
Cha merasakan sentuhan lembut di pipinya, lalu dia membuka matanya perlahan dan melihat Zain sedang duduk di sampingnya.
"Zain, kamu sudah lama datang?" tanya Cha yang langsung duduk.
"Baru aja kok Cha. Gimana, kita bisa berangkat sekarang?" tanya Zain.
"Iya Zain, tapi aku mau bersihkan wajah dulu. Biar kelihatan segar kembali," ucap Cha.
"Heum, aku akan menunggu diluar. Oh ya Binyu dimana?" tanya Zain.
"Aku gak tau Zain. Tadi dia bilang mau ketemu Oma. Mungkin masih disana ngobrol sama Oma," jawab Cha.
"Baiklah, aku akan ke kamar Oma dulu. Kamu bersiap-siap lah Cha. Segera turun ke bawah kalau sudah selesai ya," pinta Zian.
"Iya Zain."
Zain pun keluar dari dalam kamar Cha dan menuju kamar Omanya.
Sedangkan Cha masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah selesai berhias, Cha keluar kamar dan turun ke bawah.
Cha berjalan menuruni tangga menuju ruang tengah.
Sesampainya diruangan itu, Cha melihat Oma dan Mamanya Zain serta yang lainnya sudah berada diruangan itu.
"Maaf menunggu," ucap Cha merasa gak enak.
"Gak apa-apa Cha. Aku akan setia menunggumu kok," balas Binyu sambil melirik Zain.
Zain memelototi matanya kearah Binyu karena kesal mendengar godaannya terhadap Cha. Sedangkan Binyu merasa cuek saja dengan ucapannya. Binyu sangat suka menggoda Zain membuatnya cemburu hingga sikap protectnya muncul.
"Binyu...jangan buat Zain mengulitimu hidup-hidup," bela Mamanya Zain sambil senyum-senyum melihat raut wajah anaknya.
Zain tersenyum riang mendengar dukungan dari Mamanya. Senyum di bibirnya pun muncul seketika.
"Binyu takut Tante....jangan biarkan Zain melakukannya, bisa-bisa banyak wanita yang menyukaiku menjadi sedih karena kehilanganku Tante....," rengek Binyu yang sengaja menggoda Zain.
"Sudah-sudah, kalian harus segera berangkat," ucap Papanya Zain.
"Baik Om," balas Binyu yang seketika terdiam.
__ADS_1
"Zain, Papa dan Mama minta kamu jaga Cha. Jangan kamu sakiti dia, dan kalau itu terjadi, Papa rela kalau Binyu yang akan Papa nikahkan dengan Cha," ucap Papanya santai.
Sontak saja semua orang yang berada diruangan itu terbengong mendengar perkataan Papanya Zain.
"Mimpi apa gw kemaren, dibela sama si Om," gumam Binyu yang bisa di dengar Zain.
Zain merasa kesal karena Papanya malah ikut menggoda dirinya.
"Hahh, Pa, Zain akan menjaga Cha dan tidak akan mengkhianatinya. I,m promise!" ucap Zain tegas.
"Kalau begitu segera nikahi Cha. Papa sudah ingin memiliki cucu Zain. Dan Mama serta Oma kamu juga pasti menginginkannya," balas Papanya.
"Itu pasti Pa, Zain akan segera menikahi Cha. Tapi Zain menunggu waktu yang tepat. Semua Zain serahkan ke Cha keputusannya," jelas Zain sambil memandang Cha.
Cha merasa canggung dengan pembicaraan yang membahas soal anak. Wajahnya terlihat merona tapi sebisa mungkin disembunyikan Cha.
Binyu yang mendengar obrolan seputar pernikahan dan anak, merasa sedih di dalam hatinya. Namun dia berusaha tenang dan santai. Seolah-olah tidak ada kejadian yang membuatnya bersedih.
"Ya Allah, seandainya engkau memberikan ku takdir berjodoh dengan Cha, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan setia dan membahagiakan Cha seumur hidupku," bathin Binyu yang memohon.
"Bro, Lo harus bantu gw saat pernikahan gw nanti. Dan Lo harus hadir," ucap Zain sambil meninju bahu Binyu pelan.
"Makasih Bin, Lo sahabat gw yang terbaik," Zain memeluk Binyu sekilas.
