
Zain datang menghampiri Cha dan berdiri dihadapannya.
"Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi? Dan kenapa kamu menangis, ceritakan sama aku ada apa?" tanya Zain sambil memegang bahu Cha.
Cha mendongakkan wajahnya menatap kearah Zain. Dia langsung memeluk erat tubuh Zain.
"Cha kamu kenapa? Jangan buat aku khawatir gini!"
Cha makin terisak, dia gak bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Mamanya dan kehidupan mereka.
"Zaaiinn, hiks hiks hiks. Papa dan Mamaku berpisah, hiks hiks hiks," suara tangis Cha pecah saat mengucapkannya.
"Astaghfirullahal'adzim Cha..., kamu dapat informasi dari siapa?" tanya Zain yang kasihan melihat kehidupan Cha.
"Tadi adikku Sika membalas pesanku Zain. Dia mengatakan kalau kemaren Papaku memberikan surat perceraian kepada Mamaku Zain. Dan...dan Mamaku menjadi setress Zain. Hiks hiks hiks," Cha menangis tersedu-sedu.
Cha tidak menyangka akan menghadapi peristiwa menyakitkan secara beruntun. Ditinggal orang yang dinantikannya dan menjadi anak keluarga Broken Home. Benar-benar kehidupan yang menyedihkan bagi Cha.
"Terus sekarang gimana keadaan Mama kamu Cha? Dan adik kamu sama siapa disana?" tanya Zain prihatin.
"Adik-adikku dijaga sama tetanggaku Zain. Dan hari ini Kakak dan Abangku pulang kerumah untuk melihat kondisi Mama dan adikku."
Zain menatap iba terhadap Cha. Dia langsung memeluk Cha dengan erat.
"Kamu yang sabar ya sayang. Apa aku antar kamu pulang ke Indonesia? Biar bisa melihat keadaan keluargamu disana," Zain menawarkan diri untuk membantu Cha.
"Iya Zain. Tapi aku harus menyelesaikan masalahku yang kemaren. Kapan kita berangkat ke Belanda? Bukannya lusa pestanya?" tanya Cha yang sudah gak sabaran ingin melihat kebenarannya.
"Kemungkinan besok kita berangkat. Tapi aku pastikan dulu sama Papa dan Mama."
"Setelah itu selesai, aku ingin langsung kembali ke Indonesia ke rumah."
"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya. Apapun yang terjadi denganmu, jangan pernah merasa sendiri ya Cha. Ada aku selalu untukmu," ucap Zain yang menyemangati Cha.
"Terima kasih Zain. Kamu baik sekali, aku gak bisa balas kebaikanmu saat ini. Beri aku waktu untuk memantapkan hatiku," pinta Cha dengan penuh harap.
"Aku akan setia menunggumu Cha. Sekarang kamu istirahat ya sayang. Nanti biar aku yang anter makan malam kamu ke kamar. Biar kita makan malam bareng ya."
"Iya Zain. Kamu temani aku ya disini sampai aku tertidur," pinta Cha dengan manja.
"Iya, sekarang naiklah ketempat tidur. Aku akan menunggumu sampai kamu tertidur."
Lalu Cha berjalan kearah tempat tidur. Dia pun merebahkan tubuhnya sambil membelakangi Zain.
"Tidurlah sayang, aku akan duduk disampingmu," ucap Zain yang sudah duduk dipinggiran tempat tidur.
__ADS_1
Zain memandangi punggung Cha sambil membelai-belai rambut halus Cha dengan kelembutan dan penuh kasih sayang.
Meka yang diperlakukan dengan belaian merasa terbuai dan dia akhirnya terlelap dalam tidurnya.
Setelah Cha tertidur dengan pulas, Zain perlahan berdiri dan meninggalkan Cha. Dia berjalan keluar dari kamar Cha. Zain berjalan menuju kamar Mamanya.
"Tok tok tok, Ma!" panggil Zain.
Kemudian pintu kamar terbuka dan Mamanya melihat Zain berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ada apa sayang?" tanya Mamanya.
"Mom, bisa kita bicara sekarang?" tanya Zian serius.
"Apa kamu ada masalah sayang? Kenapa wajah kamu sedih begitu," Mamanya Zain memegang wajah anaknya dan menelisik.
"Tidak Mom. Bukan Zain, tapi Cha."
"Ada apa dengan Cha? Apa ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan Zain?" tanya Mamanya dengan tatapan tajam.
Zain nyelonong masuk kedalam kamar Mamanya dan duduk di sofa.
"Mom duduklah disini. Mana mungkin Zai. ceritanya didepan pintu kamar Mama," protes Zain.
"Ini mengenai Cha, Mom. Dia bertanya kapan kita berangkat ke Belanda. Zain bilang kalau kita besok berangkatnya. Menurut Mama gimana?" Zain bertanya balik.
"Ya Mama sih gak masalah sayang. Jangan meribetkan sesuatu yang tidak ribet. Besok kita berangkat. Papa juga pasti setuju. Biar kita ada persiapan sampai disana," jelas Mamanya.
"Zain setuju Mom. Kalau begitu Zain akan sampaikan sama Oma dan Cha agar mempersiapkan segala keperluan yang akan dibawa."
