
Cha menghembuskan nafasnya dengan perlahan-lahan dan menampilkan senyuman ceria di wajah cha agar Yoga tidak merasa berat untuk meninggalkannya.
"Pergilah Ga, kejar lah mimpi mu, aq akan mendukungmu terus kok," kata Cha yang memberi semangat sambil memaksakan senyumnya.
Yoga pun memeluk Cha dengan erat. Dia mengusap-usap rambut Cha dengan lembut. Tak terasa air mata Yoga jatuh ke pundak Cha. Namun Cha tak merasakannya. Yoga pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah Cha sambil menangkup wajah Cha dengan kedua tangannya.
"Aq sayang sama kamu Cha," kata Yoga dengan sendu.
Cha hanya bisa tersenyum dan mengusap-usap pipi Yoga.
"Den kita udah sampai," kata pak supir yang membuyarkan adegan romantis mereka.
"Yuk Cha kita makan siang bareng. Aq ingin menghabiskan waktu berdua aja hingga beberapa jam kedepan," Yoga mengajak Cha keluar dari mobilnya. Dia menggandeng tangan Cha memasuki cafe tersebut.
Mereka masuk ke dalam dan duduk di meja yang sudah di pesan Yoga.
"Aq udah laper banget Cha," kata Yoga yang menahan lapar dari tadi. Karena pagi tadi dia hanya makan sedikit karena buru-buru berangkat.
"Iya udah nih pesan makanannya," kata Cha sambil menyodorkan menu makanan tersebut.
Mereka memesan makanan sesuai selera masing-masing. Cha enggan berbicara, dia tidak mau acara makannya di buat jadi sedih. Cha sengaja menghindari pembicaraan ke arah perpisahan.
"Tempatnya enak ya Ga, menu-menunya juga banyak pilihannya," kata Cha yang memang sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Iya Cha, kamu makan yang banyak ya, biar cepat besar hehehe," canda Yoga sambil cengengesan.
"Yeeeeee, ini juga udah besar Ga, kamu tuh yang makan banyak, biar gendutan dikit," balas Cha yang gak mau kalah.
Mereka saling mengejek dalam candaan hingga makanan yang dipesan mereka datang.
"Waowww kelihatannya lezat sekali ini ga," kata Cha antusias ketika melihat hidangan diatas mejanya.
"Udah yuk ah makan, jangan dilihatin terus. Gak akan habis kalau dilihat terus, yang ada jadi dingin tuh makanan," jawab Yoga yang sudah mulai memakan makanannya.
"Hehehe, iya-iya, mari makan....," semangat Cha. Dia pun mulai memakan makanannya. Tidak ada komunikasi yang terjadi diantara mereka.
Mereka sibuk mengunyah makanannya sambil terhanyut dengan pikiran masing-masing.
Selesaiereka makan, Yoga memberikan sebuah paper bag kepada Cha.
"Cha, sebelum aq berangkat, aq mau memberikan sesuatu kepadamu," kata Yoga sambil menatap mata Cha.
"Apa yang mau kamu berikan Ga," tanya Cha yang penasaran.
Yoga berdiri dari tempat duduk nya dan berjalan kearah Cha. Dia berjongkok dihadapan Cha sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi sebuah cincin dan mengucapkan
"Mau kah kamu menunggu qu kembali dan kita hidup bersama?" tanya Yoga sambil mengeluarkan cincin tersebut dan memasangkannya dijari manis Cha.
Cha terkejut dan merasa terharu. Dimana dihadapannya laki-laki yang sudah mengambil keperawanannya, sekali lagi mengutarakan cintanya. Cinta yang belom pernah dijawab Cha dari dulu hingga sekarang. Dan sekarang saat nya lah Cha menjawab cinta Yoga.
Cha tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda iya menerima cincin dari Yoga sambil meneteskan air matanya. Yoga tersenyum senang dan langsung memeluk Cha dengan rasa yang tak bisa diungkap kannya kepada dunia. Yoga pun menangis haru sambil memeluk Cha.
"Terima kasih yanx, akhirnya kamu membalas cinta qu. Aq akan jaga hati ini hanya untuk mu walaupun keujung dunia aq pergi," bisik Yoga sambil membelai rambut indah Cha.
Cha semakin menangis terharu sampai baju Yoga basah dibagian pundaknya.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis, nanti aq gak sanggup jauh darimu Cha," kata Yoga sedih.
Cha melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Dia tertawa garing melihat kearah Yoga.
"Aq kan cuma nangis, masa gak boleh," manja Cha dengan suara seraknya.
