Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Obrolan kedua sahabat


__ADS_3

Binyu benar-benar sangat menyesali apa yang terjadi dengan dia dimasa lalu. Dia sudah menyia-nyiakan Cha. Dan sekarang dia harus bersaing secara sehat dengan sahabatnya sendiri. Selain itu Binyu juga harus bersaing dengan Yoga. Binyu benar-benar menyesal.


"Trus gimana dengan nyokap dan bokap Lo! Apa mereka tau Anggita mengkhianati Lo?" tanya Zain.


"Mereka tau Zain. Dan...," Binyu menghentikan ucapannya.


"Dan apa Bin?" tanya Zain penasaran.


"Dan nyokap gw juga selingkuh dari bokap, Zain."


"Loh kenapa bisa seperti itu? Emang mereka ada masalah?" tanya Zain sambil menikmati cemilannya.


"Mereka baik-baik aja. Tapi nyokap gw tertarik sama brondong yang mendekatinya. Lo kan tau, bokap gw udah berumur, mungkin tidak bisa lagi nyenengin nyokap. Dan brondong itu sudah membuat nyokap gw lupa segalanya," jelas Binyu dengan wajah sedihnya.


"Sorry gw gak bermaksud membuat Lo sedih. Gw senang Lo sudah berubah. Dan gw harap Lo sama dengan gw menghargai yang namanya perempuan."


"Ya gw juga kaget lihat Lo friendly seperti ini. Mana Zain yang gw kenal dulu, kejam dan arogan walaupun sesama sahabat," ucap Binyu.


"Sekarang rencana Lo apa?" tanya Zain yang menatap kearah Binyu.


"Gw saat ini menjalankan Perusahaan Papa gw. Karena dia sudah pensiun dan gak sanggup lagi menjalankan Perusahaan," jelas Binyu.


"Sukses buat Lo. Kapan-kapan kita bisa bekerja sama," harap Zain.


"Boleh. Ngomong-ngomong sejak kapan Lo dekat sama Cha?" tanya Binyu yang kepengen tau hubungan sahabatnya dengan mantannya.


"Hahaha ceritanya panjang Bin. Kalau diceritakan ntar Lo ketiduran lagi," canda Zain.


"Gampang lah, gw bakalan dengerin kok," Binyu memaksa Zain untuk bercerita.


"Hmmm, awal mulanya gw tertarik sama Cha, saat kita mendatangi rumahnya. Disitu gw lihat ternyata Cha bukan anak yang memiliki kehidupan susah. Gw jadi penasaran dengan dia, hingga gw berusaha mendekatinya. Dan sebelum gw berangkat ke Paris, gw ngasih kenang-kenangan dengannya. Dan gw juga gak tau dia kuliah diJogja. Tapi gw menyuruh anak buah gw untuk memantau Cha saat di Medan," ungkap Zain.


"Terus akhirnya Lo tau dimana keberadaan Cha. Berarti kalian sudah lama saling berhubungan? Dan Lo juga rela bolak-balik Paris-Indonesia hanya karena Cha?" tanya Binyu yang merasa kagum dengan tekad kuat sahabatnya untuk mendapatkan Cha.


"Ya, gw udah bertekad akan menjadikannya bagian dari kehidupan gw. Dan saat ini dia masih buta akan cinta pertamanya. Gw tau bagaimana si Yoga di Belanda sana. Tapi gw gak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena tentu saja, Cha tidak akan percaya gitu saja jika gw mengungkapkan sesuatu tentang Yoga di Belanda," terang Zain.


"Maksud Lo, cowok ingusan itu saat ini kuliah di Belanda? Gila Lo Zain, semua informasi akurat Lo dapat," puji Binyu terhadap sahabatnya.


"Ya, dia saat ini sedang kuliah di Kedokteran di Belanda. Dan dia juga sedang dijodohkan sama seorang perempuan anak dari sahabat Papanya," ucap Zain memberitahu.


"Terus Cha tau tentang itu?" tanya Binyu.


Zain hanya menggelengkan kepalanya. Dia menatap kearah Binyu.


"Gw harap Lo jangan pernah bercerita apapun tentang laki-laki itu terhadap Cha. Gw gak mau Cha terluka karena penantiannya sia-sia."


"Bagaimana dengan Lo?" tanya Binyu.


"Gw akan menunggu untuk Cha siap menerima gw," jawab Zain.


"Lah, kalau dia gak menerima Lo! Malah dia menerima gw sebagai pendamping hidupnya gimana?" tanya Binyu yang sengaja memancing amarah Zain.


"Hahaha, itu Cha yang menentukan. Jika dia memilih Lo, gw akan melepasnya dan mengikhlaskannya. Tapi ingat, jika Lo macem-macem lagi seperti dulu, gw yang akan menghilangkan nyawa Lo langsung," ancam Zain dengan penuh ketegasan.


