
Sore menjelang malam pun tiba, Cha sudah bangun duluan. Dia melihat Zain yang tidur disebelahnya. Lalu Cha membangunkan Zain karena sudah Maghrib.
"Zain, ayo bangun!" Cha menggoyangkan tubuh Zain.
"Iya Cha, bentar ya lima menit lagi," jawab Zain yang masih memejamkan matanya.
Cha bergerak turun dari tempat tidurnya. Lalu dia berjalan kearah kamar mandi. Didalam kamar mandi, Cha mulai membersihkan tubuhnya.
"Hmmm rasanya badanku capek sekali. Tapi lumayan tadi bisa istirahat," gumam Cha di dalam kamar mandi.
Sesaat Cha teringat akan keadaan Mamanya di Medan. Dia pun mulai terisak kembali di dalam kamar mandi.
Diluar kamar mandi, Zain meraba-raba samping tempat tidurnya. Dia bangun dan duduk sambil melihat kesamping, ternyata Cha sudah tidak ada. Lalu samar-samar Zain mendengar suara isakan tangis dari dalam kamar mandi. Zain bergegas menuju kamar mandi.
"Sayang..., kamu kenapa?" tanya Zain sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi Cha.
Tak ada jawaban dari dalam kamar mandi. Zain menjadi khawatir dan menggedor kembali.
"Sayang....buka pintunya! Jangan buat aku khawatir gini. Please...Cha ayo keluar dari dalam," pinta Zain yang sudah mulai kebingungan.
Lalu pintu kamar mandi akhirnya terbuka juga. Cha keluar dengan pakaian yang sudah lengkap.
"Cha, kamu kenapa? Kamu kepikiran keluarga di Medan ya?" Zain menatap Cha yang berlalu dari hadapannya.
"Maaf Zain, kalau aku buat kamu khawatir. Aku masih belom bisa menerima ini semua. Rasanya berat sekali kehidupan yang aku jalani. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu melewati keadaan yang kurang nyaman. Kadang aku berpikir, apa aku harus mati aja ya Zain, biar berakhir semuanya," Cha merasa putus asa. Dia terduduk di pinggiran tempat tidurnya.
Zain langsung menghampiri Cha dan memeluknya dengan erat.
"Jangan katakan seperti itu. Kamu masih punya aku Cha..! Please bertahanlah, sabar dan yakinlah, pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan nantinya." Zain membelai rambut Cha untuk menenangkannya.
"Zain..., hiks hiks hiks," Cha menangis tersedu-sedu.
"Menikahlah denganku Cha. Aku siap membahagiakanmu, aku gak akan mengkhianatimu. Aku berjanji akan ada selalu bersamamu. Jangan berfikir untuk mengakhiri hidup ya Cha. Kamu harus kuat menjalani ini semua," Zain memberikan dukungannya terhadap Cha.
Cha terus memeluk Zain. Dia merasa nyaman berada dalam pelukan Zain.
Mereka tak menyadari, ternyata dibalik pintu kamar mereka, Oma mendengar semua cerita tentang Cha. Oma merasa terharu dan prihatin dengan keadaan Cha.
Awalnya Oma ingin mengajak mereka turun untuk makan malam bersama. Namun saat mendengar suara tangisan Cha dari dalam, Oma menghentikan langkahnya, dia mendengar obrolan Cha dengan cucunya Zain. Oma tak menyangka kehidupan Cha yang sangat menyedihkan. Akhirnya Oma memutuskan untuk turun sendirian menuju meja makan dan bergabung dengan anak serta menantunya.
"Ma, kenapa wajah Mama terlihat sedih seperti itu?" tanya Siti menantunya.
"Iya Ma, wajahnya kenapa sedih begitu," anaknya ikutan menatap Mamanya yang kelihatan sedih.
