Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Menikmati hari bersama Oma


__ADS_3

Didalam lift tidak ada yang berbicara. Zain dan Cha hanya diam saja. Hingga akhirnya lift terbuka. Beberapa karyawan menatap tajam kearah Cha. Mereka berbisik-bisik saat Cha dan Zain melewatinya.


Zain menatap tajam kearah mereka, dan mereka langsung menunduk tak berani memandang kearahnya.


"Ayo sayang, kita jemput Oma dan jalan-jalan di Kota Paris. Aku akan membawamu sama Oma menikmati hari ini," ajak Zain dengan semangat.


"Iya Zain, tapi aku harus ganti pakaian dulu ya. Aku gak mau berpakaian seperti ini, terlalu formal menurutku," Cha memperlihatkan pakaian yang digunakannya.


"Baiklah sayangku, kamu boleh berganti pakaian nanti. Ayo kita masuk ke mobil," Zain mengajak Cha ke mobil.


"Où sommes-nous monsieur?


"(Kita kemana Tuan)?" tanya Bodyguardnya.


"Nous retournons au manoir maintenant!"


"(Kita kembali ke Mansion sekarang)!" perintah Zain terhadap bodyguardnya.


"Prêt Monsieur."


"(Siap Tuan)," jawab bodyguardnya.


Lalu mobil mereka meninggalkan Perusahaan Zain yang sangat besar dan dengan bangunan mewah. Mobil pun melaju kembali ke Mansion keluarga Rudolf.


Rudolf adalah nama belakang Papanya Zain. Dan Mansion itu adalah bangunan yang dibangun oleh Papanya Zain saat dulu dia berjaya. Papanya Zain menikah dengan perempuan dari Indonesia yang memiliki darah turunan. Dan akhirnya mereka memilih menetap di Paris dan memiliki anak bernama Zainka Hasyim Rudolf, nama yang diberikan Omanya saat lahir.


Setelah menempuh beberapa jam, mobil akhirnya memasuki Mansion keluarga. Mobil berhenti di depan pintu rumah utama.


"Cha kita sudah sampai, ayo turun. Oma pasti sudah menunggu kita," ajak Zain.


"Iya Zain. Tapi aku mau ke kamar dulu buat ganti pakaian," balas Cha.


Kemudian mereka masuk kedalam Mansion itu. Dan diruangan tengah, Oma sudah menunggu mereka.


"Oh sayang kalian sudah kembali! Oma senang sekali. Kita jadikan perginya?" tanya Omanya saat Zain dan Cha datang.


"Jadi dong Oma! Tapi Cha mau ganti pakaian dulu katanya. Kita tunggu disini aja ya Oma," pinta Zain.


"Oh baiklah."


"Oma, saya keatas dulu ya buat ganti pakaian dulu. Saya lebih suka pakaian santai Oma," ucap Cha.


"Pergilah sayang, Oma akan menunggu disini bersama Zain," balas Omanya.

__ADS_1


Lalu Cha pergi meninggalkan mereka dan naik keatas tangga menuju kamarnya Zain. Dia masuk kedalam kamarnya dan mulai berganti pakaian.


Sedangkan diruang tamu, Zain sedang menunggu bersama Omanya. Mereka menikmati secangkir coklat hangat.


"Zain, que diriez-vous du mariage du fils de l'ami de votre Papa? Vous partez aux Pays-Bas?"


"(Zain, bagaimana dengan pernikahan anak teman Papamu? Apa kalian jadi ke Belanda)?" tanya Omanya sambil menyeruput minuman coklatnya.


"Il semble que ce soit Grand-mère, j'ai entendu dire hier que Papa et Maman en ont discuté. Et Cha veut y aller. Est-ce que Grand-mère veut venir aussi?


"(Sepertinya jadi Oma, aku dengar kemaren Papa dan Mama membahasnya. Dan Cha ingin ikut kesana. Apakah Oma mau ikut juga)?" tanya Zain.


"Oui, grand-mère veut accompagner Cha. Et Oma est également curieuse de voir à quoi ressemble le yoga. Est-il plus beau que ce petit Prince Oma!"


"(Ya Oma pengen nemani Cha. Dan Oma juga penasaran pengen lihat bagaiamana yang namanya Yoga. Apakah lebih tampan dari Pangeran kecil Oma ini)!" ucap Omanya dengan senyuman jahilnya.


"Bien sûr, je suis plus beau, Oma. Je l'ai déjà rencontré. Il est toujours moins beau que moi."


"(Tentu lebih tampan diriku Oma. Aku sudah pernah bertemu dengannya. Dia masih kalah tampannya dariku)," seringai Zain yang membanggakan dirinya.


