Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pencuri Ciuman


__ADS_3

Ditempat lain, Yoga dan Bimo masih mencoba menghubungi ponsel Cha. Mereka tidak tau kalau ponsel Cha tidak aktif alias lowbet. Yoga orang pertama yang sangat mengkhawatirkan keadaan Cha. Dia terus meminta orang suruhannya untuk mencari keberadaan Cha. Hingga dia mendapat khabar kalau Cha sudah kembali kerumahnya.


Saat ini posisi Yoga dan Bimo berada di area jalan menuju rumah Cha. Seperti biasa dia meminta supirnya untuk parkir di jalan belakang rumah Cha. Yoga mencoba lagi menghubungi ponsel Cha dan ternyata nyambung. Yoga menunggu hingga beberapa kali berdering, namun tak diangkat juga. Hingga beberapa kali panggilan barulah dijawab sama Cha.


"Halo Cha, kamu dimana? Kamu gak apa-apakan yanx?" tanya Yoga beruntun karena merasa khawatir dengan kondisi Cha.


"Iya Ga, aq baik-baik aja kok. Kamu gak usah khawatir ya, nih aq juga udah dirumah," kata Cha yang meyakinkan Yoga.


"Ya syukurlah, tapi tadi kamu kemana? Kata teman ku, tadi dia ngelihat kamu dibawa sama laki-laki berpakaian hitam, apa itu benar Cha?" tanya Yoga yang penasaran.


"Ga, besok aja ya kita ngobrolnya, saat ini aq cuma mau fokus sama ujian kita. Aq harap kamu bisa mengerti ya Ga," jawab Cha dengan males-malesan. Karena memang Cha merasa letih dan capek.


"Heum baiklah, sampai ketemu besok yanx, jangan telat makan ya walaupun kamu fokus belajar," kata Yoga yang memberikan perhatian kepada Cha.


"Iya Ga, makasih ya," Cha menyudahi tlp nya lalu beranjak ketempat tidur untuk istirahat.


Cha membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dia memandang langit-langit atap kamarnya sambil mengingat kejadian demi kejadian yang dilaluinya. Sampai dia berfikir


"Apa yang harus aq lakukan untuk menghadapi semua ini? Kemana aq harus mengadu, berkeluh kesah, sedangkan keluargaqu sendiri pada tidak perduli dengan aq. Aq rasanya seperti tak punya keluarga. Mau bercerita, nanti bukannya solusi yang qu dapat tapi justru omelan dan amarah yang kuterima," begitulah Cha bermonolog dengan pikirannya sendiri.


"Hahhhhh," Cha membuang nafasnya dengan berat. Lalu dia memejamkan matanya untuk menenangkan pikirannya hingga dia benar-benar terlelap.


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Cha baru menyelesaikan semua pekerjaannya. Dia melihat Sika yang sedang asyik menonton tv. Cha menghampiri Sika dan duduk di samping Sika.


"Hemmm tenangnya...nonton sambil nyembil," Cha mencomot cemilan yang di makan Sika.


"Ih....kakak apaan sih, main ambil segala makanan Sika. Ambil tuh di meja masih ada kok," protes Sika yang tidak suka cemilannya diambil Cha.


"Males aja ngambilnya, enakan ngambil cemilan dari mu dek," Cha masih juga mengambil cemilan dari tangan Sika. Dia tak menghiraukan kekesalan adeknya. Cha menyeringai melihat ke arah Sika.


Sika merasa kesal dengan tingkah kakaknya. Karena mengganggu kesenangannya.


"Sik, mama dikamar ya?" tanya Cha sambil mengunyah.


"Iya kak. Sika lihat belakangan ini mama kelihatan kurang bersemangat. Apa karena kejadian Papa kemaren ya kak?" Sika memberitahukan kepada Cha keadaan mamanya yang berbeda dilihat dari beberapa hari belakangan.


"Mungkin," jawab Cha enteng.


"Kakak gak khawatir dengan keadaan mama apa?" tanya Sika yang saat ini menghadap ke arah Cha.


"Khawatir kenapa? Mama kan lebih sering ngobrol sama kakak kita yang di Jogja sana, jadi gak perlu khawatir dek," jawab Cha cuek.


Sebenarnya Cha sangat menyayangi mamanya dan merasa khawatir dengan keadaan mamanya setelah kejadian kemaren. Namun dia merasa seperti tidak dipedulikan dan dianggap oleh mamanya. Jadi semua yang dirasakan Cha itu hanya bisa dipendamnya saja.


