
Menikmati malam yang indah di atas Bukit Bintang dengan suasana yang sangat romantis membuat dua sejoli ini betah berlama-lama di sini. Cha menghirup udara malam yang sangat segar dan sejuk. Begitupun dengan Zain. Dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Cha.
"Zain ini sudah terlalu malam. Kita pulang yuk," ajak Cha karena mulai kedinginan.
"Sebentar lagi sayang. Lagian kita tidak kembali ke rumah, melainkan ke Hotel. Besok aku harus kembali ke Paris lagi," mohon Zain.
"Baiklah."
Zain masih setia memeluk Cha, apalagi udaranya sangat dingin, membuat Zain betah lama-lama memeluk Cha.
Malam semakin larut, waktu juga sudah menunjukkan pukul 23.00 malam. Cha mengajak Zain untuk kembali dan pergi dari Bukit Bintang.
"Zain, ayo kita kembali. Kamu harus istirahat bukan?" tanya Cha.
"Baiklah sayang kita kembali sekarang."
Zain menggenggam tangan Cha meninggalkan tempat itu. Mereka masuk kedalam mobil. Mobil pun meninggalkan Bukit Bintang meninggalkan kesan yang takkan pernah bisa dilupakan Zain. Zain sangat bahagia menghabiskan waktu yang singkat berdua dengan kekasihnya.
Sepanjang perjalanan, Cha memilih untuk memejamkan matanya dan membaringkan tubuhnya menyender dibagi Zain. Zain membiarkan Cha tertidur. Dia mengawasi perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam setengah untuk sampai ke Hotel.
Setibanya di Hotel, Zain tidak mau membangunkan Cha. Lantas dia menggendong Cha masuk ke dalam Hotel dan membawanya kedalam kamarnya. Setelah memasuki kamar, Zain membaringkan tubuh Cha diatas tempat tidur. Hotel yang ditempati Zain adalah milik pribadinya. Dia membangun Hotel itu untuk melebarkan sayapnya di bidang bisnis.
Cha tidak mengetahui bahwa mereka sudah sampai di Hotel, karena dia benar-benar merasa lelah. Zain membersihkan tubuhnya dan mengikuti Cha berbaring ditempat tidur. Zain memeluk Cha dari samping hingga dia pun terlelap.
Pagi yang indah sekali membawa hati bernyanyi dengan melihat wajahmu yang sangat menggemaskan. Zain sudah bangun duluan dari pada Cha. Dia menatap wajah Cha yang membuatnya sangat bucin.
"Matahari terbit, langit biru, indah dan begitu juga dirimu sayang, selamat pagi kekasihku!! " Zain mengecup kening Cha saat melihat Cha membuka matanya.
"Pagi Zain, romantis banget kamu pagi-pagi udah ngegombal," Cha malu-malu melihat Zain dengan posisi disampingnya dengan menopang tangan melihat Cha dengan jarak dekat.
"Hehehe, sayang lihat lah dibawah, senjataku sudah panas. Ayo kita mulai olah raga pagi biar sehat dan bugar," Zain langsung mel**** bibir cha tanpa memberi Cha untuk protes.
"Mmmppp Zain....!! Cha memberontak menahan tubuh Zain. Namun Zain tak perduli, dia terus melancarkan aksinya karena tubuhnya sudah sangat merangsang akibat sentuhan dari tubuh Cha yang sangat harum lavender.
Zain mulai raba-meraba. Meraba area-area yang sangat sensitif buat Cha. Kemeja yang menutup sikembar, sudah terbuka lebar, sehingga terpampang sikembar yang menantang. Zain mulai melakukan penghisapan terhadap sikembar, membuat Cha gelisah dan mulai menikmati permainan Zain.
Satu persatu kain yang menutup tubuh mereka lepas tak bersisa. Zain semakin merang**** menatap tubuh Cha. Lalu dia mulai melancarkan senjatanya kearah sasaran tembakannya. Keduanya sama-sama mend**** saat senjata Zain memasuki sasarannya.
"Ahhhhkk Zain...," Cha tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang sudah dibuat terbuai oleh kenikmatan.
__ADS_1
Zain terus menerus menggempur Cha. Mereka menikmati pagi yang indah dengan *******-******* dan suara merdu dari Cha. Suasana kamar yang ditempati mereka semakin hot. Cha Zain benar-benar candu akan tubuh Cha. Berkali-kali mereka melakukan pelepasan bersama, lalu mengulang kembali, seakan-akan mereka tak mau berhenti. Hingga akhirnya pelepasan terakhir mereka lakukan secara bersama.
"Zain...,aku mau keluar lagi.....!" teriak Cha sambil ngos-ngosan.
"Bareng sayang, aku juga mau keluar. Ayo terus sayang!" Zain meracau menikmati goy**** pinggul Cha.
Hentakkan demi hentakkan dilakukan Cha hingga mereka melakukan pelepasan secara bersama.
"Akkkhhhhh, Zain...!!"
"Sayang..., I love you...!!
Mereka pun ambruk. Cha memeluk tubuh Zain. dia tidur diatas tubuhnya Zain. Zain mengecup pipi Cha dan membelai rambut Cha.
"Sayang, aku ingin melakukannya setiap hari. Ayolah kita menikah. Orang tua ku juga sudah merestui hubungan kita. Bahkan mereka menyuruhku segera menghalalkanmu," ucap Zain dalam posisi memeluk tubuh polos Cha.
"Tapi Zain, aku tidak mau mengingkari janjiku sama Yoga. Dia memintaku untuk menunggunya sampai dia kembali ke Indonesia," balas Cha.
