
"Kamu tau Zain, memang hatiku sangat terluka saat ini. Tapi aku sudah terbiasa kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. Dari sejak SMP semua sudah aku lalui Zain. Kesedihan yang tak berujung. Ntah apa lagi yang akan aku alami kedepannya Zain," ucap Cha dengan sendu.
"Sayang jangan berkata seperti itu. Biarkan aku yang memberikan kebahagiaan denganmu. Aku janji gak akan melukaimu Cha," pinta Zain yang berharap.
"Zain, aku gak bisa memutuskannya saat ini. Tapi jika memang kita berjodoh, pasti akan bersama. Aku masih takut untuk menjalani suatu hubungan. Aku memilih sendiri saat ini," ucap Cha dengan rasa getir.
"Ya aku ngerti kok sayang, mungkin ini sangat berat buatmu. Aku akan setia menunggu sampai kamu membuka hati untukku," balas Zain dengan tersenyum.
"Makasih Zain."
Lalu pesanan mereka pun datang. Pelayan membawakan pesanan dan menghidangkannya diatas meja mereka.
"Ceci est votre commande monsieur, profitez-en," ucap si pelayan.
"(Ini pesanannya Tuan, silahkan dinikmati)," ucap si pelayan.
"Merci," balas Zain.
"(Terima kasih)," balas Zain
Cha melihat hidangan yang sangat lezat dan minuman yang enak banget diatas mejanya.
"Waowww Zain lucu sekali minumannya, pasti lezat," kagum Cha saat melihatnya.
"Iya lucu seperti kamu, dan menggemaskan," goda Zain dengan senyum nakalnya.
"Apaan sih Zain."
Zain tertawa terbahak-bahak melihat wajah Cha yang lucu karena malu.
"Udah cobain tuh minumannya. Jangan dilihatin aja, tar aku yang habisin," ledek Zain.
"Kalau kamu yang habisin, aku pesan lagi," balas Cha yang gak mau kalah.
Mereka pun menikmati hidangan untuk santai sejenak. Sesaat Cha melupakan semua rasa sedihnya dihati. Dia benar-benar menikmati jalan-jalan di Kota Paris.
"Zain kapan kita berangkat ke Belanda ya?" tanya Cha sambil meminum minumannya.
"Papa sama Mama yang mengaturnya Cha. Besok aku akan menanyakannya. Apa kamu sudah tak sabar ingin memberikan kejutan sama dia?" tanya Zain curiga.
"Hahaha, ya benar sekali," jawab Cha dengan menyeringai. Cha mencoba menutup hatinya yang terluka dengan canda dan tawa. Dia tidak ingin terbawa suasana sedih selama di Paris.
"Udah jangan berpura-pura happy Cha. Kalau masih mau nangis, sini aku peluk. Kamu bisa menangis sepuasnya diperlukannya," Zain menatap Cha dengan lekat.
"Siapa juga yang mau nangis. Dah dibilang aku gak kenapa-napa kok," ucap Cha yang menyembunyikan kesedihannya.
"Bener gak sedih?" tanya Zain.
"Nggak loh Zaaaainnn," jawab Cha lalu dia membuang mukanya melihat sekeliling tempat mereka nongkrong.
Zain mengerti Cha tidak mau mengakuinya. Tapi Zain tau bahwa hatinya Cha sangat terluka.
"Ya namanya juga wanita, lain dibibir lain pula dihati. Sangat pintar menyembunyikan perasaannya ketika hatinya sangat rapuh. Kalau sudah tersakiti sangat sulit melupakannya," pikir Zain yang terus menatap Cha.
Cha tak menyadari jika disudut matanya, meluncur bebas air mata yang sedari tadi ditahannya. Syukurnya Zain tak melihat karena posisi Cha sedang duduk menyamping.
__ADS_1
"Kakinya gimana Cha? Apa masih pegel?" tanya Zain yang mencoba mencairkan suasana.
