Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Berangkat bareng ke Kampus


__ADS_3

Cha masih tak beranjak dari tempat berdirinya. Dia merasa tidak pernah ada orang lain yang datang berkunjung selain Zain.


"Cha, ayo ke depan!" tegur Dewi.


"Tapi Wi, siapa ya kira-kira yang datang. Gw gak berani ke depan," ucap Cha.


"Terus gimana dong, atau suruh si bibi aja yang menyamperinnya lagi. Bilang kalau kita udah keluar," balas Dewi.


"Mmmm, kayaknya gitu aja deh Wi."


"Bi, coba bibi ke depan lagi dan bilang kalau saya sudah keluar dari tadi ya," suruh Cha.


"Baik non, bibi akan ke depan," si bibi menuruti perintah Cha.


Si bibi pun pergi ke depan untuk menemui tamu yang datang.


"Wi, ayo kita intip. Gw penasaran, siapa sih yang datang," ajak Cha.


"Oh iya ya, ayo lah. Gw juga jadi penasaran nih. Sapa tau tamunya, memang kenal sama kita," balas Dewi.


Lalu keduanya berjalan perlahan di belakang si bibi. Kemudian Cha dan Dewi bersembunyi di balik pintu sebelum si bibi membuka kembali pintu depan rumah.


Ketika pintu rumah di buka, si bibi menghampiri tamu laki-laki yang datang.


"Maaf Tuan, ternyata non Cha tidak ada di kamarnya. Sepertinya dari pagi tadi sudah keluar," si bibi memberitahukannya.


Lalu si laki-laki itu yang tadinya memunggungi pintu, kini berbalik dan menatap ke si bibi.


Cha dan Dewi yang bersembunyi di balik tirai, tercengang melihat sosok laki-laki yang datang mencari Cha. Ternyata dia adalah Ghani.


"Loh Wi, bagaimana dia bisa tau alamat sini?" tanya Cha bingung.


"Gw juga gak tau Cha. Apa jangan-jangan dia ngikuti kita ya saat pulang dari Kampus?" tanya Dewi yang curiga.


"Ah mungkin juga ya Wi. Gw kok gak kepikiran ya dia bisa berbuat seperti itu," jawab Cha membenarkan ucapan Dewi.


"Terus gimana dong. Apa kita keluar aja sekarang nemui dia?" tanya Dewi lagi.


"Ya udah kita keluar aja, tadi gw pikir siapa yang datang, ternyata dia. Yuk kita samperin," ajak Cha.

__ADS_1


"Baiklah," balas Dewi


Cha dan Dewi berjalan ke arah pintu depan. Mereka segera keluar dari persembunyiannya.


"Hai kak Ghani!" sapa Dewi santai.


"Loh Wi, kamu kok masih di rumah? Bukannya Cha katanya sudah pergi ya?" tanya Ghani memicingkan matanya menatap tajam ke Dewi.


"Ups gw gak ikut campur. Silahkan selesaikan urusan kalian berdua. Ok!" ucap Dewi menegaskan bahwa dia tidak tau apa-apa.


"Sorry Ghani, tadi aku kira siapa, makanya aku gak mau menemui orang yang datang. Karena aku gak pernah memberitahu tempat tinggalku," jelas Cha.


"Oh...gitu toh. Kalau gitu, kita berangkat bareng aja yuk. Kebetulan tadi aku lewat dari sini," ucap Ghani.


"Masa sih kak. Bukannya emang Kakak mau jemput Cha ya," ledek Dewi dengan menarik sudut bibirnya.


"Ah iya kamu benar banget Wi. Aku emang mau jemput Cha. Gimana Cha, ayo berangkat bareng," ajak Ghani.


Cha merasa tak enak jika menolaknya. Tapi dia juga gak mau berangkat bareng Ghani berdua. Dia mengajak Dewi untuk ikut bersama.


"Ayo Wi, ikut bareng kita. Lagian udah jam segini, ntar kita terlambat loh," Cha pun mengajak Dewi ikut bersama.


"Ok, kami tunggu di mobil ya Wi," sambung Ghani.


"Ayo Cha, kita tunggu di mobil aja," ajak Ghani.


