
Cha merasa senang karena Mamanya mau menerima keinginannya. Cha sudah tidak sabar ingin menghubungi Zain secepatnya sebelum kembali ke Paris.
"Ma, Cha ke dalam dulu ya," Cha masuk ke dalam rumah menuju kamarnya.
Sedangkan Mama dan yang lainnya masih berada di teras rumah melihat aktifitas si bungsu bermain.
"Ma, kenapa ngasih dia punya teman dekat laki-laki sekarang? Nanti gak selesai kuliahnya gara-gara laki-laki," ucap Ina yang mencoba menghasut Mamanya.
"Gak apalah kak. Kak Cha sudah besar dan bentar lagi suka sudah selesai kuliahnya. Sika rasa gak masalah kalau kak Cha punya kekasih," ucap Sika yang mencela ucapan Kakaknya Ina.
Ina memandang Sika dengan mata melotot karena tak suka jika provokasinya tak berhasil.
"Kamu tau apa tentang laki-laki, hah!" bentak Ina.
"Aku memang belom pacaran kak, tapi aku tidak mempermasalahkan jika kak Cha punya kekasih. Gak seperti kak Ina belom ada yang dekat," sindir Sika dengan kasarnya.
"Kamu ya, jaga mulutmu. Jangan kelewatan seperti itu. Kakak belom punya karena memilih yang terbaik tau...!" sentak Ina dengan marahnya.
"Loh kenapa kak Ina malah marah. Yang aku katakan itu kan benar. Lagian buat apa cari yang terbaik. Gak ada kak di dunia ini yang terbaik, semua butuh pembelajaran," balas Sika dengan sok bijaknya.
"Dasar anak kecil, tau apa kamu. Udah diam aja kamu kalau gak ngerti tentang kehidupan," sarkas Ina sambil menatap tajam Sika.
Mama mereka yang berada diantaranya, tidak merespon apa yang di lakukan kedua anaknya. Dia memilih diam dan memantau si bungsu bermain.
"Ma, benar kan apa yang Ina bilang?" tanya Ina meminta dukungan.
"Iya kamu benar Na, tapi Sika juga benar," jawab Mamanya membingungkan.
"Udah ah, Ina masuk aja ke dalam. Malas disini, gak di dengatin ucapan Ina," rajuk Ina.
Sika menatap tak suka kearah Kakaknya itu. Dia berpikir apakah kakaknya itu iri terhadap Cha atau memang perduli dengan Cha nya. Hanya hati Ina yang mengetahuinya.
Di dalam kamar, Cha mengambil ponselnya dan melihatnya. Cha melihat banyak notifikasi dan panggilan tak terjawab dari Zain.
Kemudian Cha langsung menghubungi Zain sebelum terlambat. Tlp terus berdering hingga beberapa kali. Saat panggilan terakhir, Zain mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Zain..!" sapa Cha dengan nada senang.
"Wa'alaikumussalam sayang, maaf kemaren malam aku dan Binyu keluar sampai larut malam. Jadi gak dengar kamu tlp. Kamu gak marah kan sayang?" tanya Zain khawatir.
"Nggak Zain, aku gak marah, cuma sedikit kesal. Hehehe," jawab Cha cengengesan.
"Iya Maaf ya Cha," balas Zain menyesal.
"Kamu baru bangun Zain?" tanya Cha.
__ADS_1
"Udah bangun tadi sayang, nih mau siap-siap buat sarapan ke lantai bawah," jawab Zain.
"Oh ya Zain, kamu kapan kembali ke Paris? Aku udah cerita sama Mama, dan Mama memintaku untuk membawa mu ke sini," ucap Cha memberitahu.
"Alhamdulillah akhirnya aku bisa bertemu orang tuamu ya sayang. Kita bisa segera menikah," balas Zain gembira mendengar khabar dari Cha.
"Iya Zain. Aku juga gak nyangka Zain kalau Mama mau ngizinin aku buat kenalin kamu," ucap Cha.
"Jam berapa aku harus kesana Cha? Aku senang sekali bisa menemui orang tuamu," balas Zain.
"Gimana kalau sebelum makan siang kamu kemari. Ya sekitar jam 11.30 gitu Zain," saran Cha.
"Mmmm baiklah, aku akan kesana siang ini."
"Bagaimana dengan Binyu, Zain?" tanya Cha bingung.
"Binyu hari mau berangkat kembali ke Jakarta. Mungkin dia tidak bisa ikut sayang. Tidak usah pikirkan dia, ok!" Zain tak suka jika Cha mengingat Binyu.
"Iya Zain," balas Cha merasa tak enak.
"Sayang gimana oleh-oleh dariku untuk sika? Apakah dia menyukainya?" tanya Zain yang mencoba memecahkan rasa tak nyaman.
"Dia sangat suka Zain. Dia bahkan tak percaya saat aku bilang oleh-oleh ini dari Paris langsung. Terus aku ceritakan semua sama Sika, setelah itu dia mempercayainya," jelas Cha .
