
Cha dan Mbak Ani asyik mengobrol hingga menjelang Maghrib. Mbak Ani kembali ke dalam kamarnya. Sedangkan Cha beres-beres kamarnya. Lalu dia pun melaksanakan sholat Maghrib.
Jam sudah menunjukkan pukul 19.00, Cha berniat menghubungi adiknya Sika. Dia pun menekan no adeknya. Beberapa kali dering, Sika nya tak juga mengangkat hingga deringan terakhir, Sika menerima tlp kakaknya.
"Assalamu'alaikum kak!" sapa Sika diseberang sana.
"Wa'alaikumussalam dek," sahut Cha dengan girang.
"Maaf ya, kakak baru menghubungi kamu lagi. Kakak kangen pengen dengar curhatan mu. Ada cerita apa nih di Medan?" tanya Cha.
"Iya kak, gak apa-apa. Sika ngerti kok dengan keadaan kakak disana. Cerita apa ya kak. Sika juga bingung mau cerita dari mana," jelas Sika.
"Loh emang ada masalah ya dek dirumah?" tanya Cha.
"Iya kak. Kemaren Papa balik kerumah. Dia minta mama mau menjual tanah yang ada sama Mama. Kata Papa buat urusan kerjanya. Mama gak setuju dan memaki-maki Papa," terang Sika adeknya Cha.
"Emang kamu dimana dek waktu Mama dan Papa ribut? Trus si bungsu gimana?" tanya Cha khawatir.
"Saat mereka ribut, Sika lagi nemenin sibungsu dikamar Sika. Kami berdua saat itu berada di dalam kamar kak. Tapi kakak tau lah sendiri, kalau mereka berantem gak pernah mikirin keberadaan kita. Sehingga semuanya terdengar oleh Sika," Sika bersedih atas keributan orang tuanya.
"Papa membanting pintu kamar kak saat keluar dari kamar. Sika saat itu ketakutan banget kak. Mau berlindung, Sika yang paling besar dirumah ini. Kalau dulu kan ada kakak. Jadi Sika tak terlalu takut. Kak Sika pengen ngikut kakak aja ya ke Jogja?" sambung Sika.
"Kamu gak mungkin kesini dek, pasti mama gak ngizinin kamu. Kamu yang sabar ya dek, kasihan juga sibungsu, dek," jelas Cha.
"Iya sih kak. Oh ya kak, kemaren Mama bilang kalau dia merasa bersyukur karena kakak ke Jogja. Jadi gak ada beban buat Mama di rumah ini," ucap Sika dengan polosnya.
Kata-kata Sika itu membuat hati Cha teriris. Bagaimana tidak, ibu yang melahirkannya tega mengatakan hal seperti itu. Cha terdiam ssesaa.
"Mama bilang begitu dek?" tanya Cha miris.
"Maaf ya kak, Sika mendengarnya saat Mama tlp nan sama kak Ina," jawab Sika sedih.
Cha semakin sedih karena mengatakan hal seperti itu terhadap saudara nya yang lain. Hatinya benar-benar terluka.
"Ya udah dek, gak apa-apa. Kakak nyantai kok. Kan sudah biasa Mama membicarakan kakak yang tidak baik terhadap saudara yang lainnya," jawab Cha dengan meneteskan air matanya.
"Kakak sehatkan disana? Kata Mama kenapa kakak gak pernah menghubungi Mama?" tanya Sika.
"Apa masih perlu dek, kakak menghubungi Mama?" tanya Cha balik.
"Ya Sika juga gak bisa jawab kak. Tapi saran Sika, kakak hubungi lah Mama sesekali, menanyakan khabar Mama," ucap Sika dengan dewasanya.
"Iya dek isnyaallah nanti pasti kakak hubungi Mama. Kamu gimana disana? Sekolahnya lancar dek?" tanya Cha
"Alhamdulillah kak lancar. Sika punya sahabat yang sangat baik sekali. Jadi Sika ada tempat berbagi kak sekarang. Habis kakak jauh sih, jadi gak bisa ngobrol puas," Sika cemberut tapi tidak kelihatan sama Cha.
"Hehehe, Alhamdulillah ada yang menggantikan kakak disana. Kamu jaga diri ya dek disana. Walaupun kamu punya sahabat, tapi kita juga harus hati-hati. Karena blom tentu sahabat itu bisa setia selamanya," nasehat Cha. Cha tidak mau apa yang menimpanya tentang Shanti, terjadi dengan adeknya.
"Iya kakakku sayang. Ya udah kak, nih si bungsu udah bangun. Mau Sika mandikan dulu," ucap Sika.
"Mana dek, kakak mau dengar suaranya. Kakak rindu dengan celotehan si bungsu," balas Cha.
