
Hahaha, mereka semua tertawa terbahak-bahak dengan keusilan Bimo. Sampai pak supir senyum-senyum melihat Bimo.
Bimo yang duduk di depan samping pak supir, merasa jengkel.
"Isssssh kalian ini, bukannya terima kasih karena udah berhasil ngusir Binyu, malah ketawain gw," sungut Bimo yang kesel.
"Iya iya Bim, terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena berkat Lo si Binyu lari terbirit-birit, hebat Lo Bim," puji Cha sambil cengengesan.
"Wah sepupu gw nih hebat juga ya berakting. Baru tau gw, hahaha," ledek Dewi yang gak mau kalah ikut menggoda Bimo.
"Sapa dulu...Bimo gitu loh," bangga Bimo kepada teman-temannya.
"Ya udah pak sekarang kita kerumah Cha. Seperti biasa jalan dari belakang ya pak," kata Yoga kepada supirnya.
Yoga duduk disebelah Cha. Sedangkan Dewi duduk di sebelah Cha juga. Padahal Dewi pengen banget duduk disamping Yoga. Tapi keinginannya terpaksa dikubur dalam-dalam.
"Siap den, kita berangkat!" semangat pak supir.
"Itu si Binyu gila juga ya. Udah diputusin masih juga ngejar Lo Cha," kata Bimo yang sengaja memecahkan kecanggungan antara Dewi, Cha dan Yoga.
"Emang tuh cowok siapa sih tadi?" tanya Dewi penasaran.
"Itu dia yang namanya Binyu, Wi. Dia pernah dekat sama Cha. Nah dia itu yang udah dateng kerumah Cha kemaren dan ngakunya abang dari teman kelas Cha. Dia datang dengan alasan untuk minjem buku buat adeknya," jelas Bimo sekilas kepada Dewi.
"Oh..., cakep juga," ceplos Dewi yang nyeletuk tanpa bersalah.
"Cakepan Yoga tau, beuhhh kalah jauh Wi!" seru Bimo yang tak mau kalah.
"Iya Mbak Wi, masih cakepan den Yoga dong," Pak supir ikut menimpali.
"Kenapa pada ributin gw sih..," kata Yoga yang kepedean.
"Eleuh eleuh...mentang-mentang cakep, pede banget," Bimo terlihat sewot melihat kepedean Yoga.
Cha yang mendengar keributan mereka hanya diam dan ikut menyimak saja. Dia lebih fokus untuk masalah nanti dirumahnya.
"Cha, nurut Lo Yoga cakep gak?" tanya Bimo menggoda Cha.
"Hah, apa!" kata Cha dengan wajah bodohnya.
"Ya ampun, dari tadi mikirin apa sih Cha...? Gw nanya si Yoga tuh cakep atau gak?" tanya Bimo ulang.
"Oh...kirain nanya apaan. Mmm biasa aja Bim," jawab Cha datar tanpa ekspresi.
Yoga yang mendengar jawaban Cha, hanya melirik saja dari samping sambil menyunggingkan senyuman nya sekilas tanpa Cha ketahui.
"Hahahaha, good good good," kata Bimo.
Tanpa terasa akhirnya mereka sampai juga diarea perumahan Cha.
"Dah sampai den," Pak supir memberitahukan kepada mereka semua.
Mereka yang tak sadar karena asyiknya ngobrol, akhirnya menghentikan nya.
"Gimana Cha, Wi dah siapkan dengan misi kita?" tanya Bimo.
__ADS_1
"Gw siap sih Bim. Cha kamu jangan gugup, nyantai aja loh," Dewi menegur Cha karena dia melihat Cha sepertinya gelisah.
Cha menghirup nafas nya dan membuang nya kembali untuk menenangkan kegugupannya.
"Ya udah, yuk Wi, kita kerumah gw," ajak Cha.
Mereka keluar dari mobil setelah mendapatkan semangat dari kedua cowok itu. Cha dan Dewi berjalan beriringan. Hingga sampai di rumah Cha.
"Wah Cha, rumah Lo besar juga ya," Dewi berdecak kagum melihat rumah Cha yang mewah.
"Ah biasa aja kok Wi. Gak enak rumah besar kalau penghuninya sedikit Wi," ungkap Cha mewakili hatinya.
"Iya sih," kata Dewi yang ngerti kemana arah ucapan Cha.
"Assalamu'alaikum ma..." kata Cha.