"Yeeee, mana gw berani membuat Cha terluka lagi. Sekarang kita sepakat akan bersaing secara sehat. Gw akan mencoba membuat Cha jatuh cinta lagi sama gw. Lo siap-siap menangis bombay. Hahaha," ledek Binyu sambil tertawa.


"Kapan Lo balik ke Jakarta?" tanya Zain yang ingin mengusir sahabatnya dari Jogja agar tidak berdekatan dengan Cha saat dia di Paris.


"Kenapa Lo nanya gitu? Takut gw bakalan dekat sama Cha?" jawab Binyu yang mengerti arah pertanyaan Zain.

__ADS_1


"Gak sih, gw cuma pengen tau aja," kilah Zain.


"Besok rencananya gw balik ke Jakarta. Kalau Lo, ngapain lama-lama di Jogja? Emang Perusahaan Lo gak membutuhkan CEO nya?" tanya Binyu.


"Besok gw juga balik ke Paris karena akan ada pertemuan dengan Perusahaan yang ingin bekerja sama dengan Perusahaan gw."


"Oh ya, Cha tinggal sama siapa ya disana? Kenapa ada seorang Ibu dan anak kecil ya dirumah itu?" tanya Binyu pengen tau.


"Oh...itu sahabatnya Cha. Dan Ibu serta anak kecil itu adalah keluarga dari sahabatnya Cha. Karena ada suatu problem makanya mereka tinggal bersama," jelas Zain.


"Loh bukannya sahabat Cha itu yang kemaren di Medan ya?" tanya Binyu lagi.


"Dia juga bukan teman yang baik. Dia tidak suka sama Cha yang selalu disukai banyak orang. Awalnya Cha memang tinggal bersama sahabatnya dulu. Tapi karena Cha mengetahui bahwa sahabatnya sudah berubah dan membenci Cha, akhirnya Cha memutuskan untuk ngekost." jelas Zain.


"Wah sepertinya Lo tau banyak tentang Cha selama di Jogja ya?"


"Ya begitulah Bin."


"Gw pengen ketemu Cha, pengen minta maaf sama dia. Hahh, bodohnya gw dulu mencampakkannya," ucap Binyu dengan penyesalan.


"Gak perlu disesali Bin, semua sudah berlalu. Mending sekarang Lo nyantai dulu di Hotel. Nanti gw akan hubungi Lo, jika Cha mau menemui Lo, gimana?" tanya Zain yang memberi saran terhadap sahabatnya.


"Baiklah, gw tunggu khabar dari Lo. Semoga Cha mau nemui gw," Binyu sangat berharap bisa ngobrol dengan Cha.


"Ya udah bro, sekarang anter gw balik ke tempat Cha. Nanti gw khabari Lo," ucap Zain.


"Ok!"


Mereka berdua keluar dari cafe itu dan masuk kedalam mobil. Lalu Binyu mengantar Zain kembali kekontrakan Cha. Tak membutuhkan waktu yang lama, karena jarak antara kontrakan yang ditempati Cha dekat dengan cafe yang didatangi mereka.


Sesampainya di rumah kontrakan, Zain keluar dari mobil Binyu. Lalu Binyu pun melajukan mobilnya meninggalkan area perumahan Cha.


Zain menarik nafasnya dengan berat, dia berusaha menenangkan dirinya untuk menemui Cha. Dia berjalan ke arah depan pintu dan ternyata Bu Marni hendak membuka pintu depan rumah. Zain terkejut, begitupun Bu Marni.


"Cha nya didalam kamar ya Bi?" tanya Zain.


"Iya Tuan, Mbak Cha betah dikamar dari tadi. Apa Mbaknya lagi tidur ya?" gumam Bu Marni.


"Ya sudah bisa, saya mau kekamar Cha dulu," Zain meninggalkan Bu Marni yang masih terbengong.


Zain melangkahkan kakinya kearah depan pintu kamar Cha.


"Tok tok tok, Cha...!" panggil Zain dengan suara pelan.


Tak ada sahutan dari dalam kamar Cha. Lalu Zain mengetuk kembali pintu kamar Cha. Akhirnya Cha membuka pintu kamarnya dan melihat Zain dihadapannya.


"Ada apa ya Zain?" tanya Cha males.


"Boleh aku masuk?" tanya Zain balik dengan sedikit canggung.


"Masuklah."


Zain masuk kedalam kamar Cha dan duduk di sofa depan TV.


"Kemana dia?" tanya Cha.


"Siapa?" tanya Zain balik.


"Sahabat kamu itu. Kok bisa ya dia tau kalau aku tinggal disini?" tanya Cha curiga terhadap Zain.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu Cha? Jangan bilang kamu curiga denganku?"


"Ya sedikit sih. Sapa tau kamu yang kasih info kedia tentang keberadaanku disini."