"Ta-ta-ta, andi au andi," ucap sibungsu yang masih blom jelas ngomongnya.
"Hallo sayang, nih kakak, dek. Mau mandi ya? Mandinya harus bersih ya biar wangi. Kalau wangi nanti kakak cium dari jauh," Cha mengajak sibungsu berbicara.
"Andi ta, auk dedek," jawab si bungsu.
"Ya udah kak, Sika mandikan dulu ya adek. Jaga diri kakak disana," ucap Sika.
"Iya dek, kamu juga jaga diri disana. Assalamu'alaikum dek, tantik dadaaaaa," balas Cha yang menyudahi tlp nya.
Setelah puas ngobrol bersama adek dan sibungsu, Sika pun kembali mengecek ponselnya untuk melihat Khabar dari Zain. Namun sampai saat ini, Zain tidak juga mengabarinya. Cha pun memilih beristirahat diatas tempat tidur sambil melihat sosmed nya.
Tiba-tiba Mbak Ani datang ke kamar Cha.
__ADS_1
"Cha...., udah maem blom?" tanya Mbak Ani dari luar kamar Cha.
Cha beranjak dari tempat tidur nya dan melihat Mbak Ani sudah berpakaian bagus.
"Loh, mbak mau kemana?" tanya Cha.
"Cari maem. Kamu udah maem blom? Kalau blom, ayo bareng sama mbak. Kita jalan kedepan sono buat beli penyetan," terang Mbak Ani yang mengajak Cha maem di lesehan.
"Oh iya," Cha menepuk jidatnya. "Lupa aku mbak mau makan. Tadi aku tlp nan sama adek ku. Jadi lupa deh mau maem. Ayo lah Mbak. Aku juga dah laper nih," jawab Cha setuju.
"Ya udah yuk, kunci pintu kamar mu," perintah Mbak Ani.
Mereka pun berjalan ke depan kost untuk mencari lesehan penyetan. Gak jauh dari kost mereka sampai di lesehan yang luas dan cukup ramai. Cha dan Mbak Ani, masuk ke dalam lesehan itu dan duduk di tempat yang amaih kosong.
Mereka berdua memesan penyetan ayam dan minuman dingin.
"Mbak, rame juga ya disini?" ucap Cha sambil mengedarkan pandangannya.
"Disini emang selalu ramai Cha. Karena tempatnya luas dan harganya juga sangat terjangkau, ya harga mahasiswa lah," jawab mbak Ani.
Tak jauh dari mereka ternyata ada Ghani dan teman kost lainnya. Awalnya Ghani tak melihat keberadaan Cha. Sampai salah satu teman kost nya mengatakan.
"Hei Ghani, lihat tuh kayaknya itu anak kost sebelah kita ya?" tunjuk teman Ghani.
Ghani melihat ke arah yang ditunjuk temannya. Dan ternyata dia melihat Cha bersama cewek lain.
"Iya, dia anak kost sebelah kita," Ghani berpikir yang dimaksud teman kost nya itu mengatakan Cha. Padahal temannya menunjuk mbak Ani.
"Oh Lo kenal juga sama tuh cewek baju coklat?" tanya temannya yang satu lagi.
Ghani mengerutkan keningnya karena heran.
"Baju coklat?" pikir Ghani.
Ghani menoleh ke arah Cha kembali dan melihat baju yang digunakan Cha. Dan Ghani juga melihat cewek yang bersama Cha.
"Lah tadi ngomongnya kenal. Sekarang dah gak kenal, sakit Lo," cetus temannya.
"Ini akibat si Ghani blom makan malam, jadi ngomongnya ngelindur, hahaha," ledek temannya yang lain.
"Sialan kalian," umpat Ghani.
Teman-teman Ghani puas menjahilin Ghani. Mereka tertawa terbahak-bahak hingga beberapa orang yang sedang makan disana menoleh ke arah mereka.
Di tempat duduk Cha, Mbak Ani ternyata sedang memandang kearah Ghani dan teman-temannya.
"Eh Cha, lihat deh. Itu cowok-cowok yang ngekost disebelah kost kita loh," tunjuk Mbak Ani dengan dagunya.
Cha mendongakkan wajahnya dan melihat ke depan ke arah yang ditunjuk mbak Ani.
Cha menyipitkan matanya memperjelas yang dilihatnya adalah si Ghani, mahasiswa yang satu kampus dengannya.
"Kayaknya ya Mbak," jawab Cha cuek. Padahal Cha sendiri tau kalau mereka memang anak kost disebelah kost mereka.
"Cha, cakep loh tuh cowok. Tapi sayangnya dia terkenal cuek dan angkuh. Sepertinya dia punya standart perempuan yang akan menjadi kekasihnya deh," ucap Mbak Ani yang merasa dirinya tak pantas jika dicintai cowok seperti Ghani.
