
Kemudian Cha mulai membuka surat Shanti. Dia membaca nya di atas meja belajarnya.
Hai Sahabat gw yang cuantix.....
*Sorry ya Cha, gw gak sempat nemuin Lo hari ini. Karena hari ini gw harus berangkat ke Jog** bersama nyokap gw. Dan kemaren adalah hari terakhir kita bertemu. Gw dapat informasi ke Jogja saat kita berdebat masalah Binyu. Dan keesokan harinya ternyata Lo bener-bener bolos sekolah bersama Binyu. Padahal gw pengen menghabiskan waktu bersama Lo berdua, rencananya gw pengen ngajak Lo bolos bersama Yoga dan Bimo. Tapi Lo udah keduluan bareng Binyu.
Cha tau gak sih Lo. Gw kueseeeel banget sama Lo yang lebih mempercayai Binyu ketimbang gw sahabat Lo sejak kecil. Gw tidak tau apa yang terjadi sama Lo ketika bolos kemaren. Gw harap Lo tidak kenapa-napa ya Cha. Dan gw harap Lo baik-baik aja.
Sahabatku yang cantik jangan sedih ya kalau gw gak ada lagi disisi Lo. Oh ya Cha gw mau kasih nasehat nih buat Lo. Gw harap Lo bisa menilai mana yang baik buat Lo dan mana yang tidak baik. Yoga adalah laki-laki yang terbaik yang pernah gw kenal. Dia sangat menyayangi Lo Cha. Dan tinggalkan Binyu karena dia bukan laki-laki yang baik. Ntah kenapa perasaan gw mengatakan dia hanya mempermainkan Lo aja. So, jangan salah melangkah dan jangan salah memilih ya Cha...
Gw sayang sama Lo Cha. Lo sahabat gw yang terbaik, sahabat dalam suka maupun duka. Walaupun kita berjauhan tapi kita tetep bisa berkomunikasi lewat handphone. Jaga diri Lo baik-baik ya Cha, kalau ada apa-apa bilang ke Yoga, pasti dia akan membantu Lo. Ingat jangan sungkan untuk meminta bantuan Yoga, karena disana cuma Yoga yang bisa ngertiin Lo.
Udah ya Cha, nih mau beres-beres dulu. Besok pagi harus kebandara karena gw berangkat pagi ke Jog**. Gw pasti sangat merindukan Lo. Maaf gw gak sempat berpamitan sama Lo, habis Lo sibuk banget sama Binyu.
Kapan-kapan mainlah ke Jog**. Da...... Cha sahabat ku yang tersayang, salam buat nyokap Lo dan Sika.
Salam sayangku selalu buat sahabat terbaikku.
Shanti.
Cha terdiam dan tiba-tiba air matanya keluar dengan sendiri. Dia pun menangis menatap surat Shanti.
"Tega banget sih Lo Shan ninggalin gw sendiri disini," gumam Cha yang masih memegang surat Shanti. Dia menangis dan memukul-mukul mejanya karena kesal. Ya kesal tidak bertemu sahabatnya sebelum berpisah. Cha terus menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang siapa lagi disini yang bisa nemani dia bermain.
Tok tok tok, suara pintu kamarnya diketuk Sika.
"Kak lagi ngapain...?" tanya Sika yang masuk ke dalam kamar Cha. Sika melihat kakak nya yang menangis, lalu menghampirinya.
"Loh kak kenapa? Kenapa kakak menangis.., cerita sama Sika, kak, ada apa..! Sika bingung lihat kakaknya yang menagis.
"Sik..,kak Shanti...kak Shanti udah gak disini lagi. Kakak udah gak punya teman lagi disini Sika," Cha menangis memeluk adeknya.
"Emang kak Shanti kemana kak? Kakak jangan bersedih seperti ini, Sika pikir kakak kenapa-napa," Sika mencoba menenangkan kakaknya.
__ADS_1
Lalu Cha melepas pelukannya, dan melihat kearah Sika.
"Kak Shanti udah ke Jog** bareng keluarganya, mereka pindah kesana dek, kakak pasti kesepian di sekolah dek. Kakak jadi gak semangat buat ke sekolah. Siapa yang mau berteman sama kakak nanti disekolah," kata Cha panjang kali lebar.
"Kalau kakak merasa kesepian kan bisa tlp nan bareng kak Shanti, trus kalau gak punya teman disekolah ya udah, kakak baca buku aja buat nyibukkan diri disekolah. Gak punya teman kan gak masalah," begitulah pemikiran Sika yang masih kecil.
"Makasih ya dek, kakak sayang sama kamu. Oh ya ngomong-ngomong kapan tuh papa balik dari kampung. Kakak berharap dia langsung berangkat berlayar, kak gak mau datang kemari hanya numpang tidur," kata Cha yang sedih bercampur kesal jadi campur aduk perasaannya.
"Gak tau kak, tanya mama lah. Sika juga gak perduli papa mau kemari atau gak, bosen kak, denger ribut mulu, malu sama tetangga, iya kan?" Sika membaca surat sahabat kakaknya itu. Cha tidak mempermasalahkan adek nya mengetahui apapun tentang dirinya, karena Cha selalu terbuka sama Sika.
Cha pun mengangguk membenarkan ucapan adeknya. Mereka pun bercerita tentang masing-masing keadaan disekolahnya hingga menjelang malam.
