Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Mengatur Waktu


__ADS_3

Akhirnya mobil menjauh dari kost-kostan menuju rumah yang akan mereka tempati. Mobil berjalan dengan santai karena tidak ada yang diburu.


"Om, nanti kita singgah dulu ya, mau sarapan dulu. Habis lari-larian tadi, perutku kelaparan Mbak!" ucap Cha sambil memegang perutnya yang laper.


"Baik Mbak."


"Cha, sekarang kita anter dulu barang-barang ini setelah sarapan, habis tuh kita kerumah ya buat jemput Ibu gw," sambung Dewi.


"Iya Wi, nanti Lo tlp aja Ibumu buat bersiap-siap. Kita akan jemput, tapi kayaknya pakai mobil ini gak cukup deh Wi. Gimana kalau kita nyewa pickup aja buat bawa barang-barang Ibumu?" tanya Cha yang memberikan sarannya.


"Iya Wi, gak mungkin pindahan pakai mobil ini. Apa muat barang-barangnya? Atau barang-barang yang gak perlu ditinggal aja ditempat Budemu!" Mbak Ani ikut menyahut.


"Oh...ya udah nanti coba gw tlp aja saat kita sarapan. Biar jelas apakah barangnya banyak atau tidak," balas Dewi.


Mobil terus berjalan hingga mereka menemukan tempat sarapan yang diinginkan.


"Om berhenti disini aja!" seru Cha.


Mobil pun berhenti dan parkir ditempat warung sarapan. Warung yang menjual lontong dan aneka bubur buat sarapan. Tempatnya sangat nyaman, bersih dan harga juga terjangkau untuk mahasiswa yang mau sarapan.


Mereka turun dari mobil dan memasuki warung tersebut. Ternyata didalam warung ramai juga. Banyak mahasiswa yang sarapan disana. Cha dan kedua sahabatnya mencari tempat untuk duduk. Setelah mereka duduk, datanglah seorang pelayan ke meja mereka.


"Arep pesen apa, Mbak-mbak ayu?" tanya pelayan yang sudah sedikit berumur.


"(Mau pesan apa ini, Mbak-mbak cantiknya)?" tanya pelayan yang sudah sedikit berumur.


"Oh iya Mbah, arep pesen sego sayur loro lan bubur ayam siji diombe karo teh manis ya Mbah!" jawab Dewi.


"(Oh iya Mbah, kami mau pesan lontong sayur dua sama bubur ayamnya satu dan minumnya teh manis anget aja ya Mbah)!" jawab Dewi.


"Ngenteni sedhela ya," balas si Mbah. Lalu Mbah itu pergi dari meja Cha.


"(Tunggu sebentar ya)," balas si Mbah.


Ketiga menunggu sejenak sampai pesanan mereka datang.


"Wi coba sekarang hubungi Ibu kamu biar bisa siap-siap. Tanyakan juga udah sarapan belom? Kalau belom kita bawakan sarapan dari sini. Gak usah terburu-buru bilang Wi," ucap Cha.


"Iya Wi, kasihan nanti kalau diburu-buru," sambung Mbak Ani.


Dewi pun mencoba menghubungi Ibunya. Beberapa kali panggilan tak dijawab Ibunya. Tapi Dewi terus mencoba dan akhirnya diangkat juga sama Ibunya.


Sementara Cha pamit mau menghubungi Zain. Karena kemaren malam dia tidak sempat mengabari Zain. Dia mencoba menghubungi Zain, ternyata tak membutuhkan waktu lama, Zain pun mengangkat tlpnya.


"Assalamu'alaikum sayang! Gimana, kamu sudah keluar dari kostan itu? Aku jadi gak tenang disini Cha!" seru Zain yang merasa khawatir disana.


"Iya Zain, aku juga takut banget. Tapi syukurnya tadi pagi, sahabatku tidak ada yang mau membukakan pintunya karena ogah-ogahan bangun. Gak tau kenapa mereka bisa males bukakan pintu tadi," jelas Cha mengingat ucapan Dewi.


"Berarti Allah sudah menyelamatkan kalian sayang dari orang jahat seperti mereka. Kamunya kemana? Apa gak bangun juga?" tanya Zain penasaran dengan cerita Cha.

__ADS_1


"Aku justru tidak mendengar sama sekali Zain, kalau ada yang mengetuk pintu. Aku bangun saat ada tlp dari temanku yang berada disebelah kamar," Cha tidak menceritakan siapa yang menghubunginya tadi pagi yang memberikan informasinya.