"Ah masa sih Mbak," sambung Cha.
"Kayaknya sih Cha. Mbak asal nebak aja kok," balas Mbak Ani.
"Eh udah dateng makanan kita. Asyiiik makan penyetan," ucap Cha senang.
"Wah mbak jadi ngiler banget nih lihat ayam kremesnya Cha. Yuk ah di makan. Kelamaan dilihat, perut mbak protes," guyon Mbak Ani.
Cha dan mbak Ani sangat menikmati ayam kremes penyetan. Mereka makan diselingi obrolan. Setelah saling bertukar cerita, Cha dan Mbak Ani menjadi akrab.
__ADS_1
"Mbak dah punya pacar blom?" tanya Cha sambil mengunyah makanannya.
"Hahaha yang suka aja gak ada, gimana mau punya pacar Cha," jawab Mbak Ani dengan miris.
"Loh mbaknya juga cantik loh. Masa sih Mbak gak punya?" tanya Cha lagi.
"Yeeee, dibilangin kagak percaya amat nih bocah," jawab Mbak Ani tertawa.
"Hihihi, jomblo akut ya Mbak," ledek Cha.
"Ho'oh ya Cha. Akut banget hihihi," sambung Mbak Ani cekikikan.
"Tuh banyak Mbak, cowok ganteng. Tinggal pilih aja," ucap Cha ngasal.
"Enak aja, emang pakaian bebas milih," celetuk Mbak Ani.
"Ya anggap aja begitu Mbak. Kalau tidak cocok tinggal buang, hahaha," Cha tertawa hingga membuat Mbak Ani menggerutu.
"Dasar nih Anak, ngasal aja jawabnya," ucap Mbak Ani.
Mereka terus ngobrol sambil guyonan. Setelah selesai menikmati makan ayam kremes, mereka kembali ke kost-kostan. Saat mereka hendak beranjak dari lesehan itu, tepat saat itu Ghani dan teman-temannya juga beranjak dari lesehan itu.
"Hai...!" sapa teman Ghani.
Tak ada yang menjawab sapaan cowok itu. Baik Cha ataupun Mbak Ani tak menjawabnya.
"Ya ampun sombong banget sih Mbak," celetuk salah satu teman Ghani
Mbak Ani menoleh ke arah laki-laki itu. Dan dia menatap tajam.
"Ngomong sama kami ya mas," ucap Mbak Ani pura-pura gak tau.
"Nggak, sama tuh si mbok," jawab teman Ghani yang kesal.
Cha dan Mbak Ani terus berjalan di depan mereka. Sedangkan Ghani dan teman-temannya berjalan di belakang Cha.
"Eh Ghani, baru kali ini gw dicuekin cewek. Apes banget gw," celetuk temannya.
"Hahaha, Lo kurang ganteng kali, makanya tuh cewek gak ngelirik Lo!" ledek temannya yang lain.
"Sialan Lo. Ganteng begini, buta kalinya mata tuh cewek," gerutu temannya.
"Udah jangan pada ribut. Kalian mau kenalan sama mereka?" tanya Ghani.
"Gak ah, males gw. Orangnya sok cantik," hardik teman yang lainnya.
"Alah gaya Lo gak mau kenalan. Nanti yang Lo duluan yang nyamber," sindir Ghani.
"Ya kalau dianya mau kenalan sih gak apa. Tapi kalau gw sampai ngemis minta kenalan, ya gak lah," balas teman Ghani.
"Dasar kucing, dikasih ikan pasti gak akan nikah," Ghani terus ngeledekin teman-temannya.
Mereka pun masuk ke dalam area kost-kostan yang sama dengan Cha. Ghani menatap Cha sampai masuk ke dalam kamarnya. Dia masih setia berdiri diantara pembatas antara kost cewek dan kost laki-laki.
"Aku ngapain Lo disitu terus," tegur teman kostnya.
"Lagi nunggu wangsit," ucap Ghani asal sambil berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Kampret nih anak, ditanyain malah jawab ngasal, trus kabur lagi," ketus temannya kesal.
Di dalam kamar, Cha membaringkan tubuhnya sambil beristirahat.
"Kenyang banget gw makan malam nih. Ahhh enaknya berbaring di kasur empuk," gumam Cha.
Tiba-tiba dia teringat dengan Yoga. Cinta pertamanya yang tidak ada khabar sama sekali sampai saat ini.
__ADS_1
"Gimana khabar kamu yank disana? Kenapa kamu menghilang begitu saja. Aku salah apa? Kenapa aku semakin jauh ya dari Yoga. Jauh tempat, jauh perasaan. Ada apa dengan kamu disana Ga?" gumam Cha.