
Sesaat kemudian Dewi datang membawa beberapa buku yang akan mereka baca.
"Cha nih, aku bawakan beberapa buku untuk kita catat," ucap Dewi sambil meletakkan beberapa buku diatas meja.
"Waowww Wi, banyak banget nih. Lo mau nyuruh gw nginep di perpustakaan ini!" seru Cha sambil melihat satu-satu buku yang diletakkan Dewi.
"Kalian mau ngerjain tugas tentang apa?" tanya Ghani yang ikut melihat tumpukan buku itu.
"Loh kak Ghani masih disini?" tanya Dewi yang baru nyadar kalau Ghani masih duduk di meja mereka.
"Iya nih, ada lemnya di sini. Jadi gak bisa pergi," jawab Ghani ngasal.
"Masa sih. Coba sini Dewi periksa. Di perpustakaan kok ada lemnya," ucap Dewi yang pura-pura polos.
"Modus," pikir Ghani.
"Udah gak usah di gubris Wi, kak Ghani cuma nongkrong bentar aja disini. Iya kan kak," ucap Cha yang menatap ke arah Ghani.
"Gak juga, aku cuma mau nungguin kamu Cha biar pulang bareng," jawab Ghani blak-blakan.
Dewi tercengang mendengar ucapan blak-blakan dari seorang Ghani.
"Duh so sweet nya sahabat gw ini. Ditungguin sama pangeran kampus," celetuk Dewi sambil merangkul Cha.
Cha menatap Dewi dengan tajam dan melotot. Dewi yang ditatap seperti itu, bukannya takut. Justru dia malah cengengesan dan semakin bersemangat menjahilin sahabatnya.
Saat keadaan canggung seperti itu, ponsel Cha berdering. Cha pun membuka tasnya dan mengambil ponselnya. Dia melihat nama Zain tertera disana.
"Eh Wi, gw keluar dulu ya. Mau terima tlp," ucap Cha yang langsung meninggalkan Dewi dan Ghani di ruangan perpustakaan.
"Assalamu'alaikum Zain.." sapa Cha dengan gembira.
"Wa'alaikumussalam Cha," sahut Zain.
"Kamu udah berangkat Zain?" tanya Cha lagi.
"Ini aku lagi di pesawat mau berangkat sayang. Kamu gimana di kampus, gak ada yang macam-macam kan?" tanya Zain balik.
"Gak ada, aman kok Zain. Kamu gak usah khawatir ya," jawab Cha.
"Gimana kuliah kamu hari ini Cha?" tanya Zain.
"Ya nih lagi ngerjain tugas dari dosen yang tadi masuk ke kelas ku. Oh ya, aku sekarang dapat sahabat baru, namanya Dewi. Tapi aku masih trauma Zain. Takut dia seperti Shanti," khawatir Cha.
"Tidak semua orang seperti itu sayang. Mudah-mudahan dia orangnya tulus dan baik," balas Zain yang memberi dukungan.
"Iya ya Zain. Aku mungkin masih blom bisa melupakan sikap Shanti yang seperti itu," ucap Cha sambil mengingat perilaku Shanti.
"Udah gak usah kamu pikirkan lagi dia. Sahabat seperti itu gak perlu di ingat. Ya udah nanti aku khabari lagi ya kalau sudah sampai di Paris," sambung Zain.
"Iya, kamu hati-hati ya Zain disana," Cha merasa sedih karena ditinggal orang yang disayanginya.
Setelah selesai menerima tlp, Cha masuk kembali ke dalam perpustakaan. Dewi yang sedang asyik membaca, menoleh ke arah Cha. Dia melihat wajah muram Cha.
"Kamu kenapa Cha? Wajah kamu sedih gitu?" tanya Dewi.
Ghani pun memperhatikan wajah Cha yang berubah menjadi muram.
"Gak ada apa-apa kok Wi," jawab Cha cuek.
"Nih aku udah dapat referensinya. Kamu boleh ambil beberapa referensi dariku. Sisanya kamu cari lagi," Dewi memperlihatkan catatannya.
"Ok Wi, thanks banget ya. Gw mau ke rak buku dulu, mencari bukunya dulu," balas Cha. Lalu dia berjalan ke bagian rak-rak buku.