"Wa'alaikumussalam," jawab mama Cha sambil membukakan pintu rumah.
"Ma, kenalin ini Dewi adeknya Binyu, cowok kemaren yang dateng kerumah kita. Mama kan mau ketemu adeknya? Nih orangnya udah datang," Cha harap-harap cemas melihat ekspresi mamanya.
"Ayok silahkan masuk, kita ngobrol di dalam aja nak. Mmm, Ini beneran adeknya kan, bukan orang yang ngaku-ngaku adeknya?" selidik mama Cha yang menatap curiga.
DEG
"Ya nggak la ma, dia beneran adeknya kok. Tadi disekolah aq cerita sama Dewi. Tentang perkataan abangnya yang kemaren dateng kerumah kita. Nih orangnya mau ngomong sama mama," jelas Cha yang berusaha tenang.
"Nak Dewi tau, kemaren abang kamu kerumah Cha. Dia sudah ngomong kurang ajar sama tante. Masa dibilangnya Cha sudah tidak perawan lagi? Tante yang mendengar nya syok... denger anak tante gak perawan lagi. Rasanya pengen tante masukin penjara aja tuh orang," kata mama Cha marah.
"Ma..maf tante. Dewi baru tau tadi ceritanya dari Cha. Kalau abang Dewi kemaren kesini. Karena antara dewi dan abang juga jarang ketemu. Sebenarnya dia lebih sering di luar kota sama nenek," kata Dewi yang agak gugup melihat mama Cha.
"Iya tapi tante tidak suka dia sembarangan bicara. Syukurnya tante tidak punya riwayat jantung. Kalau gak bisa bahaya kan?" mama Cha menatap tajam ke arah Dewi.
"Terus sekarang abang kamu dimana. Bisa kamu suruh dia jemput kamu kesini. Biar sekalian tante ngomong," kata mama Cha sengaja memancing kebohongan Dewi.
"Waduh gimana ini, kenapa si tante malah nyuruh gw dijemput abang gw. Hohoho mampus lah gw...," pikir Dewi yang ketakutan karena wajah mama Cha garang.
"Kalau jemput gak bisa tan. Karena tadi jam 10 pagi sudah berangkat ke Sulawesi tempat nenek. Kalau tante mau, Tante bisa ngomong lewat ponsel, gimana tan biar Dewi hubungi sekarang?" Dewi berusaha mencari kata-kata yang pas untuk di ucapkan.
Sedangkan Cha yang duduk disamping Dewi sudah spot jantung. Tangan nya sudah berkeringat dingin. Rasanya dia pengen menghilang di dasar laut yang paling dalam biar tenang.
Mamanya Cha diam tampak berpikir. Dia ingin melihat apakah Dewi berbohong atau tidak.
"Ya udah coba kamu hubungi abang kamu sekarang. Tante mau ngomong," mama Cha menatap tajam kearah Dewi.
Cha yang kaget langsung mengirimkan pesan ke Yoga, kalau mamanya pengen Dewi menghubungi Binyu. Dia kebingungan siapa yang mau dihubungi.
Dewi yang cerdas akhirnya menghubungi no Bimo.
"Assalamu'alaikum bang. Abang udah nyampe di Sulawesi? Iya nih aq lagi dirumah Cha. Kemaren abang kenapa kerumah Cha tanpa izin aq, hah! Aq kan jadi gak enak sama keluarga Cha. Nih mama Cha pengen ngomong," Dewi mau nangis rasanya karena udah ketakutan lihat ekspresi wajah mama Cha. Tapi dia berusaha tetap tenang sampai keluar dari rumah Cha.
"Halo, benar ini dengan abangnya Dewi?" tanya mama Cha.
"Ma..af tante, saya memang sangat mencintai anak tante. Tapi saya selalu ditolak. Makanya saya cerita seperti itu biar Cha jadinya sama saya," jelas Bimo yang ngaku sebagai Binyu.
"Iya tapi kamu sudah buat tante tidak mempercayai anak tante sendiri! Kalau kamu sampai mengulangi lagi, awas bakal tante lapor kamu kepolisi. Tante gak perduli kamu siapa, paham itu!" ancam mama Cha kepada Bimo.
__ADS_1
Bimo diseberang tlp, merinding mendengar suara mamanya Cha yang menggelegar di ponselnya.
"Busyet serem amat mamanya Cha. Lo berani Ga ngadapin mamanya, kalau main kerumah Cha nantinya?" bisik Bimo kepada Yoga yang fokus mendengar percakapan mereka.