"Alhamdulillah ya sayang, kamu masih selamat, kalau tidak, kalian sudah dibawa sama mereka. Apalagi masih pagi banget, tentu sepi disana kan?" tanya Zain.


"Iya Zain, aku udah gak mau balik kekost itu lagi Zain. Aku takut ketemu mereka lagi," Cha juga merasa bersyukur karena masih bisa selamat dari orang jahat itu.


Selagi Cha ngobrol dengan Zain melalui ponsel, pesanan makanan mereka sudah datang. Dan Dewi juga sudah selesai menghubungi Ibunya.


"Gimana Wi, sudah tau Ibu kamu, kalau nanti kami yang akan membantu beliau pindahan?" tanya Mbak Ani saat melihat Dewi selesai bertelponan.


"Iya Mbak, Ibuku sudah tau. Tadi juga aku nanya udah sarapan blom? Katanya mereka sudah sarapan. Jadi nanti kita tinggal jemput aja, dan barang juga tidak banyak kok Mbak dibawa, jadi gak perlu sewa pickup lagi," jelas Dewi sambil duduk disamping Mbak Ani.


"Ya udah kita nungguin Cha, dia masih menghubungi temannya," balas Mbak Ani.


"Owh..Cha lagi tlpnan juga ya sama temannya!" seru Dewi sambil melihat kearah belakang tempat Cha berdiri.


Setelah Cha selesai menghubungi Zain, dia kembali bergabung dengan yang lainnya.


"Wah udah datang ya lontongnya, mmm enak nih kelihatannya," ucap Cha yang ngiler melihat lontong kacangnya.


"Udah yuk ah makan, gw juga dah laper berat nih Cha," Dewi pun mulai mengaduk makanannya.


"Gimana Cha? Nanti mereka yang akan ngantar kita kan kerumah Dewi dan sekalian bantuin kita buat ngangkat barangnya," ucap Mbak Ani sambil memasukkan suapan makanan kedalam mulutnya.


"Iya Mbak, semuanya sudah beres. Mereka nanti yang akan mengurus barang-barang Ibunya Dewi. Setelah kita nemui Ibunya Dewi dirumahnya, kita nungguin didalam mobil aja, biar bodyguard itu yang bekerja," jelas Cha kepada kedua sahabatnya.


Mereka pun makan dengan nyantai dan sesekali mereka bercanda. Sesaat kekhawatiran hilang dalam pikiran mereka saat menikmati sarapan pagi. Hingga selesai makan, mereka berangkat menuju rumahnya Budenya Dewi.


"Ayo kita jalan sekarang," ucap Cha.


"Iya yuk, biar cepat kelarnya," sambung Mbak Ani.


"Yuk, gw juga pengen tenang jalani hidup kedepannya," Dewi merasa capek dengan keadaan sekarang.


Mereka meninggalkan warung makan itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang membuka obrolan. Waktu yang ditempuh kerumah Budenya Dewi cukup jauh dan lama. Cha memilih untuk memejamkan matanya sejenak. Sedangkan Dewi menatap keluar jendela mobil. Dan Mbak Ani sibuk mengotak-atik ponselnya. Mereka bertiga punya aktivitas masing-masing.


Hingga mobil sampai didaerah yang dituju. Mobil parkir didekat rumah Budenya Dewi.


"Eh kita udah sampai ya!" Dewi gak nyangka mereka sudah sampai didekat rumah Budenya.


"Bangunin Cha, Wi. Biar kami turun duluan. Tapi tlp dulu Ibu kamu, bilang sekarang kita sudah didekat rumah Budemu. Nanti kami akan turun dan menemui Ibumu," jelas Mbak Ani.


Dewi pun membangunkan Cha. "Cha bangun...!!Kita dah sampai nih!" seru Dewi agak kuat biar Cha terbangun.


Cha membuka matanya dan mengucek sebentar matanya untuk menormalkan pandangannya.


"Oh..sudah sampai ya Wi?" tanya Cha sambil melihat ke arah ruang budenya Dewi.


"Iya," jawab Dewi. "Gw tlp Ibu dulu ya biar beliau tau, kalau kalian sudah didepan," jelas Dewi kepada Cha.

__ADS_1


Lalu Dewi menghubungi Ibunya dan memberitahukan kalau mereka sudah berada didekat rumah budenya. Setelah memberitahukan keberadaan mereka, Cha dan Mbak Ani turun dari mobil dan masuk kedalam pekarangan rumah Budenya Dewi.