"Dia tidak akan kembali Cha. Dia sudah berpaling darimu. Jangan mengharapkan sesuatu yang tak bisa mempertahankan cintanya," nasehat Zain sambil mencium kening Cha.
Sekarang posisi Cha sudah berbaring disampingnya Zain. Zain, merebahkan tubuh Cha didada ya. Dengan posisi Zain memeluknya dan menutup tubuh mereka berdua.
"Tidak ada yang mengkhianati sayang. Aku terlambat bertemu denganmu. Sehingga kau menerimanya. Mungkin kalau kita duluan bertemu, kau akan menjadi milikku,* ucap Zain dengan penuh percaya diri.
Meka hanya terdiam saja. Dia menjadi bimbang dengan hatinya. Tak sengaja Cha memainkan senjata Zain. Dia tidak sadar telah memanaskan senjata yang sudah menembaknya berkali-kali.
"Sayang, jangan kamu panasin senjataku, nanti dia membalik kamu lagi!" ucap Zain yang sudah mulai terang****.
Lalu Cha melihat tangannya yang sedang memainkan senjata Zain karena awalnya terasa kenyal. Cha baru sadar saat senjatanya sudah panas dan tegak berdiri. Wajah Cha merah seperti udah yang sudah direbus.
"Ahhh, Zain...!! teriak Cha, karena Zain langsung menaiki tubuh Cha dan mulai melancarkan serangannya.
Cha tersentak karena senjata Zain langsung masuk kedalam sarungnya tanpa aba-aba. Mereka melakukan penyatuan yang kesekian kalinya. Desa***-desa*** terdengar indah didalam kamar mereka. Zain terus menghentak-hentakkan pinggulnya. Dia benar-benar candu akan kenikmatan tubuh Cha. Hingga akhirnya mereka melakukan pelepasan bersamaan lagi. Setelah itu mereka benar-benar ambruk tak bergerak.
Zain dan Cha akhirnya tertidur karena kelelahan. Hingga siang pun tiba, Zain bangun dan melihat kekasihnya masih terlelap. Dia pun bergegas mandi karena kalau tidak, dia akan terus-terusan meminta kepada Cha. Setelah selesai bersih-bersih, Zain meminta pelayan untuk mengantarkan makan siang mereka berdua kekamarnya.
Zain menghubungi seseorang, dia ingin tau siapa yang hendak membeli Cha.
"Hallo Tuan, saya sudah mendapatkan informasinya," ucap seseorang yang mencari informasinya.
__ADS_1
"Katakan."
"Dia Tuan Binyu salah satu CEO yang terkenal ambisius di Indonesia ini. Dan dia juga saingan Perusahaan kita yang ada di Indonesia Tuan," jelas orang itu.
"Binyu..!?" gumam Zain.
"Ah gak mungkin dia. Banyak orang yang bernama Binyu di muka bumi ini," gumam Zain lagi.
"Tuan, hari ini dia akan datang ke club' yang ada di daerah X. Apa yang harus saya kerjakan Tuan?" tanya orang itu.
"Tidak perlu. Apa kamu memiliki fotonya. Segera kirimkan data dan fotonya ke saya, sekarang!" perintah Zain.
"Siap Tuan, saya laksanakan."
Telpon pun dimatikan. Zain masih memikirkan nama yang sudah lama dilupakannya. Zain lupa kalau Binyu juga anak dari orang yang terkenal di Indonesia yang memiliki Perusahaan besar. Dan sekarang dia mengambil alih kepemimpinan Papanya.
Binyu yang dimaksud oleh suruhan Zain adalah, sahabat Zain dulu. Sahabat yang mengenalkannya dengan Cha sehingga membuat Zain jatuh cinta. Yang awalnya dijual hanya untuk memuaskan hasratnya, justru membuat dia bucin habis dengan Cha. Zain senyum-senyum kala mengingat masa lalu itu.
Kemudian Zain duduk disamping Cha yang masih tertidur nyenyak. Dia mengusap lembut rambut Cha yang bagus.
Tiba-tiba pintu kamar diketuk, Zain mengecek siapa yang datang. Ternyata pelayan yang mengantar makanan mereka. Namun Zain tak membiarkan pelayan itu masuk, dia sendiri yang mengangkat Bali itu masuk kekamarnya dan pelayan itu langsung pergi dari depan pintu kamar Zain.
Zain meletakkan Bali itu diatas meja dan membangunkan Cha.
"Sayang, ayo bangun. Sudah siang, bersihkan tubuhmu biar kita makan siang. Aku sudah sangat lapar," ucap Zain sedikit merengek.
"Ahhh badanku sakit semua Zain! Kamu kelewatan menggempurku habis-habisan," kesal Cha.
"Itu belom seberapa sayang. Kalau kamu jadi istriku, akan setiap hari aku menembakkan senjataku kesasarannya," goda Zain.
"Ihhhh, mesum, mesum,mesum..!" Cha memukul-mukul lengan Zain. Lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit Cha didalam kamar mandi menikmati aroma lavender kesukaannya, dia pun menyudahi mandinya. Cha keluar dari kamar mandi dan mulai memakai pakaiannya.
Lalu Cha menghampiri Zain.
"Duduklah disini sayang," Zain menyuruh Cha duduk disampingnya.
Cha menuruti kemauan Zain. Dia pun duduk disamping Zain.
"Ayo sini aku siapin," ucap Zain sambil menyodorkan suapan nya.
__ADS_1