"Ussst," Yoga menyuruh Bimo untuk diam dengan jari telunjuknya menempel di bibirnya.
Dirumah Cha, masih dalam suasana tegang bagi Cha dan Dewi. Mereka sudah merasa was-was takut ketahuan. Apalagi kalau sampai si Binyu datang lagi kerumahnya Cha.
Akhirnya obrolan mamanya dengan Bimo selesai juga.
"Kamu adeknya kan, jadi ingatkan dia jangan menyebar fitnah ya. Ya udah kali ini kalian tante maafkan. Jika terulang lagi, tante gak segan-segan menyeret abang kamu ke kantor polisi, paham!" kata mama Cha dengan suara yang agak meninggi.
Mereka berdua tersentak, karena sebenarnya mereka sudah menahan rasa takutnya.
"Pa..paham tan, kalau begitu saya pamit pulang dulu tan, nanti dicariin nenek saya," Dewi buru-buru pamit. Dia udah gak tahan lama-lama berhadapan sama mama Cha yang garang.
"Ya sudah, tante merasa lega karena sudah jelas kalau abang kamu salah. Rasanya tante gak tenang dengan kejadian kemaren, ungkap mama Cha kepada Dewi.
"Sekali lagi saya minta maaf atas kelakuan abang saya ya tan, dan terima kasih karena tante udah memaafkan kelakuan abang saya," Dewi pamit undur diri dari hadapan mama Cha dan menyalami tangan mama Cha.
"Ma, boleh Cha anter Dewi naik angkot didepan sana. Dia kan gak tau mau naik angkot buat pulang," Cha minta izin sama mamanya.
"Boleh, hati-hati dijalan ya nak Dewi," ucap mama Cha.
Dewi dan Cha keluar dari rumah nya dan berjalan ke arah jalan belakang rumahnya.
"Hahhhhh," Dewi membuang nafas leganya.
"Makasih Wi dah bantuin gw tadi. Gw udah khawatir kalau Lo gak bisa jawab," Cha menggenggam tangan Dewi tanda terima kasihnya.
"Sama-sama Cha. gw juga seneng bisa bantu Lo," ucap Dewi dengan tulus.
"Semoga masalah ini sampai disini. Gw udah jenuh banget Wi. Mudah-mudahan mama gw percaya sama akting kalian tadi ya," harap Cha dengan wajah senang.
"Gw do'ain ya Cha. Biar Lo juga bisa tenang ngadapin ujian nanti. Beberapa hari lagi kita kan ujian. Lo udah ada rencana buat lanjut kuliah dimana?" tanya Dewi merasa akrab.
"Blom tau Wi. Tapi rencananya gw pengen kuliah di luar kota aja deh Wi, Cha melihat Yoga sudah keluar dari mobilnya menyambut kedatangan Cha.
Akhirnya mereka sampai juga di mobil Yoga. Dewi tersenyum genit melihat Yoga yang berdiri di depan pintu mobil. Lalu Bimo juga ikutan keluar dari mobil.
"Gimana, sukses akting Lo Wi?" tanya Bimo kepada sepupunya.
"Hah, sepertinya sih sukses. Tapi gak tau ntar gimana dengan Cha," jelas Dewi.
"Ya udah aq balik kerumah dulu ya Ga, tadi izin sama mama cuma bentar nganter Dewi doang," Cha tersenyum melihat Yoga.
"Heum. Tar aq hubungi ya kamu kalau aq udah sampai dirumah," bisik Yoga sambil mengusap-usap rambut Cha. Dia tersenyum hangat kepada Cha.
Cha pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Thanks ya Bim, udah mau bantu gw tadi. Kalau tidak karena kalian, gw gak tau bagaimana jadinya."
"Hei...! Kita kan temen dekat Cha. Jadi wajar saling bantu. Tar juga kalau gw ada masalah, Lo harus bantu juga," paksa Bimo.
"Tenang aja Bim, itu pasti kok," balas Cha.
__ADS_1
"Ya udah gw balik duluan ya, kalian hati-hati dijalan," Cha pergi meninggalkan teman-temannya dan berjalan kembali kerumahnya.
Yoga menatap kepergian Cha. Ingin rasanya dia memeluk Cha tadi. Tapi gak enak karena ada Dewi. Mereka pun pergi meninggalkan area rumah Cha dengan perasaan lega.