
Cha tersadar saat merasakan sentuhan di tangannya, lalu dia melihat kebawah. Dan matanya melotot melihat Ghani menggenggam tangannya. Cha melepaskan genggaman itu dan menatap tajam ke Ghani.
Si primadona masih berdiri sambil berkacak pinggang, menghina Cha. Dia mengeluarkan kata-kata jelek terhadap Cha.
"Hei perempuan jelek, Lo pasti pake pelet ya buat mendapatkan kak Ghani?" tuduh si perempuan primadona.
Terdengar suara riuh di kantin itu saat si primadona menuduh Cha menggunakan pelet.
"Masa sih dia memakai pelet? Pantas aja si Ghani nempel sama dia."
"Kok ada ya perempuan seperti itu di Kampus kita," celetuk yang lainnya.
"Gimana sih Ghani bisa-bisanya suka sama tuh perempuan," ucap lainnya.
"Wah bahaya tuh si Ghani kena pelet sama adik kelas kita. Harus di bantu dia nih," ucap salah satu teman Ghani dalam team basket.
Mereka mendatangi meja Ghani dan menarik Ghani keluar dari kursinya.
"Ghani, ayo gw temani Lo ke Ustadz agar pelet dia lepas dari Lo," ucap temannya.
"Iya Ghan, Lo harus bisa lepas dari jerat dia. Jangan sampai Lo terpengaruh," sambung yang lainnya.
Sementara si primadona merasa puas dengan fitnah yang disebarnya. Dia tersenyum menyeringai dan memandang Cha dengan sinis.
Teman-teman si orimadona malah cekikikan melihat Cha di salahkan. Si primadona dan teman gengnya meninggalkan Ghani dan yang lainnya. Karena keadaan semakin ricuh, dia memilih ke mejanya lagi.
Ghani merasa geram melihat tingkah teman-teman basketnya. Dia langsung mengajak Cha pergi dari sana. Ghani menarik tangan Cha dan mengatakan ke teman-temannya.
"Gw sadar dan gw tidak kena pengaruh ilmu hitam ataupun pelet. Jadi jangan menuduh orang lain kalau tidak ada bukti. Dan jangan mendengar sesuatu dari mulut manis orang lain. Karena bisa jadi dia yang justru menggunakannya atauoun melakukan hal yltak baik," ucap Ghani memperingati teman-temannya.
Lalu Ghani menggenggam tangan Cha dan meninggalkan kantin.
"Ghan, aku bisa jalan sendiri. Lepaskan!" teriak Cha kesal.
"Lebih baik kita cari tempat yang lain aja. Kita keluar dari Kampus. Di dekat sini ada cafe, kita bisa makan dan minum sepuasnya disana," ucap Ghani.
"Aku tidak mau. Aku mau masuk ke kelas aja. Kalau kamu mau makan di luar silahkan Ghan. Aku tidak menghentikannya," ucap Cha.
"Tapi aku mau sama kamu Cha. Please jangan tolak. Kita sudah menjadi teman sekarang. Untuk merayakan pertemanan kita, ok!" pinta Ghani.
"Mmmm baiklah. Tapi Dewi harus ikut bersama kita," balas Cha.
"Ok, aku setuju. Mana Dewinya?" tanya Ghani sambil melihat ke belakang dan melihat samping.
__ADS_1
"Sepertinya dia tertinggal di sana. Kita tunggu disini aja."
"Iya kita tunggu dia," sambung Cha.
Tak berapa lama, Dewi muncul di hadapan mereka berdua.
"Wi, gimana? Apa yang terjadi di dalam?" tanya Cha.
"Aku ke tempat ibu kantin untuk menjelaskan semuanya. Makanan yang kita pesan harus di bayar Cha. Tapi aku tidak punya cukup uang. Jadi aku bilang kalau besok, Lo yang menyelesaikannya. Dan mengenai yang lainnya. Mereka kembali ke tempat duduknya dan menatap gw sadis," jelas Dewi.
"Ya ampun Wi, gw minta maaf ya karena udah ninggalin Lo. Meka merasa bersalah.
"Gak apa Mek, yang penting Lo gak kenapa-napa," balas Dewi.
"Gimana, apa Lo masih mau makan dan minum? Kita bisa mencarinya di luar Kampus," tanya Cha.
