
Cha merasa tak enak hati saat mendengar pengakuan Binyu. Sekarang Cha melihat Binyu yang berbeda dengan yang dulu. Binyu yang sekarang lebih dewasa dan lebih sopan terhadapnya.
"Aku hanya bisa berdo'a untuk kebahagiaan mu Bin, semoga bisa menemukan pengganti diriku," ucap Cha yang mencoba tersenyum.
"Gak taulah Cha, mungkin berat ya. Tapi aku pasrah aja sama takdirku bagaimana kedepannya. Oh ya gimana tinggal disini? Lo nyaman kan berada dikeluarga Zain?" tanya Binyu.
"Ya gw bahagia Bin, mereka orang yang baik dan tulus menyayangi aku. Aku tidak pernah mendapatkan perhatian seperti ini dari keluargaku. Kamu tau sendiri kan bagaimana keluargaku? Tapi mereka memperlakukanku dengan baik disini, apalagi Oma, dia sangat baik," jawab Cha dengan senyum bahagianya.
"Syukurlah Cha, aku senang mendengarnya. Aku juga sangat senang berada ditengah keluarga ini, keluarga yang saling mendukung dan harmonis. Tidak seperti keluarga ku juga," ucap Binyu dengan tatapan sedihnya yang menatap kedepan.
"Bukannya kamu dari keluarga yang baik Bin?" tanya Cha penasaran.
"Tidak Cha," jawab Binyu menyunggingkan bibirnya.
"Terus maksudnya?" Cha menjeda ucapannya.
"Ya, aku sama seperti kamu Cha. Tapi ini terjadi justru dengan Mamaku yang selingkuh. Saat ini Papaku sakit-sakitan. Dan yang merawatnya pembantu setia kami yang sudah tinggal bersama sejak aku masih bayi," jelas Binyu.
"Oh ya ampun Binyu, maaf kalau aku harus menguak kesedihanmu," sesal Cha.
"Ah gak apa-apa Cha. Aku senang ada teman yang mau aku ajak ngobrol. Sejak aku kehilanganmu, aku baru menyadari arti dari kesetiaan. Dan penyesalan datang terlambat dalam hidupku," ungkap Binyu.
"Semua sudah masa lalu Bin, lupakanlah dan buka lembaran baru dengan perempuan lain."
"Makasih Cha atas sarannya. Tapi aku memang belom mau membuka hatiku lagi. Aku hanya ingin fokus dengan menjalankan Bisnisku dulu."
"Wah keren itu bisa memiliki bisnis. Aku do'akan semoga sukses ya," do'a Cha.
"Makasih Cha. Kamu tetap baik seperti dulu. Gak berubah soal kebaikan," ucap Binyu memuji Cha.
"Sama siapa aja, kita memang harus baik, tidak menyakiti ataupun memanfaatkan mereka demi kepentingan kita. Dan tidak berpura-pura baik dihadapan mereka, karena itu semua akan kita tuai kelak," balas Cha dengan bijak.
"Ya beruntung banget ya si Zain memilikimu. Aku kalah cepat dari dia. Ternyata dia gesit juga mendapatkanmu Cha."
"Oh ya Bin, kalian ini sahabatan ya dari dulu?" tanya Cha yang mulai kepo.
__ADS_1
"Ya kami sahabatan dari dulu. Gw sering main ke Paris kalau lagi bosen di rumah. Begitu juga dengan Zain, dia sering ke Indonesia buat kumpul bareng kita-kita. Ya kamu tau sendirilah Cha," jawab Binyu yang merasa tak enak.
"Hah.., sudahlah gak dibahas yang lalu. Bin, aku mau ke kamar dulu, mau siapin yang sedikit lagi belom kelar," Cha mencoba melepaskan diri dari hadapan Binyu.
Cha merasa kurang nyaman berlama-lama ngobrol sama Binyu. Dia menjaga perasaan keluarga Zain dan Zainnya.
"Oh iya silahkan Cha. Aku juga mau menemui Oma. Mau ngobrol sama Oma," balas Binyu yang mengerti ketidaknyamanan Cha.
Lalu Cha pergi meninggalkan Binyu sendirian di ruang tengah. Dia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Di dalam kamar, Cha merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Dia ingin istirahat sejenak sebelum berangkat ke Indonesia.
Sedangkan Binyu, dia berjalan kearah kamarnya Oma. Dia pun mengetuk pintu kamar Oma.
"Tok tok tok, Oma...Binyu boleh masuk?" tanyanya dari luar.
lalu pintu kamar itu terbuka dan memperlihatkan sosok yang sudah tua tapi masih terlihat cantik, walaupun kulitnya sudah mulai keriput dan mengkerut, namun semangat dari diri Oma masih menggebu.
