Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Ke toko kue


__ADS_3

Keasyikan mereka bertiga menjadi tontonan di kantin itu. Banyak Mahasiswa terutama yang oermeouan menatap tak suka ke meja Cha. Ada juga sebagian dari mereka mencibir dan menggosip tentang kedekatan Ghani dan Cha.


Setelah selesai menikmati makan siangnya, Cha dan Dewi ingin kembali ke kelas mereka karena masih ada jam kuliah lagi.


"Ghan, maaf, kami duluan ya karena masih ada jam kuliah lagi," ucap Cha.


"Kita bareng aja Cha. Aku juga masih ada jam kuliah kok, yuk," ajak Ghani.


Ghani tau kalau Cha berniat menjaga jarak dengannya. Namun itu bukan suatu masalah buat Ghani untuk terus dekat dengan Cha. Memang menurut pandangan orang lain, Ghani sangat mencintai Cha sehingga rela hanya menjadi sebatas teman.


Cha yang mendengar ucapan Ghani, tak bisa menolak. Karena memang mereka satu arah menuju kelas.


"Baiklah kalau gitu," balas Cha.


Dewi yang mengerti situasi diantara mereka berdua yang terasa canggung, akhirnya membuka suaranya.


"Kak Ghan, boleh nanya gak?" tanya Dewi.


"Mau nanya apa Wi?" tanya Ghani balik.


"Emang kak Ghani belum punya pacar ya?" tanya Dewi to the point.


Cha dan Ghani sama-sama terkejut. Terutama Ghani yang gak menyangka akan mendengar pertanyaan itu saat di hadapan Cha.


"Sudah ada Wi, kekasih hati. Namun belum bisa tergapai," jawab Ghani ambigu.


"Loh kenapa belum bisa tergapai? Emang orangnya dimana kak?" tanya Dewi yang semakin tinggi ingin taunya.


"Ada di hati saya. Gak jauh-jauh kok Wi," jawab Ghani nyantai.


"Emang anak Kampus kita ya kak? Tapi aku gak pernah lihat kak Ghani jalan sama perempuan itu?" lagi-lagi Dewi terus melontarkan pertanyaan.


Ghani merasa pusing mendengarnya. Dia males menjawab pertanyaan Dewi yang tidak bermanfaat baginya.


"Maaf Wi, itu pribadi saya," balas Ghani Dnegan ekspresi datar.


Dewi pun menghentikan keusilannya yang ingin mengetahui perasaan Ghani. Dia pun memilih diam dan tidak membuka suara lagi.


Cha juga hanya diam, dia tidak ingin ikut campur dengan pertanyaan Dewi yang berlebihan.


"Ghan, kami duluan ya. Aku masuk dulu," ucap Cha ketika mereka sampai di depan kelas.


"Iya Cha. Makasih ya udah mau ngasih waktu buat makan siang bareng," balas Ghani tersenyum manis.


Cha sempat terpukau melihat senyuman itu, namun buru-buru dia menepis kegilaannya itu.

__ADS_1


"Ah iya sama-sama Ghani," ucap Cha lagi.


"Baiklah, aku juga mau ke kelas dulu. Kalau tidak keberatan, nanti aku anter kamu pulang ya Cha," pinta Ghani.


"Insya'allah ya Ghan, tapi aku tidak menjanjikannya," balas Cha.


"Maaf kak Ghan, sepertinya gak bisa karena Cha hari ini ada urusan Dnegan Dewi," tiba-tiba Dewi menyela obrolan Cha.


"Oh gitu ya. Mmm ya sudah gak apa-apa


Lain kali kita pulang bareng ya Cha," Ghani tetap menginginkan Cha bareng pulang sama dia.


"Iya Ghan. Udah ya, aku masuk dulu," ucap Cha.


Ghani hanya mengangguk, dia akhirnya meninggalkan ruangan kelas Cha. Ghani kembali ke kelasnya dengan hati yang sangat gembira. Dari matanya terpancar kebahagiaan yang hanya Ghani mengetahui.


Mereka pun berpisah di depan kelas Cha. Chani dan Dewi masuk ke dalam kelasnya dan duduk di bangkunya.


Sementara Ghani kembali ke kelasnya untuk mengikuti perkuliahan selanjutnya.


Saat Ghani masuk ke kelasnya dan duduk di bangkunya, dia di samperin dengan Mahasiswi yang menyukainya.


"Ghan, apa hubungan kamu dengan perempuan itu?" tanya Mahasiswi itu.