"Sika yuk dah Maghrib, kita sholat dulu," ajak Cha
"Iya kak, Sika ke kamar dulu, nanti kita makan bareng ya kakak," Sika pergi meninggalkan kamar Cha. Mereka pun menunaikan sholat Maghrib di kamar masing-masing.
Setelah Maghrib berakhir, mereka makan bareng bersama mamanya dan sibungsu. seperti biasa selama makan tidak ada yang berani berbicara, semua pada sibuk dengan pikiran masing-masing hingga selesai makan.
"Cha jangan lupa sebelum tidur dicuci dulu piringnya, ajarin juga Sika belajar sebentar," kata mamanya yang sedang menemani sibungsu.
"Sik, ada PR gak...? Kalau ada sini kak bantu ngerjainnya," Cha duduk di atas tempat tidur Sika.
"Nih Sika lagi ngerjain kak, gak usah di bantu kak, Sika bisa kok. Ntar kalau Sika gak tau pasti Sika tanya ke kakak," Sika mengerjakan PR nya dimeja belajar.
"Syukurlah kalau kamu bisa, apa kakak boleh ke kamar kakak? Sika kan bisa ngerjainnya, kakak juga mau belajar," kata Cha.
"Ya udah gih sana kak, Sika juga mau fokus nih. Pokoknya kalau Sika gak tau tar Sika kekamar kakak ya, met belajar ya kak," kata Sika dengan tersenyum.
Cha menunjukkan jempolnya tanda ok. Dia pun keluar kamar Sika dan menuju ke kamarnya. Sampai dikamar, Cha mendengar panggilan tlp, Cha melihat layar di handphonenya Binyu. Cha pun segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum bang," sahut Cha di tlp.
"Wa'alaikumussalam sayang...., lagi apa nih sayangku...?" tanya Binyu yang tanpa beban.
__ADS_1
"Gak ada, lagi mau belajar bang," jawab Cha singkat. Cha masih marah dengan kejadian kemaren. Sebenarnya dia gak mau nerima tlp Binyu, tapi rasa sayangnya mengalahkan akal sehatnya.
"Sayang besok temani abang yuk ke acara temen. Tapi temen abang ngadainya pagi sampai sore aja, karena malamnya dia harus terbang lagi ke luar negri," kata Binyu menjelaskan.
"Males ah bang, besok Cha sekolah. Tar ketahuan lagi kalau bolos. Kemaren Cha dimarahin mama karena ketahuan bolos," Cha menjelaskan kejadian kemaren ketika dia dimarahin mamanya.
Binyu yang mendengar cerita Cha, justru malah tidak perduli. Dia masa bodok dengan apa yang dialami cha. Dia hanya mendengarkan nya saja. Baginya yang terpenting Cha bisa memuaskan hasratnya selama dia tinggal di Me*** untuk bekerja. Cha yang polos dan yang haus kasih sayang, tidak mengetahui kebusukan Binyu. Karena Binyu sangat pinter bermain acting seperti pemain sinetron.
"Ayolah sayang....abang gak ada pasangan nih..., emang boleh abang nyari cewek lain..?" tantang Binyu memojokkan Cha.
"Abang kok gitu sih..., berarti abang gak sayang sama Cha? Kok nyari yang lain sih," Cha merajuk mendengar kata-kata Binyu.
"Makanya sayang, kamu harus temani abang. Tapi.....kalau kamu gak bisa, teman kantor abang mau nemani abang besok. Tinggal abang tlp malam nih, gmn...," Binyu sengaja memanas manasin Cha.
"Ya udah besok abang jemput Cha pagi ya, janji sekali ini aja. Lain kali Cha gak mau bolos lagi," kata Cha memanyunkan bibirnya.
"Ok ok sayang, abang janji gak akan nyuruh kamu bolos lagi. Abang sayaaaang banget sama kamu, sampai ketemu besok sayang ku.....emmmuach..," Binyu menyudahi tlp nya. Dia merasa happy banget akhirnya besok bisa ikut pesta ranjang. Dia pun terbahak-bahak di dalam kamarnya dan berkata, "dasar gadis bodoh, Cha...cha mudah banget di bohongin," Binyu senyum senyum sambil memejamkan matanya.
Ditempat lain Cha bingung membuat alasan apa terhadap mamanya. Kemudian dia beranjak dari kamarnya menuju kamar mamanya.
"Ma....mama...., mama udah tidur ya..?" tanya Cha didepan pintu.
"Belom, ada apa nang," jawab mamanya. Kemudian membuka kan pintu kamar.
"Mmmm, ma besok disekolah akan ada persiapan buat acara pentas seni, boleh gak aq izin sama mama pulang telat karena harus latihan bermain musik group kami," Cha mencoba setenang mungkin mengarang kebohongan nya.
"Dimana latihannya? Kalau dirumah teman mu, mama gak ngasih. Lebih baik di rumah aja," kata mamanya.
"Kalau dirumah kita, kejauhan ma dari rumah masing-masing. Jadi diputuskan disekolah ma biar dekat dari rumah teman-teman," Cha mencoba meyakinkan mamanya.
"Ya udah, awas kalau ketahuan bohong sama mama, gak mama kasih ampun," kata mamanya mengingatkan.
"I..iya ma, Cha beneran latihan disekolah kok ma," jawab Cha meyakinkan.
__ADS_1
"Ya udah tidur sana, udah malam," mama Cha menutup pintu kamarnya.
Cha pun pergi ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya. Akhirnya Cha menciptakan kebohongan lagi demi orang lain.