
Awalnya Cha merasa canggung dengan semua ini. Namun dia melihat keluarga Zain sangat welcome terhadapnya, membuat Cha merasa nyaman.
"Sayang, ini kamu cobain dulu masakan disini," Oma mengambilkan makanan dan meletakkannya diatas piring Cha.
"Oma, kenapa Cha nya doang yang dibagi. Zain kan cucu Oma, Pangeran kecil Oma, masa gak dibagi sih Oma!" rajuk Zain yang tentunya berpura-pura.
"Kamu itu, mana piringnya biar Oma bagi," balas Omanya sambil geleng-geleng kepala.
"Hehehe gitu dong Omaku sayang!" puji Zain terhadap Omanya.
"Zain, kemaren kamu bawa Cha kemana? tanya Mamanya yang sedang menghidangkan makanan ke piring Papanya Zain.
"Zain bawa Cha jalan-jalan aja Ma, ya buat menghibur hatinya yang sedang galau dan resah menyedihkan," ledek Zain tanpa melihat kearah Cha.
Cha merasa geram melihat sikap Zain yang blak-blakan dihadapan orang tuanya. Dia merasa canggung dan salah tingkah karena dikatain galau sama Zain.
"Kamu gimana sayang, sekarang apa masih galau juga?" tanya Mamanya Zain.
"Ah nggak lagi Tante. Zain hanya berlebihan. Lagian wajar kan Tante kalau seseorang yang ditinggal pasti sedih. Zain belom merasakan makanya dia ngeledek Cha," Cha mengejek kearah Zain dengan bibirnya.
"Hahaha, Zain gak bisa galau, karena dia yang selalu buat para perempuan galau," sindir Papanya yang ikutan nimbrung dalam obrolan mereka.
"Ihhhh Papa, buka kartu Zain aja," ucap Zain malu-malu.
"Sayang, hari rencana mau kemana? Gimana kalau temani Oma jalan-jalan. Oma sudah lama sekali tidak keluar. Habis Mamanya Zain selalu sibuk dengan Butiknya dan Papanya Zain," ungkap Omanya yang ingin ditemani.
"Oh boleh Oma. Cha ngikut aja," balas Cha.
"Zain juga ikut ya Oma, biar Oma dan Cha ada yang menjaga dan menemani. Kalau ada apa-apa kan bisa bahaya kalau gak ada Zain," ucap Zain yang ingin mengikuti Cha.
"Alasan aja kamu Zain!" ledek Papanya.
"Benaran loh Pa...! Boleh ya Oma, Zain ikut...!" Zain merengek memohon seperti anak kecil yang pengen diajak.
"Iya Zain, kamu boleh ikut," balas Omanya.
"Asyeek, bisa jalan-jalan lagi, bebas kerjaan," gumam Zain.
"Zaaaiiin, kamu harus ke Perusahaan, kasihan Assisten kamu dibebani terus," tegur Papanya Zain.
"Iya Pa, habis sarapan Zain akan ke Perusahaan bersama Cha. Setelah itu kami akan jemput Oma, ok Oma!" seru Zain.
"Ya ampuuun Zainnn, kamu itu ya selalu saja mengganggu kesenangan Oma," gerutu Omanya.
"Hahaha," Zain pun tertawa.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan obrolan diselingi candaan. Cha sangat senang berada ditengah keluarga Zain yang harmonis. Cha selalu membandingkan keluarga Zain dengan keluarganya. Ada senyum getir yang tersembunyi di bibir Cha. Mengingat keluarganya yang tidak pernah dirasakannya seperti ini. Kumpul bersama dimeja makan untuk sarapan bareng. Sungguh tak pernah dirasakan sama sekali.
__ADS_1
"Kamu melamuni apa sayang?" tanya Zain yang sudah berdiri dan menghampiri Cha.
"Ah, eh gak ada. Aku senang aja lihat keluarga kamu yang harmonis," ucap Cha gelagapan.
"Ya sudah, ayo kita ke kamar, kamu gantilah pakaianmu. Temani aku ke Perusahaan sekarang,"ajak Zain.
"Tapi aku gak enak sama Papa kamu, kalau aku ikut ke kantormu?" ucap Cha sambil melirik Papanya Zain.
"Sayang, Papanya Zain gak akan marah. Percayalah sama Oma, iya kan Louis?" Oma nya Zain menjawabnya sambil melihat ke Papanya Zain.
"Pergilah nak, saya senang Zain ada yang mengawasinya, hahahaha," ledek Papanya terhadap Zain.
"Baik Om," balas Cha.
Zain mengajak Cha meninggalkan mereka dan berjalan menuju kamarnya Zain.
"Zain, aku merasa gak pantes jika berjalan denganmu, apalagi ke Perusahaanmu," Cha merasa rendah diri dihadapan Zain.
