
Zain pergi meninggalkan Omanya di dalam kamar. Dia kembali ke kamarnya dan melihat Cha sudah tertidur. Lalu dia mengambil selimut tebal dan bantal, dia berjalan kearah sofa dan membaringkan tubuhnya di sofa. Zain mencoba memejamkan matanya agar bisa terlelap. Namun dia tidak bisa tertidur.
Zain memikirkan tentang esok hari.
"Apa yang akan terjadi ya saat Cha melihatnya dipelaminan dengan perempuan lain?" gumam Zain sambil menatap langit-langit kamarnya.
Dia mengkhawatirkan keadaan Cha yang sedang dilanda kesedihan beruntun. Zain merasa akan terjadi hal yang tak diinginkannya. Malam pun semakin larut, Zain berusaha memejamkan matanya lagi. Akhirnya Zain berhasil tidur terlelap.
Pagi menjelang, sayup-sayup terdengar alunan musik yang terdengar oleh Cha. Cha mendengar suara permainan Piano. Cha bangun dan melihat Zain yang masih tidur di sofa.
Lalu dia beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Cha membersihkan tubuhnya agar terlihat segar di pagi hari.
Setelah Cha selesai mandi, dia menghampiri Zain dan membangunkannya.
"Zain...bangun Zain. Ini sudah pagi," Cha membangunkan Zain dengan pelan.
"Cha, emang ini sudah jam berapa?" tanya Zain yang masih dalam posisi tidur.
"Ini sudah pagi Zain. Ayo bangun, mandi biar kita sarapan bareng Mama, Papa dan Oma."
Zain bangun dari tidurnya, dia meregangkan otot-ototnya dengan menarik tangannya keatas, kesamping dan kedepan.
"Kamu sudah mandi Cha?" tanya Zain yang menatap kearah Cha.
"Sudah Zain. Kamu juga sekarang mandi. Katanya kita mau berangkat hari ini ke Belanda kan?" tanya Cha yang sangat antusias.
"Iya Cha. Kalau gitu aku mandi dulu ya. Kamu mau nunggu aku, atau duluan turun kebawah?" tanya Zain.
"Aku nungguin kamu aja Zain biar bareng ke bawahnya," jawab Cha.
"Ya udah kamu tunggu sebentar ya. Aku mandi dulu," Zain buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya dengan air hangat.
Cha duduk di depan TV sambil menunggu Zain. Tak berapa lama, Zain keluar dari dalam kamar mandi. Dia menghampiri Cha dengan masih menggunakan handuk sebatas pinggang. Cha yang melihat tubuh atletis Zain, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup tak karuan.
"Kenapa mandangin aku seperti itu Cha? Apa kamu tergoda dengan tubuhku yang bagus ini," goda Zain yang sangat percaya diri.
"Hah, ge'er banget. Aku hanya heran saja, kamu keluar kamar mandi kenapa pakai handuk saja. Seharusnya kan bisa berpakaian dulu. Kalau seperti ini, aku bisa khilaf," ucap Cha yang ngelantur.
"Eh maksudnya aku gak nyaman kalau kamu seperti ini," kilah Cha yang menahan malu karena salah ngomong.
"Hahahaha, gak apa sih kalau khilaf. Aku akan senang hati menerimanya," balas Zain dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
Cha merasa malu atas ucapannya yang nyeplos. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kearah pintu kamar. Namun Zain langsung menangkap tangan Cha dan menariknya ke dalam pelukannya. Dan saat ini posisi Cha sedang berada dalam pelukan Zain.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Cha! Apa kamu gak pengen meraba dadaku?" goda Zain.
"Buat apa" tanya Cha polos.
"Tadi katanya khilaf. Aku gak masalah kok sayang kalau kamu khilaf," Zain terus menggoda Cha.
"Ihhhh apaan sih Zain! Lepasin Zain, gak enak nanti dilihat sama Oma kalau tiba-tiba masuk," Cha berusaha mengelak.
"Tidak akan ada yang masuk sayang," bisik Zain ke telinga Cha.
Tubuh Cha langsung meremang saat Zain berbisik di telinganya. Cha menatap Zain dengan rasa was-was. Sedangkan Zain merasa senang dengan posisi mereka yang seperti itu.
Zain menatap mata Cha dan perlahan-lahan dia mendekatkan bibirnya ke bibir Cha. Hingga terjadilah penyatuan bibir di pagi hari. Zain terus melu*** nya hingga Cha sulit bernafas. Lalu ciuman itu terlepas. Cha memegang bibirnya yang agak membengkak karena ulah Zain.
"Tuh kan Zain, bibirku jadi bengkak nih!" protes Cha yang gak terima.