"Hahaha, tu es comme ton Papa, ton niveau de confiance est le même que lui. Hah, l'enfant et le père sont les mêmes."


"(Hahaha, kau seperti Papamu, tingkat percaya dirimu sama sepertinya. Hah anak sama Papanya sama saja)," dengus Omanya yang sebel melihat cucunya.


"Ya, kalian memang sama."


Asyiknya mereka ngobrol, sampai tidak menyadari kehadiran Cha yang sudah tampil berbeda dan sexy.


"Oma, ayo kita berangkat," ajak Cha yang sudah berdiri disamping Zain.


Zain dan Omanya langsung menoleh ke sumber suara. Mereka terpaku melihat penampilan Cha yang simpel tapi sangat cantik dan sexy.


"Dia sungguh cantik sekali Zain," puji Omanya.


"Ya Oma benar, dia sangat cantik. Aku gak akan melepaskannya Oma," balas Zain dengan wajah pelongonya.


"Zain, hati-hati nanti air liurmu tumpah," ledek Cha sambil geleng-geleng kepalanya.


"Hahaha, kamu seperti gak pernah melihat perempuan cantik saja Zain," ledek Omanya.


"Dia berbeda Oma, ini sangat mempesona dan lain dari pada yang lainnya Oma," puji Zain yang sangat bucin terhadap Cha.


"Sudah sayang, jangan hiraukan dia. Ayo kita berangkat. Daripada nungguin dia sadar dari terpelongo nya, kita jalan saja," ajak Omanya yang merasa lucu melihat sikap cucunya yang sangat bucin.

__ADS_1


"Oma....! Jangan tinggalin Zain...!" teriak Zain sambil berjalan cepat mengejar mereka.


Cha geleng-geleng kepala melihat kekonyolan Zain hari ini. Dia benar-benar terhibur dengan sikap Zain.


Mereka pun masuk kedalam mobil dan pergi dari Mansion. Mobil melaju dengan kecepatan sedang karena Omanya tidak suka buru-buru. Omanya ingin menikmati pemandangan jalan-jalan yang mereka lewati.


"Cha, gimana persiapan kamu untuk ikut ke Belanda?" tanya Omanya yang memecah keheningan didalam mobil.


"Ah itu Oma. Aku sudah menyiapkan gaunnya buat acara nanti," jawab Cha tersenyum.


"Apakah Oma boleh ikut?" tanya Omanya.


"Boleh Oma. Aku sangat senang bila Oma ikut, biar aku ada temannya dan tidak sendirian," jawab Cha.


"Kan aku juga ada Cha yang bisa nemani kamu," sambung Zain yang duduk didepan.


"Itu berbeda Zain. Cha pasti lebih nyaman sama Oma ketimbang kamu Zain, iya kan sayang?" ucap Omanya dengan membanggakan dirinya.


"Iya Oma."


Mobil terus melaju pelan. Mereka benar-benar menikmati perjalanan dengan nyaman didalam mobil. Hingga mereka sampai ditempat yang banyak toko-tokonya yaitu ke Le Marais



Le Marais merupakan sebuah kawasan bersejarah dan kota tua di Paris, Perancis yang sangat terkenal. Kawasan ini dipenuhi oleh aneka ragam jenis toko, makanan dan lain-lainnya. Selain itu juga memiliki banyak beredar bangunan bersejarah dan arsitektur yang sangat luar biasa.


Le Marais yang paling dekat untuk mendapatkan nuansa Paris abad pertengahan dan mempunyai lebih dari berbagai bangunan dan jalan-jalan yang tersisa utuh daripada daerah mana saja di Paris.


Akhirnya mereka memilih Ke Marais untuk tempat berjalan kaki bersama Omanya.


'Sayang, kita sudah sampai, ayo temani Oma belanja. Oma sudah lama tidak berjalan kaki," ajak Omanya yang mulai keluar dari mobilnya.


"Baik Oma," balas Cha yang juga sudah keluar dari mobil.


"Zain, kamu jalan dibelakang kami. Biar Oma yang menggandeng Cha."


"Iya Oma, hari ini Zain jadi bodyguard Oma dan Cha," sindir Zain terhadap Omanya.


"Bagus. Ayo cantik kita jalan-jalan. Kamu harus menikmati hari ini di Paris. Kita belanja sepuasnya," ucap Oma dengan semangatnya.


"Iya Oma, tapi apa Oma masih kuat berjalan kaki?" tanya Cha.


"Tentu sayang! Oma mu ini masih sangat kuat jalan kaki. Kalau Oma capek, ada Zain yang gendong Oma, hehehe," jawab Omanya dengan cengengesan.

__ADS_1


__ADS_2