
Zain menatap Cha sendu. Hatinya juga sakit merasakan kesedihan Cha. Ingin rasanya dia memberikan pelajaran buat laki-laki yang bernama Yoga.
"Aku disini aja Zain. Aku merasa tak enak sama keluarga kamu, karena baru ketemu sudah membuat keributan. Maafkan aku ya Zain," sesal Cha.
"Hey kenapa malah kamu minta maaf sayang. It's ok sayang. Kami semua tidak mempermasalahkannya. Mama dan Papaku, mereka justru merasa khawatir denganmu," jelas Zain.
"Keluarga kamu baik banget Zain. Apakah aku boleh ikut menghadiri pernikahan dia?" tanya Cha penuh harap.
"Maksud kamu?"
"Aku ingin melihat secara langsung pernikahan itu Zain. Agar aku puas dan tidak merasa dibohongi terus. Aku ingin menghadiri pernikahan mereka," pinta Cha dengan wajah memohon.
Zain menatap mata Cha dalam. Dia takut jika mengijinkan Cha ikut, akan menjadi beban buat Cha nantinya.
"Apa kamu yakin Cha?" tanya Zain meyakinkan Cha.
"Ya, aku sudah memutuskan untuk ikut menghadirinya. Dan bantu aku untuk bisa bertemu dengannya. Dan kuharap kamu selalu disampingku," pinta Cha.
"Baiklah, aku akan bicarakan dengan orang tuaku dulu. Sekarang kamu istirahat dan aku tinggal kamu sebentar ya, karena aku harus ke Perusahaan sebentar," ucap Zain.
"Pergilah Zain, aku baik-baik aja kok. Lagian ada Oma dan Mama kamu yang menemaniku disini." ucap Cha yang tidak ingin membebani Zain.
"Baiklah sayang, aku pergi dulu ya," Zain mengecup kening Cha.
Cha membalasnya dengan senyuman. Setelah kepergian Zain, Cha langsung menangis tersedu-sedu. Dia mengingat semua perkataan Yoga, semua kenangan bersama Yoga saat SMA. Semua tentang masa lalunya kembali berputar di memorynya Cha.
Di luar kamar Cha, saat ini Zain sedang menemui Mama dan Omanya yang berada diruang keluarga.
"Mom, aku titip Cha sebentar, saat ini aku sedang ada urusan di Perusahaan. Jadi biarkan Cha dikamar dulu. Kalau Mama dan Oma mau melihatnya, datang saja," ucap Zain.
"Gimana keadaannya Zain? Oma kasihan sekali melihatnya. Tega sekali laki-laki itu. Oma harap kamu tidak seperti laki-laki itu," Omanya menaruh harapan yang besar untuk Zain agar tidak memperlakukan perempuan seperti Cha.
"Tidak akan Oma," balas Zain.
"Kamu ke Kantor sendirian Zain?" tanya Mamanya.
"Ya Mom, aku hanya sendiri. Mungkin Papa tak ikut karena harus mengurus hal yang lainnya," jelas Zain.
"Ok, kamu hati-hati dijalan ya sayang, dan cepat kembali menemani Cha," pesan Mamanya.
__ADS_1
"Baik Ma, Zain pergi dulu ya Ma," Zain menyalami tangan Mamanya dan mencium pipi kiri dan kanan.
"Oma, Zain berangkat dulu, Oma bisa berteman sama Cha," Zain mencium pipi kiri dan kanan Omanya sambil tersenyum.
"Baiklah Pangeran kecilku," balas Omanya.
"Zain sudah besar Oma!" teriak Zain saat sudah berlalu dari hadapan Omanya.
"Bagiku kau masih Pangeran kecilku Zain...!" sahut Omanya.
"Isssh Oma ni lah," gumam Zain yang merasa sebel jika dibilang Pangeran kecil.
Zain keluar dari Mansionnya dan masuk kedalam mobilnya. Lalu dia menyuruh bodyguardnya mengantarkan ke Perusahaannya.
Di dalam Mansion, Mamanya Zain masuk kedalam kamar menemui suaminya membahas tentang kehadiran pernikahan anak sahabatnya.
Sedangkan Oma pergi menemui Cha dikamarnya. Oma ingin menghibur Cha yang sedang terluka. Oma berjalan menaiki tangga kearah kamarnya Zain. Lalu setelah sampai, Oma mengetuk pintu kamar Cha.
"Tok tok tok, sayang..., boleh Oma masuk?" tanya Oma dari luar kamarnya.
Cha yang mendengar suara Oma diluar kamar, langsung berdiri dan membuka pintu kamarnya.
"Oma...!" Cha memeluk tubuh tua renta Oma yang berdiri di depan pintu kamarnya.
Lalu mereka berdua masuk kedalam kamar dan duduk di pinggiran ranjang.
"Oma, maafin aku ya sudah membuat keluarga ini kebingungan melihat sikapku tadi," ucap Cha dengan penyesalan.
"Sudah sayang, Oma dan orang tua Zain memahami apa yang kamu rasakan kok. Jadi jangan merasa gak enak hati ya," pinta Omanya Zain.
"Oma, bolehkan aku mencurahkan kegalauanku dengan Oma. Aku tidak punya seseorang yang bisa aku ajak berbagi saat ini kecuali Zain. Aku ingin Oma menemaniku disini," pinta Cha dengan wajah yang kusut.