Cha mengikuti Ghani ke mobilnya. Mereka masuk ke dalam mobil. Selama menunggu Dewi datang, Cha serba salah dan bingung mau ngobrol apa. Cha memalingkan wajahnya ke arah jendela melihat ke arah pintu rumah itu.


Sementara Ghani pun bingung mau ngomong apa dengan Cha. Dia sesekali melirik ke arah Cha yang melihat ke samping. Tapi Ghani gak merasa betah jika hanya diam di dalam mobil. Dia pun berinisiatif membuka suara lebih dulu.


"Cha, kamu udah sarapan?" tanya Ghani basa basi.


"Udah tadi Ghani. Apa kamu udah sarapan?" tanya Cha canggung.


"Aku sih belum Cha. Kirain kamu belum sarapan. Pengennya sih ngajak sarapan bareng," jawab Ghani dengan wajah sedih.


"Duh gimana ya Ghan, kamu telat datangnya. Kalau tadi datang lebih awal, pasti diajak sarapan bareng," ucap Cha yang mencoba menghibur Ghani.


"Wah kalau gitu besok aku akan datang untuk sarapan di tempat kamu. Bolehkan?" tanya Ghani antusias.

__ADS_1


Ghani merasa puas karena di beri kesempatan sama Cha untuk bisa sarapan bareng dengannya di rumahnya. Begitu Ghani mendapat kesempatan itu, dia langsung menyambutnya dengan meminta Cha agar menyetujui keinginannya sarapan bareng.


Sedangkan Cha merasa terjebak dengan ucapannya sendiri. Ghani begitu pintar memancing rasa iba dalam diri Cha terhadap Ghani.


"Mmm, baiklah, besok kamu datang aja pagi ke rumah biar kita sarapan bareng," jawab Cha pasrah.


Dalam hati Ghani bersorak gembira. Dia benar-benar senang. Ghani tak perduli tentang Cha yang akan segera menikah. Perasaan yang dimiliki Ghani tidak bisa hilang begitu saja. Walaupun Ghani tak bisa memiliki Cha, setidaknya dia bisa dekat dengan Cha.


"Baiklah, besok aku akan datang lebih pagi, biar bisa sarapan bareng," ucap Ghani yang menyembunyikan kegembiraan hatinya.


Lalu dari arah pintu rumah, Dewi keluar dan berjalan ke mobil. Dia pun masuk ke dalam mobil Ghani.


"Udah bisa berangkat sekarang Wi?" tanya Ghani.


"Udah kak, yuk berangkat sekarang," jawab Dewi yang menyuruh Ghani berangkat.


Ghani pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu menuju Kampus. Jalanan yang di lewati tidak begitu ramai, sehingga waktu yang di tempuh tidaklah lama.


Selama dalam perjalanan, Cha maupun Ghani tidak ada yang berbicara. Begitupun Dewi. Mereka diam dan fokus dengan arah pandang masing-masing.


Hingga tak terasa, mereka sampai di Kampus. Cha dan Dewi langsung keluar dari mobil begitu Ghani memarkirkannya.


"Ghan, makasih banyak ya atas jemputannya hari ini. Aku jadi gak enak jika merepotkan mu," ucap Cha ketika mereka sudah keluar dari mobil.


"Ah gak apa-apa kok Cha. Aku senang bisa berteman dengan kamu dan menjemputmu setiap hari," balas Ghani dengan senyuman.


Dewi hanya bisa mendengus mendengar ucapan Ghani yang sangat pinter berkata-kata.


"Oh ya kak Ghan, makasih ya udah jemput kita. Lumayan irit ongkos," sambung Dewi.


"Iya Dewi," Ghani hanya membalasnya singkat.


Lalu mereka berjalan ke arah Kampus. Saat ini kehadiran Cha dan Ghani sudah menjadi tontonan biasa. Mahasiswa di Kampus itu sudah mengerti kalau Ghani memiliki perasaan dengan Cha. Hanya beberapa dari mereka yang memang tidak suka melihat kedekatan Ghani Dnegan Cha.


"Ghan, kami ke kelas duluan ya. Kamu gak usah Anyer sampai ruangan kami. Gak enak sama yang lainnya," ucap Cha.


"Ok kalau gitu, aku juga ke ruangan ya," balas Ghani.


Cha dan Ghani berpisah di tengah jalan. Mereka berjalan menuju ruangan masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2