Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Di bayarin Ghani


__ADS_3

Cha dan Dewi yang berada di dalam mobil, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Dewi membuka suaranya.


"Cha, kak Ghani itu baik ya. Aku gak tega lihat dia yang memang kelihatan banget mengharapkan Lo," ucap Dewi tiba-tiba.


Cha menoleh kesamping menatap Dewi yang menunggu balasan Cha.


"Gw tau Wi, tapi gw gak bisa menyuruh dia menjauh. Karena cinta itu gak salah Wi. Yang salah itu waktu yang datang disaat yang tak tepat," jelas Cha.


"Terus, kalau dia masih mengharapkan Lo, gimana?" tanya Dewi memicingkan matanya.


"Itu urusan dia," jawab Cha dengan mengedikkan bahunya cuek.


"Isshhh Lo ini ditanyain, gw serius loh Cha...!" kesal Dewi.


"Ya ampuuun Wi..., gw juga serius jawabnya. Gw harus jawab apa Wi, yang punya perasaan kan dia, ya masa gw harus memarahinya mengatakan, hai Ghani jangan Lo punya perasaan ke gw ya, gw gak suka! Maksud Lo gitu Wi?" tanya Cha dengan memperagakan gayanya sambil menunjuk-nunjuk dengan jarinya.


"Hahaha, Lo lucu banget Cha. Udah mirip dengan emak gw kalau sedang marah-marah," ledek Dewi.


"Isssh Lo nih Wi. Udah ah jangan bahas dia lagi. Gw lagi malas bahasnya," balas Cha.


"Ok ok. Oh ya besok kita jadi berangkat ya. Kita naik bus aja kesana," ucap Dewi mengingatkan Cha rencana mereka ke Klaten.


"Loh, kenapa gak naik mobil itu aja Wi? Kan lebih nyaman dan santai," ucap Cha bingung.


"Gw gak enak Cha, kalau harus menggunakan mobil dari Zain. Karena ini urusan ke tempat keluarga gw," balas Dewi.


"Udah Lo gak usah sungkan gitu napa. Nanti gw sampaikan sama Zain. Dia akan setuju kok kalau itu untuk kenyamanan," jelas Cha.


"Nanti Lo aja deh yang ngomong sama Ibu gw. Karena beliau yang sungkan menggunakannya. Takut di lihat keluarga disana gimana gitu," ucap Dewi memberitahukan.


"Yeee, jangan pikirkan ucapan orang. Orang lain emang tak akan senang jika lihat kita lebih baik. Dan akan gembira jika melihat kita sengsara. Ntar gw bilang ke Ibu Lo," ucap Cha meyakinkan.


"Iya Lo aja deh yang ngomong ke Ibu. Gw juga sih mikirnya gitu Cha tadi. Cuma Ibu gw yang gak mau, ya terpaksa gw ngikut deh."


"Iya Lo tenang aja, nanti sore atau malam gw akan bilang ke Ibu Lo.


"Non, kita udah nyampe di toko kuenya," ucap supir sekaligus bodyguard Cha.


"Ah iya Pak, makasih," balas Cha.

__ADS_1


"Ayo Wi kita turun. Tuh Ghani udah parkir juga disamping mobil kita," ajak Cha sambil menunjuk ke arah Ghani.


"Hehehe gw lupa kalau dia ikut di belakang kita," balas Dewi.


Lalu Cha dan Dewi segera keluar dari mobil. Mereka menghampiri Ghani yang juga sudah keluar dari mobilnya.


Sekarang Ghani sudah memiliki mobil hasil dari kerja kerasnya sebagai penerjemah bahasa Jepang. Dengan kerjaan sambilannya itu, dia hidup mandiri tanpa bantuan orang taunya. Padahal Ghani memiliki orang tua yang mampu. Tapi itu tidak lantas membuat Ghani manja akan harta dan kekuasaan yang dimiliki orang tuanya.


"Ayo kak Ghan kita ke dalam," ajak Dewi saat mereka sudah gabung.


"Iya, ayo ladies duluan yang masuk ke dalam," balas Ghani dengan senyum menawannya.


"Ayo Cha kita masuk," ajak Dewi sambil menggandeng lengan tangan Cha.


Mereka berjalan memasuki toko kue itu yang terkenal di kota tersebut. Sedangkan Ghani mengikuti mereka berdua. Dia berjalan di belakang Cha. Ghani menatap punggung belakang Cha dengan senyum-senyum.


