
Yoga melihat kedatangan Papa dan Oma serta Mamanya Zain ke dalam ruangan itu. Mereka melihat Yoga yang berdiri di samping Cha.
"Gimana keadaannya nak Yoga?" tanya Mamanya Zain.
"Cha hanya kelelahan Tante. Saya sudah memberikannya obat dan vitamin buat pemulihan Cha. Tante gak usah khawatir ya," jawab Yoga dengan sopan.
"Syukurlah kalau nak Cha baik-baik saja. Tante gak mau Cha kenapa-napa," balas Mamanya Zain.
"Sayang, gimana kondisi kamu, sudah enakan?" tanya Omanya Zain.
"Cha udah enakan Oma," jawab Cha. "Ma, dimana Zain?" tanya Cha yang memang dari tadi ingin bertemu.
"Zain a--ada di ruangannya. Di--dia sedang..," ucapan Mamanya Zain terputus karena seorang perawat masuk ke dalam kamar dengan tergesa-gesa.
"Dokter Yoga tolong dok, tolong pasien yang berada di ruang VIP 2. Cepat dok, kita gak punya banyak waktu, ayo dok!" teriak perawat itu buru-buru.
Mamanya Zain tersadar kalau ruang yang di sebut sama suster itu adalah ruangan Zain.
"Ada apa dengan Zain suster!" teriak Mamanya.
"Maaf Bu, saya gak bisa menjelaskan. Sebaiknya Ibu menunggu saja di luar," jawab suster itu yang berlalu meninggalkan kamar Cha.
"Ada apa dengan Zain Ma!? Apa yang terjadi...?!" teriak Cha. Karena paniknya Cha mencabut selang infus dari tangannya dan dia berlari keluar ruangannya dan mengejar perawat itu.
"Cha tunggu....!" teriak Mama dan Omanya Zain. Mereka mengejar Cha dari belakang.
Cha merasa khawatir dan ketakutan dengan keadaan Zain.
"Zain apa yang terjadi denganmu sayang. Jangan tinggalkan aku Zain...," bathin Cha sambil berlari mengejar perawat itu.
Yoga masuk ke dalam ruang VIP, di dalam sudah ada beberapa Dokter yang lain. Mereka mengecek keadaan Zain. Karena sesaat yang lalu jantung Zain sempat berhenti saat perawat mengecek keadaan Zain. Hingga situasi tak terkendali hingga Yoga dan Cha masuk ke dalam ruangan itu, jantung Zain kembali berdetak.
Dokter yang berada di dalam ruangan itu bingung dan bersyukur karena detak jantung pasien mulai normal kembali.
"Dokter Yoga," sapa salah satu Dokter lainnya.
"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Yoga yang mendekat ke arah Zain. Yoga memegang tangan Zain dan menatap ke arahnya.
"Pasien tadi mengalami kejang, dan belum siuman juga dok. Belum ada tanda-tanda perkembangannya. Tapi saat Dokter masuk, pasien kembali normal," jawab salah satu Dokter yang berdiri disamping Yoga.
Cha mendekat ke arah Zain yang sedang berbaring dengan menutup matanya. Seluruh tubuhnya penuh dengan alat. Cha merasa hatinya teriris dan sakit melihat keadaan Zain.
"Kenapa bisa seperti ini Zain? hiks hiks hiks," tangis Cha pun pecah di dalam ruangan ini.
Mamanya dan Oma serta Papanya Zain langsung masuk ke dalam ruangan itu. Mereka melihat dua Dokter dan perawat.
"Apa yang terjadi dok dengan anak saya? Kenapa Zain belum siuman juga?" tanya Mamanya Zain.
"Aku sudah mengusahakan yang terbaik Nyonya. Kita hanya bisa berdo'a semoga ada keajaiban datang," jawab Dokter tua.
__ADS_1
Tiba-tiba tanpa di duga, Zain perlahan membuka matanya. Dia mencoba melihat ke arah Cha. Lalu dia melihat Yoga yang berdiri disamping Cha. Zain tidak terkejut melihat Yoga, karena dia bisa merasakan dan mendengar suara Yoga.
