Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Kembali ke Jogja


__ADS_3

Cha tak bisa meredupkan rasa bahagianya. Dia terlalu senang dengan apa yang di alaminya saat ini. Tiba-tiba Sika masuk ke dalam kamarnya.


"Cie, cie...yang lagi bahagia!" goda Sika saat melihat Kakaknya menari-nari.


Cha berhenti seketika saat melihat Sika masuk tanpa permisi.


"Kenapa gak ketuk pintu dulu Sika?" tanya Cha gak suka karena kesenangannya lagi terganggu.


"Ihhhh kak Cha ini lah. Kak, apa benar yang dikatakan Mama?" tanya Sika penasaran.


"Tentang apa Sik?" Cha malah balik bertanya.


"Tentang kita akan pindah ke Jogja. Apa itu rencana Kakak?" Sika terus bertanya.


Cha membuang nafasnya dengan berat, dia menatap adiknya lekat-lekat.


"Kemaren Kakak menghubungi kak Zain dan menceritakan semuanya tentang yang di alami Mama. Kakak gak mau dengan keadaan Mama, keluarga mereka datang kesini. Makanya Kakak memberanikan diri untuk mengungkap keadaan Mama," jelas Cha dengan menatap Sika dalam.


"Terus apa yang dikatakan kak Zain sama Kakak setelah mendengarkan cerita tentang keadaan Mama?" tanya Sika yang semakin penasaran.


"Kak Zain malah tidak mempermasalahkan keadaan Mama. Bahkan dia membantu Mama untuk pindah ke Jogja dengan memberikan rumah untuk di tinggal disana," jawab Cha tenang.


"Bersyukur banget ya kak, Mama memiliki menantu seperti kak Zain. Sika do'akan kebahagiaan untuk Kakak," balas Sika.


"Aamiin dek."


"Terus gimana dengan Sika kak?" tanyanya.


"Maksudnya gimana apanya?" tanya Cha balik.


"Sika kan harus sekolah kak. Berarti Sika pindah sekolah dong," jawab Sika.


"Iya, kamu akan di pindahkan ke Jogja nantinya. Tapi tergantung keputusan Mama kapan mau pindahnya ke Jogja."


"Dua bulan lagi Kakak akan menikah. Terus gimana kuliah Kakak?" tanya Sika.


"Besok Kakak akan kembali ke Jogja. Kakak mau ngurus KKN Kakak," ucap Cha.


"Oh...berapa lama Kakak KKN?" tanya Sika.


"Kemungkinan Kakak hanya mengikuti satu bulan aja, sisanya Kakak tidak mengikutinya. Nanti kak Zain yang akan mengurusnya. Karena Kampus itu yang mengelola Omnya sendiri," jawab Cha.


Ucapan Cha membuat Sika terbelalak, membayangkan bagaimana kaya nya keluarga Zain.


"Waowww amazing kak, benar-benar luar biasa. Omnya tajir dan tentunya keluarga besarnya juga tajir dong kak. Semoga Sika menemukan laki-laki seperti kak Zain," harap Sika dengan nyengir.

__ADS_1


"Kamu itu, kaya miskinnya jangan memilih. Yang penting kita berdo'a mendapatkan jodoh yang bisa mengayomi dan menyayangi kita setulus hatinya dan mengutamakan kita dari segala-galanya," nasehat Cha.


"Iya Bu Ustadzah," ucap Sika manggut-manggut.


"Udah sana tidur. Istirahat, besok kamu sekolahkan?" tanya Cha.


"Iya kak. Besok jam berapa Kakak berangkat?" Sika balik bertanya.


"Mungkin siang, nunggu kamu balik sekolah."


"Ok kalau gitu, sekarang Sika ke kamar dulu, mau tidur. Selamat malam Kakakku tercinta," ucap Sika sambil memeluk Kakaknya.


"Heum," balas Cha dan menerima pelukan Sika.


Cha sengaja tidak memberitahukan kepada keluarganya kalau Zain ke Indonesia menggunakan pesawat pribadinya. Dan besok ketika dia akan kembali ke Jogja, Cha juga tidak memberitahukan kepada keluarganya kalau mereka akan naik pesawat pribadi Zain.


Setelah Sika pergi keluar dari kamarnya, Cha langsung mengunci pintu kamarnya. Dia pun berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Cha menatap langit-langit kamarnya dan mengingat wajah Zain saat tadi siang. Cha menutup wajahnya dengan kedua tangannya, merona saat Zain menggodanya.


