Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Pertemuan Cha dengan Yoga


__ADS_3

Hai pembaca setiaku kisah Cha.... Kali ini cerita Cha hanya tinggal dua bab lagi. Karena ceritanya sudah hampir selesai.


Jangan lupa kasih terus dukungan untuk karya ini ya, like, vote, hadiahnya juga boleh.


Yuk ikutin terus cerita Cha sampai selesai ya. Love buat pembaca setiaku๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜.


******************* *********************


Cha dan Dewi yang masih duduk di meja makan sangat gelisah menunggu khabar dari Zain dan Rudy. Mereka berdua tak berselera untuk menghabiskan makanan yang terhidang dihadpan keduanya. Hingga waktu berjalan terus namun tak ada khabar yang datang kepada mereka.


Meka terus mencoba menghubungi nomor Zain namun tak juga diangkat. Malam pun semakin larut, Cha dan Dewi kembali ke kamarnya masing-masing.


"Wi, kita tunggu khabar mereka sampai besok ya. Kalau Rudy ada ngabarin Lo, tolong info ke gw ya," pinta Cha penuh harap.


"Iya Cha, gw pasti ngabari Lo kalau nanti Rudy menghubungi gw," balas Dewi mengiyakan.


Cha dan Dewi masuk ke dalam kamar mereka dengan perasaan bercampur aduk. Cha duduk di depan cermin menatap pantulan wajahnya yang terlihat lusuh.


"Kemana kamu Bang? Kenapa belum kasih khabar juga. Apa yang terjadi denganmu di luar sana? hiks hiks hiks," Cha bergumam sambil terisak menangis.


"Jangan tinggalin aku Bang, aku gak mau hidup sendiri, cuma kamu yang aku punya, hanya kamu," ucapnya sendu.


Cha menelungkup kan kepalanya di atas meja riasnya. Dia kelelahan karena memikirkan Zain. Cha mengingat kalau mereka akan segera menikah. Waktu yang dinanti akan segera tiba. Hingga tak terasa, Cha tertidur di atas meja riasnya dengan mata sembab akibat menangis.


Pagi pun tiba, cuaca yang cerah namun tak secerah hati Cha saat ini. Silaunya sinar matahari menembus masuk ke dalam kamar Cha melalui celah jendela membuat Cha menjadi silau.


Cha masih merasa lelah akibat menangis, dia tak ingin membuka matanya. Cha takut tak akan bisa melihat Zain lagi saat matanya terbuka. Namun kesadarannya kembali saat dia mendengar suara ketukan pintu kamarnya.


"Cha...., ayo banguuun...!" teriak Dewi dari luar kamarnya.


Cha pun perlahan menengadahkan kepalanya, dia menoleh ke arah pintu kamarnya memastikan kembali pendengarannya.


"Cha banguuun, ada tamu di luar. Cepat buka pintunya...!" teriak Dewi yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


Cha berdiri dari tempat duduk meja riasnya. Dia ogah-ogahan berjalan ke arah pintu kamarnya.

__ADS_1


"Cha, ada Khabar dari Zain dan Rudy. Cepat buka pintunya!" Dewi masih terus menggedor pintu Cha.


Lalu Cha berdiri di depan pintu dan membukanya.


"Cha, Lo baik-baik aja kan? Ya ampuuun, keadaan Lo kok jadi seperti ini?" tanya Dewi dengan kesedihannya.


"Wi, Zain gak ada khabarnya. Gw takut Wi, gw benar-benar takut," Cha memeluk Dewi dengan erat. Dia menumpahkan kesedihannya di pundak Dewi.


"Sabar Cha, sabar. Ayo di depan ada yang mencari Lo," ucap Dewi memberitahu.


Cha melepaskan pelukannya dan menatap Dewi dengan tanda tanya.


"Siapa Wi? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Zain?" tanya Cha sambil memegang kedua bahu Dewi.


"Tenang Cha, tenangkan diri Lo. Ayo kita temui mereka," ajak Dewi.


Cha pun menuruti ajakan Dewi. Dia berjalan bersama Dewi sampai ke ruang tengah. Cha terkejut melihat kehadiran Mama mertuanya, Papanya Zain serta Oma yang berdiri menatap ke arah Meka.


"Kenapa mereka di sini?" gumam Cha seperti orang linglung.


"Sayang....., kamu harus kuat ya nak! Hiks hiks hiks," ucap Omanya menangis histeris.


Cha masih diam mematung, raganya seperti tak bernyawa, jantungnya seketika berhenti seperti hendak keluar dari tempatnya kala mendengar ucapan Omanya.