"Hahaha, ya gaklah. Masa aku ngasih tau kamu disini!"


"Terus darimana coba dia tau, kalau aku tinggal disini. Sedangkan yang tau rumah ini hanya kamu," pancing Cha.


"Tidak hanya aku yang tau sayang...! Tuh teman kamu Mbak Ani, pacarnya juga tau keberadaan kalian. Ya sapa tau Dino dan Imran juga mengetahui rumah ini," ungkap Zain.


Cha berpikir, mencerna ucapan Zain.


"Benar juga apa kata si Zain. Gak mungkin dia mau berbagi informasi sama Binyu. Secara, Binyu mantan gw. Trus siapa dong yang kasih info?" bathin Cha sambil menatap lekat kearah Zain.


"Ya ampun sayang, jangan menatapku seperti itu. Aku gak akan bagi-bagi info dengan sainganku tentang kekasihku ini," ucap Zain sambil menoel hidung Cha.


"Terus dia ngapain kesini Zain? Aku takut dia berbuat jahat seperti dulu lagi," ucap Cha.


"Gak akan sayang. Kalau dia berani macam-macam, aku akan menghabiskannya," tegas Zain namun berusaha tersenyum.


"Tadi kalian kemana? Aku pikir kamu mengajarnya diluar sana?" tanya Cha.


"Ya gaklah Cha. Selagi dia datang baik-baik, aku pun akan baik-baik. Tapi kalau dia mulai berbuat yang tak baik, maka aku langsung melenyapkannya."


"Berubah gimana?" tanah Cha.


"Ya, dia ingin meminta maaf sama kamu Cha. Dia tidak seperti yang dulu lagi. Apa kamu mau bertemu dengan dia?" tanya Zain.


"Nggak ah Zain. Aku masih takut dan sedikit trauma dengan masa laluku Zain. Kecuali dia memang sungguh-sungguh berubah dan membuktikannya terhadapku, aku akan mempertimbangkannya."


"Baiklah sayang, aku akan mengatakan dengannya," balas Zain.


"Ya udah gih, kamu istirahat. Nanti malam, aku pengen makan sate berdua denganmu Zain," pinta Cha.


"Wahhhh, angin apa nih ngajak aku kencan makan sate!"


"Pengen aja loh Zain. Kan gak salah," kesal Cha.


"Gak salah sayang...Baik kalau gitu aku tiduran dulu ditempat tidurmu ya. Badanku juga pegal semua. Dari tadi pengen istirahat, tapi ada aja hal yang tak terduga," gumam Zain.


Lantas dia pun merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur Cha yang wangi lavender. Zain memejamkan matanya dan membayangkan acaranya nanti malam sama Cha, hingga dia terlelap tidur nyenyak.


Cha yang sedang asyik menonton, sekilas dia melirik kearah Zain.


"Apa benar ya Binyu berubah?" gumam Cha.


Cha terus memikirkan kehadiran Binyu. Dia takut akan menambah masalah lagi dalam kehidupannya. Cha mencoba memejamkan matanya di sofa dengan posisi duduk. Dan akhirnya dia pun terlelap dalam tidurnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.30, pintu kamar Cha diketuk dari luar. Namun Cha maupun Zain tidak ada yang terbangun. Ternyata yang mengetuk pintu kamar Cha adalah Dewi. Karena tidak ada jawaban dari dalam kamar Cha. Dewi akhirnya nyelonong masuk kedalam.


Saat dia membuka pintu kamar Cha, dia melihat keberadaan Cha yang duduk di sofa dan Zain berada ditempat tidur.


"Dih nih anak, duduk di sofa, apa gak dengar pintunya gw ketuk," kesal Dewi. Dewi tidak mengetahui bahwa Cha saat ini sedang tidur dengan posisi duduk.


Lalu Dewi menyentuh pundak Cha, dan menegur Cha yang diam saja. Dewi bingung karena Cha diam tak menyahut, hingga dia melangkah kehadapan Cha. Dewi kaget karena Cha sedang tidur.


"Oalah, ternyata sedang tidur toh. Pantesan aja gak dengar gw ketuk pintu kamarnya."


Dewi tidak ingin menggangu Cha. Sehingga Dewi memutuskan keluar dari dalam kamar Cha. Dewi pun kembali ke kamar Ibunya bermain dengan Pita adiknya.

__ADS_1


Sedangkan Cha dan Zain masih betah tidur terlelap. Cha tidak mengetahui kehadiran Dewi tadi. Hingga beberapa menit, Cha terbangun karena mimpi dikejar-kejar, dia pun terbangun.


Cha melihat Zain masih terlelap diatas tempat tidur Cha. Dia gak mau membangunkan Zain. Karena Cha ingin bersih-bersihin badannya didalam kamar mandi.


__ADS_2