"Ghani....aku bertanya dengan kamu? Kenapa kamu malah diam dan tak menjawab? Apa spesialnya perempuan itu dibanding diriku?" tanya Mahasiswi itu dengan emosi.


Mahasiswa yang berada di dalam ruangan itu terperanjat mendengar sentakan dari seorang perempuan cantik yang memang sudah lama menyukai Ghani.


"Apa urusan kamu?" Ghani malah bertanya seperti itu.


"Urusanku?! Ya tentu itu menjadi urusnaku Ghani!" ucap Mahasiswi itu lagi.


Ghani akhirnya bangkit dan berdiri hingga mereka saling berhadapan.


"Dia kekasihku," balas Ghani Dnegan ekspresi dinginnya.


Mahasiswi itu terhuyung ke belakang tak percaya. Dia hampir terjatuh, namun temannya menahan tubuhnya dari belakang.


"Kamu bohong kan Ghani?" tanya Mahasiswi itu tak percaya.


Ghani hanya memberikan tatapan mematikan terhadapnya. Seketika Mahasiswi itu merasa malu dan wajahnya merah menahan amarah yang menggebu di dirinya.


"Aku tidak terima penghinaan ini. Aku akan membuat kamu menyesalinya Ghani..!" ucap Mahasiswi itu yang langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan ruangan itu.


Beberapa Mahasiswa saling berbisik dan menggosip saat itu juga. Namun Ghani tak memperdulikannya. Dia tetap tenang dan santai dengan melihat-lihat galery ponselnya. Dimana dalam album itu banyak menyimpan foto-foto Cha yang sempat diambilnya diam-diam.

__ADS_1


Ghani senyum-senyum sendiri saat melihat foto-foto Cha yang berbagai gaya.


"Kamu cantik Cha. Sayang, kamu akan menikah. Kalau takdir bisa menyatukan kita, aku sangat bersyukur banget dan akan menjaga kamu seumur hidupku," bathin Ghani dengan perasaan sedih.


Kemudian Dosen pun masuk ke dalam ruangan itu dan memulai aktifitas belajarnya.


Sedangkan di ruangan kelas Cha, Dosen sudah memberikan materi kepada Mahasiswanya untuk di catat. Setelah itu Dosen meminta mereka untuk kerja kelompok saat itu juga.


Waktu pun terus berjalan hingga sore hari. Pembelajaran di dalam ruangan kelas masing-masing mereka akhirnya selesai juga. Cha dan Dewi merasa lega karena selesai kuliah hari ini.


"Akhirnya kelar juga ya Wi," ucap Cha bersyukur.


"Iya Cha. Gw udah capek banget nih pengen pulang dan tidur di ruang," balas Dewi yang membenarkan ucapan Cha.


"Ayo Wi, kita pulang. Tapi nanti singgah dulu ya di toko kue. Gw mau beli cemilan buat di rumah," ucap Cha.


"Ya udah, gw temani ya."


Lalu mereka berdua keluar dari ruangan kelas dan ternyata Ghani sudah berdiri di depan kelas Cha.


"Loh kak Ghan, ngapain disini?" tanya Dewi bingung.


"Mau ketemu Cha. Pengen bareng jalan ke depan," jawab Ghani ngasal.


"Hmmm, bilang aja pengen deketin Cha. Kak Ghan, Cha ini bentar lagi mau nikah loh. Kak Ghani gak bisa dekatin dia lagi," ucap Dewi ketus.


"Kalau dekatin ya untuk teman kan gak salah?" tanya Ghani yang gak mau kalah.


"Benaran untuk teman?" tanya Dewi curiga.


Dewi tau kalau itu hanya modus yang di lakukan Ghani agar bisa terus mendekati Cha. Namun Dewi tidak ingin sahabatnya ini terpengaruh dengan pesona Ghani yang memang lebih tampan dari Zain.


"Udah yuk Cha kita jalan duluan aja. Biar kak Ghani ngikutin kita dari belakang," ajak Dewi.


Cha hanya mengikuti kemauan Dewi. Mereka berdua akhirnya jalan duluan tanpa menghiraukan kehadiran Ghani.


"Cha mau langsung pulang ya?" tanya Ghani yang berusaha mendekatinya.


"Iya Ghan, tapi nih mau singgah sebentar membeli kue buat di rumah," jawab Cha jujur.


"Aku ikut ya, karena kau juga mau beli kue buat Mamaku di rumah," mohon Ghani.


"Ya udah gak apa-apa," balas Cha.


Ghani akhirnya mengikuti mobil Cha dari belakang. Dia mengikuti Cha sampai ke toko kue yang cukup besar.

__ADS_1


__ADS_2