
Cha masih berada di dalam kamarnya, dia masih duduk di depan cermin menatap dirinya di cermin.
"Kenapa aku gugup sekali ya. Rasanya lucu menjalani semua ini. Padahal aku sering bertemu dengan Zain, tapi saat ini ntah kenapa seperti orang yang baru saja bertemu, jantungku terasa berdebar terus. Ya ampuuun Cha....," Cha berbicara sendiri di depan cermin.
Cha tidak tau kalau rombongan keluarga Zain sudah tiba di depan rumahnya. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri di depan cermin.
Sementara di luar rumah, Zain dan keluarganya sudah berada di teras rumah. Mereka di sambut dengan Mamanya Cha dan Ina serta dua tetangganya.
"Assalamualaikum Tante...," sapa Zain dengan ramah sambil menyalami mereka yang ada di tempat.
"Wa'alaikumussalam nak Zain," sahut Mamanya Cha.
"Ini keluarga saya Tante, ini Mama dan Papa saat serta ini Oma saya tersayang," Zain memperkenalkan semua keluarganya.
"Saya Mamanya Zain," ucap Mamanya.
"Hallo," sapa Papanya Zain.
"Hallo, say Omanya Zain," ucap Omanya.
Mereka saling memperkenalkan diri masing-masing. Lalu Mamanya Cha mempersilahkan keluarga Zain masuk ke dalam rumah.
"Ayo kita masuk ke dalam," ajak Mamanya Cha.
"Silahkan Oma, Ma, Pa," ucap Zain yang meminta mereka segera masuk.
Lalu mereka semua masuk ke dalam rumah dan berkumpul di ruangan tamu yang cukup luas.
"Gimana khabar anda Bu? Saya dengar dari Zain, katanya sedang dalam kondisi kurang sehat. Kami jadi tidak enak memaksa pertemuan ini," ucap Mamanya Zain sungkan.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Saya senang karena keluarga Zain mau datang. Dan itu membuat kesehatan saya kembali pulih," balas Mamanya Cha yang tentunya berlebihan.
"Alhamdulillah, kami senang mendengarnya."
"Maksud kedatangan kami kemari untuk membicarakan tentang hubungan Zain dan Cha. Kami dari keluarga Zain sudah sangat mengenal Cha dengan baik. Dia perempuan yang sangat baik dan sopan. Saya dan Papanya Zain serta Omanya sangat menyukai Cha. Jadi kami meminta Cha untuk menjadi pendamping Zain selamanya," ungkap Mamanya Zain atas kedatangan mereka.
Mamanya Cha menjadi terharu mendengar pengakuan keluarga Zain yang ternyata sangat menyukai anaknya yang tak pernah di perhatikannya dan yang tak pernah di sayangnya.
"Cha itu anak yang sangat baik, saya Omanya Zain sangat menyukainya. Kami sangat menyayanginya," timpal Omanya.
"Saya sangat senang mendnegarnya. Ternyata anak saya mendapatkan keluarga yang sangat menyayanginya. Saya jadi terharu atas kasih sayang yang diberikan terhadap Cha," balas Mamanya Cha.
__ADS_1
Lalu Ina datang membawakan minuman dan cemilan kecil yang sengaja di buat tadi pagi.
"Silahkan Bu, Pak, Nek, diminum," Ina mempersilahkan tamunya minum.
"Ayo Bu, Pak diminum," ucap Mamanya Cha.
"Oh ya Tante, Cha dimana ya?" tanya Zain yang dari tadi tidak melihat kehadiran calon istrinya
"Sika..., panggil Kakakmu kesini," suruh Mamanya.
"Iya Ma."
Lalu Sika pergi ke kamar Cha. Dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung masuk ke dalam.
"Kak, itu kak Zain dan keluarganya sudah datang. Kakak disuruh ke depan. Ayo!" Sika memberitahukan kedatangan Zain dan keluarganya.
Cha kaget dan jantungnya semakin deg-degan dan tangannya mulai berkeringat dingin.
"Kakak ayo kesana!" tegur Sika.
"Sika, Kakak kok deg-degan ya mau bertemu sama mereka. Apa mereka menanyakan Kakak?" tanya Cha penasaran.
"Iya kak, terutama kak Zain tuh nanyain Kakak," goda Sika.
"Baiklah, ayo kita ke depan," Cha beranjak dari depan cermin dan menghampiri Sika di depan pintu kamarnya.