"Eh, iya ini kakiku sudah mendingan kok Zain. Tadi terasa pegal karena kita jalan. Tapi sekarang udah enakan kok," jawab Cha.
"Gimana Cha? Apa kita pulang sekarang? Mama dan Oma pasti mengkhawatirkan kita," tanya Zain.
"Iya boleh Zain. Kita balik sekarang aja. Aku juga capek pengennya istirahat rebahan di tempat tidur."
"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan membayar makanan kita dulu," Zain berlalu masuk kedalam cafe membayar makanan mereka.
Setelah selesai dengan urusan pembayaran, Zain kembali menemui Cha.
"Sudah ayo Cha," ajak Zain.
Mereka beranjak dari cafe itu dan kembali berjalan kearah pertama sekali mereka datang. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya Zain dan Cha masuk kedalam mobil. Mereka pun kembali ke Mansion keluarga Zain.
Didalam mobil, Cha memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya kearah jendela. Namun Zain yang melihat itu, langsung membawanya kedalam dekapannya.
Zain merangkul Cha dan dia pun ikut memejamkan matanya bersama dengan Cha. Mereka akhirnya tertidur didalam mobil sepanjang perjalanan ke Mansion.
Sesampainya di Mansion, Bodyguardnya membangunkan Zain.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap Bodyguardnya.
Zain terbangun dan melihat bahwa mereka sudah berada di depan pintu Mansionnya. Zain melihat kearah Cha, ternyata Cha masih terlelap. Dia pun berinisiatif mengangkat Cha masuk kedalam menuju kamarnya.
Saat Zain menggendong Cha masuk kedalam, ternyata Oma dan Mamanya sedang berada diruang tengah.
"Loh itu kenapa dengan Cha, Zain?" tanya Omanya yang langsung menghampiri Zain.
"Oma jangan kencang-kencang. Cha nya lagi tidur," ucap Zain dengan suara berbisik.
"Iya Oma," balas Zain.
"Hati-hati Zain menggendongnya," sambung Mamanya yang sudah berdiri disamping Omanya Zain.
"Iya Ma, Zain akan hati-hati kok," balas Zain. Lalu Zain berjalan terus kearah kamar. Dia mulai menaiki tangga menuju kamarnya.
Akhirnya Zain sampai ke dalam kamarnya, dia pun membaringkan Cha diatas tempat tidurnya. Lalu Zain mulai mengganti baju Cha dengan baju tidur. Setelah selesai dengan Cha, dia juga membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Zain mengguyur tubuhnya dengan air dingin karena hasratnya sedang meningkat. Zain sedari tadi berusaha menahannya saat menggantikan baju Cha. Dia tidak ingin mengganggu Cha yang sedang nyenyaknya tidur.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Zain selesai dengan ritualnya didalam kamar mandi. Dia juga membaringkan tubuhnya disamping Cha dan memeluk Cha didalam selimut. Hingga akhirnya Zain juga terlelap tidur.
Pagi yang cerah menyapa kedua insan yang masih terlelap dalam selimutnya.
Cha yang tak menyadari adanya disampingnya, menganggap tubuh Zain bantal guling. Lantas dia memeluk tubuh Zain dengan menggesek-gesekkan kakinya di paha Zain.
Hingga Cha merasakan sesuatu yang terasa keras. Lalu dia mulai menggerakkan tangannya menyentuh senjata Zain. Saat menyentuhnya, tangan Cha terdiam tak bergerak, lalu dia tersentak dan bangkit duduk. Dia pun menoleh kesamping dan melihat Zain yang berada disampingnya.
"Zaaaainnn!!" teriak Cha sambil memukul-mukul tubuh Zain.
"Awww sakit sayang, kenapa aku dipukulin!" balas Zain yang merasa kesakitan.
"Masih mending kamu, aku pukul dari pada aku tendang, milih mana?" tanya Cha yang rada kesal.
"Gak milih dua-duanya. Maunya dipeluk sama kamu sayang," jawab Zain sesuka hatinya.