"Hehehe boleh yank," Yoga mengusap air mata Cha yang masih terjun bebas.
"Cantik, kalau nangis, kamu jadi tambah cantik, buat aq semakin ingin cepat-cepat membawamu dalam kehidupan qu yanx," goda Yoga sambil tersenyum menawan.
"Uhhhhh romantisnya sayang qu ini," ucap Cha gemes sambil mencubit pipi Yoga.
"Apa kamu bilang tadi, coba ulang lagi yanx, aq pengen dengar," kata Yoga memaksa.
"Sayang qu romantis banget....!" seru Cha sambil tersipu malu.
"Hehehe akhirnya aq mendengar kata 'sayang' dari kamu ya yanx," kata Yoga yang merasa bahagia.
"Eh udah jam segini, ayuk aq anter pulang. Karena papa pasti udah nunggu aq dirumah," kata Yoga dengan raut wajah sedih.
"Heum, yuk," ajak Cha. Mereka keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil. Mobil pun pergi dari cafe menuju rumah Cha. Hingga sampailah mereka di jalan dekat gang rumah Cha.
"Cha, kenapa kita harus berpisah gini ya, aq ngerasa kita gak akan pernah bersama," kata Yoga merasa risau.
"Hussst, jangan ngomong gitu yanx, kita pasti ketemu lagi," kata Cha yang menjawil hidung mancung Yoga.
"Boleh gak yanx terakhir kali aq memberikan tanda sayang qu ke kamu," ucap Yoga memelas.
"Heum," Cha mengangguk iya.
"Ahhh, kenapa aq teringat sama si Zain," pikir Cha yang langsung tersadar. Dia pun kembali melihat wajah Yoga dan membalas ciuman Yoga. Lama mereka melakukannya hingga Cha kehabisan nafas.
"Hah hah hah," Cha merasa ngos-ngosan.
"Hehehe, enak ya yanx," goda Yoga sambil tersenyum.
Cha tersipu malu mendengar ucapan Yoga. Dia juga menatap lekat wajah Yoga, wajah kekasih yang akan pergi jauh.
"Ya udah, aq balik ya. Kamu jaga diri disana dan jangan lupa khabari aq kalau sudah sampai di Belanda," kata Cha yang memberikan semangat dan menekan kesedihannya.
"Kamu juga jaga diri ya disini. Ingat jangan melirik laki-laki lain," Yoga mengecup kening Cha dengan kelembutan.
"Bye, aq akan merindukan mu yanx," ucap Cha yang kelihatan sedih.
"Aq juga yanx, akan merindukan mu," balas Yoga sambil membelai pipi Cha dan tersenyum palsu.
Cha pun keluar dari mobil dengan langkah yang berat. Dia tidak rela harus berjauhan dengan Yoga. Karena selama ini Yoga lah yang selalu ada untuknya. Namun dia harus bisa menjadi kuat tanpa Yoga. Apalagi nanti di Kota baru nya.
Cha tak sanggup melihat kebelakang, dia terus berjalan dengan langkah yang lesuh. Hingga masuk ke dalam gang dia tidak mau menoleh ke belakang.
Sedangkan mobil Yoga sudah pergi dari sana dan kembali kerumahnya. Dia harus bersiap-siap untuk berangkat ke Belanda. Sesampainya di rumah, dia bertemu dengan mamanya.
"Assalamu'alaikum ma, pa," sapa Yoga kepada orang tuanya.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serentak. Mamanya melihat Yoga nyelonong masuk ke dalam kamarnya dengan wajah yang ditekuk.
__ADS_1
"Kenapa tuh anak, ma?" tanya papanya Yoga.
"Gak tau pa," jawab mamanya Yoga sambil mengedikkan kedua bahunya.
"Coba mama lihat ke kamarnya," suruh papanya Yoga.
Mamanya Yoga pergi dari ruang santai menuju kamar Yoga. Dan mengetuk pintu kamar Yoga.
"Ga, boleh mama masuk nak?" tanya mamanya. Hingga beberapa kali tidak ada sahutan dari Yoga.
Mamanya mencoba membuka pintu kamar Yoga, dia khawatir anaknya kenapa-napa. Mamanya masuk ke dalam kamar dan mendapati Yoga yang sedang menangis.
"Loh, kamu kenapa sayang?" Kok nangis gini?" tanya mamanya khawatir.
"Ma, Yoga gak mau ke Belanda. Yoga mau kuliah bareng Cha," rengek Yoga sambil memeluk mamanya.
