
Setelah melakukan penyatuan yang lama, Cha dan Zain tidur terlelap hingga siang menjelang sore. Keduanya lupa akan janji mereka yang akan menjemput Dewi untuk kembali ke Jogja.
Saat ini i ponsel Cha berdering terus, namun Cha yang kelelahan tak sanggup membuka matanya. Cha membiarkan ponsel itu terus berdering. Hingga sejam kemudian terdengar suara ketukan pintu kamar mereka. Cha menganggap ketukan pintu itu hanya dalam mimpinya saja.
Sedangkan di luar kamar, Dewi dan Rudy sudah berdiri menunggu Cha untuk membukakan pintu kamarnya. Namun harapan Dewi tak menjadi kenyataan. Cha yang berada di kamar tak kunjung membukakan pintu kamarnya.
Kemudian Rudy mengajak Dewi menunggu ke kamarnya.
"Wi, lebih baik kita tunggu aja mereka di kamarku. Sapa tau mereka sedang di luar dan membawa kuncinya," ucap Rudy.
Dewi menoleh ke Rudy, dia enggan menerima ajakan Rudy yang menunggu di dalam kamarnya. Lalu Rudy yang mengerti kalau Dewi merasa tak nyaman langsung berkata, "Gak usah khawatir Wi, aku gak akan macem-macem kok," ucapnya.
"Baiklah, kita akan tunggu mereka di kamarmu. Nanti aku akan coba menghubunginya lagi," Dewi pun setuju menunggu di kamar Rudy.
Lalu Dewi dan Rudy meninggalkan kamar Cha. Dia berjalan kembali ke arah kamar Rudy.
Cha dan Zain masih tertidur. Rasa lelah yang mereka rasakan akibat pergulatan panas tadi pagi membuat Cha males untuk membuka matanya. Namun lagi-lagi suara dering tlp mengusik pendengarannya. Dering ponsel yang berbunyi berasal dari ponsel Zain.
"Bang, itu ponselnya berbunyi. Angkat gih," ucap Cha.
Zain yang juga mendengar ponselnya berdering, langsung bangun dan duduk. Zain mengambil ponselnya dan melihat nama dilayarnya.
"Oh my God, Papa!" Zain langsung mengangkatnya.
"Assalammu'alaikum Pa," sapa Zain dengan suara khas bangun tidur.
"Wa'alaikummussalam Zain..!" sahut Papanya di seberang. "Zain, kamu dimana ini?" tanya Papanya. Bisakah hari ini kamu ke kantor cabang kita karena ada yang harus di selesaikan di sana," Papanya minta Zain mengecek laporan di Perusahaan cabang mereka.
"Maaf Pa, Zain lagi di luar Kota. Kemungkinan sore baru sampai di Jogja. Nanti Zain usahakan ke kantor kalau sudah sampai. Tap saat ini Zain gak bisa ke kantor," balas Zain.
"Kamu dimana sekarang? Apakah kamu bersama Cha?" tanya Papanya menyelidik.
"Zain di Klaten Pa. Yeah saat ini Cha bersama Zain. Nanti kami akan kembali ke Jogja," jawab Zain sambil menoleh Cha yang masih bersembunyi di balik selimut. Senyum mengembang terpatri di bibir sexy Zain saat melihat Cha yang berantakan dengan bahu yang terlihat. Zain mengingat kejadian tadi pagi mereka. Aktifitas panas yang membuat Zain senyum-senyum.
"Zain kamu masih di sana?" tanya Papanya yang heran tidak mendengar suara Zain.
"Ah ya Pa, Zain masih di sini."
__ADS_1
"Baiklah kalau gitu Zain, kalau kamu sudah kembali ke Jogja, segeralah ke kantor ya. Nanti hubungi Papa saat kamu sudah di sana," pinta Papanya.
"Tentu Pa, Zain akan mengabari Papa."
Setelah sleesai, Zain meletakkan kembali ponselnya. Lalu dia kembali membaringkan tubuhnya dan merapatkannya ke tubuh Cha di balik selimut.
"Zain....," Cha terganggu dengan aktifitas nakal tangan Zain.
"Sayang, apa kamu akan terus seperti ini tidak menggunakan pakaian? Kamu ingin menggodaku dengan tubuh polos ini?" tanya Zian sambil memilih ujung dada Cha yang sudah menegang.
"Oh...Zain....!" suara merdu Cha terlepas dari bibir sexynya.
"Oh ****!" umpat Zain. Cha, kamu harus bertanggung jawab," Zain mengambil tangan Cha dan meletakkannya ke milik Zain yang sudah mengeras.
"Zain....,Cha membalikkan badannya dan mereka saling menatap.
"Abang pengen lagi, sekali.....aja, boleh ya," pinta Zain dengan nafas yang sudah berat.