"Ok masalahnya sudah kelar. Terus apa masih ada problem yang lainnya Zian?" tanya Mamanya memancing Zain untuk cerita.
"Iya Mom. Ini masih tentang Cha," jawab Zian.
"Cha kenapa Zain?" tanya Mamanya khawatir.
"Mom, dia benar-benar terpuruk kali ini. Karena Mama dan Papanya bercerai. Akibat itu Mamanya setres dan adik-adiknya ditemani sama tetangganya."
"Astaghfirullahal'adzim Zain...! Benarkah itu?! Ya Allah kasihan sekali Cha. Pasti dia sangat sedih. Begitu banyak yang dirasakannya dan dihadapinya," Mamanya Zain pun ikut terkejut mendengar cerita anaknya.
"Iya Mom. Zain gak tega lihat keadaan Cha sekarang. Rasanya Zain pengen nikahi dia sekarang juga, biar bisa menemaninya dan menjadi sandaran buatnya," harap Zain.
"Maunya kamu tuh. Anaknya lagi sedih, kamu malah bahas soal nikah," protes Mamanya.
"Loh, emang apa salahnya Mom?! Niat Zain baik kok," ucap Zain.
__ADS_1
"Ya niat kamu benar sayang, tapi waktunya yang gak tepat. Udah ah jangan bahas itu dulu. Sekarang Mama mau lihat keadaan Cha."
"Dia baru aja tidur Mom. Zain menyuruhnya istirahat, biar dia tidak larut dalam kesedihannya Mom."
"Oh syukurlah, nanti suruh Asisstent rumah untuk mengantar makan malamnya ke kamar Cha," perintah Mamanya.
"Biar Zain aja Ma yang bawakan makan malamnya buat Cha. Dan Zain juga pengen makan bareng sama Cha di kamar," pinta Zain.
"Baiklah sayang. Mama berharap Cha kuat menghadapi semua kejadian yang beruntun saat ini," harap Mamanya.
"Iya Ma, Zain juga berharap seperti itu. Zain akan membuat hidup Cha bahagia. Apakah Zain boleh menjadi pendampingnya Mom?" tanya Zain yang meminta restu Mamanya.
"Of course sayang! Mama senang jika Cha menjadi mantu Mama. Tapi ingat, jangan sakiti Cha seperti yang lainnya. Kalau kamu menyakitinya, itu sama aja kamu menyakiti Mama dan Omanya, ngerti Zain!" ancam Mamanya.
"Iya Mama, Zain tidak akan menyakiti Cha. Zain janji Ma!" Zain menunjukkan jari kelingkingnya tanda berjanji.
"Ya sudah, kamu kembalilah ke kamarmu. Nanti Mama akan membicarakannya sama Papamu untuk keberangkatan kita besok. Kamu istirahatlah dikamar."
"Iya Mom, Zain kembali ke kamar ya," Lalu Zain keluar dari dalam kamar Mamanya dan dia berjalan kembali ke kamarnya dimana ada Cha yang sedang tidur.
Zain membuka pintu kamarnya dan melihat Cha masih dalam keadaan tidur.
Lalu dia masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya yang terasa gerah. Zain berendam air hangat untuk merilekskan tubuhnya.
Cha terbangun dari tempat tidurnya karena dia mendengar sesuatu. Namun dia tidak melihat siapapun didalam kamarnya. Cha tidak mengetahui bahwa didalam kamar mandi ada Zain yang sedang merilekskan tubuhnya.
Cha berjalan kearah kamar mandi dan membuka pintunya. Lalu dia menutup kembali pintu kamar mandinya. Saat dia hendak membuka celananya, tiba-tiba Zain keluar dari dalam air dan menghampiri Cha.
"Sayang kamu mau mandi bareng aku?" tanya Zain pura-pura polos.
Cha tersentak dan menjerit. "Zaaaainnn...!"
"Kenapa gak bilang kalau kamu ada didalam kamar mandi, hah..!" teriak Cha yang tak mau menghadap kearah Zain.
"Hehehe, habis kamu main nyelonong aja. Terus gak lihat kedepan kalau masuk," protes Zain.
Cha buru-buru keluar dari dalam kamar mandi sebelum Zain berbuat yang macem-macem terhadapnya.
Zain tertawa terbahak-bahak melihat aksi Cha yang ketakutan dan buru-buru keluar kamar mandi. Lalu dia pun melanjutkan acara mandinya yang tertunda.
Sedangkan Cha ngedumel diluar kamar mandi. Dia merasa malu karena melihat tubuh Zain yang polos tanpa busana. Walaupun Cha pernah melihatnya, namun tetap saja dia merasa malu jika melihatnya lagi.
Cha membaringkan tubuhnya kembali keatas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Dia mulai memejamkan matanya hingga dia terlelap kembali.
Zain yang sudah selesai mandi, langsung keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Cha yang tidur kembali diatas tempat tidur. Setelah selesai berpakaian, Zain pun ikut membaringkan tubuhnya disamping Cha. Dia memeluk tubuh Cha dari samping hingga dia juga ikutan terlelap. Mereka berdua terbuai dalam mimpi hingga menjelang malam.
__ADS_1