"Masuklah Binyu," ajak Omanya.
Lalu Binyu masuk ke dalam kamar Omanya dan mengajak Oma duduk di teras balkon.
"Oma, Binyu kangen banget sama Oma. Sudah lama Binyu tidak ngobrol sama Oma. Terakhir kali saat Binyu datang bersama mantan kemari, Oma tidak mau menemui Binyu," ucapnya mengingat yang lalu.
"Tidak Oma, aku terlalu polos dan lugu saat itu Oma," jawab Binyu.
"Kamu bukan lugu Binyu, tapi kamu laki-laki bodoh yang mau saja ditipu sama perempuan ular seperti dia," geram Omanya.
"Hehehe, Oma jangan katakan Binyu bodoh. Binyu pinter loh, buktinya sekarang kami sudah putus alias tidak ada hubungan lagi."
"Kamu bodoh karena terlambat memutuskannya. Oma sangat tidak menyukainya kemaren."
"Terus kalau lihat Cha gimana Oma?" tanya Binyu mencoba kejujuran Omanya.
"Dia baik, Oma suka dan menyayanginya. Dia berbeda dengan kebanyakan perempuan diluar sana, yang hanya ingin harta Zain. Dia spesial buat keluarga ini," jelas Omanya.
"Ya dia memang baik Oma. Aku menyesal memutuskannya," Binyu meratapi nasibnya.
__ADS_1
"Kamu kurang beruntung Binyu, malah Zain lah yang beruntung saat ini. Dewi Fortuna tidak berpihak kepadamu, melainkan kepada Zain," bangga Omanya.
"Oma ayo ikut kami ke Indonesia. Binyu akan mengajak Oma jalan-jalan disana," pinta Binyu.
"Nanti Oma pasti akan kesana. Tapi Zain harus menyelesaikan urusannya bersama Cha di Indonesia. Dan Oma akan menunggu waktu yang tepat buat berkunjung ke Indonesia."
"Kapan Zain akan menikah dengan Cha, Oma?" tanya Binyu penasaran.
"Zain menunggu kesiapan Cha. Karena saat ini Cha banyak dirundung masalah. Zain tidak ingin memaksanya untuk memutuskan cepat untuk kehidupannya," ucap Omanya.
"Aku akan patah hati Oma, kalau Zain dan Cha menikah. Aku gak sanggup melihatnya Oma," balas Binyu yang bersikap lebay.
"Oma berharap kamu secepatnya mendapatkan jodoh biar tidak menjadi bujang lapuk," ledek Omanya.
"Oma...!" kesal Binyu.
"Hahaha, Binyu..Binyu. Kamu tidak berubah dari dulu, selalu manja sama Oma. Beda banget sama Zain, dia tidak mau meluangkan waktunya buat Oma ngobrol seperti ini," ucap Omanya merasa sedih.
"Kan sudah ada Binyu, Oma. Zain kan sibuk, tapi dia sangat menyayangi Oma kok," bela Binyu.
"Jangan mencoba membelanya Binyu. Oma tau dia bagaimana, jadi jangan coba-coba melindunginya," ucap Omanya sambil menatap Binyu dengan tajam.
"Binyu tidak membelanya Oma, tapi itu kenyataan. Dia sangat menyayangi Oma loh," balas Binyu yang tetap pada ucapannya.
"Ya ya ya, Oma mengerti kalian itu akan selalu mendukung satu sama lain. Kalian memang sahabat yang setia. Semoga jangan ada perpecahan diantara kalian ya," harapan Omanya.
"Iya Oma, Binyu janji tidak akan melukai Zain dan mengkhianatinya atau meninggalkannya. Dia sudah seperti saudara bagi Binyu," balas Binyu.
"Terima kasih Binyu, kamu yang terbaik buat cuci Oma."
"Binyu juga kan cucu Oma," rengek Binyu seperti anak kecil.
"Iya kalian berdua cucu Oma yang tersayang," Omanya memeluk Binyu dengan penuh kasih sayang.
Selang beberapa jam, di dalam kamar, Cha masih terlelap diatas tempat tidurnya. Dia gak menyadari kalau Zain sudah kembali dari kantornya. Zain duduk dipinggiran tempat tidur disamping Cha. Dia menatap Cha dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Semoga keinginanku memilikimu tidak ada hambatan dan semua berjalan dengan ringan dan mulus ya Cha. Aku tidak ingin kehilanganmu Cha," gumam Zain yang terus menatap wajah Cha saat tertidur pulas.
Zain bahagia bisa memiliki Cha walaupun belum sah menjadi suami istri. Tapi dia senang karena saat ini Cha resmi menjadi kekasihnya.