Kasih Sayang Yang Tertunda

Kasih Sayang Yang Tertunda
Moment Indah di Parang Teritis


__ADS_3

Mereka kembali ke pondok karena melihat pesanan mereka sudah diantar.


"Mbak, panganan wis teka," ucap si mbak nya.


"(Mbak, makanannya udah datang)."


"Inggih mbak matur nuwun," jawab Zain yang memang mengerti bahasa Jawa.


"(Iya mbak masih banyak)." jawab Zain.


Pemilik pondok itu pergi meninggalkan Cha dan Zain. Lalu Cha mengajak Zain makan.


"Ayo Zain kita makan dulu, habis tuh baru main lagi," ajak Cha sambil meminum cappucino nya.


"Sayang, kamu gak kedinginan seperti itu?" tanya Zain yang kasihan melihat Cha dengan pakaian basah.


"Kan kamu yang buat aku begini. Trus mau gimana lagi. Nanti juga diganti," jawab Cha yang tidak memperdulikan penampilannya.


"Kalau lihat kamu basah begini, aku jadi nafsu deh yanx," ucap Zain jujur.


"Dasar mesum," ledek Cha.


"Wajar dong sayang, usiaku ini kan seharusnya udah menikah. Lagian normal kan kalau aku nafsu lihat kamu. Kita kan udah melakukannya," jawab Zain menaik-naikkan alisnya menggoda Cha.


"Udah di maem dulu tuh mie nya, ntar keburu dingin loh," paksa Cha.


"Iya sayang, tapi habis tuh aku makan kamu ya," goda Zain lagi.


Cha tak mau menggubris ucapan Zain. Dia sangat menikmati mie kuahnya yang masih anget. Sesekali Zain menyuapin Cha. Mereka terlihat seperti sepasang pengantin baru yang sedang bahagia.


Akhirnya Cha dan Zain selesai menikmati makanannya.


"Mantep banget ya Zain..aku jadi kenyang," ucap Cha mengusap perutnya.


"Sayang, kita istirahat dulu ya. Aku pengen tidur bentar disini. Kamu gak apa-apakan aku biarin sendirian, aku ngantuk banget," ucap Zain yang mulai menguap.


Zain memang kelihatan letih banget, karena sesampainya dia di Indonesia, Zain kurang istirahat. Apalagi mereka melakukan hubungan, Zain merasa tubuhnya perlu istirahat.


"Iya Zain, kalau kamu letih, istirahatlah, nanti aku bangunin kalau udah sore," balas Cha.


Zain pun memejamkan matanya dipangkuan Cha. Dia merasa nyaman tiduran di paha Cha.


Cha menatap wajah Zain dan menelisiknya satu persatu.


"Kamu benar-benar ganteng Zain. Pantas banyak perempuan yang tergila-gila sama kamu. Sampai teman kuliah ku juga pengen kenalan sama kamu, Hah, kenapa aku jadi mikirin dia?" bathin Cha sembari membelai-belai rambut Zain.


Cha memandang ke arah lautan lepas. Dia teringat akan Yoga. Sudah berhari-hari, Yoga tak kunjung menghubunginya. Cha mulai curiga dengan keadaan Yoga disana.


"Apakah dia sudah mendapatkan pengganti gw disana? Kalau iya, tega sekali dia secepat itu berkhianat," gumam Cha sambil menatap ke arah pantai.


Tak jauh dari tempat Cha istirahat. Dia melihat satu keluarga sedang asyik bermain di pasir pantai. Cha teringat akan adiknya Sika dan si bungsu.


"Hmmm bagaimana ya khabar Sika? Sudah lama gw gak menghubunginya. Lalu Cha mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi no Sika. Cha menunggu hingga akhirnya diangkat oleh Sika.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum adik kakak yang cantik...!" sapa Cha ceria.


"Kakakkkkkk! Kenapa baru sekarang menghubungi Sika. Emang kakak sibuk banget ya disana?" tanya Sika sedih.


"Maaf ya sayang, baru sekarang kakak menghubungi Sika. Oh ya gimana khabar adek dan sibungsu?" tanya Cha yang merasa bersalah karena tak pernah menanyai Khabar adiknya.


