
"Apakah itu Cha? Ngapain dia disini. Dan siapa laki-laki itu?" gumam laki-laki itu yang masih berdiri di depan kamar nya melihat ke arah kost-kostan cewek.
Zain dan Cha sedang berada di dalam kamar kost-kostan.
"Kenapa kamu membayar uang kost-kostan ku Zain?" tanya Cha yang duduk diatas tempat tidur minimalis.
"Aku ingin yang ternyaman buat kamu Cha. Walaupun kamu blom menerima cintaku, tapi aku ikhlas melakukannya," Jawa Zain sambil mengusap-usap rambut Cha.
"Tapi aku harus bilang apa sama mamaku Zain! Mereka pasti bertanya, kenapa kost-kostan ku bagus. Sedangkan mamaku tidak memperbolehkan aku ngekost di tempat yang mewah," ucap Cha sendu.
"Kamu tlp aja mama kamu yanx. Bilang sekarang kamu ngekost. Dan bilang saja uang kost nya sekian, jadi mama kamu bisa ngirim ke kamu dan uang itu bisa kamu pergunakan untuk keperluan kamu yang lainnya. Iya kan!" ucap Zain memberi saran.
Cha pun terdiam, dia menatap ke arah Zaon sambil tersenyum.
"Terima kasih Zain. Disaat aku lagi kebingungan, kamu datang menemani ku dan membantu ku," ucap Cha dengan wajah sendunya.
Zain pun duduk disebelah Cha dan memeluk nya dengan erat.
"Aku akan selalu ada untuk kamu Cha. Aku sangat mencintaimu dan menyayangimu. Jadi biarkan aku membantu mu sebisa ku. Aku harap kamu jangan menolaknya," balas Zain memohon.
"Heum, walaupun aku blom menerima cintamu, apa kamu akan setia disampingku?" tanya Meka menatap Zain.
"Sure! aku akan selalu disampingmu dalam keadaan apapun. Ok baby," jawab Zain sambil menatap mata Cha.
Zain mendekatkan wajahnya ke Cha dan perlahan dia mulai mel**** bibir Cha yang sudah menjadi candunya. Ciuman yang diberikan Zain sangat lembut hingga membuat keduanya bergairah. Cha memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Zain. Dia tidak mampu menolak sentuhan Zain yang begitu lembut. Mereka berdua merasakan sensasi yang membangkitkan hasrat mereka. Namun Zain berusaha menahannya hingga tiba waktunya.
Cha melepaskan tautan bibirnya. Dia tersipu malu melihat Zain tersenyum menggoda.
"Jangan lihatin aku seperti itu Zain!" seru Cha malu-malu.
"Hehehe, habis kamu gemesin," goda Zain cengengesan.
Cha memukul lengan Zain pelan. Zain pun tertawa menanggapinya.
"Zain, aku kurang suka dengan tempat tidur kost-kostan ini. Bisa gak ya aku menggantinya?" tanya Zain yang heran dengan keinginan Cha.
"Aku tidak suka bekas orang Zain. Makanya aku mau cari kost-kostan yang kosongan," jelas Cha.
"Oh..,ok gak masalah. Itu semua bisa diatur," jawab Zain.
"Gimana caranya?" tanya Cha.
Zain pun mulai menghubungi no Ibu kost itu. Hingga beberapa kali berdering, terdengar sahutan dari seberang.
"Hallo apakah saya bisa bicara dengan Bu Ica?" tanya Zain.
"Ya, saya sendiri. Maaf ini siapa ya?" tanya Bu Ica balik.
"Saya yang tadi baru datang menempati kost baru. Saya mau request Bu, calon saya mau ganti tempat tidur. Apakah saya bisa mengeluarkan tempat tidur ini dari dalam kamar saya?" tanya Zain.
"Tapi, saya tidak mungkin membeli tempat tidur baru lagi mas. Gimana dong mas?" tanya Bu Ica.
"Gak masalah Bu. Kami mau beli sendiri tempat tidurnya. Saya hanya mau meminta izin sama Ibu untuk mengeluarkan tempat tidur ini dari dalam kamar. Kira-kira dimana saya bisa meletakkannya Bu?" tanya Zain lagi.