Ghani pun ikut menyusul Cha. Membantunya mencari beberapa buku buat referensi tanpa sepengetahuan Cha.
__ADS_1
"Loh, kamu mau nyari buku apa Ghani?" tanya Cha yang heran melihat Ghani berdiri disampingnya.
"Lagi pengen baca buku aja kok," jawab Ghani bohong.
"Ihhhh, kirain ngekorin aku," celetuk Cha tanpa menoleh ke Ghani.
"Ngikutin kamu juga kan gak ada yang larang kan?" tanya Ghani.
Cha lebih memilih diam tanpa merespon ucapan Ghani. Karena dia lagi mau fokus mencari buku referensi.
Cha sibuk mencari beberapa buku tambahan buatnya. Tiba-tiba Ghani memberikan beberapa buku untuk menambah referensi Cha.
"Nih Cha, buku yang kamu cari. Buat tambahan referensi mu," Ghani memberikan buku itu ke tangan Cha.
"Ini apa Ghani?" tanya Cha bingung.
"Kamu kan butuh buku buat referensi tugas kuliah mu, nih aku bantu buat nyarinya," jawab Ghani tersenyum.
"Makasih banget sudah mempermudah ku buat mengerjakan tugas kuliah," balas Cha dengan wajah yang biasa saja.
"Kembali kasih Cha!" ucap Ghani.
Setelah menerima buku itu, Cha dan Ghani kembali ke meja mereka tadi.
"Gimana Cha, udah ketemu bukunya?" tanya Dewi langsung begitu melihat Cha.
"Udah nih, ada beberapa," jawab Cha sambil meletakkan buku-bukunya ke atas meja.
"Loh, kakak masih ngikutin kita disini?" tanya Dewi yang heran melihat Ghani masih ngikutin mereka.
"Iya," hanya itu jawaban Ghani.
"Pelit bangettttt sih kak dengan kata-kata kalau sama aku!" seru Dewi dengan kesal.
"Cha, aku balik duluan ya," ucap Ghani.
"Oh iya kak, makasih atas bantuannya," jawab Cha.
"Ok, gak masalah, sampai ketemu di kost ya Cha," Ghani pun pergi dari ruangan itu.
Ketika Ghani keluar dari ruangan perpustakaan, dia berpas-pasan dengan Melda dan temannya.
"Woiiiiii, jalan gak lihat-lihat," tegur Melda yang tak lain adalah sepupu Ghani.
Melda dan Ghani adalah bersaudara. Mereka sepupu dari Papa mereka. Melda dan Ghani sangat dekat karena sejak kecil mereka sering bermain bersama. Melda sosok cewek yang sedikit tomboy. Sehingga cara berpakaian nya seperti laki-laki.
"Apaan sih Mel, ngagetin aja," celetuk Ghani yang kesal dari di kagetin.
"Habis Lo jalan nunduk. Syukurnya gw yang lewat. Coba kalau dosen, beuhhh bisa nyaho Lo," hardik Melda.
"Udah minggir Lo, gw mau balik," ketus Ghani. Dia gak mau berlama-lama di dekat Melda. Apalagi ada teman Melda. Ghani males banget meladeninya.
"Eitttt tunggu dulu. Nih kenalin teman dekat gw, namanya Irma Zivanka, anaknya cantik dan baik hati," ucap Melda yang mempromosikan temannya.
"Sorry Mel, gw buru-buru nih," Ghani pun menerobos tubuh Melda hingga Melda hampir terjatuh.
"Sialan Lo Ghani! Awas aja nanti Lo ya gak gw kasih catatan buku gw lagi," ancam Melda karena kesal dicuekin.
Irma teman Melda yang berdiri disamping Melda juga merasa kesal dan bercampur malu. Karena di tolak berkenalan sama orang yang ditaksirnya.
"Huuuu, sialan nih cowok. Sok kecakapan banget sih. Syukur benar Lo cakep, kalau gak udah gw maki Lo," hardik Irma dengan bergumam kecil sehingga Melda tak mendengarnya.
"Udah yuk Ir, kita balik ke perpustakaan lagi. Tadi gw lupa lihat nama pengarangnya," ucap Melda.
Mereka berdua berjalan menuju ke perpustakaan lagi. Saat mereka masuk, Melda berpas-pasan dengan Cha.