"Kami baik kak. Hanya saja Mama kemaren berantem sama Papa lewat tlp. Sepertinya Papa mengirim bulanan sudah tidak seperti kemaren-kemaren," ucap Sika memberitahukan tentang percekcokan orang tua mereka.


"Oh ya! Trus Mama gimana? Tega banget ya Papa berbuat seperti itu. Pasti semua ini gara-gara perempuan sialan itu dan anaknya yang sudah mempengaruhi Papa," terang Cha emosi.


"Sika juga gak tau sih kak. Mama ya nangis. Habis tuh, Mama menghubungi kak Ina agar menegur Papa untuk tidak mengurangi belanja Mama disini," balas Sika sedih.


"Nasib kita ya dek lahir dalam keluarga Broken Home, dimana orang tua egois menginginkan sesuatu yang mengakibatkan hancurnya masa depan kita," jelas Cha sambil meneteskan air matanya.


Cha tidak sadar kalau air mata yang menetes mengenai pipi Zain, sehingga membuat Zain terbangun dari tidurnya. Namun Zain tidak langsung bangkit, tapi dia hanya membuka matanya dan menatap ke arah Cha dengan sendu. Zain mendengar obrolan Cha dan adiknya.


"Iya kak, karena perbuatan Papa, kita kehilangan kasih sayang dan kenyamanan. Sika aja malas kak dirumah. Apalagi semenjak kakak pergi ke Jogja, Sika lebih senang dirumah teman yang keluarganya ramai. Kadang Sika pulang kerumah telat satu jam. Tapi Mama tidak seperti dulu yang kejam. Sekarang Mama sudah sedikit berubah," jelas Sika panjang kali lebar.


"Sika jangan sering-sering ya dek pulang telat kerumah. Kasihan juga Mama dan sibungsu, gak ada yang nemani dan membantu Mama," pinta Cha.


"Iya kak. Sika jadi rindu sama kakak. Kapan kakak pulang ke Medan?" tanya Sika berharap.


"Do'ain aja ada rezekinya, kakak pulang ke Medan," ucap Cha sedih.


"Sika akan do'ain, biar kakak banyak rezekinya dan menikah sama laki-laki yang baik dan penyayang. Tidak seperti Papa kita, yang tidak sayang sama anak-anaknya," ucap Sika menohok hati Cha.


"Kamu ini bisa aja. Aamiin, Nanti kakak belikan kamu baju batik rumahan ya disini. Kakak kirim dari JNE nanti, mau kan?" tanya Cha.


"Ya udah nanti kakak yang belikan ya. Kamu harus semangat sekolah ya dek biar bisa lanjut kuliah di Jogja juga," ucap Cha memberi semangat kepada Sika.


"Sika nanti mau masuk kebidanan aja kak, Sika suka di kesehatan," ucap Sika.


"Ya kakak do'akan semoga tercapai keinginan dan cita-citamu," balas Cha.


Cha pun menyudahi tlp nya bersama Sika. Dia menatap ponselnya dengan tatapan sedih. Lalu dia beralih melihat ke arah Zain. Cha tidak tau kalau Zain sudah bangun dan mendengar semua apa yang dibicarakan Cha.


Cha kembali menatap ke arah pantai. Dia mengingat tentang kedua orang tuanya yang selalu ribut.


"Kasihan Sika disana sendirian. Tidak ada teman bersandar jika dia bersedih," Cha berbicara dengan sendirinya.


Tiba-tiba Zain bangkit dari tidurnya dan menatap ke arah Cha.


"Kamu kenapa? Kok wajahnya sedih gitu. Cerita dong Cha ke aku kalau ada masalah," pinta Zain.


"Gak ada apa-apa Zain. Hanya masalah keluarga," ucap Cha berbohong.


"Tuh kenapa matanya merah, habis nangis ya?" tanya Zain penasaran.


"Ng..nggak kok, nih kemasukan pasir loh," bohong Cha.


"Cha, aku siap kok mendengar keluh kesah kamu. Ceritalah kalau itu menjadi beban sama kamu selama ini. Biar kamunya juga plong, bisa bebas dari masalah di kehidupan kamu," nasehat Zain dengan bijak.


"Kalau aku cerita, nanti kamu gak pulang-pulang ke Paris," ucap Cha.

