawa Cha dari kamar gw, tau gak Lo...! seru Zain kesal.

__ADS_1


"Apa Lo punya gambar mereka, atau Lo tadi sempat motret mereka?" tanya binyu.


"Waduh gw gak kepikiran tadi buat ngambil gambar mereka. Emang buat apa gambarnya?" tanya Zain bingung.


"Ya buat gw lihat lah bego....," ketus Binyu.


"Sialan Lo ngatain gw bego," balas Zain marah.


"Ya habis Lo gak cerdas banget. Ya kalau ada fotonya kan, mana tau gw kenal sama mereka," jelas Binyu.


"Iya gw gak kepikiran bro tadi," balas Zain.


"Wait..," Binyu mengeluarkan ponselnya dan membuka galerinya. Kemudian dia melihat foto Yogayang kemaren sempat diambilnya pas disekolah. Dia pun menunjukkan foto tersebut kepada Zain.


"Lihat, apa itu cowok yang bersama Cha tadi?" tanya Binyu yang menyodorkan ponselnya.


Zain melihat dan mengamati nya dengan jelas. Dia mengerutkan keningnya dan berkata


"Iya bener nih dia cowoknya. Nih orang yang kemaren datang ke kamar gw dan membawa Cha yang dalam keadaan merangsang. Sialannnn," umpat Zain yang menggenggam ponsel Binyu.


"Sudah gw tebak, pasti dia," kata Binyu.


"Maksud Lo apa? Apa ada hubungan antara Cha dan cowok itu?" tanya Zain penasaran.


"Ya, dia cowok pertama yang tidur dengan Cha. Seharusnya gw yang melakukan itu. Tapi anak ingusan itu sudah duluan mengambilnya dari gw. Emang sialan tuh anak," umpat Binyu yang merasa jengkel teringat dengan Cha.


"Gimana bisa dia datang ke Apartement gw hah..! Apa Lo berkhianat sama gw Bin..?" Zain menatap tajam ke arah Binyu.


"Eh sialan, enak aja Lo bilang gw pengkhianat. Gw udah merencanakannya dengan matang. Lagian mana gw tau bakalan hancur begitu rencananya. Ini pasti ada yang membantunya," ungkap Binyu sambil berpikir.


"Siapa yang membantunya? Tidak mungkin dia bekerja sendiri, pasti ada orang berkuasa yang membantu. Apa Lo gak tau tentang bocah itu?" tanya Zain yang penasaran.


"Lo bener bro, sepertinya dia tidak bekerja sendirian," Binyu membenarkan ucapan Zain.


"Gimana Lo udah dapat pengganti Cha buat gw, hah. Ingat Lo harus ganti rugi uang gw dua kali lipat atau Lo cari pengganti Cha yang bohay," kata Zain tanpa basa basi.


"Gw udah dapet penggantinya. Lo tenang aja, dan ini pastinya lebih nikmat karena dia masih segel alias perawan. Lo harus tambah bayaran gw," Binyu menaik-naikan kedua alisnya.


"Gampang la itu. Kapan Lo bawa dia ke gw. Atau langsung aja Lo bawa ke Apartement gw sebelum gw balik ke luar negeri," kata Zain sambil menyeruput minumannya.


Pak supir yang mendengar percakapan mereka, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja.


Sedangkan di dalam mobil, mereka berempat mendengar semua pembicaraan Zain dan Binyu dengan raut wajah yang berbeda-beda.


"Gila...,jangan-jangan selama ini kerjaan si Binyu mencari cewek-cewek perawan buat dijual seperti mucikari," kata Bimo yang gak menyangka si Binyu seperti itu.


"Wah bahaya nih gw, jadi takut kalau ketemu mereka," sambung Dewi.


"Kenapa malah Lo yang takut Wi?" tanya Bimo heran.


"Ya jelas lah takut. Gw kan masih segel alias perawan," kata Dewi tanpa malu.


"Eh iya ya Wi, ya udah mending Lo harus hati-hati dari sekarang Wi, jangan sampai Lo ketangkep matanya sibinyu," Bimo menakut-nakuti Dewi.


"Bim, sekarang Lo hubungi aja pak Yos, suruh dia ke mobil sekarang. Kita harus mengantar mereka pulang. Nanti Cha dicariin mamanya," kata Yoga.


"Iya nih dah hampir sore. Aq juga mau pergi sama mama qu sore nanti," kata Dewi tanpa ada yang bertanya.


Bimo pun menghubungi pak Yos. Pak Yos menjawab tlp nya. Lalu Bimo meminta pak Yos agar pergi meninggalkan cafe itu dan kembali ke mobil.

__ADS_1


Akhirnya pak Yos kembali ke mobil melewati pintu samping tanpa melihat keberadaan mereka berdua. Lalu pak Yos berjalan menuju supermarket dimana mobil diparkir.


__ADS_2