
Zain sangat menikmati malam indahnya bersama Cha. Zain yang terkenal dingin dan kejam, dihadapan Cha, dia seperti seseorang yang bucin.
"Zain...!" panggil Cha.
"Iya kenapa Cha..," sahut Zain.
"Udah yuk, kita ke alun-alun. Aku pengen kamu mencoba jalan diantara dua pohon beringin," ucap Cha mengajak Zain.
Zain pun mendatangi Cha yang duduk di bangku taman. Di duduk disamping Cha sambil merangkulnya.
"Emang apa manfaatnya, aku melakukan itu?" tanya Zain.
"Aku juga kurang tau, tapi coba aja kalau kamu punya niat apa gitu, sapa tau dikabulkan," jawab Cha jelas.
"Oh..., baiklah. Aku punya keinginan dan sangaaaaat ingin," balas Zain.
"Ya udah yuk," ajak Cha.
"Kita kesana naik apa Cha...? Kan sudah tidak ada busway," tanya Zain.
"Kita naik becak aja. Aku pengen coba becak di Jogja," ucap Cha sambil berdiri mencari becak.
"Waowww..boleh juga tuh. Sepertinya seru," semangat Zain. Dia pun ikut berdiri dan mencari keberadaan becak.
Cha melihat di dekat museum, ada becak yang lagi nongkrong. Mereka pun menghampiri becak itu.
"Nuwun sewu Pak, saged dipun ajak dhateng alun-alun kidul?" tanya Zain.
"(Permisi Pak, bisa antarkan kita ke alun-alun kidul)?" tanya Zain.
"Oh inggih mas, mbak. Enteni aku mudhun ngarep supaya sampeyan bisa munggah," jawab si tukang becak.
"(oh bisa mas, mbak. Tunggu saya turunkan dulu bagian depannya biar mbak nya bisa naik)," jawab tukang becak itu.
Akhirnya Cha dan Zain menaiki becak itu. Cha merasakan hal yang menyenangkan. Karena dia baru pertama kali naik becak bersama seorang pria. Begitu juga dengan Zain. Benar-benar moment yang sangat romantis menurut Zain. Hingga mereka mengabadikan foto bersama diatas becak.
"Ya ampun Zain, ini benar-benar luar biasa. Menikmati malam di Malioboro sambil naik becak," kagum Cha.
"Iya Cha, aku juga baru kali ini naik becak sama orang spesial," balas Zain sambil menggenggam tangan Cha.
"Sayang, kamu gak kedinginan?" tanya Zain khawatir dengan Cha.
"Dingin sih Zain. Tapi aku pengen aja ke alun-alun," jawab Cha yang memeluk Zain erat dari samping.
"Gimana kalau kita beli jaket dulu biar kamu tidak kedinginan sayang," ujar Zain yang membalas pelukan Cha.
"Gak usah Zain. Gak apa-apa kok," balas Cha.
Setelah berputar-putar menaiki becak. Mereka akhirnya sampai di alun-alun.
"Iki arep menyang ngendi mas?" tanya tukang becak itu kepada mereka.
"(Ini mau turun dimana mas)?" tanya tukang becak itu.
"Disitu aja Pak biar dekat dengan pohon beringinnya," Cha yang menjawab.
Becak pun berhenti di dekat pohon beringin. Mereka turun dari becak. Dan Zain membayar upah becaknya. Lalu Zain menggandeng tangan Cha berjalan menuju ke pohon beringin itu.
"Ini maksud kamu Cha?" tanya Zain penasaran.
"Iya Zain, ini dia pohon beringin ya. Kamu mau coba gak jalan di tengah-tengah nya, kalau kamu bisa jalan lurus melewati pohon itu, katanya apa yang kamu ingin kan terkabulkan karena kamu memiliki hati yg tulus dan bersih," jelas Cha memberitahukan kepada Zain.
"Ok, aku akan coba. Mudah-mudahan ya," ucap Zain.
Lalu Zain mengeluarkan sapu tangannya dan meminta Cha memakaikannya untuk menutup mata nya. Lalu Zain berdoa dan berniat. Kemudian dia menarik nafas dan mulai berjalan. Awalnya dia merasa bimbang untuk melangkah, namun dia penasaran dengan apa yang di katakan Cha.
__ADS_1
Zain berjalan, dan sesekali dia berhenti untuk perlahan berjalan kembali hingga Zain benar-benar bisa berjalan lurus sampai melewati pohon beringin itu.
Cha menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia menatap takjub dengan Zain karena bisa melewati beringin itu dengan berjalan lurus.