__ADS_1
"Loh, kamu kuliah disini juga Mel?" tanya Cha heran melihat Melda ada di kampusnya.
"Iya, gw kakak angkatan Lo," jawab Melda ketus.
"Oh....,ternyata dunia itu sempit ya," ucap Cha.
"Ya udah, gw ke dalam dulu ya," Melda berjalan ke dalam perpustakaan bersama temannya Irma.
Saat Irma berpas-pasan, dia melihat Cha dengan tatapan sinis dan tatapan tidak suka. Namun Cha biasa saja melewatinya.
"Siapa Cha?" tanya Dewi setelah keluar dari perpustakaan.
"Oh itu teman kost ku, ternyata dia kuliah disini juga. Makanya aku bilang ternyata dunia itu sempit," jelas Cha sambil berjalan.
"Ya ampun, tadi Ghani, sekarang kak Melda yang kost nya satu lokasi sama Lo, benar-benar dunia super sempit," balas Dewi.
"Hahahaha," Cha pun tertawa geli mendengar ucapan Dewi yang memang benar.
"Udah yuk balik, Lo ngekost ya Cha?" tanya Dewi.
"Iya Wi, Lo main dong ke kost gw sesekali. Gw blom ada temannya disana," jawab Cha.
"Beneran nih Cha! Mau dong, sekarang yuk? main ke kost kamu," ajak Dewi gembira.
"Ayo, tapi kita naik bus ya, karena aku gak pakai motor," balas Cha.
"Oalah, ya gak apa-apa Cha. Aku orangnya nyantai kok, aku juga biasa naik bus," ucap Dewi.
"Kalau gitu cuss jalan," ajak Cha dengan semangat. Cha senang karena dia memiliki sahabat baru.
"Semoga kamu tidak seperti dia. Hanya karena laki-laki, bisa membenci sahabat sendiri," bathin Cha sambil menatap Dewi.
Mereka berdua keluar dari kampus menuju halte untuk menunggu bus. Setelah beberapa menit akhirnya bus yang mereka nanti datang juga.
"Akhirnya, tuh busnya datang juga Cha," ucap Dewi sambil menunjuk ke arah datangnya bus.
Cha yang tadi sedang duduk di bangku tunggu, melihat ke arah datangnya bus. Mereka pun menaiki bus itu.
Cha merasa senang dan bahagia karena menaiki bus bersama sahabat barunya. Dia berharap Dewi menjadi sahabat yang terbaik bagi Cha.
Di dalam bus, Cha dan Dewi asyik mengobrol hingga beberapa penghuni bus yang notabene banyak laki-lakinya, ikut menyimak obrolan mereka. Sehingga mereka berdua jadi sorotan lelaki-lelaki di dalam bus.
Setelah beberapa halte yang dilewati, akhirnya Cha sampai juga di kost nya. Mereka turun dari bus dan berjalan menuju kost Cha.
"Cha, kost kamu jauh gak dari halte?" tanya Dewi.
"Tenang aja, gak jauh kok. Bentar lagi kita sampai," jawab Cha sambil berjalan.
Mereka berjalan hingga beberapa meter, dan sampai di depan kost Cha.
"Ini kost ku Wi, yuk masuk," ajak Cha.
"Wah bagus juga ya Cha, kost kamu. Pasti nyaman di kamar kamu," ucap Dewi.
"Biasa aja loh Wi. Tapi kalau kamu mau nginep disini juga boleh. Tapi kamu ijin dulu sama Ibu mu," saran Cha.
"Kalau hari ini gak deh, kalau besok aku mau. Karena hari ini aku harus nemani Ibu ku buat pesanan catering untuk acara," balas Dewi.
"Wah Ibu mu usaha cateringan ya. Keren, pasti masakannya enak. Sesekali aku mau dong dibawakan masakan Ibumu," pinta Cha berharap.
"Boleh Cha, nanti aku bilang ya sama Ibu ku kalau aku sekarang punya sahabat dan pengen nyicipin masakan Ibu ku," ucap Dewi.
Ketika mereka mau berjalan ke arah kamar Cha, seseorang memanggil nama Cha.
"Chaaaa!" teriak orang itu.
__ADS_1