Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Bingkisan Kotak Music


__ADS_3

Cha semakin penasaran dengan isi dari kotak tersebut. Setelah bungkus kotak itu terbuka, Cha mulai membuka kotaknya.


Saat kotak itu terbuka lebar, Cha terpaku dengan oleh-oleh yang di berikan Ghani. Sebuah kotak music yang sangat cantik dengan warna kesukaan Cha.


"Cantik sekali kotak music ini, dan..tunggu dari mana dia tau warna kesukaan aku?" gumam Cha sambil mengambil kotak musicnya dari kotak tersebut dan mengaktifkan musicnya



Ini adalah Ilustrasi kotak musicnya yang penulis dapat. Cantik banget ya...so sweet..!!


Cha pun mendengarkan musicnya yang bisa membuatnya tenang dan melayang dalam pikirannya. Dia pun membaca tulisan di belakang beruang itu.


"Apakah itu ungkapan yang di inginkan Ghani? Hah.., maaf Ghani, aku tidak bisa membalasnya. Terima kasih karena sudah mencintaiku sedemikiannya," Cha berbicara di depan kotak music itu.


Cha juga melihat ada surat di dalam kotak bungkus tadi. Dia pun mengambilnya dan membuka selembar surat itu.


***************😘😘😘😘***************


(Buat yang spesial)


Saat pertama kali melihatmu, aku merasakan getaran yang berbeda. Betapa aku tak menyadarinya. Namun, setelah kesekian kali aku melihatmu, aku sadar, selama ini ternyata aku menyimpan rasa itu terhadapmu. Rasanya seperti ada yang hilang jika sehari saja ga melihat kamu.


Kamu harus tahu, betapa senangnya aku, jika tatapan mata kita beradu. Bukan hanya itu, aku juga suka candamu dan senyumanmu itu, bahkan tawamu juga. Kalau boleh, betapa aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Setiap saat yang ada dipikiranku hanya kamu seorang.


Seakan aku merasa kamu adalah wanita termanis yang pernah aku lihat bukannya gombal tapi aku sangat terpesona melihatmu, tatapanmu itu begitu indah senantiasa menjadikanku tergetar terus didadaku.


Sungguh tak tahan rasanya menyimpan rasa ini terus menerus. Memendam perasan ternyata lebih sakit dari apapun. Aku tidak bisa menahan semua ini. Karena itu, dalam surat ini aku ingin bilang, AKU MENYUKAIMU, AKU MENCINTAIMU Ini adalah sebuah kejujuran.


Aku tidak meminta sebuah jawaban, cukup kamu mengetahui perasaanku saja, itu sudah sangat menyenangkan bagiku.


Love you


~Ghani~


Cha membaca surat itu dengan serius hingga tak terasa air matanya meluncur dari sudut mata indahnya. Dia tidak menyangka Ghani yang dingin ternyata memiliki cinta yang sangat luar biasa untuk dirinya.


Cha merasa bingung, kenapa banyak laki-laki yang bisa tertarik kepadanya. Cha bukanlah perempuan yang sangat cantik. Dia hanya perempuan biasa dan sederhana.


Cha pun menghela nafasnya dengan berat. Dia menutup surat itu dan menyimpannya di sebuah kotak yang tidak terlalu besar, dimana dalam kotak itu juga menyimpan pemberian Yoga dan Binyu. Tapi kotak music itu tidak dimasukkan Cha ke dalam kotak penyimpanan.

__ADS_1


Cha justru meletakkannya di atas meja riasnya. Dia membiarkan kotak music itu terus menyala. Dia sangat menyukainya, apalagi warnanya sesuai dengan kesukaannya.


Dengan adanya kotak music itu, Cha lupa untuk melihat ponselnya. Dia pun mulai tertidur di atas tempat tidurnya.


Malam pun tiba, Cha terbangun mendengar suara adzan berkumandang. Setelah selesai Maghrib, Cha keluar dari dalam kamarnya. Dia melihat ruang makan sudah ada si bibi yang menyiapkan makan malamnya.


"Bi, makan apa malam ini?" tanya Cha ketika berdiri dekat meja makan.


"Eh non Cha, nih tadi Tuan Zain minta di buatkan makanan kesukaan non Cha," jawab si bibi.


"Zain...?!" tanya Meka gak percaya.


"Iya non, tadi sore Tuan Zain tlp bibi, dia nanyain non, apakah sudah di rumah atau belum? Karena non di tlp gak angkat-angkat. Jadi bibi bilang non sudah pulang dan lagi istirahat di kamar," jelas bibinya.


