
Yoga perlahan masuk ke dalam Aula kembali. Dia tidak memperdulikan tatapan banyak mata. Baginya saat ini hidupnya sudah hancur berantakan. Semua sudah selesai. Dia tidak mungkin bisa kembali kepada Cha.
Wanita yang dinikahi Yoga, masih setia berada di tempat singgah sana pengantin. Dia berusaha memasang wajah tersenyum walaupun hatinya gak terima diperlakukan seperti itu. Tapi dia tidak mau terlihat menyedihkan dihadapan para tamu.
Yoga kembali ke tempatnya dan menatap ke pengantin wanitanya.
"Apa yang kamu lakukan! Apakah kamu mau mempermalukan keluargaku, hah!" ucap wanita itu dengan arogannya. Namun tetap tak bisa didengar para tamu karena adanya suara music.
Yoga diam saja, dia sudah tidak punya semangat lagi untuk melanjutkan pernikahan ini. Dia berharap ini adalah mimpi buruk untuknya.
Lalu Papanya datang menghampirinya dan berkata, "Jangan buat malu kami Yoga!" ucap Papanya penuh tekanan.
Yoga hanya bisa menatap wajah Papanya dengan amarah, kebencian dan kasihan. Senyum diwajahnya pun memudar setelah pertemuan terakhir dengan Cha tadi.
"Kamu dengar itu Yoga, bersikaplah baik dan jalani semuanya dengan benar. Setelah ini, Papa mau bicara denganmu.
Dia terus menatap penuh kebencian terhadap sosok Papanya yang sudah menghancurkan impian dan hidupnya.
Kemudian Papanya Yoga kembali bergabung dengan sahabatnya yang lain.
"Louis, kenapa Zain bisa mengenal wanita itu? Dan aku harap kamu punya penjelasan atas yang terjadi."
"Itu urusan mereka. Aku tidak ikut campur atas kehidupan anakku. Kamu tau kan Zain sangat keras kepala, dia tidak ingin aku mencampuri pribadinya," balas Louis sahabatnya.
"Bagaimana bisa, kau membiarkan anakmu bersama wanita itu!" Papanya Yoga berusaha menghasut temannya untuk memisahkan Zain dengan Cha.
"Dia sangat mencintainya. Hahaha dia sama dengan ku, keras kepala. Kalau sudah pilihan hatinya jatuh terhadap wanita itu, aku tidak bisa memaksa kehendakku, Siti bisa marah denganku," jelas Louis yang sedikit mencubit sikap sahabatnya itu.
"Halah kau terlalu polos dan baik untuk anakmu. Jangan biarkan dia mengambil kendali atas dirimu," ucap temannya itu yang masih menghasut sahabatnya.
"Itu tidak masalah, selagi positif dan dia bisa bertanggung jawab atas keputusannya, why not..!" balas Louis.
Papanya Yoga semakin geram mendengar Louis selalu mendukung anaknya.
"Bodoh sekali sahabatku ini, harus dikendalikan istri dan anaknya," bathin Papanya Yoga yang egois sebagai orang tua.
"Sayang, kita tidak bisa lama-lama disini, karena mereka akan segera kembali ke Indonesia," tiba-tiba istrinya Siti menghampirinya.
"Oh iya, aku lupa. Ayo kita samperin pengantinnya dulu," ajak Papanya Zain.
"Kalian sudah mau kembali? Sayang sekali kalian harus cepat pulang. Apa ada hal penting Louis hingga kau tak bisa bertahan lama disini?" tanya Papanya Yoga yang sedikit kesal.
"Ya, aku ada urusan di Paris. Kapan-kapan aku akan berkunjung ke tempatmu."
"Baiklah, ayo aku antar menemui putraku Yoga dan istrinya."
__ADS_1
Lalu mereka berjalan menghampiri pengantin. Saat berada dihadapan Yoga, Louis dan istrinya Siti merasa iba melihat keputusasaan Yoga yang berada disini.
"Hallo, kamu sudah besar sekarang. Bahkan mendahului Zain untuk menikah. Tapi Om ucapkan selamat atas pernikahan kalian, semoga awet sampai mau memisahkan," ucap Louis dengan menjabat tangan Yoga dan memeluknya.
Lalu istrinya juga ikut memberikan ucapan selamat kepada Yoga. Dan dia membisikkan sesuatu ditelinga Yoga.
"Jangan pernah seseorang mengatur kehidupan kita. Harta bisa dicari tapi cinta sulit untuk didapat. Kalau kamu lebih memilih harta maka lepaskan cintamu," bisik Mamanya Zain. Lalu tersenyum kearah Yoga.
Yoga mengerutkan keningnya, bingung dengan apa yang diucapkan Wanita setengah baya itu. Dia tidak mengenalnya tapi kenapa dia memberikan suatu nasehat yang bijak kepadanya.
Yoga mengakui bahwa dia laki-laki oemegcut yang takut akan kehilangan harta. Dia lebih memilih kehilangan cintanya dan mempertahankan hartanya. Ucapan Wanita itu menyadarkan Yoga akan kebodohannya yang lebih memilih harta ketimbang cinta.
Yoga terus memandang kearah wanita itu, dia menjadi penasaran siapa dia.