Lalu Meka berusaha memejamkan matanya dan tidak membayangkan wajah calon suaminya lagi. Cha juga sudah mengikhlaskan bayangan masa lalunya saat bersama Yoga. Ya, Cha sempat teringat akan sosok Yoga. Dimana dulunya dia berharap Yoga akan menikahinya setelah semua terjadi dengan mereka.


Yoga yang memiliki wajah tampan sebanding dengan Zain, membuat hati Cha terluka seperti tertusuk belati tajam. Cha pun menghela nafasnya. Cha akan membuka lembaran baru bersama Zain, dia sudah mengikhlaskan masa lalunya.


Cha memejamkan matanya hingga dia pun terlelap dalam tidurnya. Malam yang semakin larut dengan suara-suara hewan bersenandung di malam hari.


"Ah, ternyata sudah subuh," gumam Cha.


Dia bangun dan menjalankan kewajibannya. Setelah selesai, Cha keluar dari kamarnya. Namun belum ada yang bangun atau keluar dari kamar.


Cha kembali ke kamarnya, dan dia merebahkan tubuhnya kembali ke atas tempat tidur. Dia memejamkan matanya lagi menunggu yang lainnya keluar dari kamar.


Setelah beberapa menit berlalu, Cha pun terbangun karena mendengar suara orang berjalan di depan kamarnya.


Cha pun bangkit dari tempat tidurnya. Dia melangkah ke arah pintu. Lalu Cha membuka pintu kamarnya dan melihat ternyata Kakaknya Ina sudah bangun.


Cha pun menyamperin Kakaknya yang berjalan ke arah dapur.


"Kak, mau buat sarapan ya?" tanya Cha saat sudah dekat dengan Ina.


"Iya, kita masak nasi goreng aja ya. Atau mau beli lontong, nasi gurih aja?" tanya Ina.


"Lebih baik tanya Mama aja kak. Kalau Mama mau, biar aku yang belikan ke depan gang," ucap Cha menawarkan dirinya.


"Bentarlah, Kakak tanya Mama dulu ya," balas Ina.

__ADS_1


Ina pun meninggalkan Cha yang berdiri di dekat dapur. Dia berjalan ke arah kamar Mamanya.


"Ma..., mau sarapan apa?" tanya Ina dari luar kamar Mamanya.


Mamanya mendengar anaknya yang berada di luar kamarnya. Lalu Mamanya membuka pintu kamarnya dan melihat Ina di depan kamar.


"Beli lontong atau nasi gurih aja Na, nih uangnya," ucap Mamanya dan langsung memberi uang lembaran merah.


"Iya Ma, Cha yang mau beli katanya," balas Ina.


"Oh iya, ya udah, belikan Mama lontong aja ya," pinta Mamanya.


"Iya Ma."


Ina pun beranjak dari hadapan Mamanya. Dia pergi menemui Cha yang duduk di meja makan.


"Cha, nih Mama mau beli lontong, Kakak mau nasi gurih. Sika mungkin dia mau lontong. Dan kamu terserah mau apa belinya," jelas Ina sambil menyerahkan uang lembaran merah.


"Iya kak, aku akan belikan ke depan dulu," balas Cha.


Kemudian Cha pergi ke depan gang nya yang menjual lontong dan nasi gurih.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Cha kembali ke rumah membawa sarapan lontong.


"Assalamu'alaikum," ucap Cha saat masuk ke dalam rumahnya.


"Wa'alaikumussalam," sahut mereka yang sedang berada di meja makan.


"Ini lontong dan nasi gurihnya," Cha menyerahkan bungkusan yang di bawanya.


Lalu Ina membantu menghidangkan makanan yang di beli di atas meja sesuai permintaan mereka.


"Cha, hari ini kamu balik ke Jogja?" tanya Mamanya.


"Iya Ma, nanti siangan aku balik. Mungkin diantar sama Zain. Setelah itu dia kembali ke Paris," jawab Cha.


"Tapi kau mau menikah, gimana bisa kembali ke Jogja?" tanya Mamanya lagi.


"Ma, Cha harus ngurus kuliah Cha. Saat ini i kami akan mengadakan KKN, jadi Cha harus mengurusnya. Sebelum pernikahan Cha, nanti Cha akan kembali ke Medan," jelas Cha.


"Ya udah, Mama gak akan ngelarang. Kalau Zain mengizinkannya, Mama juga setuju," ucap Mamanya.


"Nanti Zain akan kemari Ma, kami berangkat bersama ke Jogja," balas Cha.


"Jangan lama-lama ngurusnya, gak baik kalau mau menikah, masih ngurus kuliah."

__ADS_1


"Iya Ma."


Lalu mereka menikmati sarapan paginya bersama. Dengan lahap Cha menghabiskan sarapannya. Begitu juga dengan yang lainnya.


__ADS_2