"Iya dia emang seperti itu Zain, banyak nanya nya. Tapi aku sangat menyayanginya. Dialah yang menemaniku saat kemaren di Medan. Sampai kami berpisah karena aku harus melanjutkan kuliah di Jogja," teringat Cha.
"Udah jangan mengingat yang lalu sayang. Pikirkan masa depan kita. Aku gak mau kamu terbayang tentang yang lalu-lalu lagi, ya," pinta Zain.
"Hehehe, maaf ya Zain. Aku mengingatnya karena itu sangat berkesan dan berharga buatku disimpan dalam memori," balas Cha.
"Baiklah, aku mandi dulu ya, nanti aku akan khabari saat berangkat kerumahmu ya," ucap Zain.
"Iya Zain, aku juga mau siap-siap buat bantu Mama beres-beres," balas Cha.
"Sampai ketemu nanti sayang, Assalamu'alaikum emmmuach😘," ucap Zain menyudahi.
"Wa'alaikumussalam Zain 😘😍," balas Cha dengan mengirim emoticon juga.
Obrolan pun selesai, Zain keluar dari kamarnya menuju lift agar turun kebawah buat sarapan.
Sedangkan Cha menjatuhkan dirinya di tempat tidur dengan hati yang gembira. Cha merentangkan tangannya dengan bebas, seoalah-olah beban di dirinya lepas seketika. Cha menghirup udara segar dan nyaman di dalam kamarnya.
Di luar kamar Cha, ternyata Ina mendengar obrolan Cha dengan Zain. Dia tak sengaja lewat dari depan kamar Cha dan melihat Cha sedang ngobrol asyik dengan laki-laki, karena pintu kamar Cha terbuka sedikit.
Ina semakin tak suka mendengar dan melihat kegembiraan dari Cha. Dia merasa iri karena dirinya tidak memiliki kekasih di usianya yang sudah semakin dewasa.
__ADS_1
Setelah Cha selesai ngobrol, Ina yang menguping di balik pintu kamarnya, memutuskan kembali ke kamarnya sendiri.
"Enak banget dia dapat laki-laki yang sudah mapan. Aku jadi penasaran seperti apa tampang laki-laki yang ingin dikenalkannya," gumam Ina yang terbakar cemburu dan iri hati.
Menjelang siang, Cha sudah bersiap-siap dirumahnya. Dia sudah memasak untuk makan siang. Tentunya itu semua dibantu oleh Sika. Sedangakn Ina, dia tidak mau turun tangan membantu Cha menyambut Zain. Dia memang benar-benar aoyah sebagai seorang Kakak.
"Udah siap kak semuanya?" tanya Sika antusias.
"Udah dek, makasih ya udah bantuin Kakak menyiapkan semuanya," jawab Cha yang merasa bersyukur memiliki adek seperti Sika.
"Jangan seperti itu kak, sesama saudara kita harus saling membantu, benar gak..?" ucap Sika.
"Ya kamu benar dek. Tapi tidak semua orang akan berpikiran sama sepertimu. Kadang manusia itu egois dek, dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Jika menguntungkan buatnya barulah dia memberikan bantuannya," teenage Cha tersenyum.
"Ayo kak, bentar lagi kak Zain datang kan. Dia udah dimana sekarang kak?" tanya Sika yang gak sabaran.
"Nih Kakak lagi coba menghubunginya," jawab Cha.
Cha mencoba menghubungi Zain, beberapa kali bunyi, akhirnya diangkat juga.
"Assalamu'alaikum Zain, kamu udah dimana?" tanya Cha yang saat ini jantungnya sedang berdebar-debar menanti kedatangan Zain.
"Wa'alaikumussalam sayang, aku udah mau dekat rumah kamu nih, tunggu ya," jawab Zain.
"Iya Zain."
Tlp pun di matikan. Cha menatap kearah Sika dan dia langsung memeluk Sika sambil berputar-putar.
"Sika......, Zain udah mau sampai...! Kakak senang banget....!" teriak Cha sambil memeluk adeknya dan berputar-putar.
"Kak pusing tau....! Berhenti...!" teriak Sika protes.
"Hehehe, maaf ya dek. Kakak senang banget hari ini. Gak nyangka akhirnya Zain bertamu kerumah ini menemui Mama," jelas Cha gembira.
"Oh...kak Zain udah mau sampai ya. Kalau gitu aku keluar dulu ya. Biar aku yang akan menemuinya terlebih dulu," ucap Sika.
Sika langsung berjalan keluar dari kamar Kakaknya. Dia melihat ruang tengah yang kosong.
"Mungkin Mama di dalam kamar sama si bungsu," gumam Sika sambil melangkah ke depan.
Sika berpura-pura menyapu teras, padahal dia ingin duluan menyambut kedatangan Zain. Hingga beberapa menit kemudian, mobil masuk ke dalam area rumah Cha.
Sika menoleh ke depan dan melihat laki-laki tampan nan menawan keluar dari dalam mobil itu.
Zain memperlihatkan dirinya dihadapan Sika, dia tersenyum manis membuat Sika meleleh seperti lilin yang terkena api membara.
__ADS_1