
Hari ini mereka sarapan bareng dengan suasana yang gembira. Tak ada lagi kekhawatiran dalam diri Mamanya Cha. Begitu pula dengan Cha. Semua sudah berjalan sempurna hingga nanti.
"Ma, Sika berangkat dulu ya, Assalamu'alaikum," ucap Sika berpamitan mau ke sekolah.
"Hati-hati Sika, Wa'alaikumussalam," balas Mamanya.
Sika pun menyalami Kakak-kakaknya. Setelah itu dia berjalan keluar rumah untuk ke sekolah.
Sementara Cha kembali ke kamarnya untuk membereskan barangnya dan mempersiapkan semua yang akan di bawanya.
Saat Cha membereskan barang-barangnya, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Tok tok tok, Cha..boleh Kakak masuk?" tanya Ina yang berdiri di depan pintu kamar Cha.
"Masuk aja kak, gak di kunci kok," sahut Cha dari dalam kamarnya.
Pintu kamar Cha di buka oleh Ina. Ina yang tidak pernah menghampiri Cha selama dia berada di Medan, kali ini dia menginjakkan kakinya ke dalam kamar adiknya.
"Apa Kakak mengganggu" tanya Ina.
"Ah nggak kok, ada apa ya kak?" tanya Cha balik.
"Nggak ada, Kakak mau ngobrol aja. Jam berapa Zain kemari?" tanya Ina yang duduk di pinggiran tempat tidur Cha.
"Habis Dzuhur dia kemari. Kenapa kak?" Cha bertanya lagi.
"Kamu sungguh beruntung mendapatkan Zain. Kakak pikir dulu kamu bakalan jadian sama laki-laki yang kenalan sama kita di alun-alun," ucap Ina mengingatkan Cha tentang kejadian di alun-alun.
"Oh itu, aku gak begitu mengenalnya. Lagian itu hanya kenalan di sana dan tidak lebih dari itu," balas Cha yang tak suka mendengarnya.
"Kakak pikir kamu bakalan jadian sama dia, karena saati itu Kakak bisa melihat dia sangat tertarik denganmu," Ina terus memprovokasi dirinya untuk mengingat sosok Ghani.'
"Maaf kak, jangan bahas laki-laki lain yang tidak ada hubungan denganku," ketus Cha.
"Ya sudah kalau gitu, Kakak akan kembali ke kamar," Ina meninggalkan kamar Cha dengan rasa kesal.
Sebenarnya Ina datang ke kamar Cha untuk menanyakan tentang laki-laki yang berkenalan dengan mereka saat itu. Ina sedikit tertarik dengan laki-laki itu. Tapi ternyata Cha tidak dekat dengan temannya, sehingga Ina malas melanjutkannya.
"Loh kenapa malah pergi? Kak Ina kemari hanya mau ngobrol hal itu?" tanya Cha.
Ina terdiam sebelum dia mencapai pintu kamar Cha dan membukanya.
__ADS_1
"Kakak hanya mau tau, kamu berangkat jam berapa? Hanya itu," ucap Ina sedikit tegas dan tentunya berbohong.
"Oh....kirain ada hal lain yang perlu di ceritakan," balas Cha.
Ina tak mendengarkan ucapan Cha lagi. Dia justru keluar dari dalam kamar Cha dan pergi dari kamarnya.
Sementara Cha masih bingung dengan kedatangan Ina.
"Ada apa dengannya ya? Apa yang membuatnya datang kemari?" bathin Cha sambil menatap dirinya di cermin.
Cha pun kembali membereskan barang-barang yang mau dibawa. Setalah semuanya selesai, dia mencoba menghubungi Zain. Hingga terdengar beberapa kali panggilan, namun tak diangkat juga.
Cha pun meletakkan ponselnya, berharap Zain segera menghubunginya kembali.
Cha merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia mencoba menenangkan pikirannya yang terus memikirkan hari pernikahan mereka.
Siang pun tiba, Zain datang setelah Dzuhur. Dia datang langsung membawa barangnya dan sudah melakukan cekout terlebih dahulu sebelum menjemput Cha. Begitu pun orang tuanya Zain, mereka sudah langsung kembali hari itu juga setelah pertemuan keluarga.
