Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Jajanan Cemilan Dari Cowok Ganteng


__ADS_3

Di dalam kelas, Cha seharusnya fokus dengan ujiannya. Tapi tidak saat ini, dia teringat akan ciumannya tadi bersama Zain.


"Ih....bodoh-bodoh, kenapa aq bisa terbuai. Dia kan orang yang mau memperkosa qu kemaren. Ahhh kenapa aq harus berurusan sama mereka lagi....Zain sialan....," umpat Cha yang merasa jengkel. Tanpa sadar dia memukul-mukul meja menggunakan pulpennya demi melampiaskan kekesalannya.


Siswa-siswi yang berada di dalam kelas jadi terusik dengan suara pulpen yang di pukul-pukul ke meja. Hingga mereka menegur Cha tapi tidak digubris sama Cha.


"Berisik banget sih Cha..," kata salah satu siswa yang berada di samping meja Cha.


"Eh suruh tuh diem, gw gak konsen nih belajar," celetuk siswa lainnya.


"Ada apa dengan dia, lagi ujian gini, masih sempat ngelamun, hadewww," ketus siswa lainnya juga.


Hingga guru pengawas masuk ke dalam kelas mereka, Cha masih tetap dalam lamunannya.


"Selamat pagi anak-anak...," sapa guru pengawas tersebut.


"Pagi pak...," jawab mereka bersamaan kecuali cha.


"Baik silahkan sekretaris bagikan nih soal ujian nya," kata pak guru menginstruksikan sekretaris membagi soal ujian.


Sekretaris kelas berjalan menuju meja guru tersebut dan mengambil soal-soal tersebut dan berjalan ke masing-masing meja serta membagikan soalnya hingga tiba di meja Cha. Cha masih tampak melamun.


"Woyyyy udah melamunnya, nih soal ujiannya. Melamun kok pas mau ujian," ketus sekretaris tersebut.


Cha tersentak kaget, karena suara teriakan ditelinga nya. "Oh ya ampuuuun telingaku," protes Cha sambil mengusap-usap telinganya. Kemudian dia melihat soal ujian sudah ada di meja nya. Lalu Cha mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Dimana para siswa sudah dibagikan soal ujian. Itu artinya guru pengawas sudah berada di dalam kelas. Spontan Cha menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Ya ampun Cha...kenapa bisa aq gak sadar guru itu udah masuk, haish ini gara-gara si Zain sialan itu," gerutu Cha terhadap dirinya sendiri.


"Baik anak-anak, sebelum melaksanakan ujian marilah kita berdo'a menurut kepercayaan masing-masing," kata guru pengawas. Selesai berdo'a mereka mengerjakan ujiannya.


Ujian yang dilaksanakan berjalan dengan lancar. Cha mengerjakan soalnya dengan teliti dan hati-hati. Sesekali dia melirik ke arah teman-temannya yang terlihat fokus mengerjakan soal ujian. Cha pun tersenyum melihatnya karena ternyata mereka sangat semangat dalam menjalankan ujian tersebut.


Hingga beberapa menit kemudian, semua siswa selesai melaksanakan ujiannya. Cha buru-buru merapikan peralatannya dan secepatnya keluar dari ruangan kelasnya. Dia berjalan hingga keluar gerbang. Ternyata seseorang sudah menunggu di depan gerbang sekolahnya. Orang tersebut adalah Zain. Dia berdiri di depan mobilnya dan ketika melihat Cha, dia tersenyum sangat menawan. Zain melambaikan tangannya ke arah Cha.


"Iiisssh, ngapain tuh orang nongol disini, padahal gw udah berusaha secepat kilat hengkang dari sekolah, eh masih juga ketemu sama dia, sial.....," gerutu Cha dengan kesal sambil menghela nafas beratnya.


"Hai cantik, dah kelar ujiannya?" tanya Zain yang datang menghampiri Cha.


"Udah Zain.....,sekarang aq mau pulang. Dan kamu mending pulang sendirian sana," usir Cha dengan nada kesal.


"Aq kemari kan mau jemput kamu dan ngantar kamu pulang, masa aq pulang sendirian. Mana enak gak ada kamu," goda Zain sambil mencoel hidung mancung Cha.


"Jangan pegang-pegang, dilarang," kata Cha yang menangkis tangan Zain.


"Udah yuk masuk mobil. Aq mau ngajak kamu makan siang bareng," kata Zain yang langsung menarik pergelangan tangan Cha.