"Zaiiin, kamu bisa melewati beringin itu!" teriak Cha dari belakang Zain. Cha berjalan mendekati Zain yang diam berdiri. Lalu Cha membuka penutup mata Zain dan melihat kearah Zain.
"Gimana Cha, apakah aku berhasil melewatinya?" tanya Zain sambil menetralkan penglihatannya.
"Iya Zain, kamu berhasil loh. Hebat kamu Zain!" seru Cha merasa senang.
"Waowww...berarti nanti keinginanku akan terkabul dong Cha," sahut Zain antusias.
"Emang, kamu meminta apa Zain?" tanya Cha penasaran.
"Sini aku bisikkan," ucap Zain.
Cha pun mendekatkan dirinya ke dekat Zain. Lalu Zain membisikkan sesuatu, membuat Cha diam mematung.
"Aku meminta kepada Allah SWT, kedepannya aku bisa menikah dengan kamu dan memiliki anak-anak yang lucu," bisik Zain senang.
Cha memalingkan wajahnya ke arah Zain dan menatapnya dengan lekat.
"Kenapa kamu mengharapkan aku Zain?" Apa kamu tidak takut terluka?" tanya Cha menatap sendu.
Zain memegang kedua pipi Cha dan berkata dihadapannya.
"Aku tidak takut terluka sayang. Kalau pun kamu meninggalkan ku karena memilih dia, aku ikhlas dan tidak akan bisa menggantikan posisi kamu dihatiku sampai hidupku berakhir," ucap Zain dengan menatap mata Cha penuh kasih sayang.
Cha langsung memeluk Zain. Dia pun menangis terharu mendapatkan cinta dari seorang Zain yang kejam dan dingin. Cha membisikkan sesuatu.
"Jika kau ingin menungguku, tunggulah. Mudah-mudahan Allah mendengarkan doa mu Zain, aamiin," ucap Cha sambil melepaskan pelukannya.
"Aamiin," sahut Zain tersenyum.
"Aku mau istirahat. Dah cukup jalan-jalannya," jawab Zain.
"Mau naik apa nih, becak lagi atau grab online?" tanya Cha yang memberi pilihan.
"Kayaknya naik becak aja deh Cha. Seru kalau naik becak," jawab Zain.
Mereka berjalan kaki sedikit kearah depan untuk mendapatkan becak. Cha melihat ada becak yang akan melintasi mereka. Lalu dia pun bersiap-siap untuk menyetopnya.
Setelah Cha menyetop becak itu, mereka meminta diantarkan ke Hotel yang berada di Malioboro.
"Pak, sampeyan bisa ngeterake hotel ing Malioboro iki?" tanya Zain yang memang bisa bahasa Jawa.
"(Pak, bisa antarkan kami ke Hotel di Malioboro ini)?" tanya Zain.
"Oh bisa, mas, mbak. Ayo munggah dakgawa mrana," jawab si tukang becak.
"(Oh bisa mas, mbak..Ayo naik biar saya antaran kalian kesana)" jawab si tukang becak.
Cha dan Zain pun naik keatas becak. Mereka lagi-lagi menikmati malam hari di sekitar alun-alun menuju Malioboro. Cha yang sudah kecapean, dia pun menyandarkan kepalanya di bahu Zain. Zain tersenyum melihat sikap Cha yang manja.
"Sayang, kamu ngantuk ya?" tanya Zain.
"Iya Zain, capek," jawab Cha singkat.
"Ya udah tidurlah, nanti kalau udah sampai, aku bangunin," balas Zain sambil mengusap rambut Cha.
Cha pun tertidur di pundak Zain, dia memejamkan matanya dengan sangat nyaman. Hingga beberapa menit berjalan, Cha justru ketiduran dengan sangat lelap. Zain yang melihat Cha terlelap, tidak tega membangunkannya. Lalu dia pun menggendong Cha ala bridal style lalu masuk ke dalam hotel.
Sesampainya di dalam hotel, Zain meminta tolong kepada room boy untuk membantu nya membawakan barang-barangnya ke dalam kamar karena Zain sedang menggendong Cha menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar, Zain meletakkan Cha diatas tempat tidur dengan pelan. Setelah itu dia pun menghubungi asistennya untuk mempersiapkan keberangkatannya besok pagi.
__ADS_1
Setelah selesai urusan nya, Zain pun tidur disamping Cha sambil memeluknya. Mereka berdua tidur dengan pulas. Hingga pagi menjelang, Cha terbangun dan menatap ke sekeliling nya.
"Ini dimana?" tanya Cha sendiri. Lalu dia melihat tangan yang sedang memeluknya. Dia melihat Zain yang masih tidur dengan pulasnya.