"Hehehe, habis enak sih!"
"Udah ah, aku mau turun duluan. Kamu pakaian aja dulu," Cha berusaha melepaskan pelukannya.
Namun Zain tidak mau melepaskan Cha. Dia menyuruh Cha menunggunya sebentar selagi dia memakai baju.
Cha menunggu Zain berpakaian. Hingga Zain Alessia, barulah mereka keluar dari dalam kamarnya. Zian dan Cha berjalan menuruni tangga menuju meja makan.
"Pagi sayang, gimana tidurnya, nyenyak kan?" tanya Omanya Zain saat melihat Cha berjalan kearah mereka.
"Iya Oma, Cha sangat nyenyak sekali tidurnya," jawab Cha.
"Ayo sayang kita sarapan. Setelah itu kita bersiap-siap berangkat," ajak Mamanya Zain.
Papanya Zain bertanya sama anaknya. "Zain kamu sudah beritahukan kepada Asisstent mu untuk menghandle semua pekerjaan di Perusahaan saat kamu gak ada?"
"Iya Pa, kemaren Zain sudah memberitahukan kepada Assitentnya Zain agar tidak menunda pertemuan beberapa hari kedepan," jelas Zain.
"Bagus, itu yang Papa mau."
Zain memilih duduk disebelah Cha. Lalu Zain mengambil sarapannya dan mulai mengunyahnya.
"Cha, apa kamu sudah siap dengan segala sesuatu yang nantinya terjadi?" tanya Papanya Zain yang membuka percakapan.
"Iya Om, saya sudah siap," jawab Cha tegas.
"Saya dan Mamanya Zain khawatir jika kamu tak sanggup melihat pernikahannya besok. Kalau kamu memang belom yakin dengan keputusan ini, kita gak usah berangkat. Karena Om gak mau kamu semakin bersedih setelah berangkat kesana," ucap Papanya Zain yang memberi nasehat.
__ADS_1
"Saya sudah yakin kok Om dengan keputusan saya. Saya hanya ingin memastikan hubungan saya dengan dia aja Om. Jika memang yang saya lihat itu sebuah kenyataan, saya akan berusaha menerimanya," balas Cha dengan kemantapan hati.
"Baiklah, sekarang kita sarapan, setelah itu bersiap-siaplah untuk berangkat ke Bandara."
"Iya Om."
Cha mulai mengunyah makanannya. Dia mencoba menetralkan hati dan pikirannya agar bisa menahan diri nantinya.
Setelah sarapan pagi, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap. Cha dan Zian kembali ke kamarnya untuk bersiap.
"Sayang, kamu udah siap? Kalau sudah ayo kita ke depan. Kita tunggu yang lainnya di depan aja."
"Iya Zain, nih dah siap. Ayo kita keluar," ajak Cha
Mereka keluar dari kamar Zain dan berjalan kearah ruang tamu. Sesampainya diruang tamu, ternyata Mamanya Zian sudah menunggu diruang tamu.
"Tante udah siap?" tanya Cha.
"Udah sayang, sini dekat Tante. Kita tunggu Oma ya sayang disini," Mamanya Zain meminta Cha duduk disebelahnya.
"Zain pergi sana, ajak Oma turun dan suruh yang lain menurunkan barang Oma," suruh Mamanya.
Zain berlalu dari hadapan Cha dan Mamanya. Dia berjalan kearah kamar Omanya.
"Oma...udah siap? Ayo kita nunggu di depan?" tanya Zain saat membuka pintu kamar Omanya.
Zain melihat Omanya sudah siap dan sedang merapikan barang lainnya.
"Zain suruh pelayan membawakan barang-barang Oma kedepan ya! Ayo kita keluar, Oma udah siap," ajak Omanya. Mereka pun keluar dari dalam kamar Omanya.
Diruang tamu, sudah menunggu Mama,Papa dan Cha. Mereka sudah siap berangkat ke Bandara.
Cha menghampiri Omanya dan menggandeng lengan Omanya.
"Ayo Oma bareng Cha aja. Kita ke Mobil sekarang," ajak Cha.
"Iya sayang, ayo kita ke Mobil."
Cha dan Zain berjalan bersama Oma masuk ke dalam Mobil. Lalu Mama dan Papanya berjalan dibelakang mereka.
Setelah semua berada di dalam Mobil, Zain menyuruh bodyguardnya mengantarkan mereka ke Bandara.
Sesampainya di Bandara, mereka naik Pesawat pribadi milik keluarga Rudolf. Cha merasakan jantungnya terus berdegup kencang karena akan bertemu dengan Yoga, kekasih cinta pertamanya yang dinantikannya akhirnya meninggalkannya tanpa khabar.
__ADS_1