"Oh ya ampuuun bi..., aku gak ngecek ponselku dari tadi. Aku ketiduran habis pulang tadi. Bi, makan malamku dianter ke kamar aja ya," pinta Cha.


"Loh non gak makan disini?" tanya si bibi.


"Nggak bi, saya mau menghubungi Zain dulu," jawab Cha yang berlalu dari hadapan si bibi.


Si bibi hanya senyum-senyum melihat tingkah Cha yang lucu baginya.


Selain itu, Cha juga menerima pesan dari Zain. Namun yang membuat Cha mengernyitkan keningnya, ada pesan masuk dari no yang tak di kenalnya.


Cha tak menghiraukan pesan dari no lain. Dia langsung membuka pesan dari Zain. Ada beberapa pesan dari Zain yang mengkhawatirkan keadaannya.


Lalu Cha pun menghubungi Zain kembali. Tak butuh waktu lama, panggilannya terjawab.


"Assalamu'alaikum sayang....! Kamu kemana aja? Abang hubungi gak di angkat. Kamu baik-baik aja kan disana?" Zain antusias memberikan banyak pertanyaan.


"Maaf bang, aku tadi ketiduran. Tadi udah pulang ke rumah, tapi, aku capek jadi gak lihat ponselku. Nih baru aja tadi ketemu si bibi. Dia cerita kalau kamu menghubunginya," jawab Cha jelas.


"Iya Abang tadi tlp bibi, buat nanyain kamu. Kalau kamu udah dirumah, Abang tenang. Tapi kamu gak apa-apa kan sayang?" tanya Zain yang masih mengkhawatirkannya.


"Nggak bang, nih aku minta si bibi buat nganterin makan malam ke kamar. Aku pengen tlp nan sama Abang. Jadi makannya di kamar aja," jawab Cha.


Cha meminta makan malamnya di anter ke kamar itu karena dia lagi malas bertemu dengan Dewi. Ntah kenapa ucapan Dewi membuat Cha tidak senang. Bagi Cha, itu seperti mengatakan jika suatu saat Zain tidak ada. Sedangkan Cha tidak ingin kehilangan Zain.


"Ya udah, Abang temani kamu makan. Aktifkan VC nya ya. Abang mau lihat wajah kamu. Kan kangen gak ketemu," pinta Zain.

__ADS_1


"Yeeee, baru aja gak ketemu bang. Baiklah kita VC an," Cha pun menerima VC dari Zain.


Cha bisa melihat wajah Zain yang sedang berada di dalam kamarnya. Dia sedang tiduran di atas tempat tidur.


"Sayang, mana makanannya?" tanya Zain.


"Belum diantar bang," jawab Cha.


"Kamu tambah cantik aja sayang, saat Abang gak disana," puji Zain yang mampu membuat wajah Cha bersemu merah.


"Hehehe, Abang bisa aja. Gimana khabar Abang disana, dan Mama sama yang lainnya sehatkan?" tanya Cha dengan memandang Zain senyum-senyum.


"Abang sehat sayang, Mama, Papa dan Oma juga sehat kok. Mereka sedang menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita," jawab Zain di seberang.


"Oh ya, hmmm. Mereka sangat bersemangat ya bang menyambut hari pernikahan kita," balas Cha.


"Iya, dan beberapa saudara dekat Abang juga akan datang dari Paris nantinya. Dan.....," Zain menghentikan ucapannya.


Zain sedikit gak enak mengatakannya sama Cha. Dia khawatir Cha akan terganggu mendengar pemberitahuannya.


"Dan apa bang?" tanya Cha penasaran.


"Sayang, Abang mau bilang, tapi kamu jangan marah ya mendengarnya," Zain merasa was-was.


"Iya bang katakan aja. Aku siap kok dengerinnya," balas Cha.


"Papa, mengundang sahabatnya yaitu Papanya Yoga. Gimana menurut kamu?" tanya Zain yang merasa gak enak.


Cha terkejut mendengar ucapan Zain tentang undangan.


"Terus apa jawaban Papanya dia?" tanya Cha tanpa ekspresi.


"Abang juga belum tau sayang. Semoga saja tidak datang. Karena Abang gak mau dia buat keributan nantinya," jawab Zain.


"Iya bang, untuk apa Papa mengundangnya? Kan gak masalah kalau dia tidak diundang?" tanya Cha bingung.


"Ya karena mereka sahabat sayang. Papa gak mungkin tidak mengundangnya," jawab Zain.


Cha pun menghela nafasnya dengan berat. Dia memang sedikit khawatir jika orang tua Yoga datang ke pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2