Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kedatangan Tetangga Kost


__ADS_3

Cha membuka pintu kamarnya dan melihat siapa yang datang. Ternyata seorang perempuan yang datang ke kamarnya.


"Maaf mbak siapa ya?" tanya Cha yang tidak mengenal orang itu.


"Kamu penghuni baru ya disini?" tanya balik orang itu.


"Iya, saya penghuni kamar kost ini, baru beberapa hari menempati kamar ini. Mbaknya siapa ya?" tanya Cha lagi.


"Kenalkan aku Ani tetangga sebelah kamu," Ani mengulurkan tangan nya memperkenalkan dirinya.


"Saya Cha," sambut Cha dengan tersenyum.


"Senang berkenalan dengan kamu Cha. Oh ya yuk main ke kamar mbak. Biar kita banyak ngobrol," ajak mbak Ani dengan ramah.


"Hehehe, tapi saya lagi ada teman mbak di dalam, tuh lagi nonton. Atau mbak Ani mau gabung bareng kita," ajak Cha dengan membuka lebar pintu kamarnya.


"Boleh lah, lagian aku juga bete di kamar gak ada teman nya," balas mbak Ani.


Lalu mereka masuk ke dalam kamar Cha dan mengajak mbak Ani duduk di depan tv.


"Mbak, nih kenalin teman kampus ku Dewi," ucap Cha yang memperkenalkan sahabatnya Dewi.


"Hai...saya Ani," sapa mbak Ani dengan ramah.


"Hai mbak, saya Dewi teman kampus Cha," Dewi memperkenalkan dirinya.


"Duduk mbak, nih makani aja mbak apa yang ada," Cha menghidangkan cemilan yang ada di kamar kost nya.


"Hehehe, tau aja Cha, mbak lagi laper," balas mbak Ani tanpa sungkan.


"Gak apa mbak nyantai aja," jawab Cha tersenyum.


"Iya mbak habisin aja, si Cha nanti gampang tinggal beli," sambung Dewi.


"Pletak," Cha memukul lengan Dewi tanda protes.


"Hehehe," Dewi cengengesan.


"Kalian kuliah dimana nih?" tanya mbak Ani tiba-tiba.


"Oh...kami satu kampus dan satu jurusan mbak," jawab Dewi langsung.


"Mbak Ani kuliah dimana emang nya?" giliran Cha yang bertanya.


"Mbak kuliah di Universitas Pembangunan di Veteran sana," jawab mbak Ani.


"Oh...emang jurusan apa mbak?" tanya Cha lagi.


"Aku ambil jurusan HI," jawab mbak Ani singkat.


"Wah keren itu mbak," balas Dewi.


"Ah biasa aja loh Wi," balas mbak Ani yang merasa sudah akrab.


"Mbak, aku mau nanya nih. Emang penghuni disini ada berapa orang ya?" tanya Cha yang sudah merubah panggilan dirinya.


"Mbak juga kurang begitu mengenal semua penghuni disini Cha. Disini adaal 12 kamar saja untuk cewek tapi disebelah kita ada kostan cowok juga kayaknya jumlah kamarnya sama. Jadi kalau gak salah ya ada 12 orang penghuni ceweknya," jelas mbak Ani.


"Oh...banyak juga ya mbak," jawab Cha.

__ADS_1


"Wi, kamu rumah sendiri kan? Emang kamu tinggal dimana Wi?" tanya Cha kepada sahabatnya itu.


"Aku tinggal sama ibu ku di daerah Janti, Cha. Disana aku juga tinggal dekat dengan bude ku," terang Dewi.


"Oh...Dewi asli Jogja ya? tanya mbak Ani.


"Iya mbak, aku asli Jogja," jawab Dewi.


"Kalau mbaknya sendiri asli mana?" giliran Cha yang bertanya.


"Mbak dari Jakarta, pengen kuliah disini aja," jawab mbak Ani.


"Wah berarti aku sendiri ya yang jauh dari Sumatera," sambung Cha.


"Hehehe, emang. Tapi walau Lo orang sumatera Cha, Lo anaknya asyik loh. Gw aja yang baru kenal sama Lo, udah merasa nyaman bersahabat dengan Lo," ucap Dewi memuji Cha.


"Makasih Wi....!" seru Cha.


"Oh ya mbak An, kamu kenal gak dengan mbak Melda yang di samping ke depan?" tanya Cha.


"Gak kenal banget sih Cha. Hanya sebatas tegur sapa aja sama dia. Emang kenapa Cha?" tanya mbak Ani balik.


"Cha sekedar nanya aja mbak," jawab Cha.


"Tapi..yang mbak dengar dari anak-anak sini, dia itu suka minjem duit sama anak kost sini. Gak tau buat apa. Tapi dilihat dari gayanya sih, dia anak orang kaya," jelas mbak Ani.


Cha tidak mau menceritakan tentang Melda yang sudah pernah meminjam sama dia, karena bagi Cha, itu adalah privasi seseorang yang tidak perlu di bicarakan dengan orang lain.


"Cha, aku pulang dulu ya, besok aku nginep deh di kost mu," Dewi memotong obrolan Cha.


"Lah, gw kira Lo jadi nginep disini. Padahal gw mau ngajak makan di Phuket," Cha memanyunkan bibirnya cemberut.


"Wah boleh juga tuh Wi, mbak mau dong jalan sama kalian, biar gak penat di dalam kamar mulu," ucap mbak Ani.


"Ya udah, kalau gw sih setuju aja Wi, besok kita jalan bertiga, ok!" ucap Cha mendukung saran Dewi.


"Tapi Cha, kalau makan di Phuket, gw gak cukup jajannya. Kita cari tempat lain aja gimana?" tanya Dewi merasa tidak enak.