"Of course sayang, Oma dengan senang hati akan menemani kamu disini. Apalagi mendengar curhatan hatimu. Oma akan mendengarkannya," ucap Omanya dengan tulus.
"Terima kasih Oma. Aku bersyukur bertemu dengan kalian semua," ucap Cha dengan rasa senang.
"Sayang, sekarang coba kamu ceritakan sama Oma apa yang terjadi?" Oma menatap wajah Cha menunggu Cha menceritakan kisahnya.
"Apa yang harus aku ceritakan Oma, semua sudah berlalu. Dia sudah meninggalkan ku Oma. Apa lagi yang harus aku ceritakan," tanya Cha.
__ADS_1
"Ya berbagilah sama Oma. Biar hatimu lega," harap Omanya.
"Oma mau mendengarkannya?" tanya Cha merasa gak enak.
"Tentu sayang, ceritakanlah," pinta Omanya sambil memegang kedua pipi Cha.
"Oma, laki-laki yang ada di undangan itu adalah cinta pertamaku saat SMA di Indonesia. Saat SMA banyak suka dan duka yang kami hadapi bersama tanpa hambatan. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Negara Belanda mengambil Kedokteran. Dia memintaku untuk menunggunya di Indonesia sampai kami menyelesaikan kuliah. Dan dia berjanji setelah lulus, dia akan memintaku menjadi pendamping hidupnya Oma," ucap Cha sambil meneteskan air matanya.
"Terus selama kalian berjauhan, apa dia sering memberi khabar," tanya Omanya.
"Saat aku melanjutkan kuliah di Jogja, komunikasi diantara kami buruk Oma. Dia jarang memberi khabar karena sibuk kuliah. Tapi aku memakluminya Oma. Aku mempercayainya," jawab Cha.
"Apa dia tidak cerita bagaimana kehidupannya selama di Belanda sayang?" tanya Omanya.
"Dia mengatakan kalau dia baik-baik saja Oma. Aku tidak pernah curiga tentang dia di Belanda. Dan akhirnya saat ini aku mengetahui satu fakta yang membuatku kecewa, bahwa dia memilih dijodohkan hanya karena takut tidak mendapatkan harta warisan orang tuanya. Aku benar-benar kecewa Oma," Cha merutuki kebodohannya yang bertahan selama beberapa tahun ini.
"Ya begitulah kehidupan sayang. Jangankan pacaran. Bahkan yang sudah menikah saja, bisa terjadi perpisahan. Semua itu kita yang menentukan sayang, mau bagaimana hidup kita kedepannya. Mungkin yang kuasa memiliki rencana yang indah untuk kamu nantinya. Jadi percayalah, dibalik kesedihan akan ada kebahagiaan yang tertunda dan mendapatkan kasih sayang yang sesungguhnya," nasehat Omanya dengan bijak.
Cha terdiam mendengar penuturan dari Omanya Zain. Dia pun mencerna setiap ucapan yang dilontarkan Omanya.
"Terima kasih Oma sudah memberikan masukan kepadaku. Semoga aku bisa mengikhlaskan semuanya. Tapi mungkin butuh waktu Oma buatku untuk melepaskan rasa sedih dihatiku," ucap Cha.
"Pasti sayang. Semua akan butuh proses. Proses pemulihan hati yang luka. Karena jika hati luka, akan sulit diobati. Ibarat kertas yang sangat rapuh, jika sudah sobek tidak bisa disambung seperti sedia kala. Walaupun bisa direkatkan dengan lem atau dihekter, tapi tetep akan ada bekasnya," jelas Omanya.
"Iya Oma, aku akan mendengarkan nasehat Oma. Terima kasih Oma untuk nasehatnya. Zain sudah pergi ya Oma?" tanya Cha.
"Dia sudah pergi tadi, katanya hanya sebentar saja. Nanti juga dia pulang. Bagaimana hubungan kalian?" tanya Omanya yang gak sabaran pengen tau kisah cinta cucunya.
"Ahhh Oma, Zain itu orangnya pemaksa. Suka mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tapi dia penyayang Oma dan sangat perhatian denganku," ucap Cha malu-malu.
"Apa kalian punya hubungan spesial?" tanya Omanya penasaran.
"Sedikit Oma," jawab Cha yang merasa tak enak.
"Hahahaha, kamu lucu sekali sayang. Oma suka kejujuranmu. Biarlah sedikit, nanti lama-lama menjadi bukit, cinta yang tumbuh akan sangat besar diantara kalian nantinya," harap Omanya.
Cha diam dan menundukkan kepalanya. Dia belom mau membahas hubungannya dengan Zain. Karena perasaannya saat ini sedang kecewa.
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Oma tinggal dulu ya sayang. Nanti Zain akan kembali ya," ucap Omanya yang mengusap kepala Cha.
__ADS_1
"Iya Oma," balas Cha.
Lalu Omanya pergi meninggalkan Cha dan keluar dari dalam kamarnya Zain. Sedangkan Cha berdiri kearah jendela dan memandang keluar jendela. Dia berdiri sambil melamun tentang masa lalunya. Dia masih tak percaya dengan semua kejadian saat ini. Benar-benar tak terduga baginya.