__ADS_1
"Oh...gitu toh. Ya sis ndak apa-apa mas. Nanti tempat tidur nya letak aja di depan. Biar saya hubungi satpam nya dulu biar dia yang mengaturnya," sahut Bu Ica.
"Baik kalau begitu Bu, saya tunggu sekarang ya Bu, terima kasih," ucap Zain lalu menutup tlpnya.
"Gimana Zain?" tanya Cha penasaran.
"Sebentar lagi ada yang akan kemari. Yuk kita nunggu diluar aja. Habis tuh kita jalan-jalan ke Malioboro membeli perlengkapan kamu," ucap Zain mengajak Cha keluar kamar.
Mereka pun keluar dari kamar, terlihat dua orang berjalan ke arah kamar Cha.
"Maaf mas, tadi mas e yang minta di pindahkan tempat tidurnya ya?" tanya orang itu.
"Iya pak, bapak masuk aja kedalam. Tempat tidurnya bisa dikeluarkan sekarang," ucap Zain menyuruh mereka ke dalam mengangkat tempat tidur itu.
Setelah kedua orang itu mengeluarkan tempat tidur dipan minimalis itu, Cha dan Zain pergi meninggalkan kost-kostan itu.
Diseberang kost-kostan cewek, seorang laki-laki yang tadi melihat Cha, masih berada dikamar kostnya. Dia sedang bersama temannya kumpul. Dia melihat Cha keluar bersama Zain.
"Apa mereka kemari berkunjung? Atau Cha mau ngekost disini?" bathin laki-laki itu yang tak lain adalah Ghani.
Ghani melihat mereka sudah keluar dari area kost-kostan. Dan dia kembali kumpul bersama teman-temannya.
Sedangkan Zain dan Cha saat ini sudah berada di dalam mobil. Zain mengajak Cha untuk membeli perlengkapan kamarnya. Mereka memutuskan untuk pergi ke Malioboro. Karena disana lengkap semua yang dibutuhkan Cha.
"Oh ya Zain, apa ya yang harus aku katakan ke mamanya Shanti?" tanya Cha yang meminta pendapat Zain.
"Ya kamu tinggal bilang, pengen ngekost dekat dengan kampus kamu biar lebih dekat," pendapat Zain.
"Trus kalau ditanya, kamu ngekost dimana?" tanya Cha lagi.
Walaupun Zain belom pernah bertemu dan berkenalan dengan Shanti, begitu mendengar ucapan Cha, dia yakin bahwa perempuan itu tidak baik dengan Cha.
"Iya ya. Tapi nanti kamu jangan ikut aku pulang ke rumah Shanti ya. Karena aku gak mau mereka mengetahui aku punya teman laki-laki disini," ucap Cha.
"Aku tetap ngantar kamu, tapi mungkin aku akan parkir jauh dari rumahnya Shanti. Biar kamu bareng sama aku balik ke kostan," balas Zain.
Tanpa terasa selama dalam perjalanan mereka banyak ngobrol, akhirnya mereka sampai juga di Malioboro. Mobil pun di parkiran di Mall Malioboro.
"Yuk keluar, kita jalan-jalan menelusuri Malioboro. Pokoknya kamu harus temani aku selama beberapa hari di Jogja, ok sayang," ucap Zain sembari menggenggam tangan Cha.
"Iya Zain," jawab Cha tersenyum bahagia.
Cha jadi mengingat Yoga. Sampai saat ini dia tidak pernah lagi menghubungi Cha. Padahal Cha berharap Yoga lah yang menemaninya saat ini. Ada rasa rindu dan kesal dengan sikap Yoga yang jarang memberi khabar. Cha pun menghela nafasnya. Terasa beban dihatinya berkurang sedikit karena kehadiran Zain.
"Terima kasih Zain, kamu mau datang jauh-jauh dari Paris sana. Beruntung sekali wanita yang nantinya menjadi pendampingmu. Andai saja kita bertemu lebih awal, mungkin saat ini aku akan merasa bahagia karena ditemani orang yang sangat aku cintai. Tapi maaf, saat ini hatiku masih menginginkan Yoga," bathin Cha sambil menundukkan pandangannya.
Mereka memasuki Mall Malioboro. Cha dan Zain jalan-jalan mengitari Mall itu. Hingga ada beberapa keperluan yang dibeli Cha. Setelah itu mereka keluar dari Mall dan berjalan sepanjang Malioboro.