"Mama tadi dari kamar Zain. Sebenarnya Mama ingin mengajak mereka turun untuk makan malam bersama. Tapi saat Mama mendengar Cha menangis, Mama gak jadi mengetuk pintu kamarnya.
"Oh...ceritanya Mama sedih karena Zain sama Cha lagi ada problem ya?" tanya anaknya.
Siti hanya diam saja, saat mertuanya mengungkapkan bahwa Cha menangis. Dia sudah mengetahui masalah yang dihadapi Cha. Namun dia merasa tidak tepat membicarakannya dimeja makan. Tapi saat ini ternyata mertuanya mengungkapkan keadaan Cha.
"Mama mendengar Cha menangis. Ternyata kehidupan anak itu sangat menyedihkan," jelas Mamanya.
"Maksud Nama apa?" tanya anaknya.
"Cha memiliki keluarga yang tidak utuh, atau bisa dibilang keluarga Broken Home. Saat ini orang tuanya sudah bercerai. Mama mendengar kisahnya merasa prihatin. Kasihan dia menjalani ini semua tanpa siapapun yang mendukungnya. Semoga Zain bisa membuatnya bahagia," ucap Mamanya dengan harapan besar.
__ADS_1
Anaknya dan menantunya hanya diam saja mendengar cerita Mamanya. Mereka juga prihatin dengan keadaan Cha.
"Besok apa jadi kita berangkat ke Belanda, Louis?" tanya Mamanya.
"Ya terserah Zain, Ma. Kalau mereka menginginkannya berangkat, kita semua akan berangkat.
"Semoga masalah yang dihadapi Cha, bisa selesai dengan cepat semuanya," harap Mamanya.
"Aamiin Ma," jawab mereka bersamaan.
Perbincangan di meja makan diselingi dengan makan, akhirnya selesai. Oma kembali ke kamarnya dan anak serta menantunya juga kembali ke kamarnya.
Sedangkan di dalam kamar Zain, Cha masih setia memeluk Zain.
"Cha, ayo kita makan malam dulu. Kamu harus makan biar tetap fit dan sehat. Kalau kamu sakit gimana mau pergi mengahdirkan pesta dia!" Zain mengingatkan Cha akan keinginannya.
Cha mendongakkan kepalanya keatas dan menatap Zain dengan sendu.
"Kita makan disini aja ya Zain. Aku malu ketemu mereka. Apalagi dengan wajahku yang seperti ini. Nanti Oma bisa khawatir sama aku," pinta Cha.
"Baiklah, aku akan menyuruh Asisstent rumah tangga untuk membawakan makan malam kita ke kamar. Kamu tunggu disini ya," Zain menghubungi bagian dapurnya untuk menyuruh salah satu dari pekerja di Mansionnya untuk mengantarkan makan malam mereka ke kamar.
"Zain, kamu mau gak nemani aku balik ke Medan setelah kita ke Belanda?" tanya Cha.
Zain menoleh kearah Cha dan dia berjalan menghampiri Cha.
"Tentu aku mau. Apapun yang kamu minta, aku akan turuti selagi aku bisa," jawab Zain dengan serius.
"Makasih Zain."
"Monsieur du soir, j'ai apporté votre dîner avec la demoiselle."
"(Malam Tuan, saya membawakan makan malam anda bersama nona muda)," ucap pelayan itu.
"Heum," jawab Zain.
Lalu pelayan itu masuk ke dalam kamar dan meletakkan makanannya diatas meja dekat tempat tidur Zain.
"Manque-t-il encore quelque chose monsieur?"
"(Apa masih ada yang kurang Tuan)?" tanya pelayan itu tanpa menatap kearah Zain.
"Non, cela suffit. Maman, papa et grand-mère ont-ils mangé en bas?"
"(Tidak, ini sudah cukup. Apa Mama, Papa dan Oma sudah makan dibawah)?" tanya Zain.
"Monsieur, Madame et Grand-mère ont fini de manger plus tôt Monsieur. Et ils sont retournés dans leurs chambres respectives."