__ADS_1


"Gak apa, biarin. Nanti aku bisa menghubungi asisten ku disana. Biar dia yang menghandle kerjaan ku disana. Jadi kamu bebas cerita," balas Zain meyakinkan Cha.


Akhirnya Cha menceritakan tentang dirinya yang berasal dari keluarga Broken Home. Cha juga menceritakan tentang peristiwa kemaren saat dia sekolah menengah atas di Medan. Semua, Cha keluarin yang selama ini di pendamnya. Dan bukan hanya Zain yang tau tentang kehidupannya. Yoga terlebih dahulu sudah mengetahui tentang pribadi Cha.


Zain menggenggam tangan Cha dan mengecup tangannya dengan lembut.


"Kamu perempuan yang tegar dan kuat. Aku salut sama kamu yanx. Kamu jangan pernah merasa sendiri, aku selalu ada untuk kamu," Zain berusaha meyakinkan Cha.


Cha merasa bahagia, karena saat ini ada yang menemani dirinya selepas kepergian Yoga ke Belanda.


"Terima kasih Zain. Kamu laki-laki yang sangat baik dan bucin, hehehe," puji Cha lalu meledeknya.


"Hehehe, gak apa-apa dong, jadi budak cintanya kamu dan cuma sama kamu doang bucinnya. Kalau sama yang lain beuh jangan ditanya, kejam banget loh," ucap Zain tegas.


Cha menyadari kalau Zain memang banyak berubah terhadap dirinya. Yang awalnya kejam, sekarang justru sangat penyayang.


"Ayo kita main ombak lagi Cha," ajak Zain sambil menarik tangan Cha untuk berlari ke pantainya.


"Zain, kita jangan lupa beli baju buat ganti. Apa kita beli sekarang aja, takut nanti tokonya tutup," ucap Cha.


"Ok, yuk kita kesana," ajak Zain berjalan ke arah toko pakaian.


Sesampainya di toko itu, Zain memilihkan baju buat Cha. Sedangkan Cha memilihkan baju untuk Zain. Setelah dapat pakaian yang diinginkan, mereka kembali ke pondok dan meletakkan pakaian yang sudah dibeli.


Kemudian Zain mengajak Cha untuk bermain kembali ke pantai. Mereka berlarian di atas pasir pantai dan saling kejar-kejaran. Hingga membuat banyak mata yang memandang ke arah mereka yang asyik main kejar-kejaran dan saling melempar pasir.


"kudune wong anyaran," ucap pengunjung lain.


"(Mereka pasti penganten baru)," ucap pengunjung lain.


"Misale jek dadi. Donya kagungane loro euy...!" seru temannya.


"(sepertinya begitu, dunia milik berdua euy...)!" seru temannya.


Cha dan Zain betah berlama-lama bermain ombak. Mereka bermain pasir dan menuliskan sesuatu diatas pasir hingga ombak datang menyapu tulisan itu sampai hilang terbawa ombak.


Zain menuliskan, 'Sayangku Cha'.


Sedangkan Cha menulis, 'Kembalilah'.


Tulisan yang mereka tulis pergi dibawa ombak besar. Hingga sore menjelang, mereka menunggu sunset.


"Zain, kamu gak jadi bernagakt hari ini?" tanya Cha sambil merebahkan kepalanya di bahu Zain. Mereka duduk diatas pasir dan sesekali ombak datang kearah mereka sehingga membasahi kaki mereka.


"Iya Cha. Besok habis aku nganter kamu ke kampus, baru aku pulang ke Paris. Malam ini kamu temani aku ya di hotel," pinta Zain.


Cha mengangguk mengiyakan maunya Zain.


Mereka ingin menyaksikan dan menikmati proses matahari tenggelam atau sunset yang begitu indah.


Sebelum terjadinya sunset, mereka terlebih dahulu mengganti pakaian mereka yang basah. Zain dan Cha berganti pakaian di toilet umum. Lalu Zain keluar dari toilet dengan menggunakan celana kain batik dan atasan kaos batik Jogja. Sedangkan Cha memakai kain pantai dan kaos batik Jogja couple an sama Zain.


Setelah selesai berganti pakaian mereka kembali ke pantai untuk menikmati sunset. Mereka mengabadikan moment dengan foto berdua mengarah ke sunset.

__ADS_1


__ADS_2