Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Jogging Bersama.


__ADS_3

Keesokan paginya, Cha bangun dari tidurnya. Dia melihat jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi.


"Hoaamm," Cha menguap.


Cha beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi. Setelah selesai bersih-bersih. Cha mengecek ponselnya. Namun yang diharapkan, tak kunjung menghubunginya.


Cha bersiap-siap hendak jogging pagi. Dia keluar dari kamarnya dan mulai berlari kecil keluar dari kost-kostan nya. Ternyata tidak hanya Cha yang melakukan olah raga pagi. Ghani juga melakukan hal yang sama dengan Cha yaitu jogging pagi.


"Hai cha!" sapa Ghani.


Cha menoleh ke arah Ghani.


"Eh kamu, mau jogging juga ya?" tanya Cha sambil terus berlari pelan.


"Iya. Wah kamu suka juga ya jogging?" tanya Ghani balik. Dia pun ikutan berlari pelan.


"Nggak juga, baru hari ini aja. Aku lagi pengen aja jogging di hari libur begini," balas Cha yang sesekali menoleh ke arah Ghani.


"Bolehkan aku nemani kamu jogging bersama?Ghani berharap Cha mengangguk.


"Boleh kok gak ada yang larang," ucap Cha.


"Yes," ucap Ghani. Dia pun berlari disamping Cha dan sesekali mencuri pandang ke samping melihat wajah Cha dari samping.


"Kamu cantik Cha. Kenapa aku bisa menyukaimu ya?" bathin Ghani sambil senyum-senyum sendiri dalam keadaan berlari


Ternyata tanpa Ghani sadari, Cha melirik sekilas ke arah Ghani tepat saat Ghani menatap ke depan.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Meka keheranan.


"Hah, eh hahaha, gak kenapa-napa kok. Lagi mengingat wajah seseorang aja," jawab Ghani.


"Oh...," ucap Cha.


Cha dan Ghani terus berlari pelan sepanjang jalan. Mereka saling bercanda dan menggoda satu sama lain. Hingga kebersamaan mereka membuat nya menjadi dekat dan tidak canggung lagi.


"Cha, kita sarapan dulu ya. Aku laper nih," Ghani mengajak Cha berhenti di sebuah cafe untuk sarapan pagi.


"Iya yuk. Aku juga laper. Lari pagi buat perut ku krunyu-krunyu," balas Cha.


Mereka pun memasuki cafe tersebut dan memesan lontong sayur dan lontong kacang serta minuman es teh. Sembari menunggu pesanan, mereka melanjutkan obrolannya.


"Cha, udah berapa lama kamu di kost itu?" tanya Ghani.


"Baru beberapa minggu Ghan, kayaknya sih disana nyaman dan aman. Kamu dah lama ya di kost itu?" tanya Cha balik.


"Udah beberapa bulan sih. Blom terlalu lama juga. Oh ya Cha, ada yang ingin aku tanyakan. Tapi aku harap kamu menjawabnya dengan jujur ya," pinta Ghani.


"Ya tergantung sih. Emang kamu mau nanyain apa sih?" Cha balik bertanya.


"Kemaren waktu aku lihat kamu di Mall, itu benaran kamu kan Cha?" Ghani menatap ke arah Cha dengan tatapan menyelidik.


"Buat apa kamu nanyain itu?" Cha juga menatap ke arah Ghani. Hingga tatapan mereka bertemu. Cha menjadi salah tingkah dan kembali melihat ke depan.

__ADS_1


"Aku penasaran aja, kenapa kamu berbohong waktu kita ketemu lagi," Ghani terus mencecer Cha.


"Ok aku akan cerita. Tapi aku harap kamu bisa menjaga cerita ini. Apa aku bisa mempercayai mu?" tanya Cha penuh harap.


"Ya, kamu bisa mempercayaiku. Aku janji gak akan menceritakannya ke siapa-siapa," ucapnya.


"Termasuk Imran dan Dino?" tanya Cha.


"Kenapa dengan mereka. Mereka kan kenal sama kamu Cha," Ghani semakin bingung.


"Karena cerita ini ada sangkut pautnya dengan salah dari mereka," jawab Cha.


"Maksud kamu?" Ghani terus bertanya.


"Ya cerita ini menyangkut salah satu teman kamu. Dan ini juga tentang keburukan mereka. Jadi kamu bisa gak jangan cerita ke mereka," kesal Cha.


"Baiklah aku janji gak akan cerita. Sekarang ceritalah, aku ingin dengar," balas Ghani.


"Pertama kita berkenalan, Dino teman kamu dekat sama kakaknya Ina. Mereka sering ngobrol lewat pesan dan bahkan bertlp nan. Dan beberapa kali kita sering tidak sengaja bertemu bukan? Setelah beberapa kali kita bertemu dan terakhir saat aku sama kak Ina beserta Shanti melihat pengumuman, kami bertemu dengan Dino lagi.


Kami memutuskan untuk nongkrong di cafe sekalian makan siang.


Setelah kami duduk, aku pergi ketoilet, nah ditoilet itu aku mendengar seorang perempuan menyebut nama Dino. Dari situlah aku mengetahui bahwa teman kamu itu ingin menjual kami dengan pria hidung belang dengan bayaran yang fantastis," Cha menceritakannya dengan panjang.


"Gak mungkin dia seperti itu. Dia sahabat baik Imran loh Cha," Ghani tak percaya dengan cerita Cha.


"Aku sudah tebak, kamu pasti tidak akan mempercayainya. Karena dia teman mu juga, bukan kah begitu? Tapi apa kamu tau selama ini pekerjaannya apa?" tanya Cha dengan tatapan menyelidik.


