
Zain tersenyum mendengar perkataan Mamanya Cha. Ini berita yang menyenangkan untuk keluarga Zain di Paris. Dia sudah tidak sabar ingin memberitahukan berita ini kepada keluarganya di Paris.
"Gimana dengan keluarga nak Zain? Apakah sudah mengetahui tentang keadaan Cha?" tanya Mamanya Cha.
"Sudah Tante. Mereka sangat menyukai Cha. Dan berharap Cha akan menjadi menantu di keluarga kami," jawab Zain.
Mamanya Cha merasa tanggung jawabnya lepas satu. Di tidak ingin membuang waktu untuk segera menikahkan anak-anaknya. Karena dia sendiri tidak mampu merawat mereka.
"Syukurlah kalau begitu. Tante harap, secepatnya minta orang tua kamu datang berkunjung kesini," pinta Mamanya Cha.
"Baik Tante," balas Zain.
"Maaf Tante, apakah boleh saya mengajak Cha untuk keluar. Saya ingin jalan-jalan di kota ini bersama Cha," pinta Zain dengan berharap di izinin.
"Oh boleh silahkan. Tapi setelah kita makan siang disini. Karena Cha sudah masak banyak tadi," ucap Mamanya Cha.
"Baik Tante," balas Zain.
"Cha, udah disiapkan semuanya nak?" tanya Mamanya.
"Sudah Ma."
"Ayo nak Zain, kita akan siang dulu disini," ajak Mamanya Cha.
"Iya Tante."
Mamanya Cha berdiri dan berjalan ke arah meja makan. Sedangkan Zain dan Cha berjalan di belakang Mamanya sambil saling menoleh dengan senyum mengembang.
Zain mengambil tempat duduk di samping Mamanya Cha dan bersebalahan dengan Cha.
"Cha ambilkan buat Zain," perintah Mamanya.
Cha menatap heran ke Mamanya. Sikap Mamanya sangat berbeda.
"Apakah Mama ingin aku belajar menjadi istri yang baik? Semoga Mama sadar melakukan ini," bathin Cha sambil mengambil nasi dan lauk buat Zain.
Selain mereka, Sika dan Ina serta si bungsu ikut makan bareng bersama-sama. Zain menikmati makan siangnya yang pertama bersama keluarga Cha. Dia melihat kurangnya keakraban diantara mereka. Namun Zain tidak mempermasalahkannya.
"Ayo nak Zain di tambah. Jangan sungkan-sungkan," ucap Mamanya Cha.
"Iya Tante, nanti kalau kurang pasti saya ambil lagi."
Tak berapa lama, mereka menyelesaikan makan siang bersama. Zain kembali ke ruang tamu bersama Mamanya Cha dan Cha.
"Baiklah Tante, saya mau pamit ngajak Cha keluar sekarang," pamit Zain.
"Jangan lama-lama ya nak Zain. Dan antarkan balik Cha kesini," ucap Mamanya Cha yang memberi izin.
"Baik Tante, ," balas Zain.
__ADS_1
"Ma, Cha keluar dulu ya sama Zain, Assalamu'alaikum," pamit Cha sambil mencium tangan Mamanya.
"Wa'alaikumussalam, jangan lama-lama ya Cha pulangnya," ucap Mamanya memperingatinya.
"Iya Ma," jawab Cha.
Zain dan Cha pergi meninggalkan rumahnya. Zain mengajak Cha ke tempat dia menginap.
"Sayang, kita ke Hotel aja ya. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu," ajak Zain yang dari tadi sudah menahan rindunya.
Zain sudah tak sabar ingin memeluk Cha sampai puas. Dan dia juga sudah tak sabar mau memberitahukan berita bahagia ini ke Oma dan ornsg tuanya.
"Iya Zain. Aku kangen sama kamu Zain," ucap Cha tiba-tiba.
"Benarkah?!" Zain tak percaya, Cha bisa mengucapkan kata itu terlebih dahulu.
"Bener Zain....! Aku kangen sama kamu loh," ulang Cha lagi.
Zain langsung mengambil tangan Cha dan menciumnya berulang kali.
"Aku juga kangen banget sayang! Aku senang mendengarnya. Kalau gitu, kita akan menghabiskan dan meluapkan rasa kangen kita di hotel," ucap Zain dengan senyum misteriusnya.
"Heum," Cha menganggukkan kepalanya.
Zain bergegas membawa mobilnya menuju Hotel. Rasa senang dan gembira menyatu dalam diri Zain.
"Ayo sayang kita masuk," ajak Zain.
Cha pun masuk ke dalam dan melihat suasana kamar itu.
"Binyu kemana Zain? Apakah dia sudah kembali ke Jakarta?" tanya Cha.
"Sudah sayang. Dia tadi kembali ke Jakarta sebelum aku pergi ke rumah kamu," jawab Zain.