"Aq mau pulang..., besok aja. Besok kan kita kencan. Hari ini aq mau pulang cepat karena udah janji sama adek qu, pleaseeee," Cha memohon dengan memperlihatkan wajah imutnya.


Zain kemudian berpikir. Dia berhenti dan melihat kearah cha. Zain menatap mata Cha dan terlihat kejujuran di matanya. Lalu Zain manggut-manggut tanda setuju.

__ADS_1


"Mmmm baiklah, kali ini aq bebaskan kamu. Tapi tidak untuk besok," kata Zain yang masih memegang tangan Cha.


"Tapi aq akan tetap mengantar mu pulang, ok dan jangan protes," sambung Zain.


Cha menurut saja apa kata Zain. Mereka masuk ke dalam mobil Zain dan menyuruh pak supir nanti berhenti di salah satu supermarket.


Cha yang mendengar Zain ingin berhenti di supermarket, dia pun penasaran.


"Ngapain lagi berhenti di supermarket Zain..?" tanya Cha keheranan.


"Udah jangan banyak tanya dan jangan protes. Ikutin aja kemana aq membawamu," ucap Zain dingin tanpa menoleh kearah Cha.


"Enak aja ngikutin kamu kemana aja. Kalau kamu bawa aq ke tempat yang seram ya aq gak mau. Ogah banget ihhhh banyak setannya," protes Cha sambil bergidik ngeri.


Zain melihat kearah Cha yang duduk disampingnya. Dia pun menyunggingkan senyum nya dan terlihat dipikirannya untuk mengerjain Cha.


"Kalau begitu gimana kalau sekarang aq panggil setan yang duduk disamping pak supir agar pindah dibelakang duduk disamping kamu, karena dari tadi dia ngelihatin kamu terus Cha, gimana hah hah," jahil Zain yang menahan senyum nya.


"Hahhhhh beneran didepan ada setan..! Ka...kamu bisa lihat setan Zain?! Aq gak mau, aq mau turun, pak supir turunkan aq disini. Aq gak mau duduk dekat setan...cepat buka pintunya...! teriak Cha ketakutan sambil mencoba membuka pintunya.


Zain yang melihat Cha ketakutan, tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.


"Hahahahaha, dasar bocah....mudah dikerjain. Hahahaha, mana ada setan disini," ledek Zain yang masih tertawa sambil melihat wajah Cha yang sudah memerah.


Cha yang diledekin, merasa di permainkan. Wajahnya memerah emosi yang siap menghajar Zain.


Zain menangkis pukulan Cha dan menangkap kedua tangan Cha lalu mendekapnya dan berkata


"Kalau aq setannya, maka aq akan menggoda kamu untuk melayaniku sampai selamanya," Zain membisikkan ditelinga Cha dengan suara seraknya yang merdu.


"Lepas..!" kata Cha yang berusaha memberontak melepaskan diri dari dekapan Zain.


Zain tetap mendekap Cha dan mencubit gemas pipi Cha.


"Kamu lucu banget sih Cha, kenapa Binyu mau melepaskan mu ya, bodoh sekali dia membuang perempuan cantik ini. Eits kenapa aq ngomong seperti ini, gak mungkin kan aq suka sama nih cewek," bathin Zain yang masih setia memandang Cha.


"Hei Zain....lepasin aq..!, malah bengong. Kesambet setan benaran baru tau kamu," protes Cha karena masih didekap sama Zain.


"Ih.....lucuna kamu ini Cha," Zain mencubit hidung mancung Cha dengan gemas. Lalu Zain melepaskan Cha.


"Awwww sakit tau hidungku dicubit mulu," protes Cha sambil mengusap hidungnya.


Keributan yang di lakukan mereka membuat waktu tak terasa berlalu dengan cepat hingga mobil sudah berhenti di depan supermarket yang terkenal.


"Tuan, kita sudah sampai di supermarket," pak supir memberitahukan kepada Zain bahwa mereka sudah bisa keluar.


Zain dan Cha terkejut karena ditegur sama pak supir. Mereka berdua melihat kedepan, ternyata mobil sudah berhenti.


"Ayok Cha temani aq belanja sebentar, habis tuh aq anter kamu pulang," Zain mengajak Cha turun dari mobil.

__ADS_1


Cha hanya bisa menuruti kemauan Zain saja. Dia pun pasrah mengikuti Zain ke supermarket. Mereka masuk ke dalam supermarket dan mengambil trolly belanjaan. Zain mengambil beberapa jajanan untuk anak kecil. Cha memperhatikan Zain yang memasukkan jajanan anak-anak.