"Kalau masalah pekerjaannya, aku memang tidak tau Cha. Tapi gak mungkin Imran mau berteman dengan dia, kalau dia bukan orang baik," ucap Ghani.


"Bukan gitu Cha, aku bukan tidak percaya. Tapi aku kaget aja mendengarnya. Kok bisa dia tega melakukan itu ke kalian," Ghani menggeleng-gelengkan kepalanya masih gak mempercayainya.


"Ya udah kalau gitu nih makanan kita udah dateng. Yuk makan dulu, nanti baru kita bahas lagi," ucap Cha.


Mereka menyantap lontong sayur dan kacang. Keduanya sangat menikmati sarapan pagi.


"Wah enak juga ya lontong kacangnya. Sama seperti lontong saat lebaran hehehe," puji Cha dengan cita rasanya.


"Kamu suka ya lontong kacang? Berarti sama dengan Mama ku. Dia juga suka banget lontong kacang. Kalau lebaran pasti menunya lontong kacang," Ghani mengingat saat lebaran bersama keluarganya.


"Aku mau bungkus deh satu buat Mbak Ani. Tapi lontong sayur aja. Kamu tunggu disini ya," Cha pergi meninggalkan Ghani sebentar.


Cha berjalan ke arah kasir dan memesan lontong sayur dibungkus.


"Mbah, saya mau dibungkus satu ya lontong sayur. Tapi Lontongnya dipisah ya Mbah. Nanti anterin ke meja yang itu," tunjuk Cha ke arah meja Ghani.


Setelah memesan, Cha kembali ke meja tempat mereka duduk.


"Udah Cha mesannya?" tanya Ghani ketika Cha datang.


"Udah, nanti dianter ke sini kok," jawab Cha.


"Ya udah, aku mau ke toilet dulu, Ghani bukannya menuju toilet tapi dia justru pergi ke kasir untuk membayar semua makanan yang dipesan.

__ADS_1


"Iya," jawab Cha.


Ghani meninggalkan Cha sebentar dan pergi mengarah ke kasir. Sesampainya di kasir dia langsung meminta bill nya


"Mbah, saya arep mbayar pesenan panganan. Sayur lintong loro lan lontong kacang siji lan es teh loro. pira mbak?" tanya Ghani dalam bahasa Jawa.


"(Mbah, saya mau bayar pesanan makanan tadi. Lontong sayur dua dan lontong kacang satu dan es teh dua. Berapa mbah)?"


"Wis rampung mangan mas? Ngenteni sedhela, ayo ngetung kabeh," ucap mbah nya yang mulai menghitung nya.


"(Udah selesai makannya mas? Bentar ya Mbah hitung dulu semuanya)," ucap mbahnya.


"Iya Mbah," sahut Ghani.


Ghani pun menunggu sebentar. Dia menoleh ke arah mejanya Cha. Dia melihat Cha sedang memegang ponselnya.


Lalu mbahnya memberikan kertas dengan jumlah yang harus di bayar. Ghani pun membayarnya dan segera kembali ke meja mereka.


"Loh kenapa lama banget ke toiletnya? Ngantri ya?" tanya Cha saat melihat Ghani duduk di hadapannya.


"Nggak juga. Udah yuk balik ke kost. Aku udah gerah nih," ucap Ghani yang mengajak Cha pergi dari tempat itu.


"Eh tunggu, aku blom bayar loh. Bentar aku bayar dulu," Cha mau ke kasir namun Ghani mencegahnya.


"Sudah aku bayar semuanya tadi. Yuk balik sekarang," balas Ghani.


"Eh kenapa kamu yang bayar. Duh jadi gak enak nih," Cha merasa gak nyaman karena Ghani mentraktirnya.


"Udah gak usah canggung, lain kali kamu yang bayar, ok," ucap Ghani.


"Iya deh," balas Cha.


Mereka berdua meninggalkan cafe tersebut dan berjalan kaki menuju kost-kostan mereka. Sesampainya di gerbang kost, Ghani pun berpamitan.


"Makasih ya Cha, udah menjadi teman jogging ku hari ini," ucap Ghani tersenyum hangat.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu mentraktir aku," Cha juga memberikan senyumannya.


"Nyantai aja Cha. Aku masuk dulu ya," ucap Ghani.


"Iya aku pun mau masuk ke kamar, daa,," balas Cha.


Ghani masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Cha berjalan ke kamar Mbak Ani. Dia pun mengetuk pintu kamar Mbak Ani.


Tok tok tok


Cha menunggu beberapa menit. Namun tidak dibuka juga pintunya.


"Apa Mbak Ani gak ada ya dikamar nya. Apa dia udah pergi?" bathin Cha yang masih berdiri di depan kamar Mbak Ani.


Ketika Cha hendak berbalik, dia melihat ada sepatu laki-laki di sebelah pintu kamarnya Mbak Ani. Cha pun merasa gak enak karena menggangu orang yang berada di dalamnya.


Cha pergi meninggalkan kamar Mbak Ani. Dia pun masuk ke dalam kamarnya. Lalu Cha mulai menanggalkan satu persatu bajunya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hingga sejam, Cha masih asyik berkutat di dalam kamar mandi. Tiba-tiba dia mendengar pintu kamarnya di ketuk. Cha buru-buru keluar dari dalam kamar mandi dan segera memakai pakaiannya. Lalu dia pun melangkah ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya. Dia kaget melihat seseorang yang pagi-pagi sudah nongol di depan pintu kamarnya dengan keadaan yang berantakan.


"Kamu kenapa?" tanya Cha yang heran melihat wajah sahabatnya dengan sendu dan kusut.


__ADS_2