"Cha, aku mau belikan kamu baju batik rumahan. Tapi harus pilihanku ya, kamu harus menerimanya," ucap Zain.
"Biar aku aja yang milih Zain," balas Cha.
"Gak, kali ini aku ingin beli pakaian batik couple an buat kita. Biar kamu ingat aku terus. Dan aku ingin kamu menggunakannya nanti malam saat kita makan malam di tempat yang sudah aku pesan," jelas Zain yang ingin ngasih surprise.
__ADS_1
"Iya baiklah," balas Cha.
Mereka terus berjalan, hingga mereka menemukan apa yang dicari. Zain dan Cha akhirnya membeli baju couple corak batik yang sangat bagus.
"Wah bagus ini Zain. Aku suka banget motif dan warnanya," ucap Cha kegirangan.
"Iya aku tau kamu suka warna ungu kan, sesuai aroma tubuhmu harum lavender," balas Zain sembari melingkarkan tangannya di pinggang Cha.
"Ngomong-ngomong dari mana kamu tau warna kesukaan ku Zain?" tanya Cha penasaran sambil menatap Zain.
"Ada deh, yang pasti, aku tau semua tentang kamu," jawab Zain menaik-naikkan alis nya.
"Hemmm pasti kamu cari tau tentang aku," cibir Cha.
"Hahaha," Zain tertawa melihat Cha yang manyun.
"Udah yuk, nih udah banyak banget Zain, belanjaannya. Gimana aku bawanya?" tanya Cha bingung yang melihat belanjaannya kebanyakan.
"Gampang, tinggal mereka yang bawa," tunjuk Zain ke arah beberapa bodyguard nya.
"Waowww, Lo bawa orang buat mengawal kita?" tanya Cha gak percaya.
Zain pun menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Cha.
"Keren Zain...,kayak orang penting aja dikawal," celetuk Cha.
Zain hanya senyum-senyum sendiri dengan sikap Cha yang menggemaskan baginya.
Akhirnya mereka selesai belanja. Lalu Zain mengantar Cha balik ke rumah Shanti. Namun Zain tidak berhenti didepan rumah Shanti, melainkan jarak beberapa meter dia memarkirkan mobilnya.
Cha pun berjalan memasuki rumah Shanti. Dia bertemu dengan Mamanya Shanti yang sudah pulang dari rumah adik nya.
"Loh nak Cha udah balik?" tanya mama ya Shanti.
"Iya Tante. Maaf Tante saya mau pamit sekalian. Karena mau pindah ke kost-kostan," jawab Cha.
"Loh kenapa pindah nak? Bukannya disini enak, nyaman. Apa nak Cha gak betah tinggal disini?" tanya mamanya Shanti lagi.
"Bukan begitu Tante. Saya kan tidak memiliki kendaraan, jadi saya memilih ngekost dekat kampus biar bisa jalan kaki," jawab Cha yang merasa gak enak.
"Oh...gitu toh. Kapan pindahnya nak Cha?" tanah mamanya Shanti lagi.
"Sekarang Tante karena, disana sudah saya bereskan semuanya. Jadi saya kemari mau ambil barang-barang saya dan sekalian pamit sama Tante dan eyang," jelas Cha.
"Ya udah, gak apa-apa. Tapi kalau ada waktu mainlah kemari. Tapi eyang lagi pergi sama si bibi tadi. Nanti Tante sampaikan ya," ucap mamanya Shanti.
"Baik Tante. Terima kasih udah ngasih Cha tempat tinggal disini," balas Cha sambil menyalami mamanya Shanti untuk berpamitan.
"Iya nak Cha," jawab mamanya Shanti.
Cha pun masuk ke kamar dan mengambil barang-barangnya. Lalu dia menghubungi Zain untuk menjemputnya kerumah Shanti dan menyuruh Zain mengaku sebagai grab online.
Zain pun datang. Namun yang menemui Cha adalah bodyguard Zain. Cha berpamitan dan meninggalkan rumah Shanti.
__ADS_1
Lalu cha masuk ke dalam mobil Zain. Zain menyambut Cha yang masuk ke dalam. Dia pun memberikan senyuman hangatnya kepada Cha
Mereka menuju kost-kostan baru Cha. Zain akan membantu Cha membenahi kamar kost-an Cha, agar bisa ditempati hari ini.