"Assalamu'alaikum," ucap Zain yang berdiri di dopan teras Cha.
Ina yang mendengar seseorang mengucapkan salam, segera berjalan ke depan. Lalu dia membukakan pintu rumahnya dan melihat sosok Zain sudah berada di teras rumah mereka.
"Oh kamu Zain, masuk dulu. Kak panggilkan Cha nya dulu ya," ucap Ina yang masuk ke dalam rumah.
"Cha, itu ada Zain di luar," panggil Ina.
Cha yang mendengar bahwa Zain sudah berada di teras, langsung membawa barang-barangnya ke depan teras.
"Iya kak, Mama di kamar ya?" tanya Cha sambil membawa travel bag nya yang mungil.
"Iya temuilah, pamitan dulu sama Mama," suruh Ina.
"Iya kak," balas Cha.
Cha pun menghampiri Mamanya yang sedang berada di dalam kamarnya.
"Ma, Cha mau berangkat nih," panggil Cha dari luar kamar.
Lalu pintu kamar terbuka dan sosok Mamanya keluar bersama si bungsu.
"Apa Zain sudah datang?" tanya Mamanya.
__ADS_1
"Sudah Ma, dia udah di teras," jawab Cha.
Saat Cha ngobrol dengan Mamanya, Sika baru aja pulang dari sekolahnya. Dia langsung menghampiri Kakaknya yang mau kembali ke Jogja.
"Kak....! Kenapa harus kembali ke Jogja?" rengek Sika.
"Kakak harus menyelesaikan kuliah biar bisa kerja nantinya," jawab Cha.
"Pasti aku akan merindukan Kakak."
"Kita akan berkumpul lagi di Jogja. Semua akan di atur sama kak Zain."
"Ma, aku pamit dulu ya, sebelum pernikahanku, aku akan kembali. Mama tidak perlu khawatir, semua akan berjalan dengan lancar," ucap Cha meyakinkan Mamanya.
"Iya nak, Mama akan menyiapkan segalanya. Cepatlah kembali," pinta Mamanya.
Lalu mereka semua berjalan ke teras depan mengantar kepergian Cha ke Jogja.
"Tante, saya izin akan mengantar Cha kembali ke Jogja. Dan mengenai rumah di Jogja, nanti kami akan membelinya bersama Cha di Jogja. Jadi Tante tidak perlu khawatir," ucap Zain yang memberi keyakinan.
"Makasih banyak ya Zain. Tante gak tau mau bagaimana. Tante bersyukur karena nak Zain mengerti kondisi Cha," balas Mamanya tulus.
"Kalau gitu kami berangkat dulu ya Tante, Assalamu'alaikum," ucap Zain berpamitan.
Cha pun melakukan hal yang sama mengucapkan salam lalu menyalami tangan Mamanya. Cha juga berpamitan sama Ina dan Sika serta si bungsu.
"Kakak akan segera kembali, do'ain ya semuanya berjalan lancar," ucap Cha yang meminta do'a dari Sika.
"Pasti Sika do'ain kok kak," balas Sika.
Zain dan Cha berjalan ke arah mobil. Lalu dia masuk ke dalam. Kemudian mobil pun pergi meninggalkan rumah Cha. Cha melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan.
Cha pun menangis saat mobil sudah melaju sedikit jauh dari rumahnya. Kesedihan akan kerinduan terhadap keluarganya, Cha merasakannya.
"Sayang, kamu jangan menangis ya. Kita akan segera pulang ke Medan kok ya," hibur Zain.
"Iya Zain, rasanya gak tega ninggalin mereka. Kasihan melihat Mama yang seperti itu, bahkan si bungsu dari Sika. Aku ingin mereka segera berkumpul di Jogja secepatnya," harap Cha.
"Itu pasti sayang, kita akan melihat rumah yang pas buat Mama dan yang lainnya," ucap Zain yang masih berusaha menghibur Cha.
"Makasih ya Zain, kamu baik dan perhatian banget sama aku," balas Cha.
__ADS_1
Lalu Cha menyenderkan kepalanya di bahu Zain sambil memeluk Zain. Cha sudah tak merasa canggung maupun malu. Karena mereka akan segera menikah. Jadi Cha tidak mau ada jarak diantara mereka.