"Kak, ternyata Papanya dan Omanya kak Zain, bule ya. Tinggi-tinggi banget. Pantes kak Zain ganteng banget," puji Sika.
"Iya, kak Zain mengikuti Papanya yang berdarah Perancis," balas Cha.
"Pantes separuh bule. Hehehehe," ucap Sika sambil cengengesan.
Lalu mereka keluar dari dalam kamar Cha. Cha menggenggam tangan adiknya Sika. Mereka berjalan ke arah ruang tamu dimana sudah berkumpul semuanya disana.
Saat Cha sudah sampai di ruang tamu, dia melihat Mama, Papa dan Omanya Zain. Lalu tatapannya bertemu dengan Zain. Cha semakin malu dengan wajah merona merah.
"Ma, Pa, Oma," ucap Cha sambil menyalami mereka satu persatu.
"Sayang, Oma sangat merindukanmu. Oma ingin kalian segera menikah," ucap Omanya saat Cha menyalaminya.
"Apa khabarmu sayang?" tanya Mamanya Zain.
__ADS_1
"Baik Ma," jawab Cha.
"Papa senang bisa bertemu denganmu lagi Cha," ucap Papanya Zain.
Cha merasa bahagia karena mereka tak melupakan Cha. Justru mereka merindukan Cha.
Cha memilih duduk di dekat Kakaknya. Dia malu-malu menoleh ke arah Zain yang tersenyum nakal terhadapnya.
Dalam pertemuan itu, Zain mengirim pesan ke Cha.
"Sayang, kamu cantik banget hari ini. Aku jadi pengen meluk kamu sayang. Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang," isi pesan Zain.
Cha yang merasa ponselnya bergetar, melirik sekilas ke arah Zain. Dia melihat Zain memberikan kode melalui matanya.
Lalu Cha melihat ke arah ponselnya dan tertera pesan masuk dari Zain. Cha mengerutkan keningnya dan penasaran hingga dia membuka pesan itu.
Saat membaca pesan dari Zain, Cha merasa wajahnya memerah. Dia senyum-senyum sendiri saat membaca pesan itu. Cha pun membalas pesan Zain.
"Kamu juga ganteng banget Zain. Jadi pengen berada di pelukanmu saat ini. Apakah kamu merindukanku Zain?" tanya Cha melalui pesannya.
Zain melihat ponselnya menyala, dia pun melihat isi pesan Cha. Zain pun. sneyum-senyum membaca balasan pesan Cha.
"Sayang, aku sangat merindukanmu. Bahkan aku ingin segera membawamu ke kamarku. Membuatmu mengeluarkan suara syahdu," goda Zain secara fulgar.
Cha menerima pesan Zain. Lalu dia membacanya dan langsung melotot ke arah orangnya langsung.
Zain sneyum-senyum memandang wajah Cha yang memerah karena malu. Itu sangat menggemaskan bagi Zain.
"Sayang, kamu tau gak, melihat wajahmu seperti itu membuatku ingin menerkam mu segera," Zain mengirim pesan lagi untuk Cha.
Cha yang duduk di hadapan Zain, mengerutkan keningnya menatap Zain yang senyum-senyum. Lalu dia melihat pesan dari Zain dan langsung membukanya.
Cha semakin melototkan matanya ke arah Zain. Dia menjadi sangat malu membaca pesan Zain.
Kegiatan yang mereka lakukan, ternyata di lihat dan di pantau oleh Omanya Zain. Sehingga membuat Omanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Zain dan Cha.
Sedangkan Mama dan Papanya Zain, sedang fokus membahas tentang perencanaan pernikahan Cha. Mereka akhirnya menemukan kesepakatan bahwa lebih baik pernikahan segera dilaksanakan.
"Berarti kita sepakat, kalau pernikahannya di lakukan empat bulan lagi. Dimana Cha sudah menyelesaikan KKN nya. Dan kami akan memberikan mahar yang akan diminta," ucap Mamanya Zain.
"Iya Bu, empat bulan lagi dari sekarang. Kami akan mempersiapkan segalanya untuk pernikahan mereka," balas Mamanya Cha.
__ADS_1
Akhirnya diambil kesepakatan uang mahar yang akan diberikan dan tanggal pernikahan mereka. Pertemuan dua keluarga mendapat kesepakatan tanggal pernikahan Cha. Mereka ngobrol sambil sesekali bercanda. Keakraban dua keluarga akhirnya terjalin.
Setelah selesai acara pertemuan itu, keluarga Zain kembali ke Hotel bersama Zain.