Ketika Cha hendak bangkit turun dari tempat tidur, tiba-tiba Zain menariknya hingga Cha berada dipelukan Zain dalam posisi saling berhadapan. Zain membuka matanya dan menatap Cha intens. Cha yang ditatap seperti itu merasa salah tingkah.
"Ke...kenapa kamu menatap ku seperti itu Zain?" tanya Cha.
"Kamu cantik saat bangun tidur," goda Zain.
"Dasar gombal. Udah lepasin," ucap Cha yang berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Zain.
"Tidak akan, biarkan seperti ini Cha. Aku sangat nyaman memelukmu," ucap Zain dengan suara seraknya.
Zain tidak hanya memeluk Cha, dia pun mulai menggerayangi tubuh Cha. Cha yang disentuh seperti itu, merasa geli dan bergerak-gerak hingga membuat Zain merangsang.
Zain mulai mendekatkan wajah nya ke arah Cha dan langsung mel**** bibir Cha yang menjadi candunya. Cha pun tak bisa menolak, dia membalas nya hingga ciuman itu menjadi panas. Mereka sama-sama merasa bergairah hingga terjadilah pergulatan panas di pagi hari hingga beberapa jam lamanya.
Zain terkulai lemas di samping Cha sambil memeluk Cha.
"Sayang, pagi ini setelah aku mengantar kamu ke kampus, aku akan kembali ke Paris. Kamu hati-hati ya diJogja," pesan Zain sambil mengecup kening Cha.
Cha hanya bisa mengangguk karena dia kelelahan menghadapi hasrat Zain.
"Kamu capek ya sayang, maaf. Habis kamu buat aku ketagihan terus," ucap Zain tersenyum.
"Aku mau mandi Zain. Nih sudah jam berapa. Nanti telat ke kampusnya, ucap Cha.
"Ayo kita mandi bersama. Aku janji gak akan ngajak kamu main lagi. Kasihan kamunya. Yuk biar aku gendong ke kamar mandi," ucap Zain yang membantu Cha menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi mereka berendam sambil bersenda gurau hingga selesai mandinya.
Mereka pun bersiap-siap untuk cek out dari hotel itu dan keluar menuju mobil. Lalu Zain mengantar Cha balik ke kost nya terlebih dahulu.
"Kita mampir Diklat ku dulu ya Zain," pinta Cha.
"Ok sayang," balas Zain.
Sesampainya di kost, Cha masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan Zain hanya menunggu di dalam mobil karena Cha hanya sebentar ke kamarnya. Ketika Cha keluar kamar dan mau menuju mobil, teman kost Meka menyapanya.
"Loh Mek, kemaren kemana gak pulang?" tanya Melda yang kepengen tau.
"Oh..., aku tempat teman. Maaf ya Mel, aku buru-buru mau ke kampus, takut telat," ujar Cha meninggalkan Melda dengan sejuta pertanyaan.
Cha pun memasuki mobil dan tersenyum melihat Zain.
"Ayo berangkat Zain," ajak Cha.
Mereka pun berangkat menuju kampus Cha. Beberapa menit perjalanan, mereka sampai di kampus Cha.
"Sayang, aku antar kamu ke dalam ya," pinta Zain.
Cha pun mengangguk menyetujui permintaan Zain.
Mereka berdua berjalan memasuki area kampus. Banyak mata yang memandang kearah mereka. Namun mereka tak perduli. Hingga sampai di depan kelas Cha. Zain pun berpamitan kepada Cha.
"Sayang, aku pamit ya. Aku berangkat sekarang. Kamu hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa langsung khabari aku. Jaga diri kamu dan jangan macam-macam," ucap Zain dengan tatapan sedihnya.
"Iya Zain, kamu juga hati-hati disana. Kapan pun kamu ke sini, aku akan menunggu," balas Cha yang berusaha terlihat ceria di hadapan Zain.
Zain pun memeluk Cha dan mengecup keningnya lama. Lalu Zain membalikkan tubuhnya berjalan keluar kampus.
Cha melambaikan tangannya ke arah Zain. Hingga tak sadar air matanya keluar di sudut mata. Cha buru-buru ke toilet, menumpahkan air matanya di sana. Dia merasa kehilangan sosok Zain yang beberapa hari menemaninya diJogja.
Setelah puas menangis, Cha keluar dari toilet menuju kelasnya. Di dalam kelas, Cha lebih memilih diam dan tidak menyapa teman yang lainnya. Dia mulai membuat foto-foto nya bersama Zain.
__ADS_1