"Oma, Tante, Om, Cha pamit kembali ke Indonesia. Cha merasa senang tinggal di keluarga ini. Dan Cha mengucapkan terima kasih atas kasih sayang yang diberikan untuk Cha selama disini. Lain waktu, Cha akan berkunjung lagi kesini," ucap Cha sambil melangkah kearah Omanya dan memeluknya sambil menangis.
"Sudah sayang, jangan bersedih. Oma akan sedih kalau Cha menangis seperti itu," balas Omanya sambil mengusap punggung Cha.
Mamanya Zain menghampiri keduanya. Dan iku merangkul Cha.
"Sayang, Tante akan merindukanmu. Rumah ini akan sepi dan meja makan itu juga pasti akan sepi karena kamu kembali ke Indonesia," ungkap Mamanya Zain.
"Maaf Tante, Cha gak bisa lama disini. Nanti kalau Cha libur kuliah, jika Zain tidak sibuk. Cha akan datang berkunjung kesini," ucap Cha dengan senyumnya.
"Itu harus sayang," sambung Omanya.
"Ya udah Ma, Oma, Pa, kami berangkat dulu. Zain pamit ngantar Cha ke Indonesia ya. Assalamu'alaikum," ucap Zain berpamitan.
Zain menyalami tangan Oma, Mama dan Papanya bergantian. Begitu juga dengan Cha dan Binyu. Mereka mengikuti apa yang dilakukan Zain.
__ADS_1
Setelah itu, mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang akan mengantar mereka menuju Pesawat pribadi milik Zain.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka akhirnya sampai di lokasi Pesawatnya. Kemudian Zain membawa Cha masuk ke dalam dan diikuti dengan Binyu.
"Cha, kamu bisa istirahat di dalam. Aku sama Binyu mau ngobrol dulu. Ada yang perlu dibahas," ucap Zain yang menyuruh Cha istirahat.
"Iya Zain, aku akan istirahat," balas Cha.
Diruangan ini hanya ada Zain dan Binyu. Mereka berdua duduk santai menikmati cemilan dan minuman yang dihidangkan.
"Bagaimana dengan Perusahan Lo Binyu?" tanya Zain tanpa menoleh ke orangnya.
"Ada kemajuan. Dan saat ini sudah banyak kerja samanya dengan Perusahaan lain," jawab Binyu.
"Syukurlah, semoga sukses untuk dirimu," dukung Zain.
"Thanks Bro," sahut Binyu.
"Oh ya Zain, bagaimana ceritanya Cha bisa mengetahui pernikahan Yoga? Apa ini Lo yang rencanakan?" tanya Binyu penasaran.
"Bukan, gw juga gak tau kalau undangannya akan sampai ke tangan Cha. Dan gw juga gak tau kalau Mama dan Papa masih berhubungan dekat sama orang tuanya," jawab Zain jujur.
"Berarti itu sudah emang jalannya Cha harus mengetahui kebohongan Yoga. Tapi...gw telat hadir dikehidupan Cha selanjutnya," ucap Binyu pelan.
"Jangan coba-coba merebutnya Bin, gw akan kirim Lo ke lokasi gurun pasir biar Lo berteman sama Onta disana," guyon Zain.
"Ah, Lo Zain, cemburuan banget. Ngapain juga gw mengkhianati Lo. Kita ini sudah seperti saudara. Kebahagiaan Lo ya kebahagiaan gw juga. Walaupun dulu gw belom mengerti arti persahabatan, dan menilai sesuatu dari uang," teringat Binyu akan yang lalu.
"Gw juga, menilai segala sesuatu dari uang. Sejak mengenal Cha, gw mengerti arti ketulusan dan persahabatan," ucap Zain.
"Kapan rencana Lo menikah dengan Cha?" tanya Binyu.
"Gw maunya secepatnya, biar dia sah jadi milik gw selamanya."
"Dasar bucin gak ketulungan. Jangan terlalu mengekang Cha atau mengikatnya dengan kebucinan Lo. Bisa-bisa dia lari dari Lo," Binyu mencoba menakut-nakuti Zain.
"Dia gak akan lari dari gw. Gw yakin itu," balas Zain percaya diri.
"Hmmmm, sombong Lo....!"
__ADS_1