Lalu tangan Zain perlahan-lahan di gerakkannya dan mencoba menggapai pipi Cha yang penuh dengan air mata.
"Sa--aayang, ja--aangan menangis," ucap Zian dengan nafas tersengal-sengal.
"Please Bang, kamu jangan banyak bicara dulu. Aku gak mau kehilangan kamu Bang," balas Cha dengan kesedihan yang sangat menyiksanya.
"Yo--ooga, aa--apa khabar Lo?" tanya Zain terbata-bata.
"Gw baik Zain, Lo jangan banyak bicara dulu ya. Lo harus kuat dan semangat demi Cha," ucapnya tulus.
"Gu--guwa kalah. Lo me--eenang," balasnya lagi.
"Abang ngomong apa? Siapa yang kalah dan siapa yang menang? Jangan ngomong seperti itu?" Cha terus membelai pipi Zain yang semakin dingin.
"Yo--ooga, gu--guwa titip Cha. Me--eenikahlah de--engannya," ucap Zain lagi dengan suara tersendat-sendat.
"Abang ngomong apa? Udah mendingan Abang istirahat. Kita yang akan menikah. Aku gak mau ditinggal," Cha menolak kenyataan saat itu.
Sedangkan Mama dan Omanya Zain menangis tersedu-sedu di samping Zain. Begitupun dengan Papanya. Dia merasa bersalah karena memaksa Zain untuk kembali malam itu juga.
Waktu tidak bisa di putar ulang, seandainya Papa dan Mamanya tidak memaksa Zain kembali sore itu juga, pasti kecelakaan itu tidak akan terjadi. Semua sudah diatur sama yang Maha Kuasa.
"Sa--aayang," Zain mengambil tangan Cha, lalu dia meletakkan tangan Cha ke dalam genggaman tangan Yoga.
"Ke--eembaali--lah de--eengannya sa--aayang. Abang su--udah gak kuat," ucap Zain yang masih berusaha untuk bertahan.
"To--oolong ja--aaga Cha. Berj--janjilah ci--intai dia se--elamanya. Ku--uumohon," ucap Zain kepada Yoga.
Yoga tak sanggup melihat keadaan Zain sehingga air matanya pun luruh melihat Zain kesakitan. Dia pun mengangguk menyetujui permintaan Zain yang mungkin terakhir kalinya.
"Lo ma--aasih menc--cintai--inya kan?" tanya Zain memastikan.
"Ya, gw selalu mencintai Cha sampai detik ini. Gw akan menuruti permintaan Lo, menikahi Cha.
"Ma, to--oolong panggil pe--enghulu untuk me--enikahkan me--ereka," pinta Zain di sela nafasnya yang masih tersengal-sengal.
"Kamu ngomong apa sayang, yang menikah itu kamu, bukan Yoga. Jangan bicara seperti itu Zain. Kamu harus kuat dan cepat sembuh," Mamanya Zain menggelengkan kepalanya tak mau menerima permintaan anaknya.
"Ple--ease Ma. Zaa--in ingin me--eelihat Cha me--eenikah de--ngan Yoga. Zaa--in ingin pergi te--eenang," balas Zain.
Papanya Zain langsung meminta orang suruhan mereka membawakan penghulu untuk menikahkan mereka berdua.
Kemudian beberapa menit kemudian datanglah penghulu ke ruangan itu.
Cha tidak mau dan menolak permintaan Zain. Dia menangis dan berkata.
"Kenapa Abang lakukan ini kepadaku? Jangan memaksaku? Aku tidak mau, aku hanya ingin menikah dengan Abang, bukan yang lainnya!" teriak Cha.
__ADS_1
"Sa--aayang, ka--mu a--akan se--lalu di ha-ti A--bang sel--aamanya. Uhuk uhuk uhuk."
"Bang....!" teriak Cha semakin takut.
"Me--nikahlah de--eengannya. A--bang mohon, ha--nya dia ya--ng bi--iisa A--aabang percaya," Zain terus meminta Cha memenuhi keinginannya terakhir.
Hingga akhirnya Cha pun bersedia menikah dengan Yoga di hadapan Zain yang perlahan-lahan menutup matanya.
