
Hari yang sangat menyenangkan buat Ghani. Dia bisa berangkat bareng sama Cha. Sepanjang jalan menuju ruangan kelasnya, dia senyum-senyum sendiri. Hingga beberapa Mahasiswa yang melihat Ghani, merasa heran dan geleng-geleng kepala.
"Ada apa dengan dia? Kesambet kali ya tuh si Ghani," ledek Mahasiswa A.
"Tau tuh anak. Kali aja lagi jatuh cinta," sambung Mahasiswa Laki-laki lain.
Ghani tak memperdulikan ocehan mereka. Dia berjalan dengan santai menuju ruangan kelasnya. Sesampainya dia di dalam kelas, Ghani masih memperlihatkan wajah bahagianya.
Mahasiswi yang menyukai Ghani merasa heran dengan tingkahnya.
"Eh mer, ada apa dengan gebetan Lo itu?" tanya temannya di sebelah.
"Iya mer, kok tumbenan si cowok dingin wajahnya happy. Biasanya dingin tanpa ekspresi," sambung teman lainnya.
"Jangan-jangan dia udah jadian tuh sama anak Sastra Jepang," celetuk teman yang disebelah Mery.
Mahasiswi yang menyukai Ghani diam dan hanya memperhatikan Ghani dari bangkunya. Dia tidak berminat merespon ucapan kedua sahabatnya.
Sedangkan Cha yang sudah berada di dalam ruangan bersama Dewi, duduk di bangku masing-masing.
"Cha, kapan Zain datang ke Indonesia?" tanya Dewi tiba-tiba.
"Dia gak akan datang ke Indonesia sampai hari H nya Wi. Kami ibaratnya menjadi anak pingitan," jawab Cha senyum-senyum.
"Ciye.....yang mau merried, gw senang akhirnya sahabat gw ini bisa mendapatkan kebahagiaannya," ucap Dewi yang ikut merasakan kebahagiaan Cha.
"Ih....apaan sih Wi, hussst jangan kencang-kencang ngomongnya. Ntar di dengar yang lain tau," cemberut Cha.
"Oh ya, kapan keluarga kamu pindah ke Jogja Cha? Aku jadi pengen kenalan dengan Sika, adik kamu. Pasti menyenangkan bisa ketemu keluarga kamu Cha," ucap Dewi yang tidak memperdulikan wajah Cha yang cemberut.
"Iya ya, gw lupa Wi. Rencananya gw sama Zain akan membeli rumah buat keluarga gw di Jogua. Wah syukur deh Lo ngingetin gw," Cha hampir saja melupakan janjinya dengan Mamanya.
"Kalau keluarga Lo dah pindah, bukankah lebih baik pesta pernikahan Lo diadakan di Jogja aja Cha," saran Dewi.
__ADS_1
Cha pun berpikir sambil tangannya bergerak-gerak di dagunya.
"Benar juga ya Wi, tapi kayaknya Mama gw pengennya di Medan biar mengundang saudara dan para tetangga," balas Cha.
"Oh..kalau itunya pertimbangannya, ya berarti memang pas di laksanakan di Medan," ucap Dewi.
"Iya, kalau masalah rumah, mungkin besok gw harus segera mencari perumahan di Jogja ini. Dan bisa segera membelinya untuk keluarga gw," balas Cha.
Cha berpikir, setelah pulang kuliah nanti, dia ingin segera menghubungi Zain. Dan mempertanyakan bagaimana tentang rumah yang di janjikan terhadap Mamanya.
Saat Cha sedang melamun memikirkan tentang rumah, Dosen mereka masuk ke dalam ruangannya.
Dewi yang menyadari Cha sedang melamun, langsung menyenggol lengannya Cha agar tersadar.
Cha pun langsung sadar dan melihat ke depan, bahwa Dosen mereka sudah masuk.
Selama pembelajaran, Cha masih tidak fokus. Dia memikirkan banyak hal. Waktu yang harus dilaluinya sangatlah singkat hanya dua bulan saja. Dan dia harus menyelesaikannya semuanya sebelum waktu pernikahannya.
Hingga waktu pembelajaran selesai, Cha masih diam menatap ke depan dengan pandangan kosong. Dewi melihat Cha yang memang pandangannya yang tak jelas. Dia pun menghampiri Cha dan menepuk pundak Cha.