"Cha, Mbak kok agak gimana gitu kalau nantinya kita ketemu sama Pakde nya si Dewi yang bajingan itu!" Mbak Ani merasa risih jika bertemu dengan Pakdenya Dewi.


"Iya Mbak, aku juga. Rasanya pengen nampol tuh tua bangka yang tidak tau umur," ketus Cha dengan emosi.


"Kita lebih baik berhenti dulu Cha, mengatur emosi kita biar nanti tidak nampol tuh tua bangka," canda Mbak Ani.


"Hahaha, Mbak juga pengen ya nampolnya. Cocok tuh Mbak, pakai highells nya Mbak biar benjol sekalian tuh kepalanya tua bangka, kalau perlu disunat habis aja tuh Mr.P nya biar kandas-das-das tak bersisa," balas Cha yang semakin ngalur ngidul ucapannya.


Mereka pun tertawa terbahak-bahak bersama sampai mengusik orang yang berada didalam rumah. Dan orang yang berada didalam keluar dari kedepan melihat kebisingan yang dilakukan Cha dan Mbak Ani.


Sesaat mereka terdiam melihat orang yang keluar dari dalam rumah itu. Karena orang itu adalah yang sedang diceritakan mereka, orang yang sedang dihujat habis-habisan oleh mereka berdua. Cha mencoba menahan emosinya saat melihat laki-laki yang sudah mencoba memperkosa Dewi.


"Permisi Pak, kami mau bertemu dengan Ibunya Dewi," ucap Mbak Ani dengan wajah datarnya. Karena dia pun merasa jijik melihat laki-laki yang ada di teras rumahnya.


Laki-laki itu memandang Cha dan Mbak Ani dari atas sampai bawah. Terutama Cha, dia menatap Cha dengan penuh nafsu seakan-akan ingin memangsanya.


"Mbak, lihat matanya itu, ganjen banget. Pengen tak congkel tuh mata biar gak bisa jelalatan lagi," gerutu Cha dengan suara nyaris pelan dan gerakan bibir yang dibuat tersenyum.


"Iya Cha, Mbak juga pengen untel-untel tuh tua bangka. Emang boleh kita congkel Cha, matanya si Aki? Bukannya nanti kita bisa masuk penjara ya karena menghabisi Aki-aki," guyon Mbak Ani dengan suara yang sangat pelan.


Cha spontan menyemburkan ludahnya seperti Mbah dukun karena gak bisa lagi menahan tawanya mendengar guyonan Mbak Ani. Dan Mbak Ani langsung menyikut lengan Cha.


Tiba-tiba keluarlah Ibunya Dewi dari dalam rumah. Cha dan Mbak Ani mengucapkan syukur atas kedatangan Ibunya Dewi.


"Eh ada temannya Dewi!" seru Ibunya yang langsung menghampiri kami.


"Iya Bu, gimana kita bisa pergi sekarang? Karena mobilnya gak bisa lama-lama dipinjam," Cha mengedipkan matanya kearah Mbak Ani dengan memberi kode.


"Iya Bu, tadi cuma sebentar aja minjem mobilnya. Jadi kita bisa ngangkat barangnya sekarang?" tanya Mbak Ani yang tanpa basa basi.


"Oh iya boleh, ayo nak kedalam biar dilihat dulu mana barang yang mau diangkat," jawab Ibunya Dewi.


"Bentar Bu, saya panggilkan dulu orang yang akan bantu ngangkat barang Ibu," ucap Cha yang meminta Ibunya untuk menunggu diluar.


Lalu Cha bergegas keluar dari perkarangan rumah itu menuju mobil. Cha meminta kedua bodyguard untuk kerumah itu membantu mengangkat barang-barang Ibunya Dewi.


Mereka pun menuruti perintah dari Cha dan masuk bersama Cha kedalam perkarangan rumah Budenya Dewi.


"Bu, nanti mereka aja yang mengangkat barang-barangnya. Sekarang tunjukkin aja mana barang yang harus dibawa," ucap Cha dengan sopan.


Mereka masuk kedalam rumah yang ditempati Ibunya Dewi. Sedangkan rumah Pakdenya berada disebelahnya. Karena Ibunya mau pindah, Pakdenya penasaran sehingga dia menunggu bersama istrinya dirumah yang ditempati Ibunya Dewi.


"Ini Pak yang mau diangkat sama semuanya ini," Ibunya Dewi menunjuk barang-barang yang akan diangkat.


"Baik Bu," balas kedua bodyguard itu.


"Hanya ini saja Bu barangnya?" tanya Mbak Ani

__ADS_1


__ADS_2