Setelah ijab Qabul selesai dan terdengar suara kata sah, Cha menangis mendapat kenyataan bahwa dia akhirnya menikah dengan orang yang pernah dicintainya. Saat Cha menangis mendengar do'a, kenyataan pahit membuat Cha kembali menangis histeris.
Zain menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya setelah menyaksikan kekasih tercintanya menikah dengan cinta pertama Cha. Lalu alat pacu jantung berhenti seketika. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menoleh ke arah alat tersebut dan terdiam, begitu juga Cha dia diam mematung menatap nanar alat itu berhenti.
"Tidak mungkin, ini tidak mungkin........! Zain......!" teriak Cha yang langsung menghambur dalam pelukan Zain.
"Tidaaaak......, Zaiiinn....banguuun Zain...., jangan begini Zain..., Cha histeris gak percaya dengan apa yang terjadi.
Begitu juga dengan Mama dan Omanya Zain, mereka menangis histeris, tak terima kepergian Zain. Penyesalan menusuk dada Mama dan Papanya Zain. Padahal mereka akan melangsungkan pernikahan Zain dan Cha, tapi justru mereka menerima duka ini.
Yoga memeluk Cha yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Yoga memberikan kekuatan untuk Cha. Zain pergi dengan meninggalkan kekasih tercintanya dan kenangan indah yang mereka lalui. Air mata pun menetes dari sudut mata Zain saat dia menutup matanya untuk yang terkahir kalinya. Wajahnya terlihat teduh, senyum di bibirnya begitu merekah, dia terlihat bahagia dalam kematiannya.
Cha mengecup kening Zain untuk yang terakhir kalinya. Cha tak sanggup melepas kepergian Zain. Dia terus menangis dalam pelukan Yoga.
Setelah beberapa menit meratapi kepergian Zain, akhirnya Cha dan yang lainnya meninggalkan ruangan itu karena jenazah Zain akan di bersihkan dan di bawa sama keluarga.
Cha masih tak percaya akan kenyataan pahit ini. Padahal kemaren Zain berjanji akan menemui Cha kembali, namun dia tak kembali juga bahkan pergi meninggalkan Cha untuk selamanya.
Cha dan yang lainnya terus menangis. Hingga mereka kembali ke rumah yang di tempati Cha.
Sesampainya mereka dan jenazah Zain, keluarga besar Zain sudah berdatangan ke rumah itu. Karena rumah itu adalah milik Omnya. Dan Mamanya Cha serta adiknya juga berangkat dan dalam perjalanan ke rumah itu.
Zain pergi meninggalkan mereka semua saat sore menjelang malam. Cha masih terus duduk di samping jenazah Zain dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.
Hingga malam semakin larut, Cha kembali ke kamarnya, dia terus menerus menangis. Yoga yang sudah menjadi suaminya, menghampiri Cha.
"Cha, sabar ya, semua sudah takdir Allah SWT. Kasihan Zain kalau kamu tidak bisa ikhlas atas kepergiannya," ucap Yoga yang duduk disampingnya.
"Ga, kenapa dia membuatku seperti ini? Dia berjanji akan menikahiku, tapi justru dia meninggalkanku selamanya," balas Cha.
"Aku akan selalu berada disisimu Cha. Kamu harus tabah ya," pinta Yoga.
Pagi menjelang, suasana semakin haru, pemakaman Zain akan segera dilaksanakan. Cha dan yang lainnya masih tidak percaya atas keadaan ini. Hingga akhirnya mereka semua berangkat ke pemakaman.
Setelah selesai proses pemakaman, Cha masih duduk menangis di batu nisan Zain. Dia tidak ingin beranjak dari sana. Cha tak ingin meninggalkan Zain sendirian. Yoga masih setia menemaninya.
"Ayo kita kembali Cha," ajak Yoga.
Mereka pun kembali ke rumah itu hingga menyelesaikan pengajian selama beberapa malam.
Hari-hari berlalu, hingga berbulan-bulan. Cha hidup bahagia bersama Yoga suaminya dan mereka memiliki anak yang sangat tampan dan cantik. Mereka hidup bahagia.
__ADS_1
TAMAT