"Oh ya kak, kemaren juga Sika mendengar mama menangis di dalam kamar. Sepertinya mama barusan ngobrol lewat tlp sama kakak atau abang kita kemaren," kata Sika. Dia menatap kakaknya dengan berharap Cha mengetahuinya.

__ADS_1


"Oh ya, ya sudah dek gak usah di pikirkan ya. Yang penting kita jalani aja semua ini dengan happy....," Cha memperlihatkan senyuman lebar nya kepada Sika.


Sika bergelayut manja di lengan kakaknya sambil mengunyah cemilannya. Cha sangat dekat sama adeknya. Karena hanya Sika lah yang bisa diajaknya bercerita walaupun Sika belom bisa diajak bertukar pikiran. Namun Sika mampu menghibur Cha.


Malam harinya, Cha belajar untuk ujian besok. Dia sangat fokus agar bisa mendapatkan nilai yang bagus untuk lulus sekolah. Dalam kondisi belajar, Cha teringat dengan sahabatnya.


"Bagaimana ya khabar Shanti disana, hahhh aq kangen Shan sama mu," Cha berbicara sendiri sambil memandang foto mereka berdua.


Tiba-tiba terdengar suara dering ponselnya. Cha mengabaikannya hingga beberapa kali suara itu terdengar. Dia lagi males menerima panggilan tlp. Malam ini dia hanya ingin tenang belajar dan menghayal. Hingga larut malam, Cha menyudahi belajarnya. Dia menyiapkan seluruh keperluannya buat besok kesekolah. Lalu Cha berjalan ketempat tidurnya dan menghempaskan tubuhnya diatas kasurnya.


"Nyamannya.....," gumam Cha. Dia pun memejamkan matanya hingga dia terlelap.


Pagi ini Cha bersiap-siap berangkat kesekolah. Tapi kali ini dia ingin membiasakan dirinya untuk berjalan kearah depan gang nya. Mulai saat ini dia akan menghadapi segala sesuatunya dengan keberanian. Dia pun semangat berjalan ke depan gang rumahnya. Tanpa dia sadari sudah ada seseorang yang menunggunya didepan.


Zain, pagi-pagi sudah nongkrong di area jalan kerumah Cha. Dia berdiri di depan mobilnya sambil memainkan ponselnya. Dia tidak memperdulikan banyak orang yang melihat kearahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Cha yang fokus jalan menunduk tidak mengetahui keberadaan Zain. Ketika Zain melihat Cha keluar dari dalam gang rumahnya sambil berjalan menunduk, Zain sudah berdiri untuk menghadang Cha. Hingga Cha menabrak tubuh Zain.


"Awwww," pekik Cha kaget karena menabrak seseorang. Dia pun langsung mendongakkan kepalanya ke depan dan lebih terkejut melihat seseorang yang berdiri dihadapannya.


"Hai..," kata Zain tanpa bersalah. Zain tersenyum devil melihat Cha.


"Kamu...!!" kaget Cha.


"Heum, kenapa surprise ya...," goda Zain sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aaaa, lepaskan. Kamu apa-apaan sih. Lepaskan gak, aq mau kesekolah! Kalau gak mau lepasin, aq teriak nih," ancam Cha percaya diri bahwa Zain akan melepaskannya. Tapi tidak seperti yang diinginkan Cha, justru Zain menggendong Cha ala bridel style dan memasukkan Cha ke dalam mobil.


"Jalan, kita ke sekolah kemaren," kata Zain memerintahkan supirnya dengan sikap dingin.


Zain terus menggenggam tangan cha, tapi pandangannya mengarah ke samping tempat dia duduk.


Cha berusaha melepaskan tangannya dari tangan Zain, namun usahanya sia-sia.


"Jangan berontak, biarkan saja seperti ini," kata Zain dingin tanpa menoleh kearah Cha.


"Enak aja megang-megang. Emang kamu siapa?" teriak Cha gak suka.


"Bukannya kemaren kita sudah membicarakannya. Kita P A C A R A N," kata Zain tepat di depan wajah Cha. Mereka saling menatap, dan lagi-lagi saling terpesona. Tiba-tiba pak supir mengerem mendadak, Cha hampir terjatuh ke depan, karena Zain langsung mendekap Cha dari samping.