Cha berpikir "Buat apa di beli cemilan anak kecil. Jangan-jangan dia sudah punya anak dan sudah menikah," Cha mengerutkan keningnya melihat ke arah zain yang memegang trolly.


"Ngapain aq pikirin, mau dia punya anak kek, mau nikah kek, bodok amat, si amat aja gak perduli hihihi," Cha bergumam sambil cengengesan geli dengan perkataannya sendiri.


"Kenapa kamu cengengesan sendiri, kesambet setan ya," ternyata Zain juga melihat kearah Cha yang berada disampingnya ketika Cha memandang ke arah depan.


"Eits...,apa lihat-lihat," Cha melototkan matanya ke arah Zain dengan garang.


"Ih....seremmm," Zain bergidik.


"Udah buruan Zain, aq harus cepat pulang kerumah!" seru Cha yang melangkah cepat menuju kasir.


Zain menyusul Cha berjalan dengan cepat. Zain takut Cha pergi meninggalkannya. Hingga dia menggapai tangan Cha dan menggenggamnya. Cha hanya membiarkan Zain menggenggam tangannya. Yang ada dipikirannya cepat pulang.


Mereka menuju kasir, Zain membayar belanjaannya. Kasir wanita tersebut senyum-senyum genit melihat kegantengan Zain. Cha yang melihat kasir itu senyum-senyum, dia menoleh kearah Zain, namun Zain malah sibuk melihat kearah layar monitor komputer tanpa memperdulikan pandangan kasir perempuan itu.


Setelah mereka selesai membayar, Zain mengajak Cha membeli minuman untuk dibawa ke dalam mobil. Zain membeli tiga cup minuman coklat hangat. Lalu mereka bergegas masuk ke dalam mobil. Sampai didalam mobil, Zain memberikan salah satu minuman tersebut ke pada supirnya.


"Pak nih minum yang hangat dulu pak, kata Zain sambil menyerahkan minuman coklat tersebut.


"Oh terima kasih tuan," jawab supirnya dan mengambil minuman tersebut.


"Nih buat kamu Cha. Aq suka banget minuman coklat ini. Sapa tau kamu juga suka, makanya aq beli juga," kata Zain dan menyerahkan minuman coklat tersebut.


Cha menerima minuman tersebut, karena dia juga sebenarnya sudah haus. Cha juga sangat menyukai minuman coklat.


Pak supir pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Cha. Dalam perjalanan antara Zain dan Cha tidak ada yang memulai obrolan. Mereka sibuk dengan meminum minuman coklatnya sambil melihat jalan raya yang dilalui. Tak terasa mobil sudah sampai ke area jalan rumah Cha.


"Tuan kita sudah sampai," kata pak supir.


"Ehhh sudah sampai ya," ucap Cha kaget. Dia pun mengedarkan pandangannya ke arah jalan ternyata benar mereka sudah sampai.


Sebelum Cha keluar dari mobil, Zain menahan tangan Cha. Cha menoleh ke arah Zain dengan bingung.


"Ada apa lagi hah..., aq mau turun. Oh iya terima kasih tuan Zain yang baik hati sudah mengantarkan qu pulang, ok..," kata Cha sambil membungkukkan kepalanya.


"Nih, bawakan jajanan ini buat adek kamu ya. Bilang jajanan ini dari abang ganteng," bisik Zain sambil menyerahkan bungkusan jajanan tadi yang dibelanjakannya sambil tersenyum menawan.


"Eits tidak perlu, kamu jangan coba-coba menyogok qu ya. Lagian adek qu juga tidak mau menerima pemberian dari orang tak dikenal," Cha menolak pemberian Zain.


"Aq ikhlas kok Cha, ini memang sengaja aq beli buat adek kamu dan bukan buat kamu. Aq gak ada niat apa-apa kok," kata Zain meyakinkan Cha.


Cha menatap mata Zain dan melihat ketulusan dari sana. Lalu Cha melirik ke plastik belanjaan itu dan dia menghela nafasnya dengan berat.


"Baiklah aq menerimanya, tapi bukan berarti hati qu akan luluh dengan semua ini," tegas Cha kepada Zain.


"Ok, tapi jangan lupa bilang dari abang ganteng pacar kakak Cha, hehehehe," ulang Zain sambil cengengesan.

__ADS_1


__ADS_2