Mamanya Zain juga menghampiri Cha dan ikut memeluk Cha dengan erat.


"Sayang.....hiks hiks hiks, Cha....,kamu harus sabar, harus kuat sayang...!" Mamanya Zain juga menyuarakan hal yang sama.


Cha semakin tak nyaman, dia mencoba tetap berdiri tegak dalam dekapan mereka.


"Apa yang terjadi Oma, Ma," ucap Cha dengan ekspresi datar. Wajahnya terlihat pucat, suaranya terdengar tercekat, matanya kosong tak bernyawa. Dia tak menoleh ke arah Oma dan Mamanya Zain.


"Sa--sayang, Za--zain kecelakaan saat hendak berangkat ke Paris. Mobil mereka mengalami tabrakan saat melaju ke Bandara. Papa memintanya kembali saat itu setelah selesai dari urusannya di kantor. Sayang, Mama minta maaf, maafin kami yang meminta Zain kembali ke Paris. Maaf sayang....," ucap Mamanya Zain menjelaskan semuanya.


Cha terdiam bak seperti mayat hidup tak bernyawa. Seketika dia pun pingsan, tubuhnya lirih ke lantai tak sadarkan diri.

__ADS_1


"Cha.....!" teriak Omanya.


"Ya Allah sayang.....!" teriak Mamanya Zain. "Pa, bantu Cha baringkan di sofa...!" perintah Mamanya Zain terhadap suaminya.


"Apa yang terjadi?" Dewi datang menghampiri Cha saat dia datang dari arah kamarnya.


"Cha pingsan nak Dewi," ucap Mamanya Zain yang berada di sisi Cha.


"Tolong panggil dokter, atau kita bawa saja ke rumah sakit," ucap Papanya Zain.


"Iya Pa, kita bawa Cha ke rumah sakit tempat Zain," balas Mamanya Zain.


Lalu mereka bergegas membawa Cha ke rumah sakit di mana Zain sedang bertahan melawan kematiannya.


Saat ini tubuh Zain di penuhi dengan alat-alat medis. Keadaannya sedang kritis dan belum siuman. Dia mengalami cedera pada seluruh bagian tubuhnya hingga membuat para dokter tak bisa memberikan harapan banyak kepada keluarga zain. Sementara Rudy hanya mengalami kecelakaan ringan, hanya kakinya yang mengalami cedera dan harus perawatan.


Cha di bawa ke rumah sakit, dan dirawat di sana. Hal yang tak di duga mereka semua adalah, Dokter yang menangani Zain saat ini adalah Yoga. Dia bertugas di rumah sakit Jogja. Yoga sengaja memilih Kota Jogja untuk memulai kariernya demi bisa melihat Cha dari jarak jauh. Tapi takdir berkendak, mereka di pertemukan dalam keadaan seperti ini.


Yoga dan perempuan yang dinikahinya sudah lama bercerai, tepat ketika Cha kembali ke Indonesia, Yoga memutuskan hubungannya dengan perempuan itu tanpa persetujuan orang tuanya. Dia tidak perduli dengan warisan orang tuanya. Dia memilih mandiri, dan setelah kuliahnya selesai, dia memilih ke Jogja.


Yoga terkejut melihat Cha yang berbaring di ranjang pasien. Dia berdiri di samping Cha, menunggu Cha sadar.


Tepat ketika Cha sadar, dia membuka matanya perlahan. Cha terkejut melihat kehadiran Yoga dengan baju putih bersihnya.


"Kamu tiduran aja Cha. Jangan di paksa untuk bangkit. Kamu tidak salah lihat. Ini aku Cha, Yoga," ucapnya yang mengerti maksud dari tatapan Cha.


Cha tidak bisa bilang apa-apa, dia gak menyangka harus bertemu dengan mantan cinta pertamanya. Orang yang ingin dilupakannya dan menajalankan hidup bersama Zain. Tapi sekarang Yoga berdiri tepat di sampingnya. Ntah permainan takdir apa yang sedang di jalaninya.


"K--kamu kenapa bisa di sini?" tanya Cha canggung.


"Aku bekerja di ruang sakit ini Cha. Ternyata kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu kembali," jawab Yoga.


Lalu dari luar terbuka pintu kamar itu. Mamanya dan Omanya Zain masuk ke dalam kamar Cha. Mereka tak terkejut melihat Yoga berada di dalam kamar. Mereka sudah bertemu saat di ruangan operasi Zain.


Saat itu mereka terkejut tak menyangka akan bertemu dengan Yoga. Hingga akhirnya mereka mengetahui tentang keadaan Yoga.

__ADS_1


__ADS_2