"Hah..seandainya kamu kekasihku, alangkah senangnya aku bisa jalan bareng kamu saat ini Cha," bathin Ghani yang tiba-tiba berwajah sendu.


Cha dan Dewi masuk ke dalam toko kue itu. Mereka di sambut dengan pelayan toko.


"Silahkan Mbak, dipilih kue-kue ya yang banyak pariasinya," ucap pelayan itu ramah.


Cha dan Dewi mengambil baki dan mulai menelusuri jejeran kue-kue yang di pajang di stelling. Cha dan Dewi bingung mau mengambil kue yang mana.


"Cha, enak-enak banget ya kuenya. Gw jadi pengen beli semuanya," ucap Dewi yang ngiler lihat kue-kue itu.


"Ambil aja Wi. Lo tenang aja, gw anggap bayar," balas Cha.


"Serius Lo Cha?" tanya Dewi kegirangan.


"Iya serius, ambil aja. Belikan buat adik dan Ibu dirumah," suruh Cha.


"Oh ya sekalian buat si bibi dirumah ya Wi. Gw juga mau beli buat nyemil di kamar," suruh Cha lagi.


"Ok ok, gw akan laksanakan semuanya, hehehe," balas Dewi tanpa malu dan canggung.


Sedangkan Ghani yang berada di deretan stelling bagian depan, asyik mengambil kue-kue yang akan di bawanya ke hotel. Karena saat ini Ibunya sedang berada di Jogja menginap di hotel.


Cha sempat melirik ke arah Ghani yang fokus mengambil kue-kue pilihannya.

__ADS_1


"Cha lihat tuh, serius banget kak Ghani milih-milih kuenya," tunjuk Dewi.


"Iya, tadi dia kan udah bilang mau belikan buat Ibunya. Biarin aja, itu urusan dia Wi," ucap Cha cuek.


Mereka pun melanjutkan berjalan melihat-lihat kue yang di pajang. Hingga akhirnya mereka selesai mengambil kue pilihannya. Lalu Cha berjalan ke arah kasir untuk membayar kue yang sudah di ambilnya.


Kemudian Ghani juga ternyata sudah selesai dengan mengambil kue-kue ya. Dia pun berjalan ke arah kasir. Lalu Ghani menyerahkan bakinya ke kasir untuk di hitung. Ghani berada sebelahan sama Cha. Dan ada dua kasir yang bertugas. Saat Cha ingin membayar, Ghani sudah terlebih dahulu menyerahkan kartu ATM nya untuk di bayar semuanya.


"Loh Ghan, kenapa dibayarin? Biar gw aja yang bayar," ucap Cha gak terima.


"Udah gak apa-apa Cha. Biar kali ini gw aja yang bayar. Kebetulan gw bayar pakai AYAM yang dapat diskon," balas Ghani.


Cha hanya diam saja, dia tidak mau berdebat di depan kasir. Namun bukan berarti dia nerima begitu saja sikap Ghani yang membayar belanjaannya.


Setelah selesai dengan urusan pembayaran, Ghani dan Cha beranjak dari hadapan kasir itu.


"Ghan, tunggu!"


"Kenapa Cha..?" tanya Ghani.


"Aku gak mau kamu bayarin semua belanjaan ku. Ini kamu ambil uangku, karena aku tidak enak menerima bayaran dari orang lain," jawab Cha.


"Cha, aku ikhlas kok membayarnya. Ini uang pribadiku. Bukan uang orang tuaku. Jadi kamu jangan merasa tidak enakan ya. Lain kali kamu yang bayarin kalau kita belanja kue lagi," balas Ghani membujuk Cha.


"Hmmm, baiklah. Tapi janji loh. Jangan menolaknya," ucap Cha.


"Iya aku janji Cha."


"Kalau gitu kami balik dulu ya. Makasih sekali lagi atas traktirannya," ucap Cha.


"Kalian langsung pulang?" tanya Ghani yang enggan berpisah dari Cha.


"Iya Ghan, udah gerah nih. Lagian juga udah capek banget, mau istirahat dulu," jawab Cha.


"Ya udah kalau gitu, sampai ketemu di kampus ya besok. Hati-hati dijalan ya Cha," ucap Ghani perhatian.


"Iya Ghan."


Lalu mereka pun berpisah di tempat parkiran. Ghani pergi dari toko kue dengan mobilnya sendiri. Sedangkan Cha bersama Dewi pulnag ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2