__ADS_1
"Kamu itu tidurnya kenapa dikamar ini? Nanti kalau Oma dan Mama kamu tau, bagaimana?" tanya Cha yang merasa gak enak.
"Mereka tau kok sayang. Tapi aku bilang, kalau aku tidurnya disofa. Kamunya di tempat tidur," jelas Zain.
"Terus ini apa? Kenapa malah kamu tidur disini juga, hah?" tanya Cha yang merasa kesal.
"Hehehe, pengen tidur meluk kamu Cha!" jawab Zain cengengesan.
"Udah ah, aku mau mandi dulu. Ini kenapa aku berpakaian seperti ini Zain?! Siapa yang menggantinya?" tanya Cha yang mulai emosi dengan tingkah Zain.
"Aku dong sayang. Masa orang lain. Kan aku juga udah pernah lihat kamu polos, hah, hah," Zain menaik-naikkan alisnya menggoda Cha.
"Dasar Tuan pemaksa dan mesum," hardik Cha.
Lalu dia bergegas masuk kedalam kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Sedangkan Zain melanjutkan acara tidurnya yang sempat terganggu.
Cha berendam dengan air yang harum lavender. Dia sangat menikmati aromatherapy didalam air tersebut. Hingga sejam kemudian, Cha baru selesai keluar dari dalam kamar mandi. Dia melihat Zain yang sudah tidak ada didalam kamarnya.
"Kemana tuh anak, ngilang gitu aja," celetuk Cha.
Ternyata Zain dipanggil sama Mama dan Papanya. Lalu dia membersihkan tubuhnya dikamar tamu. Zain meninggalkan Cha didalam kamar. Setelah Zain selesai mandi, dia bergegas menyamperin Mama dan Papanya dimeja makan.
Zain juga menyuruh Asistennya untuk memberitahukan Cha agar segera kemeja makan untuk sarapan.
"Maman du matin, Papa du matin!" sapa Zain sambil mencium pipi Mamanya.
"(Pagi Mom, pagi Pa)!" sapa Zain.
"Bonjour chérie, viens t'asseoir. Nous prenons le petit-déjeuner," sahut Mamanya dan Papanya bersamaan.
"(Pagi sayang, ayo duduk. Kita sarapan)," sahut Mamanya dan Papanya bersamaan.
"Bonjour, Mon cher!" sapa Zain kepada Omanya.
"(Pagi, Omaku sayang)!" sapa Zain.
"Bonjour mon petit prince!" balas Omanya.
"(Pagi juga, Pangeran kecilku)!" balas Omanya.
"Pourquoi es-tu seul Zain ? où est le cha? Pourquoi ne viens-tu pas déjeuner avec toi?" tanya Mamanya yang heran melihat anaknya sendirian.
"(Kamu kenapa sendirian Zain? Cha nya mana? Kenapa gak bareng kamu turunnya buat sarapan)?" tanya Mamanya yang heran melihat anaknya sendirian.
"Ça tombe bientôt, Maman! Je suis juste resté, il prenait une douche. Eh bien, c'est la personne!" tunjuk Zain saat melihat Cha turun dari tangga.
"(Sebentar lagi juga turun Mom! Tadi aku tinggal aja, dia sedang mandi. Nah tuh orangnya)," tunjuk Zain saat melihat Cha turun.
Cha melihat kearah meja makan, keluarga Zain sudah pada kumpul.
"Pagi Om, Tante, Oma..!" sapa Cha kepada mereka.
"Pagi sayang," sapa Mama dan Omanya Zain.
"Ayo duduk disini sayang, kita sarapan bareng. Kamu harus mencoba sarapan pagi di keluarga ini," ucap Mamanya Zain yang menyuruh Cha duduk disebelahnya.
__ADS_1
"Iya Tante," balas Cha.
Cha merasa senang diperhatikan sama keluarga Zain. Dimana dia tidak mendapatkan semua ini dari keluarganya sendiri.