Cha tak banyak bertanya lagi tentang Binyu. Dia tidak mau Zain merasa cemburu.
Zain berjalan menghampiri Cha dan dia memeluk Cha dari belakang. Mereka berjalan ke arah balkon sambil berpelukan.
"Zain, nanti kita tersandung jika berjalan seperti ini," protes Cha.
"Kalau jatuh, aku akan menangkapmu biar tak jatuh ke lantai. Melainkan jatuh ke pelukan ku, hehehe," balas Zain.
Zain terus mencium Cha dari belakang. Mulai dari rambut hingga ke leher Cha. Cah tiba-tiba bersuara merdu.
"Zain ahhhhh," ucap Cha terlepas dari bibirnya.
Zain semakin suka mendengar suara merdu Cha. Lalu Zain membalikkan tubuh Cha hingga mereka saling berhadapan. Zain menatap Cha dengan intens. Lalu dia memiringkan kepalanya dan melum*** bibir manis Cha. Cha tidak menolaknya, dia justru meresponnya.
Mereka saling membalas, perpaduan dan saling membelit serta bertukar salivanya. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut. Zain tak kuasa menahan hasrat di dalam tubuhnya. Dia benar-benar tidak kuat lagi, hingga Zain melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuh mereka.
__ADS_1
Zain menggendong Cha seperti anak koala. Lalu dia meletakkan Cha diatas tempat tidurnya. Perlahan Zain membaringkan tubuh polos Cha yang tanpa benang sehelai pun.
Kemudian Zain kembali melancarkan serangannya, dia terus memberikan Cha kecupan disana sini hingga membuat Cha mendesah. Zain tidak sabar ingin menyenangkan senjatanya. Tanpa berlama-lama, dia mengarahkan senjatanya yang sudah siap tempur ke arah sasarannya. Dengan sekali hentakkan, senjatanya sudah masuk ke dalam sarungnya.
Keduanya mengerang dan mendesah. Lama tak melakukannya, membuat Zain dan Cha berhasrat. Zain terus menerus menghentakkan senjatanya menghujam milik Cha.
"Owhhhh Cha....!" erang Zain.
"Zain.....ahhhhh," desah Cha.
Zain terus melakukannya, hingga suara-suara merdu terdengar di dalam ruangan itu. Ruangan yang kedap suara. Dan tidak akan ada yang mendengar suara ribut yang di ciptakan mereka berdua.
Hingga beberapa kali mereka melakukan, dan akhirnya Zain memuntahkan miliknya ke dalam milik Cha. Mereka secara bersama melakukannya hingga Zain terkulai di samping Cha. Begitupun dengan Cha, dia benar-benar lemas. Karena Zain tak henti-hentinya melakukannya.
"Sayang, kamu benar-benar nikmat, sempit dan memuaskan," puji Zain sambil mengecup kening Cha.
Cha merasa malu mendengar pujian dari Zain. Baginya itu sangatlah vulgar di ucapkan.
"Sayang, aku mau menghubungi Oma dan Mama. Mereka pasti sangat senang mendengar berita tentang kita yang mendapat restu dari Maman kamu," ucap Zain bersemangat.
"Aku juga Zain ,tak menyangka kalau Mama akan berlaku seperti itu. Ini diluar pemikiran ku Zain," balas Cha.
"Iya sayang, kita harus bersyukur karena semua berjalan lancar," sambung Zain.
Lalu Zain turun dari tempat tidur tanpa menggunakan pakaian. Dia mengambil ponselnya di meja dan menekan no tlp Mamanya. Beberapa kali panggilan tak ada sahutan. Hingga panggilan berikutnya baru terdengar suara Mamanya.
"Assalamu'alaikum Ma!" sapa Zain dengan nada senang.
"Wa'alaikumussalam sayang, kamu dimana Zain?" tanya Mamanya.
"Zain masih di Medan Ma. Gimana Khabar disana, kalian sehatkan?" tanya Zain balik.
"Oma kamu sudah menanyakan kamu terus menerus. Kapan kamu kembali ke Paris Zain?" tanya Mamanya lagi.
"Belom tau Ma. Dan Zain saat ini punya Khabar gembira untuk dibagikan," jelas Zain.
"Wah khabar apa itu sayang?" tanya Mamanya penasaran.
"Mama dan Papa serta Oma pasti tidak menyangka tentang apa yang akan Zain beritahukan," ucap Zain menggantung.
"Ayolah Zain jangan buat kami disini penasaran," protes Mamanya.
"Apakah Mama sedang bersama Oma dan Papa?" tanya Zain.
"Tentu Zain, mereka berada di sebelah Mama. Apa kamu ingin mendengar suara mereka?" tanya Mamanya.
"Ya, kami ingin mendengar suara Oma disana," jawab Zain.
Zain dan Cha saling bertatapan. Mereka menunggu Omanya berbicara.
__ADS_1