"Tapi, papa kamu sudahengurus segalanya sayang. Mama gak bisa berbuat apa-apa," kata mamanya pasrah.
"Apa mama gak bilang sama papa buat batalin keberangkatan Yoga, ma," kata Yoga penuh harap sambil menatap mamanya.
Mamanya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Maaf sayang, mama tidak bisa menghentikan semuanya. Papa kamu ingin kamu menjadi seorang dokter seperti nya," ucap mamanya.
Yoga menghela nafasnya dengan sangat kasar, dia pun pasrah atas apa yang sudah ditentukan orang tuanya.
"Baiklah ma, kasih Yoga waktu untuk beres-beres. Setelah itu Yoga akan turun dan kita berangkat ke bandara," kata Yoga memohon.
"Ya udah, mama tunggu di bawa ya, kalau sudah selesai cepatlah turun. Nanti kita terlambat," kata mamanya sambil mengusap-usap rambut Yoga dengan rasa sayang.
Mamanya meninggalkan kamar nya dan kembali ke tempat suaminya berada. Papanya Yoga melihat kedatangan istrinya dan bertanya.
"Ada apa dengan dia, kenapa wajahnya murung seperti itu?" tanya papanya.
"Gak ada apa-apa pa, cuma sedih aja ninggalin Kota ini dan teman-temannya," bohong mama Yoga.
Memang papanya tidak mengetahui kedekatan antara Yoga dan Cha. Karena memang papanya melarang Yoga untuk mencintai seorang perempuan di saat dia sekolah. Karena papanya tidak mau Yoga terbebani karena cinta. Cukup egois sih kedengarannya, tap ya itulah keinginan papanya Yoga.
Di tempat lain, Cha masuk kedalam rumah tanpa menghiraukan pandangan mamanya dan Sika. Dia nyelonong masuk ke dalam kamarnya. Dia menghempaskan bokongnya diatas sofa dan melihat paper bag yang diberikan Yoga. Lalu dia membuka paper bag tersebut dan melihat ada bingkai foto, di situ terdapat foto Cha dan Yoga. Cha memandang foto tersebut dan melihat ke arah jari manisnya.
"Aq akan menunggumu yanx," ucap Cha kepada dirinya sendiri.
Lalu dia teringat Paper bag besar yang diberikan oleh Zain. Lalu dia bergegas mengambilnya di dalam lemari pakaiannya. Cha membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya, ternyata ada sebuket bunga lavender yang harus dan sebuah kado yang terbungkus dengan gambar love. Cha membuka nya dan terkejut melihatnya.
"Ini adalah lukisan wajah qu! Lukisannya besar sekaki.., Wahhhh bagus banget. Kapan Zain membuat lukisan ini? Dan siapa yang melukisnya?" tanya Cha penasaran. Selain itu juga ada sepucuk surat dari Zain. Cha pun membuka surat tersebut dan membacanya.
Buat Cintaqu Tersayanx
Ketika kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak berada di kota ini lagi. Gimana dengan bunga Lily nya, kamu suka kan? Bunga itu melambangkan aroma tubuhmu yang selau tercium oleh ku, harum bunga Lily, dan aku sangat menyukainya. Selain itu ada juga lukisan dirimu.
Kamu tau gak Cha, gambar itu aq ambil ketika aku diam-diam mengikuti mu pulang sekolah. Dan aku menunggu mu di depan gang rumah mu sampai sore hari, berharap kamu keluar dari rumah. Ternyata penantian ku gak sia-sia. Kamu keluar dari gang rumahmu dengan pakaian cantik. Tentu aku tidak tau kamu mau kemana. Saat itulah aku mengambil foto kamu. Sungguh cantik bukan.
Dan lukisan itu adalah hasil karya pertamaku. Ya aku suka melukis, tapi tidak pernah terwujud karena aku harus menjalankan perusahaan orang tuaku. Lukisan itu asli buatan tanganku. Aku harap kamu menjaganya untuk ku.
Kamu telah merubah diri ku Cha. Aq tidak akan pernah bisa menggantikan mu dengan perempuan lain walaupun di Paris nanti banyak wanita cantik, tapi dihatiku kamulah yang tercantik dan istimewa.
Udah dulu ya Cha. Aku harus istirahat. Suatu saat aku yakin kita pasti bertemu. Dan kuharap saat pertemuan kita nanti, kamu bisa jatuh cinta dengan ku😍. Salam Sayangku selalu untukmu.
__ADS_1
Emmmuach.