Mereka saling menatap, Zain merasa terhipnotis dengan mata dan bibirnya Cha yang merah jambu segar. Sedangkan Cha terpesona oleh aroma nafas Zain yang wangi mint campur aroma rokok. Hingga Zain memiringkan kepalanya dan menyatukan bibirnya ke bibir cha.Perlahan tapi pasti Zain melu*** bibir Cha dengan sangat lembut. Dia membelai rambut Cha yang wangi dengan penuh kelembutan.


Cha terpaku diam membeku. Matanya melotot melihat wajah Zain. Tapi Zain tak menghiraukannya, dia menggigit bibir bawah Cha agar bisa terbuka. Cha tidak sengaja memberikan akses buat Zain untuk mengeksplor yang ada didalam mulut Cha. Lidah Zain bergerilya mengabsen yang ada di dalamnya. Zain sangat menikmati ciumannya hingga dia memejamkan matanya. Namun tidak bagi Cha. Cha merasa kehabisan nafas dan mendorong Zain hingga terlepas pagutan bibir mereka.


Zain tersenyum dan mengecup lagi bibir Cha sekilas.

__ADS_1


"Cup?" Zain mencium pipi Cha sekilas.


Cha makin melototin Zain dengan tatapan tajamnya. Dia langsung memukul-mukul lengan Zain dengan kuat sambil marah-marah.


"Brengseeek, kurang ****, gak sopan, pencuri ciuman..," umpat Cha dengan emosi.


Zain yang mendapatkan umpatan dan serangan dari Cha, hanya terkekeh merasa geli dan lucu dengan tingkah Cha.


"Jangan marah-marah tar tambah jelek," goda Zain sambil menahan tawa.


"Biarin aq jelek, biar gak ada orang yang suka sama aq termasuk kamu," balas Cha yang masih dalam keadaan emosi dengan nafas yang ngos-ngosan.


"Gak apa-apa, aq tetep suka kok," Zain semakin menggoda Cha dengan menaik-naikan kedua alisnya dan terbahak-bahak hingga pak supir terbengong mendengar tawa Zain. Karena baru pertama kali ini dia melihat tuannya tertawa lepas.


"Pemandangan yang langka," pikir pak supirnya.


Cha yang digoda terus, enggan merespon ucapan Zain. Dia memilih diam dan memalingkan wajahnya ke arah jalan nan.


Dalam perjalanan yang singkat, mereka berdua hanya diam saja dengan pikiran masing-masing. Namun sesekali Zain melirik ke arah Cha sambil menyunggingkan senyuman nya, yang tidak diketahui oleh Cha.


Akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah Cha. Sebelum Cha melangkah keluar, Zain menahan pergelangan tangan Cha dan berkata,


"Nanti aq akan jemput kamu. Jangan coba-coba lari dari aku," kata Zain penuh ketegasan.


Cha menghempaskan tangan nya dan pergi meninggalkan Zain yang senyum-senyum sendiri. Sepanjang jalan menuju kelas, Cha ngomel-ngomel tak jelas, dan yang tau hanya Cha sendiri apa yang diomelinnya.


Dia masih kesal karena tingkah Zain si pencuri ciuman.


"Hahaha gelar yang pas buatnya yaitu PENCURI CIUMAN," gumam Cha di sepanjang jalan.


Teman-teman yang melihat Cha ngomel-ngomel sendiri, merasa heran dengan tingkah Cha.


"Kenapa tuh anak, ngomong-ngomong sendiri," kata siswa A.


"Stress kali karena menghadapi ujian, hahaha," ketus teman nya.


Dan bahkan masih banyak lagi kata-kata yang dilontarkan teman-teman disekolah Cha. Yoga yang kebetulan sudah sampai duluan, melihat kedatangan Cha. Dia mengerutkan keningnya merasa heran melihat wajah jutek Cha. Yoga pun menyamperin Cha.


"Kenapa tidak mau aq jemput yanx?" tanya Yoga yang mendekati Cha.


"Iya aq cuma ingin mandiri berangkat sendirian Ga. Gak enak dijemput kamu terus," kata Cha sedikit berbohong.


"Oh..., ya udah yuk aq anter ke kelasmu. Gimana udah siap kan menjalani ujian hari ini?" tanya Yoga lagi.


"Siap dong, aq udah belajar kok. Mudah-mudahan ujian hari ini lancar. Dan kamu juga semangat ya Ga ujiannya," kata Cha yang menyemangati Yoga.

__ADS_1


Yoga menganggukan kepalanya tanda setuju dan tersenyum hangat melihat Cha. Dia mengantarkan Cha sampai ke dalam kelas. Setelah itu Yoga pergi ke kelasnya untuk melaksanakan ujian.


__ADS_2