"Boleh juga, gw laper Cha. Pengen makan, apalagi gw juga haus. Pengen minum es deh," jawab Dewi.
"Kalau gitu ayo ikut dengan Kakak. Kita makan di cafe dekat Kampus," ajak Ghani.
"Wah boleh juga tuh kak. Ayolah kalau gitu," Dewi pun menyetujuinya.
Cha masih diam di tempatnya, dia tidak berminta menerima ajakan Ghani. Namun dia juga kasihan melihat Dewi yang kelaparan dan haus.
"Aku gak mau merepotkan kamu Ghani," jawab Cha.
"Aku gak merasa di repotkan. Aku justru merasa senang bisa gabung makan sama kalian," balas Ghani yang gak mau nyerah.
Akhirnya Cha pun pasrah, dia mengikuti keinginan Ghani. Mereka masuk ke dalam mobil Ghani.
Ghani melajukan mobilnya ke arah cafe yang di maksud. Tak jauh dari Kamous, mereka pun sampai di cafe itu.
"Ini dia yang aku maksud Cha tempatnya. Ayo turun. Kita masuk ke dalam sana," ucap Ghani sambil menunjuk ke arah cafe.
Cha dan Dewi langsung keluar dari dalam mobil. Mereka tak menunggu Ghani, langsung masuk ke dalam cafe. Dewi mengedarkan pandangannya ke segala arah. Lalu dia melihat ada meja kosong yang sofa.
"Kita duduk disana aja Cha," tunjuk Dewi.
"Ayo, sambil ambil langsung buku menunya Wi," suruh Cha.
Setelah mereka mengambil buku menu di meja kasir, Cha dan Dewi berjalan ke arah meja yang kosong.
Sedangkan Ghani, dia menyusul Cha masuk ke dalam cafe. Ghani mencari keberadaan Cha. Dia melihat Cha sedang memesan makanan.
__ADS_1
"Udah pesan makanan?" tanya Ghani.
"Ini lagi mesan kak. Kak Ghani mau makan apa?" tanya Dewi.
Lalu Ghani melihat buku menu yang ada di atas meja mereka. Dan dia ikut memesan makanan sama pelayan itu.
Setelah selesai, pelayan pergi meninggalkan meja mereka.
Ghani merasa senang akhirnya Cha mau makan siang barengnya. Ghani berharap pernikahan Cha tidak terlaksana. Walaupun pikiran itu jahat, itulah harapan Ghani.
"Kak Ghani kenapa senyum-senyum gitu?" tanya Dewi yang ternyata memperhatikannya.
"Ah nggak Wi, saya lucu mengingat kejadian tadi di kantin," jawab Ghani ngasal.
Dewi yang merasa aneh, terus bertanya dengan Ghani.
"Kenapa lucu kak? Kayaknya gak ada yang harus di tertawa kan dengan kejadian tadi," ucap Dewi.
"Bagi saya itu lucu. Tindakan yang konyol membuat berita tak benar tentang orang lain," balas Ghani yang masih ngasal.
"Namanya juga dia naksir sama kak Ghani," ucap Dewi tak mau kalah.
"Kakak tidak menyukainya. Dan hak Kakak bukan untuk tidak menggubrisnya tadi?" tanya Ghani.
"Iya sih kak," jawab Dewi yang tak enak hati.
Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Dewi terlihat sangat berselera. Dia sudah tak sabar ingin menyantap hidangan diatas meja mereka.
"Ayo Cha di makan," ajak Ghani.
"Kenapa Cha aja yang diajak? Aku nya kok nggak kak Ghani?" tanya Dewi kesal.
"Ya ayo makan juga," jawab Ghani dengan males.
Dewi tak memperdulikan sikap Ghani. Dia menyantap hidangan itu dan menikmatinya.
"Enak banget ini Cha. Mmmm mantep rasanya," puji Dewi dengan mulut penuhnya.
"Awas keselek loh Wi...! Pelan-pelan aja makannya," tegur Cha.
Cha pun ikut menyantap makanannya yang sudah terhidang. Dia tak berani melihat Ghani yang berada di hadapannya. Dia mencoba nyantai menikmati makanannya.
Berebeda dengan Ghani, yang senang memandang Cha yang sedang makan, hingga dia lupa dengan makanannya sendiri.
__ADS_1