"Udah gampang lah itu. Besok gw deh yang traktir kalian," jawab Cha tersenyum.


"Mantep, gw suka sahabat royal hehehe," Dewi cengengesan melihat Cha.


"Duh mbak jadi gak enak nih, ngerepotin kamu Cha," mbak Ani juga menatap ke arah Cha.


"Udah mbak di enak-enakin aja. Cha orang nya asyik kok," jawab Dewi.


"Iya santai aja loh. Selagi ada, kenapa nggak kita bagi-bagi rezeki sama sahabat," Cha meyakinkan mbak Ani agar tidak sungkan dengan dia.


"Iya deh Cha, tapi sering-sering ya begini, hahahaha," mbak Ani tertawa terbahak-bahak.


"Setuju....!" seru Dewi.


"Hahahaha tumpur bandar," jawab Cha."


"Ya udah ah, gw pulang Cha. Mbak An, Dewi pulang dulu ya, nitip Cha ya hihihi," Dewi cekikikan menjahilin Cha.


"Emang gw anak kecil di jaga segala, udah sana Lo pulang, ngeributin kamar gw aja," celetuk Cha mengusir Dewi.


"Iya-iya gw pulang," sambung Dewi.

__ADS_1


"Wi, Lo naik gojek aja dari sini, biar gw pesani ya," ucap Cha.


"Yeeeeee, gw aja ngirit, malah Lo buat gw boros," protes Dewi.


"Ini ada saldo gw buat bayar gojek loh!!" seru Cha.


"Wuihhh kalau itu gw mau Cha, hehehe," balas Dewi nyengir.


Akhirnya Dewi pulang menggunakan gojek. Sedangkan Cha dan mbak Dewi masih menonton tv sambil ngobrol.


"Oh ya Cha, ceri dong tentang kamunya?" pinta mbak Dewi.


"Apa yang mau diceritakan mbak. Aku orangnya biasa aja kok," jawab Cha yang blom berani terbuka dengan mbak Ani.


"Mbak pengen punya sahabat di kost ini Cha. Karena mereka semua tidak mau berteman sama mbak. Mungkin karena mbak orang nya biasa aja kali ya," terang mbak Dewi.


"Masa sih mbak mereka milih-milih teman?" tanya Cha heran.


"Ini sih pemikiran mbak aja Cha. Kan mbak sudah hampir setahun disini, tapi gak ada satupun yang mau main ke kamar mbak," mbak Ani merasa sedih.


"Ya udah mbak main aja kemari, atau nanti sesekali aku main ke kamar mbak," Cha mencoba menyenangkan hati mbak Ani.


"Duh mbak jadi seneng deh bisa punya sahabat disini," balas mbak Dewi.


"Kalau mbak sendiri gimana, cerita dong!" pinta Cha yang ingin mendengar tentang mbak Ani.


"Seperti yang mbak katakan tadi. Mbak berasal dari Jakarta. Mbak kesini menghindari orang tua mbak," jelas mbak Ani.


"Loh maksudnya apa mbak? Kenapa harus menghindar?" tanya Cha penasaran.


"Mama mbak menikah lagi sama seorang laki-laki yang lebih muda dikit dari usia mamanya mbak. Dan laki-laki itu berusaha merusak mbak. Makanya mbak kuliah disini agar tidak ketemu sama Papa tiri mbak," terang mbak Ani dengan wajah sedihnya.


"Yaaa, Cha jadi gak enak nih buat mbak sedih. Maaf ya mbak, Cha gak bermaksud mengorek pribadi mbak Ani," Cha merasa bersalah sudah menanyakan kehidupan nya.


"Gak apa-apa Cha. Itu sudah berlalu kok. Dan sekarang Alhamdulillah, mbak jadi terhindar," balas mbak Ani.


"Emangnya mbak tidak punya saudara ya?" tanya Cha lagi.


"Punya Cha, laki-laki satu orang dan perempuan satu orang. Kami tiga bersaudara Cha. Papa mbak pergi meninggalkan mama dengan wanita lain. Ya bisa dibilang, mbak nih keluarga broken home Cha," mbak Ani bercerita tentang kehidupannya yang tak jauh beda dengan Cha.


"Sabar ya mbak. Mbak harus kuat dan semangat, karena kalau mbak hancur, bagaimana dengan mama mbak dan adik nya. Kehidupan aku juga gak jauh beda sama mbak kok," ucap Cha.


"Maksudnya Cha?" tanya mbak Ani bingung.


"Ya, kita sama-sama dari keluarga broken home mbak," jawab Cha dengan wajah yang tak kalah sendu.


"Masa sih Cha. Tapi kok mbak lihat kamu selalu ceria, gak kelihatan loh kamu dari keluarga yang broken. Karena biasanya setau mbak keluarga broken itu, anak-anaknya cenderung kurang ceria atau happy dalam menjalankan kehidupannya," jelas mbak Ani.


"Wah mbak kayak psikologi ya bisa tau tentang anak broken home," balas Cha nyengir.


"Ya mbak kan juga dulu pernah berteman Cha sama anak yang broken home juga. Tapi kamu kelihatan beda Cha!" ucap mbak Ani memandang wajah Cha.


"Apa bedanya mbak. Aku juga bukan nya nyaman menjalankan kehidupanku dari dulu. Tapi aku berusaha untuk menepis semua ketidaknyamanan itu mbak," balas Cha.


"Wah kita senasib seperjuangan hehehe," guyon mbak Ani.


"Hahaha bisa ae mbak ini," balas Cha.


Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Dan ternyata ada kesamaan antara mbak Ani dan Cha dalam segi kehidupan.

__ADS_1


__ADS_2