"(Tuan besar, Nyonya dan Oma sudah selesai makan dsri tadi Tuan. Dan mereka sudah kembali ke kamar masing-masing)," jelas pelayan itu.
"D'accord, vous pouvez y aller."
"(Baiklah, kamu boleh pergi)," Zain menyuruh pelayannya untuk segera keluar.
"Très bien Monsieur, je vais d'abord m'excuser."
__ADS_1
"(Baik Tuan, saya permisi dulu)," ucap pelayan itu. Lalu dia keluar dari dalam kamar Zain.
Setelah pelayan itu keluar, Zain mengajak Cha untuk duduk di sofa.
"Kemari lah Cha, kita makan bareng," ajak Zain.
Cha berjalan kearah sofa dan duduk disebelahnya Zain. Zain mengambilkan makanannya dan menyuapi Cha dengan pelan. Cha merasa sangat senang karena mendapatkan perhatian dari sosok laki-laki.
"Kamu suka makanannya?" tanya Zain saat melihat Cha menikmati makanannya.
"Heum, aku suka banget Zain. Ini sangat lezat," puji Cha.
"Makanlah yang banyak, setelah ini istirahatlah. Karena besok pagi kita akan berangkat ke Belanda. Aku akan menemui Mama dan Papa untuk memberitahukan keberangkatan besok," jelas Zain.
"Iya, makasih Zain atas semuanya," ucap Cha dengan tulus.
"Jangan sering-sering mengucapkan terima kasih. Aku akan selalu ada untukmu Cha." Zain tersenyum dan terus menyuapi Cha sambil dianya makan.
Setelah selesai makan, Zain menyuruh Cha beristirahat. Dan dia akan keluar dari kamar Cha.
"Istirahatlah, aku akan menemui Mama dan Papa dulu."
"Iya Zain." Cha kembali keatas tempat tidur duduk diatas tempat tidur sambil menonton hiburan di TV.
Kemudian Zain meninggalkan Cha. Dia menutup pintu kamar cah, dan berjalan ke kamar Mama dan Papanya.
"Tok tok tok, Mom sudah tidurkah?" tanya Zain dari luar kamar.
"Masuklah sayang," ucap Mamanya yang membukakan pintu kamarnya.
"Mom, Pa, Zain kemari hanya mengingatkan bahwa besok pagi kita akan berangkat ke Belanda. Zain harap Mama dan Papa bisa bersiap-siap malam ini," jelas Zain.
"Apa Cha siap dengan kejadian nantinya yang akan terjadi?" tanya Mamanya.
"Dia pasti siap Mom. Aku akan terus bersamanya," jawab Zain.
"Baiklah, kita akan berangkat besok. Khabari Oma biar bersiap juga buat besok," suruh Papanya.
"Iya Pa, Zain ke kamar Oma dulu ya," Zain keluar dari kamar Mamanya dan menghampiri Omanya di dalam kamar.
Zain tidak mengetuk pintu kamar Omanya, dia langsung saja masuk. Zain melihat Omanya lagi membaca buku.
"Oma, lagi sibuk kah?" tanya Zain saat masuk ke dalam kamar Omanya.
"Oh Zain, sini sayang. Oma lagi membaca buku sejarah," tunjuk Omanya.
"Oma, Zain kemari ingin memberitahukan bahwa besok pagi kita akan berangkat ke Belanda. Oma siap-siap ya," Zain memberitahukan keberangkatan besok.
"Bagaimana dengan Cha, Zain? Apa dia siap dengan apa yang dilihatnya nanti?" tanya Omanya.
"Dia sudah siap Oma."
"Baiklah, Oma akan ikut."
"Kalau begitu Zain kembali dulu ke kamar ya Oma. Agar besok bisa bersiap-siap." Zain beranjak dari duduknya. Dia keluar kamar Omanya dan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1