Posisi mereka berdua masih dalam keadaan polos, Zain bisa merasakan benda kenyal nempel ke dadanya. Hingga membuat darahnya berdesir dan hasratnya naik. Tanpa menunggu jawaban Cha, Zain langsung menyerang bibir manis Cha dengan lembut. Cha yang awalnya tak menginginkannya, sekarang justru membalas pagutan dari Zain. Mereka saling membelit menikmati sensasi penyatuan bibir yang nikmat.
"Zain.......," terdengar suara merdunya Cha saat melepaskan penyatuan bibir mereka dan semakin membuat Zain tak bisa menahannya lagi.
Zain terus menelusuri tubuh Cha mulai dari bukit indahnya dengan pucuk yang sangat menantang, hingga sampai ke bawah pusar Cha dimana letak sarang kenikmatan.
Zain menyusuri paha dalam Cha hingga bagian tengah yang sangat lembab. Zain menatap penuh nafsu hingga dia menelusup kan kepalanya diantara dua paha Cha.
"Yah Zain...., i--itu, Zain....!" Cha mengerang saat benda kenyal menyapu area sensitifnya.
Cha terus mengeluarkan suara merdunya dan hasratnya terus membuncah hingga dia melepaskan kenikmatan pertamanya. Zain tersenyum puas melihat Cha yang mencapai puncaknya. Tanpa buang waktu Zain langsung menerobos milik Cha yang sudah sangat menantang. Penyatuan pun terjadi.
"Zain.....!"
"Ya sayang....!" Zain terus menghentak-hentakkan miliknya hingga tempat tidur mereka ikut bergoyang.
Suasana di dalam kamar hotel menjadi meriah dengan suara-suara ******* yang sangat dahsyat. Zain terus menghujam miliknya terus menerus dengan berbagai gaya. Hingga akhirnya pelepasan secara bersama mereka lakukan.
"Sayang, Abang mau keluar, ayo bareng...," ucap Zain dengan suara ngos-ngosan.
__ADS_1
"I--iya Bang, ayo," balas Cha.
Akhirnya puncak kenikmatan itu mereka capai secara bersamaan. Zain dan Cha sama-sama terkulai lemas. Zain langsung menarik tubuh Cha ke dalam pelukannya.
"Makasih sayang," Zain mengecup pucuk kening Cha dengan rasa sayang dan puas.
"Ayo kita mandi Bang, sudah jam berapa ini?" tanya Cha yang belum menyadari kalau mereka sudah bertempur sampai siang banget.
"Sayang sepertinya ini sudah mau sore, lihat itu," jawab Zain sambil menunjuk ke arah luar jendela.
"Oh ya ampuuun Bang....gimana dengan Dewi? Apa mereka tadi datang kemari?" tanya Cha kebingungan.
Cha langsung beranjak dari tempat tidur dengan menggunakan selimutnya dan mengambil ponselnya. Cha melihat banyak panggilan dari Dewi. Serta beberapa pesan yang masuk dari nomer Dewi.
"Aisssh, dia tadi kemari Bang," ucap Cha sambil menepuk jidatnya.
"Ya sudah biarkan saja. Mungkin dia nunggu di kamar Rudy. Nanti bilang saja kita keluar," balas Zain.
Cha menoleh ke arah Zain dan dia menghampirinya.
"Kamu sih...ngajak gelut tadi pagi, jadinya kita kesiangan kan," kesal Cha.
"Tapi kamu suka kan sayang. Buktinya Nanah minta lagi, kamu kasih," balas Zain dengan senyum menggoda.
"Udah ah, aku mau mandi. Takutnya mereka akan datang lagi," Cha meninggalkan Zain yang senyum-senyum melihat tingkah Cha.
Setelah mereka selesai membersihkan diri masing-masing, Cha mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Dewi. Dan akhirnya panggilan di angkat.
"Ya ampuuun Cha.....! Kemana aja sih? Gw tadi ke kamar Lo, tapi gak dibuka juga. Emang kalian kemana?" tanya Dewi kesal.
"Sorry Wi, tadi gw keluar sama Bang Zain. Dan kunci kami bawa, tadi udah balik kok," jawab Cha dengan kikuk. "Gimana kita balik sekarang ke Jogja?" tanya Cha.
"Owh kalian sudah kembali?" tanya Dewi balik.
"Iya nih udah siap-siap," jawab Cha. "Lo emangnya dimana?"
"Gw nungguin Lo di kamar Rudy. Ya udah kami kesana ya," ucap Dewi.
__ADS_1
"Ok gw tunggu ya," balas Cha.
Akhirnya Cha bisa menyelesaikan masalahnya dengan Dewi tanpa memikirkan rasa kecanggungannya.