"Jangan ngomong seperti itu Cha..Aku tidak pernah menganggap kamu rendah dan tidak pantas. Kamu adalah perempuan yang terbaik, yang aku pilih. Lagian keluargaku semuanya menerimamu, jadi aku harap kamu jangan seperti itu lagi, ya," pinta Zain sambil menggenggam tangan Cha.
Cha diam aja, dia tak menjawab ucapan Zain. Di dalam hatinya masih ada kebimbangan dan ketakutan. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang singkat dan akhirnya lepas lagi.
Setelah melewati anak tangga, Zain dan Cha masuk kedalam kamarnya Zain.
"Ayo sayang kita bersiap-siap," ajak Zain.
"Iya aku berganti pakaian didalam kamar mandi saja Zain."
"Iya Zian. Sebentar ya aku ganti dulu," Cha berjalan masuk kedalam kamar mandi. Didalam kamar mandi, dia pun mengganti bajunya dengan style yang sopan dan elegan. Agar bisa menyamai dengan penampilan Zain.
Setelah selesai, Cha keluar dari dalam kamar mandi dan melihat Zain yang sudah rapi. Dan Zain juga terpana melihat kecantikan Cha yang kelihatan semakin dewasa dengan pakaian yang elegan dan sangat kontras dengan warna kulitnya.
"Kamu cantik sekali sayang," puji Zain tanpa berkedip.
"Ah biasa aja lagi Zain. Kamu juga tampan sekali, baru ini aku melihat penampilanmu yang sangat menawan," Cha juga memuji penampilan Zain.
"Ayo kita berangkat sayang. Kamu akan menjadi ratu dalam kehidupanku," ucap Zain penuh semangat.
"Ayo Zain."
Mereka berdua keluar dari dalam kamar Zain dan menuruni tangga. Saat hendak melewati ruang tamu, Cha bertemu dengan Mamanya Zain dan Papanya.
"Wah sayang, kamu cantik banget, dewasa sekali!" puji Mamanya Zain.
"Siapa dulu yang milih Ma!" seru Zain.
"Emang Cha mau sama kamu Zain?" ledek Mamanya.
__ADS_1
"Kita lihat aja nanti Ma. Mama serahkan sama Zain. Zain akan buat Cha gak bisa lari seperti Mama dan Papa, hehehe," ucap Zain yang melirik Papanya.
"Hahahaha, dasar anak kamu Louis sama seperti kamu, keras dan arogan," ucap Mamanya Zain yang menuding suaminya.
"Dia memang anakku yang hebat Siti, kamu tau itu," balas Papanya Zain yang tersenyum.
"Udah-udah, kalian pergilah. Nanti kamu telat ke kantor," ucap Mamanya.
"Zain sama Cha berangkat dulu ya Ma, Pa," Zain mencium tangan Mama dan Papanya.
"Iya sayang," Mamanya mencium Pipi anaknya.
"Tante, Om, saya ikut Zain ya ke kantor," ucap Cha sambil menyalami tangan Mama dan Papanya Zain.
"Iya sayang, kalian hati-hati dijalan ya nak."
"Zain, jaga Cha selama ikut dengan kamu ke kantor. Jangan biarkan dia sendirian," pesan Papanya Zain yang tidak mau Cha kenapa-kenapa.
"Iya Pa, Ma. Zain pasti jagain Cha."
"Ayo sayang kita berangkat," ajak Zain kepada Cha.
Mereka berdua keluar dari Mansion yang mewah itu dan berjalan kearah mobil.
"Allons à l'entreprise!" perintah Zain.
"(Ayo kita ke Perusahaan)!" perintah Zain.
"Prêt Monsieur," jawab bodyguardnya.
"(Siap Tuan)," jawab bodyguardnya.
Lalu Zain dan Cha masuk kedalam mobilnya. Mereka segera berangkat menuju Perusahaan Zain.
"Zain aku gugup sekali, bagaimana dengan orang-orang yang di Perusahaanmu jika melihatku datang bersamamu?" tanya Cha khawatir.
"Jangan pikirkan itu sayang. Tidak akan ada yang berani menatap kearahmu," jawab Zain tegas.
"Tapi tetap aja aku gugup Zain!"
"Jangan gugup, ada aku disampingmu," balas Zain.
Dalam perjalanan, Cha memilih diam. Dia merasa gugup sekali berdampingan dengan Zain yang seorang CEO. Hingga setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Perusahan Zain.
"Nous sommes arrivés monsieur," ucap bodyguardnya.
"(Kita sudah sampai Tuan)," ucap bodyguardnya.
__ADS_1
"Heum," balas Zain.
Cha dan Zain keluar dari mobil. Mereka berjalan memasuki Perusahaan Zain. Zain menggenggam tangan Cha dengan erat. Saat mereka masuk kedalam Perusahaan, banyak mata yang melihat kehadiran mereka.