"Astaghfirullahal'adzim Wi....Lo ngagetin gw aja ih..," kesal Cha.
"Habis dari tadi mulai Dosen masuk sampai selesai begini, Lo masih juga bengong seperti itu. Emang ada masalah ya?" tanya Dewi.
Dewi duduk di hadapan Cha di bangku yang kosong. Dia melihat sahabatnya itu seperti sedang memikirkan banyak hal.
"Iya Wi, gw bingung nih. Waktunya hanya dua bulan saja. Gw harus menyiapkan rumah buat keluarga gw. Belum lagi harus ngurus KKN. Duh mumet gw Wi," ucap Cha yang sedikit pusing.
"Ya udah, gw akan bantu kok. Yang penting Lo jangan sampai setres memikirkan ini semua ya," pinta Dewi.
Dewi bisa melihat wajah Cha yang saat ini terlihat bingung. Dewi juga menganggap ini hal wajar ketika menghadapi detik-detik pernikahan.
"Makasih ya Wi, gw emang sedang gak konsen nih. Syukurnya Lo ingatin gw tadi mengenai rumah untuk keluarga gw. Kalau gak bisa kelupaan gw," balas Cha.
__ADS_1
Cha memang saat ini tidak tau mau minta bantuan ke siapa. Dan yang terlintas di benaknya saat ini, dia ingin meminta bantuan Ghani. Ntah kenapa Cha bisa berpikir seperti itu. Cha tidak mungkin meminta Zain ke Indonesia karena mereka dalam keadaan pingitan. Sehingga membuat Cha mengambil keputusan meminta bantuan Ghani.
"Ya udah Wi, yuk kita ke kantin. Gw haus nih," ajak Cha setelah memasukkan bukunya.
"Ayo, gw juga pengen minum es nih. Haus, cuacanya panas hari ini. Enak banget kalau minum yang dingin-dingin," pengen Dewi.
Setelah merapikan bukunya, Cha dan Dewi keluar dari ruangan itu. Mereka berjalan ke arah kantin. Tanpa sepengetahuan mereka berdua, Ghani melihat Cha dan Dewi berjalan menuju kantin. Dia pun mengikuti Cha dari belakang.
Sesampainya di kantin, Cha yang memang tidak menyadari kehadiran Ghani di belakang mereka, terkejut saat Ghani sudah duluan duduk di hadapan Cha.
"Loh Ghan, kok bisa nongol disini?" tanya Cha bingung.
"Hehehe, tadi gw udah lihat kalian dari jauh. Tapi aku gak mau manggil. Jadi aku ngikutin aja dari belakang. Kebetulan, aku lagi haus nih dan laper. Belum sarapan juga tadi," jawab Ghani sambil memegang perutnya yang memang kelaparan.
"Ya udah, pesan buruan makanan. Ntar kamu sakit lagi," Cha secara gak sengaja memberikan perhatiannya.
Dewi terbengong melihat sikap Cha. Dia heran Cha bisa menerima kehadiran Ghani.
"Nih anak, kemaren gak suka lihat Ghani. Sekarang malah baik sama kak Ghani, bingung gw," bathin Dewi sambil menoleh ke arah Ghani.
"Makasih Cha udah perhatian sama aku ya Aku senang kamu mau memperhatikanku," ucap Ghani yang merasa senang.
Cha tersentak ketika Ghani mengucapkan kata perhatian. Dia sebenarnya tidak bermaksud memberikan perhatian, tapi dia merasa tak enak karena dari pagi Ghani belum sarapan saat menjemput mereka ke rumah kontrakan.
"Ah biasa aja kok Ghani. Namanya juga teman. Kan harus ngingetin," balas Cha.
Cha sengaja mengatakan kata sahabat. Dia tidak ingin Ghani berlebihan dan menaruh harapan terhadapnya.
Ghani pun tersenyum miring mendengar ucapan Cha. Namun di dalam hatinya dia merasa senang.
Mereka bertiga akhirnya memesan makanan dan minuman. Di meja itu, mereka saling ngobrol santai. Dewi sesekali membuat lelucon yang sangat lucu. Sampai akhirnya makanan mereka datang juga.
Pelayan yang mengantar makanan itu menghidangkannya di meja mereka.
__ADS_1
Ghani dan yang lainnya langsung meminum es yang dapat melegakan tenggorokan mereka akibat cuaca yang panas.