Setelah memberikan selamat terhadap Yoga, mereka kembali pulang ke hotel. Mamanya Zain mencoba menghubungi anaknya Zain. Dia ingin mengetahui keadaan Cha yang pastinya lagi terluka. Namun Zain tidak mengangkat tlpnya.
"Hmmm, anak ini sudah banget dihubungi. Anakmu, Pa, gak tau dimana mereka sekarang!"
"Kamu sudah mencoba menghubunginya?" Mertuanya ikut bertanya.
"Sudah Mom," balas Mamanya Meka.
Akhirnya mereka sampai di hotel dan segera masuk ke dalam kamar.
"Nanti aku akan coba menghubunginya lagi Mom," jawab menantunya.
Ditempat lain, Zain membawa Meka duduk santai ditaman sambil menikmati es krem coklat. Mereka melihat pemandangan yang teduh. Banyak orang berlalu lalang, banyak anak-anak yang bermain dengan gembiranya.
"Lihat Zain, betapa bahagianya mereka," tunjuk Cha ke anak yang sedang bermain.
"Ya mereka tampak happy dan bahagia. Apa kamu ingin seperti itu?" tanya Zain.
"Ya, tapi aku kan sekarang sudah besar Zain. Gak mungkin bersikap seperti anak-anak itu."
"Hahaha, itu bisa saja asal kamu mau berusaha menjadi happy. Buang semua beban dihatimu Cha. Jadilah seperti mereka yang tanpa beban untuk bermain," Zain menatap kearah Meka lalu bergantian menatap ke depan.
"Aku tidak bisa Zain.Tapi aku mau mencobanya. Membuang rasa yang terluka dihati dan jalani hidup seperti anak kecil yang tanpa beban," balas Cha.
"Ayo kita kembali ke hotel. Aku rasa mereka mengkhawatirkanmu. Ini juga sudah sore, kita harus kembali ke hotel," Zain mengajak Cha untuk beranjak dari taman itu.
Cha mengangguk dengan ucapan Zain. Dia berjalan disamping Zain lalu masuk ke dalam mobil. Mereka kembali ke hotel dimana tempat keluarga Rudolf menginap.
Sesaat kemudian, mobil sampai di hotel. Cha keluar dari mobil. Zain menyusulnya, mereka masuk ke dalam hotel menuju kamarnya.
Zain menghubungi Mamanya dan memberitahukan bahwa mereka sekarang sudah berada di kamar hotel.
__ADS_1
"Hallo Assalamu'alaikum Mom, kami sudah di kamar hotel sekarang."
"Wa'alaikumussalam Zain. Sungguh Mama khawatir dengan keadaan Cha. Bagaimana dia sekarang?"
"Dia baik Ma. Itu hal wajar Mom! Mama dan Papa masih disana?"
"Tidak Zain, kami juga sudah meninggalkan persta tersebut. Sekarang kami sudah di kamar hotel. Kapan kita kembali ke Paris?"
"Apa Oma dan Mama tidak ingin menikmati liburan disini menemani Cha sejenak?" Zain berharap bisa menghibur Cha di sini.
"Baiklah, Mama akan sampaikan ke Papa dan Oma untuk kita pergi jalan-jalan hari ini. Sampaikan kepada Cha kami mengkhawatirkannya."
"Iya Mom."
Tlp pun berakhir, Zain kembali berjalan bersama Cha menuju kamar mereka.
"Mama dan Oma masih disana?"tanya Cha.
"Tidak, mereka sudah disini. Sehabis kita pergi meninggalkan acara, tak berapa lama mereka juga ikut meninggalkan acara. Dan Mama ingin mengajak kamu jalan-jalan hari ini, gimana?" tanya Zain.
"Iya Zain, aku nurut aja apa kata kamu," jawab Cha.
"Heum,"
Mereka masuk ke dalam kamar. Cha memilih untuk segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Sedangkan Zain menunggunya disofa sambil merebahkan dirinya.
Lama Zain menunggu Cha berada di dalam kamar mandi. Dia pun bangkit dan mencoba mengetuk pintu kamar mandi.
"Tok tok tok, Cha...!" panggil Zain. Namun tak ada sahutan.
Zain mencoba mengetuk lagi dan memanggil Cha. Namun tetap tak ada jawaban dari dalam. Zain menjadi khawatir, lalu dia mendobrak pintu kamar mandi dan terkejut melihat keadaan Cha yang tergenang di dalam air.
"Cha.....!!" teriak Zain dan langsung mengangkat tubuh Cha yang tanpa busana sehelai pun.
"Cha bangun...! Apa yang kamu lakukan...., banguuuuun...!" Zain histeris dan panik. Dia langsung menghubungi Mama dan Papanya segera ke kamarnya dan memberitahukan keadaan Cha.
"Bagaimana bisa terjadi Zain...!?" seru Mama dan Oma nya secara bersamaan. Mereka juga terlihat panik saat datang ke kamar Zain dengan buru-buru.
"Ayo bawa sekarang Zain ke Rumah Sakit, cepat...!" perintah Papanya.
Cha langsung dibawa kerumah mereka ke Rumah Sakit terdekat.
"Mom apakah dia bisa bertahan?" Zain menangis melihat keadaan Cha yang terbaring.
"Kita berdo'a sayang," Mamanya memberi kekuatan terhadap anaknya.
__ADS_1